
Setelah hari pelantikan, aku disibukkan dengan kunjungan ke berbagai negara, ke berbagai kota, atau meresmikan sesuatu. V diangkat menjadi juru bicaraku, dan dia sekarang selalu mendampingiku kemana pun aku pergi. Kai, kembali menjadi asisten pribadi papaku, dengan Bryanna sekretarisnya.
Kesibukan baru ini membuatku sedikit banyak melupakan Robbie. Setelah dia tidak datang ke hari pentingku, tandanya aku sudah bukan prioritasnya lagi, bukan? Aku sudah terima itu, walaupun hubungan kami masih tidak jelas. Komunikasi kami pun semakin berkurang banyak, selain karena aku sibuk, aku tidak mau menghubungi dia lebih dulu.
Prinsipku dari dulu sudah jelas, aku tidak akan menghubungi seseorang kalau dia juga tidak mau menghubungiku, dan untuk apa aku memikirkan seseorang, kalau dia tidak memikirkanku. Menurut Bry, pikiranku ini sangat sehat. Rasa sakit pasti ada, dan terkadang setiap malam aku sering terjaga hanya untuk memikirkan dia, karena itu kalau aku sedang sangat rindu padanya, aku akan menumpuk jadwalku dalam satu hari, sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan Robbie.
V, jadwalku apa lagi setelah ini?" tanyaku kepada V.
"Kosong." jawabnya singkat.
Aku menatapnya tidak percaya, "Kosong?! Kenapa bisa kosong?" aku bertanya kepadanya.
"Aku, Kai, Bry dan orangtuamu memutuskan untuk mengosongkan jadwalmu sampai besok. Karena semua target sudah tercapai. Kamu ngebut sekali, Dream." jawab V, "aku tau alasanmu di balik itu semua. Sayangi dirimu sendiri, Dream." ujar V lagi.
Aku menghela nafas, "Lalu aku harus apa sekarang?" tanyaku kepada V.
"Kita akan berjalan-jalan santai, Dream. Di tahun waktuku, untuk bisa terbang seperti ini harus naik pesawat, kan? Aku akan menikmati terbang bersamamu dengan naik mobil saja." jawab V tersenyum.
Aku menyenderkan kepalaku di bahunya, dan kurasakan V mengecup ujung kepalaku. Andai hatiku tidak di penuhi, Robbie aku akan sudah siap menikah dengan V, mungkin. Dan dia yang akan mengemban tugas perdana mentri, sedangkan aku akan asik bermain bersama Bry. Sesederhana itu keinginanku, namun sulit sekali untuk Robbie mewujudkannya.
V benar-benar hanya mengajakku terbang dengan mobil, sesekali dia mengajakku bercanda.
"Apa kamu tau, Dream, bahwa Kai dan Bry menjalin hubungan?" tanya V
Aku menggeleng, "Tidak. Tapi aku sudah menduga bahwa hubungan mereka sedikit lebih intens." jawabku, "bagaimana mungkin sekarang Bry bisa menjadi pawang Kai. Kai sulit sekali di jinakkan." ujarku.
V tertawa, "Benar kan? Ada yang aneh dari mereka. Di samping saat itu Bry sebagai juru bicaranya, tapi mereka semakin dekat. Aku akan bersiap-siap untuk menjadi pengiring pengantin pria kalau begitu." sahut V.
"Aku juga. Aku akan bersiap untuk menjadi pengiring Bry. Ah seru sekali membayangkannya yah, V. Dan aku turut bahagia, andaikan mereka benar akan menikah." sahutku, namun tiba-tiba aku di penuhi aura kesedihan, "Tadinya aku membayangkan, aku yang akan menikah lebih dulu, dan kalian akan menjadi pengiringku." ujarku muram.
V menurunkan mobil kami sedikit, dan berhenti tepat di atas taman hijau yang baru setengah jadi, "Kamu lihat, Dream? Kamu telah mewujudkan ruang hijau di kota ini, kamu mampu menambahkan Eden Park lain disini." sahut V. Kemudian V meninggikan mobil kami kembali, dan mengajakku berkeliling ke lintasan perbatasan mobil dan pesawat, "dan lihat, unit robot yang telah kamu tempatkan disini, dan lihat para pengendara mobil itu, mereka benar-benar menaati perintahmu." ucap V lagi.
"Kamu sehebat itu, kamu seluar biasa itu, dan kamu sekeren itu untuk bisa mewujudkan segalanya yang sudah ada disini. Maksudku, jangan hanya karena Robbie seorang, kamu jadi muram, Dream. Robbie yang tidak pantas bersanding denganmu. Kamu tau itu? Hanya karena dia terlalu sombong untuk meninggalkan kekuasaannya disana, dia membuang sebongkah berlian sepertimu. Cerialah, tidak ada yang dia ambil darimu." seru V berusaha menghiburku.
__ADS_1
Aku melihat segala yang sudah ditunjukkan kepada V, tapi tetap saja, setengah dari hidupku terbawa oleh Robbie. V kemudian menurunkan mobilnya tepat di rumahku, dan memarkirkannya.
"Terimakasih Voltaire yang baik." sahutku tersenyum, dia berjalan di sampingku dan mengacak-ngacak rambutku.
"Istirahatlah, Dream. Ada sesuatu yang harus aku laporkan kepada Kai." sahut V.
"Laporan mengenai apa?" aku bertanya.
"Top secret." jawab V tertawa.
Aku memberengut kesal, dan berjalan memasuki ruanganku. Aku berganti pakaian, dan berusaha untuk santai. Baru saja aku berbaring, tanduk Lyn menyala berpendar-pendar merah ungu. Aku mengambilnya dengan semangat, akhirnya Robbie menghubungiku, begitu pikirku.
Virtual Robbie mulai muncul walaupun masih tersendat-sendat, tapi kenapa Robbie tampak aneh, dan virtualnya mulai jelas, begitu juga apa yang sedang Robbie lakukan saat ini.
Robbie sedang bergumul, bergulat, dengan bibir saling memagut, dan aku dengan jelas melihat, perempuan ****** itu berada di atas Robbie, mereka sedang bercinta di siang hari, di kamar Robbie!
Aku tak bisa menahan emosiku, "Robbie!!" tukasku. Aku tidak berani mendekat, aku hanya menatap mereka. Seruanku tidak cukup untuk mengalihkan mereka, jelas Robbie tidak akan sadar dengan keberadaanku, matanya terpejam, menikmati setiap gerakan yang ditimbulkan oleh wanita di atasnya. Hanya terdengar suara *******, dan erangan di antara mereka.
"Lu...Luna...aku bisa jelaskan. Dan bagaimana kamu bisa ada disini?" tanya Robbie gelagapan.
Saat Robbie berdiri, aku baru sadar, Robbie meletakkan konektor Lyn, di kalung yang dia pakai, dan itu mungkin tidak sengaja tertekan tangan atau bibir atau apa lah dari si wanita itu.
"Luna, aku bisa jelaskan, kumohon jangan pergi. Jangan tinggalkan aku." katanya sambil memakai kembali baju dan celananya.
Aku hanya sanggup memandangnya, tanpa bisa mengucapkan satu patah kata pun, "Apa yang kamu lakukan, Rob? Kamu sedang meeting? Atau membahas sesuatu?" tanyaku ketika suaraku sudah terkumpul.
"Luna...aku bisa jelaskan." sahutnya terbata-bata, sambil memberikan pakaian kepada wanita itu yang memandangku ketakutan seakan aku hantu. Selesai berpakaian, wanita itu pergi. Robbie menutupi wajahnya, "Maafkan aku Luna. Andai kamu ada disini saat ini, di sampingku." katanya, "Maafkan aku."
"Jelaskan, Rob! Apa yang kulihat tadi? Siapa wanita itu? Apa yang kamu lakukan?" amarahku mulai perlahan naik sampai ke ujung kepalaku, mereka menuntutku untuk mengeluarkan semuanya.
"Tadi malam temanku mengajakku untuk pergi, kamu tau kemana aku pergi, dan wanita ini adalah kencan buta temanku, tapi wanita ini mendekatiku. Malam itu, aku tidak sadar, Lun, bahkan aku tidak bisa mengingat apa yang telah aku lakukan, dan siang ini, wanita itu datang lagi, dan dia menggodaku, menggerayangiku, dan...dan... seperti yang kamu lihat. Maafkan aku." jawab Robbie.
Saat ini aku sudah tidak sudi untuk menangisinya, rasa benci mulai meracuniku, mengalahkan rasa rindu dan sayangku untuknya.
__ADS_1
Aku memandangnya, "Jadi inikah jawabanmu Rob? Kamu tidak akan bisa sebebas ini kalau kamu berkomitmen denganku, kan. Dan kamu tidak akan bisa bermain dengan wanita lain, jika kamu pergi kesini bersamaku." sahutku, "Aku paham sekarang. Hancurkan konektormu! Dan aku bersyukur, aku tidak bisa menemuimu lagi, sekalipun aku mau!" aku menambahkan kepada Robbie.
Robbie hanya berusaha meraih tanganku, "Jangan pergi Luna, kumohon maafkan aku...maafkan aku." tangisnya.
Aku meraih Lyn dan mematikan konektornya. Virtual Robbie perlahan menghilang dari pandanganku, begitu juga cintaku, perlahan merembes dan menghilang dari hatiku.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Kai, Robbie menunggu di lorong waktu." sahutku. Dan mengajak Kai pergi bersamaku. Tapi dia tidak bergeming.
"V, ini bukan ranahku lagi. Kalau kamu mencintai Dream, berjuanglah, rebut kembali hatinya. Katakanlah kepada Robbie untuk mundur. Aku tidak tau ada apa dengan mereka. Tapi kalau memang dia belum siap berkomitmen, ingatlah ucapanku waktu itu." sahut Kai.
"Aku tidak tau apa yang baru saja terjadi. Dream tidak mau keluar kamar, dia hanya berbaring tanpa makan atau bicara. Dan tiba-tiba saja, Lyn menyala, dan Robbie ingin bertemu dengan Dream tapi Dream menolak, bahkan untuk melihatnya pun dia tidak mau. Robbie memintaku untuk menemuinya saat ini." sahutku.
"Temuilah." jawab Kai.
Aku melintasi waktu seorang diri, dengan hanya ditemani oleh dua pengawal. Dan Robbie sudah menungguku di ujung lorong waktu. Matanya sedikit sembap, apa yang terjadi di antara mereka.
Robbie mengajakku untuk masuk ke dalam mobilnya, dan dia menceritakan apa yang terjadi. Selesai dia bercerita, aku hanya tersenyum, "Terimakasih Rob, kamu mempermudah jalanku untuk mendapatkannya." sahutku.
"V, Voltaire dengarkan aku. Aku tidak sengaja. Tolong katakan ini kepada Luna." pintanya.
Baru kali ini aku melihatnya tidak berdaya, biasanya dia penuh dengan karisma dan wibawa, sekarang dia jauh dari itu. Hatiku tergerak sedikit, tapi aku singkirkan itu jauh-jauh, Dream tidak boleh terluka lagi.
"Datanglah Rob. Kalau memang kamu mencintainya sebrangi waktu, dan temui Dream." sahutku, dan bergegas keluar.
Aku memandang Robbie yang hanya terdiam, kebencianku semakin menjadi, aku tau dia menempelkan konektor di kalungnya, aku menarik lepas kalung yang di pakainya, aku cabut liontinnya dimana konektor itu tersemat, dan aku menginjaknya hingga hancur, "Lupakan dia!" tukasku.
...----------------...
__ADS_1