
Setelah berita sensasional tentang apa yang telah kuperbuat, suasana negara ini kembali mereda. Dimana, menurut Voltaire, mereka takut kepadaku. Bahkan untuk mengambil sesuatu yang bukan milik mereka saja, mereka tidak berani.
Jumlah pelanggaran di negara ini menurun drastis dibanding bulan lalu, saat aku belum menerapkan hukuman tersebut.
"Angka kejahatan juga menurun, Dream. Bagus sekali idemu itu." ucap Kai.
Aku tersenyum bangga. Sekarang jadwalku agak sedikit longgar, karena satu per satu masalah sudah aku selesaikan dengan cukup baik.
Setelah papaku tiada, mama tinggal bersama kami, dan rumah papa di kosongkan. Aku akan memikirkannya nanti akan aku gunakan untuk apa.
Jean dan Jeannete mulai masuk sekolah normal, karena pelajaran dasar mereka cukup baik, sehingga mereka sudah disarankan untuk ke sekolah biasa.
Fokusku sekarang adalah,
"Dream, kamu tidak ada waktu untuk berdua saja dengan V. Kamu terlalu banyak urusan. Berliburlah." kata mama suatu hari.
"Nanti saja. Mama akan kesepian nanti kalau aku pergi berlibur berdua saja dengan V." sahutku.
"Kan mama ada Kai, ada Bryanna, atau ajaklah mereka bersamamu. Bry juga butuh berlibur. Apa istilahnya itu?" tanya mama.
"Babymoon. Baiklah, setelah pekerjaanku beres aku akan mengajaknya." jawabku.
"Kalian kan belum sempat honeymoon, pergilah. Tidak usah mengkhawatirkanku." kata mama memaksaku.
"Tapi kewajibanku ada yang belum selesai, aku tidak bisa pergi berlibur begitu saja." sahutku.
"Aku tau. Selesaikanlah segera. Berliburlah, nikmati waktu kalian, dan aku berharap kamu kembali dengan kabar bahagia." ujar mama lagi tersenyum menggodaku.
Aku tau kemana arah pembicaraan ini, "Aku juga mau begitu. Tapi mama harus bersabar sedikit. Untuk sementara bermainlah dengan Jean dan Jeannete dulu." sahutku.
"Hahahaha, walaupun begitu, mereka cukup menyenangkan. Mereka anak-anak yang baik dan pintar." kata mama.
Aku mengangguk setuju, "Aku tau, maka itu aku memperjuangkan mereka untuk menjadi anak-anakku." sahutku.
Setelah melanjutkan pembicaraan dengan mama, aku kembali bekerja. V sudah merelease jadwalku seharian ini, "Eh, kita ke tahun waktu?" tanyaku.
V mengangguk, "Iya, karena ada yang ingin bertemu disana. Dia adalah kenalan papamu, dan begitu mendengar berita bahwa papa sudah tidak ada, dia meminta kita kesana." jawab V.
"Ayo, kita sekalian honeymoon." usulku, "mama meminta kita untuk meluangkan waktu berdua saja, apa kamu mau?" tanyaku.
V merangkul pinggangku, dan mengecup keningku, "Boleh saja, kalau kamu ada waktu." katanya. Kemudian, V mencium lembut bibirku. Aku membalas ciumannya, "Kita juga sudah lama tidak begini." ujarku.
"Kan lagi berduka, lagipula sekarang ada mama. Kamu tidur berdua dengan mama, jadi aku kan tidak bisa menggodamu." kata V.
Aku melepaskan ciumannya, "Iya, kita menikah tapi jarak kita semakin jauh. Apa cintamu kepadaku berkurang?" tanyaku.
V menggeleng, "Kalau cintaku berkurang, aku tidak mungkin menciummu seperti ini kan?" katanya tersenyum. Dan dia menciumku lagi. Aku membalas ciumannya. Ciuman kami semakin lama dan dalam,
__ADS_1
"Ehem...sir...Ehem...EHEM!!" Kai berdeham di belakang kami.
V hanya memberikan telapak tangannya kepada Kai, kemudian menciumku lagi, setelah puas, baru V melepasnya, "Anak buah ngga sopan! Menganggu kesenangan saja!" tukas V bercanda, "Kalau ini tidak serius, aku akan merebusmu di kuali panas." ucap V lagi.
Kai mundur selangkah, "Kenapa kalian tidak melakukannya di kamar kalian saja? Kenapa harus di tengah jalan seperti ini? Apa kalian tidak malu dilihat orang?"tanya Kai berbisik.
"Oh, jadi kamu hanya menginterupsi kami?!" ujar V lagi.
"Bukan begitu. Ah, sudahlah. Ini laporan yang kamu minta." ucapnya, "Kalian sore ini akan pergi ke tahun waktu bukan?" tanya Kai.
Kami mengangguk, "Kenapa teman pak Mark, tidak bisa melupakan pak Mark?" sahutku bingung, "Biasanya kan akan lupa, begitu kan hukumnya?" tanyaku lagi.
"Kalau dari informasi yang ada, mereka tetap berkomunikasi dengan intens jadi tidak saling melupakan. Ingat ada konektor yang selalu terhubung. Maka itu komunikasi tetap terus berlanjut, walaupun beda tahun waktu." jawab Kai.
Aku mengangguk lagi, "Oh..." sahutku.
"Dan, tolong jawab pertanyaan saya, sir. Kenapa kalian tidak bisa menahan hawa nafsu di tengah keramaian seperti ini?" tanya Kai lagi.
Aku menepuk pundaknya, "Sudahlah, lupakanlah." jawabku, tapi V menjawabnya dengan nada sedih yang mendalam, "Kami tidak ada waktu, Kai. Menyedihkan sekali bukan? Ditambah lagi, Dream sekarang tidur bersama mamanya, masa aku harus melakukannya dengan guling?" jawab V pura-pura tersedu-sedu.
Kai memasukan V ke dalam pelukannya, dan menyandarkan kepalanya di bahunya, "Sabar....sabar..." katanya menenangkan.
Laki-laki ini mempunyai banyak drama daripada wanita. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, kami pergi menemui teman papa itu. Menurut V, selesaikan saja dahulu tugas ini, baru pergi berlibur, jadi aku menurutinya.
Kami bertiga yang pergi, Bry menolak untuk ikut karena katanya pusaran waktu hanya membuatnya pusing. Jadi kami pergi tanpanya. Dengan pengawalan dan pengawasan super ketat, kami menyebrangi waktu.
Pluukk*...
"Pendaratan yang sangat sempurna." ucap Kai.
"Dan dari sini, kita harus naik apa ke rumahnya?" tanyaku.
"Dia meninggalkan nomor ponsel, apa dari kalian ada yang membawa ponsel?" tanya Kai.
Aku menggelengkan kepalaku, tapi V membawanya, "Aku membawanya. Kalian manusia masa depan, terbiasa untuk tidak membawa ponsel, berbeda denganku." katanya dan memberikan ponsel itu kepada Kai.
*Rrriiinggg...
Rriiiinnggg...
Rriinnnggg*
Kai menggelengkan kepalanya, "Tidak ada jawaban." katanya. V memeriksa kembali jadwal hari ini, dan dia bersyukur karena teman papa itu memberikan alamat rumahnya.
Kami naik taksi ke alamat rumahnya itu, "Siapa namanya?" tanyaku.
"Josh Benedict." jawab V.
__ADS_1
Aku mengangguk, "Aku belum pernah mendengar namanya." sahutku. Aku memang kurang mengenal siapa-siapa saja teman atau rekan kerja papa.
Dulu, aku kurang tertarik dengan politik, dan hanya karena aku harus menggantikan posisi papa, jadilah aku mau tidak mau belajar tentang politik.
Kami sampai di rumah Josh Benedict itu, tapi rumahnya tampak kosong, "Apa benar alamatnya disini?" aku kembali bertanya.
V mengangguk, "Harusnya sih benar disini alamatnya." katanya, "Aku akan mencoba menghubunginya kembali." sahut V menambahkan.
*Rriiinnggg...
Rriiinnggg...
Rriiinnggg*...
"Ha...halo, dengan Josh Benedict?" tanya V. V merubahnya ke mode pengeras suara.
"Ya, apa ini Voltaire?" tanya suara dari sebrang.
"Ya, saya Voltaire, dan saya datang dengan anaknya Pak Mark Fransiskus." jawab V.
"Dreamy, si kecil Dreamy...hahahaha. Tunggulah aku disana. Aku masih ada keperluan disini, aku akan menyelesaikannya dengan cepat." sahutnya.
V mengakhiri panggilannya, "Baiklah, jadi? Kita akan menunggunya disini?" tanyanya.
Aku dan Kai saling berpandangan, "Mau bagaimana lagi kan?" tanyaku.
Kami memutuskan untuk menunggu Josh Benedict di depan rumahnya sambil berbincang-bincang.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Kai...ini gawat, Kai!!" sahutku kepada Kai di suatu malam.
Kai memandangku khawatir, "Ada apa denganmu, malam-malam berteriak seperti itu?" tanya Kai.
Aku memegang pundaknya, "Dari semenjak aku sah menjadi suami Dream, sudah tiga minggu ini aku belum melakukannya bersama Dream...hiks... hiks..." sahutku terisak.
Kai tertawa terbahak-bahak, "Wkwkwkwk...benar juga yah...hahahahaha. Nasibmu memang sedikit buruk, V." kata Kai sambil mengusap airmatanya.
"Begitu sudah resmi, mengapa jadi sulit sekali yah?" tanyaku.
"Itu namanya cobaan, V. Kuat dan bertahanlah." sahut Kai, masih sambil tertawa.
"Baiklah, begitu ada kesempatan untuk mendekatinya, aku tidak akan menahannya lagi, Kai. Aku bersumpah!" ujarku dan meninggalkan Kai yang masih tertawa.
__ADS_1
...----------------...