
*Tiiiit...
Tiiiit....
Tiiitt*...
Aku kembali berada disini menunggu V untuk bangun. Aku tidak menghitung sudah berapa lama V dalam keadaan koma seperti ini.
Kondisi V dalam minggu ini sudah lebih baik, sudah bisa menggerakan jari-jarinya dengan perlahan. Namun, kedua matanya masih terpejam. Dokter bilang ini akibat reaksi berlebihan juga sehingga menyebabkan shock pada jantung.
Aku, Kai, Bry, dan ibu Kai bergantian menjaga V. Orangtuaku hanya menjenguknya, namun mereka, khususnya mamaku, mengingatkanku, bahwa aku mempunyai hutang budi terhadap V. Sehingga aku diharuskan untuk membayarnya suatu hari nanti.
"Apapun ma. Apapun akan kulakukan agar V bangun." sahutku.
Sore ini, sesuai aku menjalankan kewajibanku, aku tertidur di samping V. Aku tertidur dengan menangkupkan tanganku. Dam tiba-tiba saja, ada yang menyentuh rambutku. Aku terbangun, dan melihat V mengangkat jari-jarinya, dan tangannya mulai menggapai-gapai, namun matanya masih terpejam.
Aku segera memanggil dokter, dan menghubungi Kai. Dokter memeriksa kondisi V. Katanya ajaklah berbicara terus, dan panggil namanya. Aku mengiyakan nasihat dokter.
Tak lama, Kai dan Bry datang, aku menceritakan apa yang terjadi, mereka mendekati V, dan memberikannya semangat, "V, cepat bangun yah. Kami merindukanmu, kasihanilah Dream, dari tadi dia ada disini dan belum mandi. Yang aku khawatirkan, kamu sedari tadi pingsan karen mencium bau badannya yang memenuhi ruangan ini." seru Kai.
Aku mencubitnya, "Sembarangan!" ujarku. Bry tertawa.
"Kai, apakah dia akan lupa ingatan?" aku bertanya pada Kai.
"Tentu tidaklah. Dia terluka disini," seru Kai menunjuk dadanya, "bukan disini" tambahnya lagi seraya menunjuk kepalanya.
Kami bertiga sekarang menunggu V, terkadang sambil bercanda, berbincang-bincang, dan Kai menyuruh aku dan Bry untuk tidur di tempat tidur tamu, di sebelah ranjang V.
Kami tertidur sampai...
"V...V...kamu sudah sadar??!! Bry, panggil Dream. V sudah sadar!!" seru Kai.
Suara Kai yang menghebohkan itu, membangunkanku, "Ada apa Kai?" aku bertanya kepadanya.
"Dream, V sudah bangun." serunya dengan senyum lebar.
Aku bergegas beranjak dari tempat tidurku, dan menemui V, dan airmataku mulai menetes, "V, kamu sudah bangun? Oh, Tuhan V....!!" sahutku dan memeluknya.
"Sudah kubilangkan, aku tidak akan mati....ah... jangan menekan bagian itu, Dream, masih sakit." katanya.
Aku segera melepaskan pelukanku, "Ma...maaf, aku pikir kamu akan lupa ingatan atau tidak akan bangun selamanya, aku takut sekali..." sahutku sambil terisak.
"Bodoh! Yang tertambak itu dadanya, Dream. Sulit sekali meyakinkanmu!" seru Kai.
"Dari apa yang aku tonton di drama-drama itu, dimana pun tertembaknya, kemudian mereka tidak sadarkan diri dalam waktu lama, dan ketika sadar, mereka pasti lupa ingatan, Kai!" tukasku.
"Korban drama!" seru Kai.
V dan Bry tertawa, "Sudah cukup lama aku tertidur sepertinya, besok-besok pasti aku akan sulit tidur." seru V lagi.
__ADS_1
Tak lama dokter datang, dan memeriksa kondisi V, dan setelah itu, dia mengatakan V baik-baik saja. Lukanya juga dalam proses penyembuhan, "Dan lagi dia akan sedikit pusing karena tidur terlalu lama, pokoknya aku mengucapkan selamat datang kembali Tuan Voltaire." seru si dokter dan menjabat tangan V, yang langsung membalas uluran tangan dokter tersebut.
"Kamu tau V, aku khawatir sekali padamu. Dan lagi, kenapa kamu harus menghadang peluru?" tanyaku, saat kami sudah berdua saja.
V tersenyum, "Oh, tapi keren kan aku?" jawabnya.
Aku memberengutkan bibirku, "Keren darimana kalau pada akhirnya berakhir di rumah sakit?!" sahutku kesal.
"Karena aku takut terjadi sesuatu kepadamu lagi, Dream. Dan kita terpisah lagi, dan yang paling kutakutkan adalah kamu kembali pada Robbie dan menikah dengannya disana." jawab V. Wajahnya tersipu, dan memerah. Dan begitu sadar aku memandangnya, dia memalingkan wajahnya.
"Bodoh! Kalau aku kembali kepada Robbie, aku akan kabur dari kemarin. Dan lagi, kamu tidak perlu berbuat senekat itu demi menghalangi Robbie membawaku." sahutku.
"Aku harus apa lagi? Yang ada di kepalaku, saat itu hanya kamu." jawabnya sambil memainkan hidungnya.
Aku tersenyum, "V, terimakasih karena kamu telah meletakkanku di tempat yang paling tinggi di hidupmu." sahutku.
"Ya, sama-sama. Apa aku sudah cukup keren untuk bisa menjadi pasanganmu?" tanya V dengan malu-malu.
"Entahlah, dan jangan memikirkan itu dulu. Kamu bisa sadar kembali, aku sudah sangat bersyukur." sahutku.
Dari dalam lubuk hatiku, aku mau menjawab pertanyaannya, tapi entah kenapa, jadi kalimat itu yang keluar. Kuakui, V cukup keren, dan sangat laki-laki sejati.
...----------------...
"Kai, aku ada rencana untuk mengadopsi Jean dan Jeannete. Bagaimana menurutmu?" tanyaku pada Kai.
"Tentu saja....kita berempat akan mengurusnya." sahutku sambil nyengir ke Kai.
"A...apa? Bagaimana?" tanya Kai.
Aku tersenyum lebar, "Disini kan ada kamu, ada Bry, ada V, ada ibumu, ada orangtuaku...hehehe!" sahutku.
"Kenapa tidak ada namamu di daftar pengurus?" tanya Kai lagi.
"Aku kan bekerja, Kai." sanggahku, "Oke, deal. Begitu V bisa keluar dari rumah sakit aku segera mengurus proses adopsinya." sahutku ceria.
"Hei, Dream ini belum selesai dibicarakan loh." sahut Kai.
"Bry pasti akan setuju, percayalah padaku. Dan V dia akan mengikutiku keputusanku." sahutku.
"Tidak! Aku tidak mau membantumu mengurusnya." sahut V, saat aku menjenguknya di rumah sakit.
"Ke...kenapa? Apa karena dia anak Robbie?" tanyaku, karena perkiraanku meleset.
"Kita saja belum menikah, bagaimana mau mengurus anak bersama." jawab V dengan santai.
"Apakah harus seperti itu?" aku bertanya lagi kepadanya.
"Tentu saja. Kita juga harus membuat anak kita sendiri, Dream." ucap V.
__ADS_1
"Baiklah." sahutku sambil berdiri.
"Ba..baiklah apa?" tanya V.
"Kita menikah." aku menjawab dengan segala keyakinan yang ada di diriku.
V terbatuk-batuk, "Uhuk....uhuk....uhuk...Ka..kamu serius? Bukan karena untuk mengurus mereka kan? Kamu mencintaiku kan makanya kamu mau menikah denganku?" tanya V.
Aku mendekatkan wajahku, V mundur, aku menangkupkan kedua tanganku di kedua pipinya, lalu aku mencium lembut bibirnya, kemudian aku melepasnya, dan menulis di telapak tangannya 831.224.
V memandangku heran," Kode apa ini?" tanya V
"Carilah." sahutku, kemudian aku berpamitan kepadanya untuk melanjutkan pekerjaanku.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Kai, apa itu 831.224?" tanyaku kepada Kai yang saat itu sedang bergantian menjagaku.
"Hmm, apa itu?" tanyanya, sama tidak pahamnya denganku.
"Entahlah. Dream menuliskan ini di telapak tanganku, dan memintaku untuk mencarinya." aku menjawab Kai.
Aku sudah memindahkan kode dari Dream ke macboxku, kemudian aku memutarnya supaya Kai lebih mudah melihatnya.
Kai mengerutkan keningnya, "Apa ini?" tanyanya, kemudian mengutak atik kode itu, tapi tidak kunjung berhasil memecahkan arti kode tersebut.
"Dream berpesan, carilah. Artinya harus dicari kan, bukan dihitung atau di pecahkan seperti ini?" aku bertanya lagi kepada Kai.
Kemudian Kai seperti mendapatkan pencerahan, dia mengambil macboxku, dan menuliskan kode tersebut di kolom pencarian kata, dan, "Ini artinya, V. Aku mendapatkannya."
Aku membaca pesan kode yang berhasil di terjemahkan Kai, I love you, today, tomorrow and forever.
"Anak bodoh itu! Haruskah aku tertembak dulu, baru dia sanggup membuka hatinya untukku?!" sahutku, dan sedikit terharu dengan pesan yang diberikan kepada Dream.
"Ah, kamu juga bisa membalasnya dengan kode, V." seru Kai.
"Bagaimana?" sahutku bertanya.
1432
"Tuliskanlah di tangannya saat dia datang nanti." usul Kai.
Aku mengangguk setuju, "Baiklah aku akan melakukan itu Kai. Terimakasih." sahutku.
...----------------...
__ADS_1