
Aku tidak mempercayai penglihatanku, namun V tetap professional, dia tersenyum, mempersilahkan kami untuk duduk, dan melakukan atraksi-atraksi memasak dengan tenang. V juga menyajikan makanan dengan baik. Baiklah, aku juga akan bersikap professional.
"Kai mengenai Rufus, apa kira-kira dia ada di sekitaran daerah ini?" tanyaku pada Kai
"Kemungkinan besar iya, tapi kita juga harus tetap memperhitungkan kemungkinan kecil yang akan terjadi, misalkan dia tau kita disini, pasti dia akan pergi ke tempat lain yang lebih aman, bukan? Pertama, kita harus mencari motifnya dulu." jawab Kai. Aku mengangguk perlahan.
"Tapi, kenapa dia disebut buronan? Buronan bukannya terlalu kejam untuk seorang pelintas waktu seperti dia, maksudku, kita juga pernah seperti itu, kan?" tanyaku lagi kepada Kai.
"Karena dia sudah ada disini bertahun-tahun, menurut data, sudah 5 tahun dia disini, dan dikatakan, dia melakukan penculikan terhadap salah seorang penduduk di tahun waktu kita, dan kabur kesini" kata Kai menerangkan.
"Oke, kita mulai bekerja siang ini kalau begitu" sahutku. Kai mengangguk.
"Silahkan makanannya" kata V, menghidangkan main course, berupa steik daging domba cantik, dan disajikan di tengah-tengah kepulan asap.
......................
Selesai makan, aku dan Kai mulai berpatroli di jalan, kami melihat setiap orang yang lewat.
"Sampai kapan kita begini?" tanyaku pada Kai, "Kita harus berpencar Kai, paling tidak kita harus menentukan tempat yang sering dia kunjungi, kalau begini terus, bisa menggelinding bola mataku nanti." sahutku lagi. Tapi Kai menggeleng, "Ini hari pertama, jangan langsung mengundang perhatian, dan lagi berdasarkan data yang sudah ada, Rufus sering berada di daerah sini bersama korbannya." terang Kai.
"Tapi kita tidak diberikan info tentang korbannya, kan? Maksudku bagaimana kita mengenali korbannya? Masa harus kita tanya satu-satu." jawabku berkilah.
"Hei, kamu sudah bekerja setahun lebih kan? Pakai logikamu, Dream, kamu bisa mencari historynya sendiri. Bersyukurlah kamu karena kamu di temani oleh seorang pria berdedikasi tinggi, dan memiliki integritas serta kecerdasan yang cukup tinggi" sahutnya. Aku menoleh ke arahnya, dan tertawa, "Apa yang kamu katakan? Kamu hanya mau pamer padaku, apanya yang berintegritas? Hahahaha"
"Lagian Kai, kita seharusnya mengintai dalam mobil, tidak terang-terangan seperti ini, dan jujur saja, baju ini, super panas sekali, mana ada orang mengintai pakai kemeja dan jas, kita akhiri saja lah" sahutku.
__ADS_1
"Menurutku, oke kok, mengintai memakai jas" jawab Kai.
"Ya tapi, kita akan terlihat sekali seperti mengintai, sudahlah, kita sudahi saja hari ini, dan temani aku berbelanja baju baru." sahutku lagi, melepas jasku, dan mengikat rambutku ke belakang.
"Baiklah, ayo" sahutnya, dan menarik ikatan rambutku, "Kamu lebih cantik tidak diikat, jangan pernah ikat rambutmu seperti itu" katanya lagi, dan mengantongi ikat rambutku.
Kami kembali ke hotel tempat kami menginap, Kai membuat laporan virtual, sudah ada virtual papa melayang-layang di atas meja tamu ruanganku.
"Terus berhati-hatilah, dan Kai, besok pagi 1 unit mobil akan diantarkan kesana" sahut papaku. Aku sangat iri kepada Kai, "Papa, apa aku boleh mengemudikannya?" tanyaku, "dan mana mobil untukku?" tanyaku lagi. Papa tertawa, "Untuk apa butuh 2 mobil dalam misi pengintaian? Papa akan berikan driver" katanya. Aku dan Kai menjawab, "No!"
"Ah maaf, maksudku, tidak perlu, aku bisa mengemudikannya dengan hati-hati, dan aku bersumpah, tidak akan membiarkan Dream mengambil alih kemudi" sahut Kai. Papa tertawa kembali, "Baiklah Kai, aku akan beri perintah kepada polisi disana untuk tidak perlu menyediakan supir, berhati-hatilah, dan Dream, jangan terbawa emosi, bergerak perlahan, dan selalu waspada" sahut papa. Aku mengangguk.
"Oke, besok kita akan mengintai dari dalam mobil..horeeee...." sahutku, "Ayo belanja" kataku lagi, menarik baju Kai.
Malam itu, selesai kami berbelanja, kami langsung menuju restaurant hotel.
"Astaga, Dream. Sepanjang berbelanja, mulutmu tidak berhenti mengunyah, dan sekarang kamu kelaparan, orang akan menyangka kamu benar-benar kelaparan" sahut Kai, menggelengkan kepalanya.
"Aku tau, hanya perasaan lapar ini sangat sulit di jelaskan Kai, dan lagi berbelanja sungguhan seperti ini, benar -benar menguras energi, wajar kan aku lapar? Besok aku harus mengonsumsi pil" sahutku lagi. Sesampainya di restaurant hotel, aku memilih menu buffet, karena aku bisa mengambil sebanyak yang aku mau, dan apapun yang aku suka. Selesai makan, seorang chef mendekati kami, Voltaire.
"Hai Kai, hai Dream, apa kabar?" sahutnya sambil mengulurkan tangannya. Aku menengok ke arah Kai, dan Kai menganggukkan kepalanya, "Hai V, mau bergabung?" tanya Kai dan membukakan satu tempat duduk untuk V.
"Oh terimakasih" katanya dan kemudian duduk di kursi yang telah Kai sediakan.
"Apa kabar kalian?" tanyanya, Kai menganggu, "Aku baik, Dream baik, kamu gimana?" tanya Kai.
__ADS_1
"Aku baik" sahutnya, "Kalian menginap disini?" tanya V, lebih kepadaku, jadi aku menjawabnya, "Iya, tapi aku tidak menyangka akan bertemu denganmu" jawabku. V tersenyum, "Aku ingin mencari pengalaman lebih banyak, sebelum aku tidak bisa melakukan apa-apa" sahutnya. Kai dan V kemudian berbincang-bincang, aku menengok kanan dan kiri, mencari Bry, yang mungkin saja datang bersamanya atau akan menjemputnya.
"Dimana Bry?" tanyaku akhirnya. Penasaranku mengalahkan segalanya, termasuk harga diriku. V yang sedari tadi fokus kepada Kai berbalik ke arahku, "Bry? Entahlah, aku sudah tidak bersamanya lagi" jawabnya santai. Aku berpura-pura tenang, "Oh" sahutku. Apa yang membuat mereka putus? Sudahlah, biarkan itu menjadi kenangan masa laluku.
"Kalian disini sampai kapan?" tanya V lagi. Namun, Kai mengajaknya ke dalam ruangan kamar hotel tempat kami menginap, "Naiklah bersamaku, kita berbincang seperti dulu lagi" ajak Kai. V menolak, "Tidak usah Kai, kapan-kapan saja, aku kan bekerja disini, bisa kapan saja kalian panggil." jawabnya, "Kalau tidak keberatan dan kalau ada waktu, bolehkah aku berjalan sebentar denganmu, Dream?" sahut V, aku berlagak cool, tapi sebenarnya debaran jantungku mulai terdengar lagi, "Boleh, kamu balik ke kamar duluan yah Kai, tunggu aku" jawabku. Kai mengangguk, dan berpamitan untuk duluan pergi ke kamar. Aku dan V tetap tinggal di restaurant, "Mau berjalan-jalan keliling hotel?" tanyanya menawarkan. Aku mengangguk, "Boleh, yuk" sahutku, dan bergegas berdiri. Aku berjalan di samping V, dia bertanya kabarku, bagaimana kondisiku, bagaimana orang tuaku. Aku menjawab seadanya, karena itu jenis pertanyaan tertutup, bukan, yang hanya butuh jawaban ya, tidak, atau bagaimana denganmu.
" Apa yang kamu lakukan disini?" tanya V, kali ini mengajukan pertanyaan terbuka pertamanya.
"Aku sedang dalam misi, semenjak kita berpisah, aku bekerja di pemerintahan, dan papa mengawasiku secara langsung. Tugasku ada memonitor dan mencari pelintas waktu yang melakukan perjalanan waktu secara ilegal" jawabku, "dan, bagaimana denganmu? Kenapa bisa ada di tempat sejauh ini?" aku bergantian bertanya kepadanya.
"Aku hanya ingin mencari suasana baru dan memperbanyak pengalamanku, dan kebetulan, di hotel ini membuka lowongan pekerjaan, dan aku mencobanya" jawabnya. Aku mengangguk, tak lama V memulai percakapan kembali, "Dream, maukah kamu maksudku bisakah kita memulai lagi dari awal, maksudku bukan berhubungan, tapi kita belum pernah berkenalan secara resmi, kalau kamu tau maksudku" katanya. Aku mengingat-ingat, benar juga, perkenalan kami saat itu singkat sekali karena kami tidak sengaja terlemoar ke tahun waktu ini. Aku tersenyum, mengulurkan tanganku, "Namaku Dreamy Eve, kamu bisa panggil aku dengan Dream" sahutku. V kemudian membalas uluran tanganku, "Voltaire Brian, panggil saja V, senang bertemu denganmu kembali, Dream" sahutnya. Kami pun tersenyum.
**EPILOG
Kai POV**
"V, hei, apa kabar?" tanyaku kepada V. V tersenyum "Baik sekali, bagaimana denganmu?" tanyanya. Aku tersenyum. Pertemuan mengejutkanku dengan V membuatku khawatir ini akan mempengaruhi Dream.
"Apa yang membawamu sampai kesini, Kai?" tanya V kepadaku.
"Aku ditugaskan untuk suatu misi, dan aku sangat berterimakasih kalau pertemuan kita tidak akan berpengaruh pada emosi Dream" sahutku
"Jadi apa yang harus aku lakukan? Aku akui, aku pun sangat terkejut sekaligus senang bertemu kalian lagi. Untuk perasaanku terhadap Dream, tenang saja, tidak akan terulang lagi. " jawabnya.
"Sungguh?" aku bertanya lagi kepadanya, dan dia mengangguk, "Kalau pun rasa itu muncul kembali, aku akan pastikan, aku tidak akan membuat Dream menangis lagi" katanya lagi.
__ADS_1
"Untuk yang terakhir, maaf sekali aku tidak bisa begitu saja mempercayaimu" sahutku. V tersenyum, "Silahkan" katanya.
"Aku akan benar-benar marah jika kamu mengulangi kesalahan yang sama kepadanya. Dan biarkan waktu yang mengatur semua ini " sahutku. V mengangguk lagi, "Dan selama kamu disini, bisakah aku mengajak Dream berteman?" tanya V lagi. Aku mengangguk, "Tanpa perasaan," jawabku memperingatkan.