
Sudah berapa lama aku disini? Seharikah? Atau dua hari? Atau tiga hari? Entahlah. Dan lagi, kemana polisi wanita itu? Dari tadi tidak kembali - kembali. Dan kapan aku akan keluar dari sini.
"Hei, nona..urusanku denganmu masih belum selesai." sahut si pria mawar. Bodohnya lagi, kenapa sel kurunganku harus bersebelahan dengan mereka? Hanya karena belum ada bukti bahwa mereka narapidana. Lihat saja wajah mereka itu, bahkan di keningnya sudah tertulis Narapidana!
Mobil patroli polisi tiba, dan tampak polisi wanita itu keluar, dia berjalan menuju ke sel kurunganku, "Tunggulah, aku sudah mendapat alamat Voltaire Brian, dan Casanova Restaurant." sahutny, sambil membukakan kunci kurunganku. "Duduklah!" katanya lagi. Aku duduk berhadapan dengannya, dia membuka laptopnya, dan mulai mengetik semua info yang telah ia kumpulkan.
"Jadi, apa hubunganmu dengan Voltaire Brian?" tanyanya.
"Aku istrinya." sahutku tanpa berpikir.
"Dan darimana asalmu dan 3 pria itu?" polisi wanita itu bertanya lagi.
"Haruskah aku jujur? Aku rasa, kamu tidak akan percaya kepadaku bu polisi." jawabku. Polisi wanita itu memelototiku. Baiklah. Aku menceritakan darimana asalku, dan siapa ketiga pria itu, "tetapi, aku tidak tau nama mereka." jawabku.
"Hei, tanyakan nama masing - masing dari mereka!" sahut polisi wanita itu kepada rekannya. Tidak lama, rekan polisinya membisikkan jawabannya ke telinga polisi wanita itu.
"Gambit, Jack, Spark, pernah mendengar nama itu?" tanya polisi wanita itu kepadaku. Aku menggelengkan kepalaku.
"Kamu menggigit tangan Jack hingga seperti itu?" tanyanya lagi.
"Tidak mungkin aku yang menggigitnya sampai di balut seperti itu. Ya aku menggigitnya, tapi luka yang dia dapat itu karena dia ingin melepas chip yang ada di tangannya." sahutku.
"Chip?" tanya polisi wanita itu lagi. Aku mengangguk, dan menjelaskan tentang penanaman chip di tubuh atau bahkan di otak para narapidana.
"Lantas, kenapa mereka tidak tau keberadaan narapidana ini?" tanya polisi wanita itu lagi. Sepertinya dia menganggapku sedang menghayal.
"Lintas waktu. Mereka melintasi waktu." sahutku putus asa.
"Baiklah, nanti akan ada yang menjemputmu dan tiga pria itu, sekarang tunggulah disana lagi." katanya. Aku berjalan lemas menuju kurunganku, sekarang aku paham apa yang di rasakan Bry saat aku mengurungnya, batinku dalam hati.
Seperti janji polisi wanita itu, akan ada yang datang menjemputku, dan benar saja. Tidak hanya satu orang, tapi sekompi pasukan polisi satuan waktu.
"Tunggu, jangan ada yang melepas mereka dahulu, mereka berbahaya!" sahutku. Tapi terlambat, pria mawar telah mengambil senjata api dari kantong celana si rekan polisi wanita, dan menembaknya. Rekan polisi wanita itu terjatuh, dengan darah mengalir dari kepalanya. Dan dengan sigap, pria mawar itu menangkapku, dan menodongkan senjata apinya ke pelipisku. Dua temannya menjagaku di depan dan di belakang.
__ADS_1
Pria mawar itu setengah menyeretku keluar. Para polisi satuan waktu itu serentak menodongkan senjata api mereka ke arahku, maksudku ke arah para narapidana itu.
Aku melihat papa maju ke depan, diikuti V, dan Kai.
"Lepaskan putriku!" sahutnya.
"Aku minta tebusan untuk nyawa putrimu! Lepaskan chip kami, dan biarkan kami bebas!" tuntut si pria mawar itu.
"Kejahatanmu, Gambit!!! Kejahatanmu tidak semurah itu!" sahut papaku lagi.
"Hahahaha...terserah padamu, Mark! Tukar dengan nyawa putri tunggalmu kalau menurutmu, hargaku murah!" sahut si pria mawar yang ternyata namanya Gambit. Aku berusaha menggigit lengannya, tapi lengannya mencengkram leherku dengan kuat. Aku menginjak kakinya sekuat aku bisa!
"Aargghhhh! Perempuan sialan!" sahutnya. Aku berlari menuju papaku, tapi satu tembakan gambit mengenai kakiku, diikuti bunyi tembakan lain entah ke arah mana, kepanikan menyerangku disertai rasa sakit yang luar biasa. Aku tersungkur dan terjatuh. V dan Kai mendekatiku. Tapi tangan si pria kerbau lebih cepat dari mereka.
Pria kerbau, mengambil lenganku, dan memaksaku berdiri. Dia menodongkan senjatanya ke arah V dan Kai.
"Siapa berani mendekat, akan kuhilangkan kaki gadis ini!" sahutnya. Aku meringis kesakitan, tidak! Aku tidak akan menangis. Aku melihat, darah mengalir...darah siapakah itu? Gambit kah? Atau darah dari kakiku? Aku tidak tau.
"Turunkan senjatamu, Sparks!" sahut Kai. Dia maju ke depan tanpa senjata apapun, dan tanpa perlindungan apapun, "ayolah, lawanmu hanya seorang gadis, Sparks! Lepaskan dia!" sahutnya memberanikan diri. Polisi waktu mengikuti langkahnya, membentuk barisan, dan mengepung kami. Tapi, tiba - tiba, Gambit menembak salah satu polisi waktu, dan menyuruh Sparks berlari menggendongku.
"Sparks!!! Jangan bodoh!!" V! Itu suara V!!
Suara tembakan mengenai kaki Sparks, dan dia kehilangan keseimbangan, aku nyaris terjatuh, namun dia benar-benar memegangku dengan kuat, "maafkan aku nona, maafkan aku!" sahutnya. Gerbang lorong waktu sudah muncul, dan kemudian dia melemparkanku, diiringi bunyi tembakan lain. Aku sudah berputar-putar di dalam pusaran. Kesadaranku semakin menurun, aku sudah kehilangan banyak sekali darah.
Tahun Lampau
Aku terbangun di atas kasur agak keras, dengan infusan di tanganku, ouuuccchhh...kakiku pegal sekali. Kakiku yang tertembak, di gantung di atas, sedangkan satu lagi, aman. Tapi dimana aku?
Tak lama, seorang wanita berpakaian serba putih datang, ditemani oleh V!! Hatiku bersorak kegirangan saat melihatnya.
"Voltaire!!" seruku.
Dia memelukku, "Kamu sudah sadar, Dream?" tanyanya kemudian. Aku mengangguk. Perawat itu kemudian memeriksa kondisiku, memeriksa air infusan, dan memeriksa perban di kakiku.
__ADS_1
"Maaf, apa ini tidak bisa di turunkan saja?" aku bertanya kepada perawat itu.
"Belum mba, ini untuk mengurangi pembengkakan makanya harus ditinggikan." jawab perawat itu, dan berpamitan kepadaku.
"Oh, V... Kita ada dimana? Aku ingat, Sparks melemparku ke gerbang waktu, tapi dia minta maaf, dan dia tertembak. Sebelum aku di lempar, aku melihat papa ikut berlari, aku takut papa tertembak juga. Dan bagaimana dengan Kai? V, aku lega sekali bertemu denganmu disini, aku pikir aku akan sendirian." aku mengeluarkan emosiku, V kembali memelukku, dan membiarkanku menangis.
"Kamu tidak sadarkan diri selama 4 hari. Ketika kamu di lempar, aku mengikutimu, aku hanya fokus kepadamu, aku tidak tau siapa saja yang ikut melompati gerbang waktu saat itu. Beruntungnya aku, ketika aku mendarat, aku menemukanmu tidak sadarkan diri, dan aku langsung membawamu ke rumah sakit. Mereka melakukan operasi untuk mengambil peluru di betismu, maka itu terjadi pembengkakan, dan harus di angkat seperti itu. Aku belum mendapat kabar lagi tentang apa yang terjadi setelah aku melompat." jawab V panjang.
"Yang penting sekarang aku bersama kamu, V, bersama orang yang aku kenal." sahutku. V mengangguk, "Istirahatlah, Dream." sahutnya.
Papa, Kai, semoga kalian baik - baik saja. Aku bersama dengan V disini dan dalam keadaan baik - baik saja. Semoga kita bisa berkumpul kembali, yah...
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
"V, ikuti Dream! Cepat masuk ke gerbang waktu begitu ia melemparkan Dream!" sahutku sambil berlari. Dan berusaha menembakkan target di depanku.
V mengangguk, "Maukah aku bantu, Kai?" tanya V.
Aku memandangnya, "Fokuslah untuk mengambil Dream begitu ada kesempatan, aku akan fokus kepada Sparks!" sahutku.
Dan benar saja, satu tembakanku mengenai kakinya, dia kehilangan keseimbangan, dan aku mendengar Dream berteriak.
"V, lebih cepat!!" sahutku. V mempercepat larinya.
"Kai, biar aku bereskan, posisikan seluruh pintu lorong waktu!" tiba - tiba pak Mark sudah berada di sampingku. Aku menggeleng, "Maaf pak, untuk kali ini, aku akan mengejarnya!" sahutku. Pak Mark menghentikan larinya, dan aku mendengar perintahnya untuk semua petugas untuk memperketat lorong waktu.
Aku melihat, Sparks melemparkan Dream ke gerbang waktu, "V, kejar Dream!!" sahutku. Aku melepaskan peluru terakhirku, dan tepat mengenai dahi Sparks, Dia tersungkur jatuh, dan aku melompati waktu, mengejar Dream. Aku hanya bisa berharap, semoga aku mendarat di tahun waktu yang sama dengan mereka.
Dream, tunggu aku!!
__ADS_1
...----------------...