Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Get up and Get Ready


__ADS_3

Selama seminggu, hidupku seperti kosong, ada lubang menganga cukup dalam di hatiku. Ini bukan tentang V. Hubunganku dengannya baik-baik saja, bahkan kami akan menikah akhir bulan ini.


"V, apakah ada yang aneh denganku?" tanyaku suatu hari kepada Voltaire.


"Ada, kamu sedang tidak bersemangat, biasanya kamu seperti hmmm...apa yah? Sulit menggambarkan semangatmu, Dream." jawabnya.


Aku mengerutkan dahiku, "Kenapa aku bisa tidak bersemangat? Rasanya sedih loh, V. Aneh sekali. Baiklah, aku akan berkelilimg sebentar." sahutku, "Aku sendiri aja." aku menambahkan, karena V sudah siap-siap berdiri untuk menemaniku.


Aku menaiki mobilku, dan terbang mengelilingi rumahku setelah itu aku naik tinggi lagi, dan aku melihat Eden Park, dan di sebelah Eden Park, tampak air terjun, yang jika dilihat dari jauh, air terjun itu jatuh ke atas awan, padahal tidak, itu adalah River Park, taman yang dipenuhi oleh sungai-sungai kecil, kemudian aku melajukan mobilku ke atas lebih tinggi, dan disitu ada puncak menara yang hampir menembus awan, dengan pucuk pohon-pohonnya berdesir-desir tertiup angin, ada lengkungan pelangi juga disana karena ada efek pembiasan cahaya dari air terjun kecil disana, itu adalah Paradise Park, taman paling lengkap di negara ini. Dan jika kita naik ke atas awan sedikit lagi, kita akan menemukan Cloudy Park, taman di atas awan.


Setelah asik melihat-lihat dan berkeliling, aku kembali. Dan perasaanku sudah jauh lebih baik. Aku menemui V yang menungguku di bawah, wajahnya tampak khawatir.


"Bagaimana? Apa kamu sudah lebih enak?" tanyanya. Aku mengangguk, dan mengacungkan ibu jariku sebagai jawabanku.


Jadwalku hari itu adalah meninjau kembali sekolah persamaan Jean dan Jeannette. Aku tidak mau mereka menjadi pemberitaan yang kurang bagus terkait pendidika. mereka.


"Hello mr. Geoff. Bagaimana dengan Jean dan Jeannette di kelasmu?" tanyaku saat kami berinteraksi di worldmetaverse.


"Halo maam Dreamy. Semua bagus maam, tidak ada masalah dalam akademik, mereka belajar dengan cepat, hanya terkadang mereka tampak sedih tapi setelah itu bisa ceria lagi." sahut mr. Geoff.


"Sedih? Tapi untuk di akademik, tidak ada masalah yah? Dan saya bisa langsung memasukan mereka ke sekolah formal." sahutku.


Mr. Geoff tersenyum, "Bisa sekali maam." jawabnya.


Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan, aku memgunjungi Kai.


"Ya, wajar itu. Mereka sedang dalam masa peralihan. Kamu saja butuh seminggu. Dan rasanya memang seperti itu, kosong, hampa, karena kita melupakan dan dilupakan, dan kamu sudah merasakan itu. Aku tidak tau siapa yang melupakanmu atau siapa yang kamu lupakan, tapi itu akan seperti hilang rasanya." jelas Kai saat aku bertanya tentang kondisi Jean dan Jeannette.


"Sering-seringlah mengajak mereka bermain, berbicara, jadi mereka tidak sempat merasakan perasaan kosong itu." sahut Kai lagi.


Aku mengangguk, "Baiklah akan kuikuti saranmu." sahutku.


"Hei, bagaimana persiapan pernikahanmu?" tanya Kai.


"Aku sudah menyiapkan gaun, tempat, para undangan, hampir selesai." jawabku, "Aku hanya memastikan Bapa Romo tidak ada jadwal lain di hari itu." sahutku lagi menambahkan.


"Baiklah, semoga lancar. Kalau butuh bantuan, kamu bisa memintaku." ucap Kai. Aku mengangguk dan tersenyum.


Aku mengajak V untuk menemui Bapa Romo, sesampainya disana,


"Kalian tidak bisa melakukan pernikahan lagi, nama kalian masih terdaftar di komite agama sebagai pasangan suami istri." kata beliau.


"Tapi saat itu kami sudah melakukan pembatalan pernikahan, Bapa." sahut V.


"Memang, perceraian atau pembatalan pernikahan itu sah di mata hukum, tapi tidak sah di mata agama, mau nantinya kalian menikah dengan siapa pun, di negara ini, kalian akan tetap di anggap sebagai pasangan suami istri." kata Bapa Romo menjelaskan.


Aku dan V saling berpandangan, "Jadi, apa yang harus kami lakukan lagi?" tanyaku.


"Pembaharuan janji menikah kalian harus di perbaharui, tapi bukan pemberkatan." jawabnya.

__ADS_1


Aku mengangguk, dan berpamitan kepadanya.


"Bagaimana?" tanyaku kepada V.


"Harusnya aku tidak perlu menahannya kalau aku tau kita masih berstatus sebagai suami istri...hehehe " sahutnya menggodaku.


"Iya juga. Tapi pertanyaanku bukan itu, jadi bagaimana? Apakah kita akan membuat janji nikah baru?" tanyaku lagi.


"Tentu saja. Tidak begitu sulit membuat janji nikah itu." katanya sombong.


Dan malam itu aku menagih janjinya....


"Sudah 2 jam kamu berkutat dengan tulisan-tulisan itu, V!" tukasku, "katamu ini mudah, kenapa bisa 2 jam?" tanyaku lagi.


"Ini supaya orang lain yang mendengarnya terharu dan meneteskan air mata mereka." katanya tidak mau di salahkan.


Aku memeluknya, "Si banyak alasan." sahutku.


V berbalik ke arahku, "Tapi sayang kan? Hehehe." jawabnya.


Aku menggigit tangannya, "Ouch, Dream, sakit!" sahutnya.


"Siapa suruh lucu..." sahutku, dan kemudian meninggalkan V bersama dengan janji-janji yang akan dibuatnya.


...----------------...


"Mereka tidak menyukaimu, mereka termasuk kaum oposisi, dari partai politik lawan kita. Seharusnya memang ini bukan wilayah kerjamu. Kamu saja yang bersikeras untuk tetap melakukan kunjungan ini." sahut Kai pagi ini.


Kai meminta V ikut bersamaku, biasanya memang V selalu ikut, hanya tidak sampai terlibat terlalu dalam dengan semua kegiatanku.


Dan benar saja, begitu kami sampai, beberapa orang melempari kami dengan sampah elektronik,


"Pergilah!! Pergilah dari sini!!"


"Kami tidak membutuhkan kamu disini!"


Seorang walikota dari kota itu datang dan menyelamatkan kami.


"Apa yang terjadi?" tanyaku kepada walikota itu.


"Provokator. Banyak yang percaya issue bahwa orde Maam Dreamy dianggap tidak bisa memimpin dengan baik." jawabnya.


"Bagaimana menurut anda?" aku bartanya kembali kepada walikota itu.


"Menurut saya, Maam Dreamy sudah bekerja dengan baik, namum belum maksimal." jawabnya.


Aku mengatakan alasan kenapa aku belum maksimal menjalankan tugasku kepada walikota tersebut.


"Tapi saya selalu berusaha untuk menyelesaikan tugas-tugas saya. Kalau pun saya tidak bisa hadir ke suatu acara, saya akan mendelegasikan kepada orang kepercayaan saya." aku menerangkan kepada walikota itu.

__ADS_1


Walikota itu mengangguk, "Paling tidak Maam Dreamy bisa lebih memperhatikan rakyat yang tinggal di bantaran sini daripada sekedar membuat kebijakan atau aturan baru." katanya berterus terang.


Aku meminta robot pencatat (Robot kecil yang mengikutiku selama aku bertugas) mencatatnya, "Baiklah tolong panggilkan satu atau dua wargamu untuk menemuiku. Terimakasih." sahutku, dan meminta pak walikota untuk memanggil satu orang warga untuk menyampaikan aspirasi mereka.


Tak beberapa lama, pak Walikota datang membawa tiga orang warga, dan dua unit robot pembantu yang biasa aku gunakan di rumahku.


"Halo, apa yang bisa saya bantu?" tanyaku kepada mereka.


Mereka menjawab satu per satu, karena mereka di awasi ketat oleh beberapa unit robot pengawalku.


"Karena sulitnya mobil terbang menjangkau daerah ini, jadi harga-harga bahan pokok mahal." protesnya.


"Yang kedua adalah sinar matahari, seperti Madam ketahui, daerah kami ini berbentuk lengkungan, sulit sekali mendapatkan sinar matahari. Rasanya seperti selalu gelap disini." kata yang satu lagi.


"Baiklah," aku menanggapi mereka setelah mereka selesai mengeluarkan unek-uneknya, "memang aku sudah memasukan ini ke dalam program kerjaku, mau kalian suka atau tidak kepadaku, itu hak kalian dan aku tidak peduli itu. Aku hanya peduli tentang bagaimana daerah ini, kota ini menjadi sama indahnya dengan kota-kota lain." sahutku.


"Aku punya rencana, untuk membongkar lengkungan ini dan meratakannya, tentu saja kalian yang terkena dampak pembongkaran akan mendapatkan kompensasi." sambungku, "jadi, semua moda transportasi bisa menjangkau ke semua pelosok di kota ini." sahutku lagi.


Mereka mengangguk-angguk, "Bisa saja itu dilakukan. Berapa banyak kompensasi yang akan kami terima?" tanya salah satu dari mereka.


"Ini baru rencana, sedang di rapatkan seberapa besar anggarannya." sahutku lagi, "aku mohon, bersabarlah. Aku akan datang lagi. Dan aku akan melakukan pengecekan unit robot, robot pengganti, dan semua sampah elektrik yang ada disini. Siang ini juga, aku akan membersihkan segala yang tidak terpakai atau yang tidak pada tempatnya." sahutku lagi.


Keputusan sudah dibuat, suka tidak suka, mau tidak mau mereka harus mengikuti aturanku. Dan kalau aku sudah membuat keputusan, tidak ada yang akan bisa merubahnya.


Ketika aku berpamitan kepada walikota, unit robot pembersih mulai melaksanakan tugasnya, dan laporan tentang sampah-sampah tersebut mulai masuk ke dalam laporanku.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Bagaimana perkembangan rencana pernikahan sungguhanmu?" tanya Kai


"Kacau. Pernikahan mainan saat itu, sudah tercata sungguhan di gereja." sahutku.


"Ah, benar juga. Aku sudah menduganya pasti akan tercatat secara langsung." jawab Kai, "lalu, apa yang akan kalian lakukan?"


"Bantu aku memperbaharui janji nikah kami, Kai..." pintaku setengah memohon, "kupikir ini tugas mudah, ternyata sulit sekali."


"Hahahaha. Waktu kalian menikah bohongan, itu terasa sangat mudah yah?" sahutnya meledekku.


"Entahlah..." tukasku kesal.


"Kalian berjodoh, V. Untuk apa dipertemukan lagi sampai sejauh ini? Itu sudah tanda dari semesta, kalian berjodoh dan kali ini kalian tidak boleh bermain-main lagi dengan sumpah pernikahan." ujar Kai.


"Aku paham. Sekarang, tolong bantu aku." pintaku. Kai tertawa dan mengambil alih macboxku dariku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2