Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
One Step Closer


__ADS_3

Kami berada di Wiesbaden selama beberapa hari, setelah itu kami pulang melaui jalan yang sama.


"Percayalah, semua yang kalian bawa dari jaman ini, akan menjadi tembikar begitu melewati lorong waktu." sahutku, "lebih baik beli makanan dan makan disini saja." tambahku lagi.


"Yah, berarti tidak akan ada kenang-kenangan dong, kalau aku pernah ke Jerman?" gerutu Bry.


"Ada kok, akan tertanam di memori kan kalau kita pernah ke Jerman." jawabku.


"Ya, maksudku tidak akan orang yang mengetahuinya kalau aku pernah kesini.." sahut Bry lagi, kali ini dia memasang wajah cemberutnya.


"Kenapa orang lain harus mengetahui kita? Semacam pembuktian maksudmu? Aku tidak paham dengan manusia masa lampau, yang ingin sekali dilihat, dianggap hebat, padahal hanya berpindah tempat dan berfoto, kalau aku, aku tidak perlu membuktikan kepada siapa pun kalau aku pernah kesana kesini, aku begini begitu, aku hanya akan menyimpannya di dalam memoriku, dan akan kurekam baik-baik semua kenangan ini, jadi tidak akan mudah aku lupakan." sahutku.


"Kamu sangat sederhana sekali, Dream." tukas Bry.


"Tentu saja. Kalau hidup hanya sekedar mencari pembuktian, itu akan melelahkan menurutku, dan kamu tidak akan pernah puas dengan apa yang telah kamu dapatkan." jawabku.


V dan Kai tersenyum memandangku, tanda mereka setuju. Namun Bry masih kesal, dan berjalan sambil memberengutkan bibirnya.


"Jerman di masa depan, sudah jauh lebih bagus dari ini. Kalau masalah ini selesai, akan kuberikan kalian cuti 7 hari untuk bepergian ke Jerman, dan aku akan mensponsori setiap oleh-oleh yang akan kalian beli." sahutku, merangkul Bryanna.


"Benarkah? Janji ya Dream?" seru Bry. Aku mengangguk, dan mengikatkan jari kelingkingku ke jari kelingking Bry.


Kami kembali berangkat dari Frankfurt Airport, dan selama 17 jam lebih, aku kembali hanya tertidur. Sesampainya, kami mengendarai mobil, dan segera menghubungi Derrick untuk membahas masalah ini.


Kai dan Bry melintasi waktu lebih dulu, karena aku meminta Kai menggantikanku untuk mengurus semua pekerjaanku disana. Aku dan V yang akan bertemu Derrick nantinya.


Kami menunggu Derrick di sebuah kafe, dan tak lama dia datang dengan menenteng setumpuk dokumen.


"Aku sudah siap, bagaimana dengan kalian?" tanya Derrick.


"Itu putusan pengadilan?" tanyaku. Derrick mengangguk, "tapi karena Robbie meminta banding, status Jean dan Jeannete masih menggantung. Apa kalian menemukan sesuatu untuk membantu kalian memenangkan kasus ini?" tanya Derrick.


Aku dan V berpandangan, dan mengangguk semangat, "Kami bertemu dengan Quincy Ray, ibu kandung Jean dan Jeannete." seru V, dan memberikan rekaman yang telah kami lakukan saat berbicara dengan Quincy kemarin itu.


Derrick mengangguk-angguk, dan beberapa kali dia merewind rekamannya untuk mencatat keterangan yang dia dapatkan.


"Dia meminta hak asuh juga?" tanya Derrick.


"Ya, karena mereka orangtua kandungnya, kan?" jawab V.


"Aku tidak yakin kalau dia yang berada di kursi panas ini akan memenangkan hak perwalian Jean dan Jeannete sekalipun dia orangtua kandungnya. Karena dia sudah dianggap menelantarkan mereka. Itu tuntutan yang pastinya akan diajukan Robbie. Quincy sasaran empuk untuknya, tapi tidak dengan kalian. Bahkan kalian terbang ke Jerman hanya untuk menemuinya. Luar biasa." seru Derrick kagum.


"Ini sudah membuktikan seberapa kuat keinginanmu, Dream, untuk mengambil hak asuh mereka." sahutnya lagi.


"Dan masalah saham, siapa notaris yang di tunjuk oleh Quincy?" tanya Derrick.

__ADS_1


"Dia tidak menunjuk seorang notaris, mungkin menurutnya bisa dilakukan di bawah tangan, apa mungkin seperti itu?" tanya V lagi.


"Harus ada saksi menurutku lebih baik." jawab Derrick.


"Aku akan mengabarimu dalam tiga hari, seingatku aku mempunyai kenalan seorang notaris. Akan aku hubungi dia." jawab V.


Aku memandangnya, "Siapa namanya? Apakah aku mengenalnya?" tanyaku.


V menggelengkan kepalanya, "Tidak." sahutnya.


Aku memajukan bibir bawahku, dan memandang Derrick lagi, "Berarti begitu saham selesai, kita akan kembali menggugat Robbie?" tanyaku kepada Derrick.


"Tidak perlu. Kalau memang saham dapat dipindah tangankan dan mendapat persetujuan dari Robbie, maka ini akan selesai dengan cepat." jawabnya.


"Berapa lama lagi kira-kira ini akan selesai?" aku bertanya lagi kepadanya.


"Proses pemindah tanganan saham itu tidak boleh lebih dari 90 hari. Anggap saja 30 hari, setelah ini di setujui oleh kedua pihak, maka kita akan meneruskannya dengan Robbie." jawab Derrick.


Aku mengangguk, tanda mengerti, "Baiklah, berarti tiga hari lagi kita akan bertemu disini lagi, yah V? Bersama temanmu, kan?" sahutku. V mengacungkan ibu jarinya.


Kami pun berpamitan, dan kembali ke tahun waktu kami. V berkata aku harus melakukan kontrol dokter, karena wajahku tampak pucat. Kai dan Bry menyetujuinya.


Dokter pun datang dan memberikanku semacam vitamin, dan mengharuskanku untuk istirahat tiga hari, dan tidak boleh melintasi waktu.


"Harus ikut sebenarnya, karena dia yang mengajukan." jawab V, "pokoknya selama tiga hari ini, kamu harus berada di tempat tidur selalu, biarkan aku dan Kai yang mengambil alih pekerjaanmu. Mau tidak mau, kami harus mengadakan konfrensi pers karena kamu terlalu sering tidak hadir dalam beberapa tugas kenegaraan." sahut V lagi.


Kai mengangguk, "Malam ini saja, gunakan virtual meeting. Aku akan membuat pengumumannya." seru Kai, dan bergegas pergi untuk melakukan apa yang ia ucapkan.


V menungguku di kamar, sambil mengingat-ingat siapa nama temannya itu, "Dia seorang wanita, pastinya." sahut V.


"Pasti tidak lebih cantik dariku, karena kamu melupakannya." tukasku.


V sontak tertawa mendengar ucapanku, "Iya, Dream, kamu lebih cantik." ujar V, "sekarang tidurlah Dream cantik, supaya dalam tiga hari ini kamu sudah sehat, dan bisa menemaniku untuk memenangkan kasus ini. Tinggal beberapa langkah lagi proses kita, Dream." sahutnya, memberikanku semangat.


...****************...


3 Days Later


"Sarah Eddison, namanya Sarah Eddison. Aku sudah menghubunginya, dan syukurlah aku masih mempunyai kontak si Sarah itu." sahut V saat kami bergegas menemui Derrick dan Robbie.


Beberapa jam kemudian, kami sudah menunggu di kafe tiga hari yang lalu. Yang pertama datang adalah Derrick, dengan kaos andalannya, serta celana pendek dan sandal gunung menemaninya.


Yang kedua adalah Robbie beserta pengacaranya, dia berjalan dengan gagah, dan menjabat tangan kami. Dan saat menjabat tanganku, Robbie mengedipkan satu matanya ke arahku, aku menangkap kedipan matanya dan melemparnya ke lantai, kemudian aku menginjaknya. V dan Derrick menyembunyikan tawanya di balik tangan mereka.


"Tinggal menunggu Sarah Eddison, dia sudah tau tempatnya, kan V?" tanya Derrick.

__ADS_1


V mengangguk, "Harusnya dia tau, ini kafe paling terkenal di daerah ini." sahutnya.


5 menit berlalu...


10 menit berlalu...


15 menit berlalu...


20 menit berlalu, dan bahkan aku sudah menghabiskan satu porsi donat kecil dengan taburan gula di atasnya, dan berisi coklat, Demi Tuhan, ini enak sekali. Aku memesannya lagi, sebelum Eddison datang, aku rasa aku sanggup menghabiskan tiga porsi donat itu, setelah itu aku akan berubah wujud menyerupai si donat.


Tak lama, tepat penantian kami di menit ke 30, bunyi suara kletak kletuk mendekati kami. Dialah Sarah Eddison, bibirnya merah merona, bermata hijau, bulu matanya sangat lentik seperti tertiup angin, dan bajunya...luar biasa... Dia memakai kemeja dengan kancing rendah, celana panjang jins ketat, sepatu hak tinggi, dia tidak tampak aneh, tapi sempurna. Segala yang dia pakai melekat dengan sempurna di tubuhnya. Aku merasa bersalah sekali karena memesan satu porsi tambahan donat.


Dia menjabat tanganku, Robbie dan Derrick, begitu sampai di V, dia menarik V dan mencium pipi kanan dan kiri V. Aku terperangah melihatnya, mereka tampak serasi sekali, seperti lukisan.


"Apa kabar Volt?" panggilnya kepada V.


"Selalu baik, tentu." sahut V tersenyum, "Aku sudah menceritakan kepadamu detail kasus ini, bukan? Apa kamu bisa menanganinya?" tanya V.


"Off course Voltaire darling." jawabnya dan mengecup pipi V. Kembali aku terperangah di buatnya.


"Kenalkan, saya Sarah Eddison, notaris sekaligus akan masuk menjadi tim pengacara untuk kasus pemindahan tangan saham." sahutnya. Suara seksi dan dalam, tidak cempreng sepertiku. Aku terpana melihatnya, sekaligus merasa sangat kecil.


Firasatku tidak enak, dan aku berharap semua akan baik-baik saja.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Jadi, siapa itu Sarah Eddison? Dan apakah dia masih bersaudara dengan Thomas Alva Eddison, sang penemu lampu?" tanya Kai detail.


"Sayangnya dia tidak bersaudara dengan Thomas Alva Eddison, tapi dia bersaudara dengan Voltaire Brian, dia sepupu jauhku, Kai." sahutku.


"Sepupu boleh menikah, V." sindir Kai.


"Lalu? Apa hubungannya dengan ini?" tanyaku tidak mengerti.


"Ingat! Jaga selalu hatimu, V. Aku sudah menyerahkan Dream kepadamu, jangan berpaling!" kata Kai.


Aku tertawa keras, "Kai bodoh! Tidak mungkin aku menikahinya, Kai. Dia sepupu jauhku, dan ya kami hanya akan menjadi keluarga bukan membuat keluarga. Kamu menggemaskan Kai...hahahaha.." sahutku.


"Aku hanya memperingatkanmu untuk tidak berpaling, itu saja." ucap Kai.


"Aku tidak akan berpaling, Kai. Percayalah kepadaku." aku meyakinkannya, dan membuat dua jariku terangkat ke atas.

__ADS_1


__ADS_2