
Aku, memulai hariku dengan nama baru, dan segalanya baru. Hanya aku yang tidak senang dengan segala perubahan ini, bahkan papaku pun turut senang melihat perubahanku, "Kamu cantik sekali, Dream, eh maksudku Luna. Aku seperti memiliki dua orang anak perempuan." kata papaku saat kami berinteraksi lewat virtual hologram.
"Aduh Dream... mama lupa, Luna, cantiknya kamu nak. Semoga begitu semua masalah selesai rambutmu belum kembali pirang. Ah...mama suka...mama suka." begitulah tanggapan mamaku. Selain orang tuaku, ada dua makhluk bodoh yang selalu menatapku dengan aneh sejak aku berubah, Kai dan Voltaire. Bicara mereka pun menjadi terbata - bata.
"Hei V..hei...HEI!!" aku berteriak dan melambaikan tangan tepat di depan wajahnya, karena dia hanya terpaku saat aku mengajaknya bicara.
"Y...ya Dream, eh Luna?" jawabnya.
"Sudahlah, aku akan mengambilnya sendiri." sahutku. Aku hanya minta tolong padanya untuk mengambilkanku botol kecap, tapi sepertinya sulit sekali.
"Hei Kai, apa rencanamu hari ini?" tanyaku pada Kai yang sedang berada di dapur. Reaksi pertama yang diberikannya kepadaku pun sama, terkejut, seolah aku adalah orang asing, "Eh, kamu bertanya kepadaku?" tanya Kai. Aku menggeleng kesal, "Tidak! Aku bertanya kepada cicak yang menempel di dinding di belakangmu, apa rencananya hari ini!" jawabku kesal. Dan Kai, dengan wajah entahlah apa itu, memeriksa apakah aku benar-benar bertanya kepada seekor cicak, "Tidak ada cicak di belakangku." sahutnya.
"Jadi, apa yang kalian lakukan hari ini?" tanyaku saat kami sudah berkumpul, dan mereka dalam keadaan sehat dan sadar sepenuhnya.
"Aku akan bekerja, aku mengambil dua pekerjaan, begitu pula dengan Kai." jawab V.
"Bagaimana denganku?" aku bertanya.
"Papamu memintamu untuk tidak sendiri dimana pun kamu berada. Dan satu-satunya cara adalah, kuliah. Kamu harus kuliah, Dream." jawab Kai. Aku menggeleng, "Tidak. Aku sudah punya sertifikat kelulusan untuk itu, jadi, tidak!" sahutku.
"Aku akan menemanimu, begitu pula dengan V." sahut Kai. Aku sontak bingung dengan jawaban Kai.
"Eh, bagaimana?" tanyaku, hanya untuk memastikan auditoriku masih berfungsi sebagaimana mestinya.
"Aku dan V akan menemanimu kuliah, Dream." jawab Kai perlahan.
"Mari kita biasakan panggil dia dengan Luna. Siapa yang melakukan kesalahan lebih dari 3 kali dalam sehari, akan mendapatkan hukuman cuci piring saat makan malam!" sahut V. Kai menyetujui hal ini, bodoh sekali, aku harus segera menjauh supaya aku tidak tertular kebodohan mereka., sahutku dalam hati.
"Perhatikan aku!" sahut Kai lagi, "papamu, Luna, memintamu untuk bersekolah kembali, tidak mungkin dengan umurmu yang 25 tahun, kamu sekolah kan, jadi kamu masih bisa kuliah. Papa juga meminta kita untuk membuat semacam id card selama disini, demi mencegah terjadinya sesuatu." Kai menjelaskan, "aku akan menjadi teman kuliahmu, karena kita hanya beda satu tahun, tapi tidak dengan si om ini, om Voltaire akan menjadi dosen internship." sahut Kai menutup penjelasannya. Bletak!! "Ouch!" sahut Kai memegangi kepalanya yang kesakitan karena V memukulnya dengan sendok.
"Aku bukan om! 30 tahun itu lagi lucu-lucunya, kalian tau?!" sahut V berpura-pura kesal.
"Maafkan aku." sahut Kai lagi.
" Baiklah, jadi aku akan kuliah, dan kalian pasti sudah menentukan dimana kampusku, dan jurusan yang aku ambil." sahutku. Mereka mengangguk bersemangat.
__ADS_1
"Oke, aku akan meminta waktu bebasku. Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu. Deal?" sahutku menantang mereka.
"Deal" sahut mereka dan kami saling menumpukkan tangan tanda setuju.
...----------------...
" Namaku Luna, salam kenal." sahutku memperkenalkan diriku sendiri.
"Hai Luna, wow matamu cantik sekali " sahut salah seorang mahasiswa. Dan karena ucapannya, semua menoleh memandangku. Aku tersenyum kepada mereka. Tak lama Kai datang, aku berusaha memanggilnya, tapi tidak, dia tidak duduk di sampingku, melainkan menempati tempat duduk, di deretan lain.
"Kai...Kai...!" sahutku, memanggil Kai dengan berbisik. Salah seorang mahasiswi melihat ke arahku.
"Apa kamu mengenalnya? Oh, dia tampan sekali." sahutnya, "siapa namanya tadi, kamu bilang?" tanya mahasiswi itu lagi.
"Oh, tidak. Aku pikir aku salah orang, dia mirip temanku yang sudah menghilang berjuta-juta taun lalu." sahutku dengan suara agak keras. Dan aku yakin, kecuali mataku membohongiku, Kai melirik ke arahku dan menahan untuk tidak tertawa.
Tiba-tiba, segerombolan mahasiswi cekikikan di belakangku, "apa kamu tau, kita mempunyai dosen baru. Dan dia tampan sekali. Wajahnya seperti lukisan. Sempurna sekali. Aku akan duduk paling depan." katanya seperti itu. Benar saja, seperti semut, mereka bergerombol untuk mengisi barisan depan. Seorang wanita berbadan gempal masuk ke ruangan belajar kami, dengan sesekali membetulkan letak kacamatanya, ia memberikan info penting seperti yang di katakannya.
"Hari ini akan ada dosen magang baru, ibu harap kalian tidak menggoda atau bahkan mengganggunya." sahut si ibu itu sambil melirik ke barisan depan, "Silahkan masuk pak Voltaire Brian." sambut si ibu itu, dan ketika V masuk suara tepuk tangan, sorak sorai, dan siulan menggema di seluruh penjuru ruangan. Wowh, sambutannya meriah sekali.
"Hai Luna." sahut Kai.
"Hai.. bagaimana kamu tau namaku?" tanyaku berpura-pura tidak mengenalnya.
"Dari absen." sahutnya dingin.
"Ada apa?" aku bertanya kepadanya. Dan V melambaikan tangan ke arah kami. Namun tidak sampai sedetik, dia sudah menarik kembali tangannya.
"Pulanglah bersama kami. Aku akan menunggumu, tunggulah hingga keadaan sepi." sahutnya. Aku mengangguk.
"Hei Kai, hei Luna!" sapa seorang mahasiswi. Aku dan Kai tersenyum.
"Kalian seperti sudah saling mengenal yah." sahutnya. Aku dan Kai hanya tersenyum.
" Kenalkan, namaku Claire." sahutnya sambil mengulurkan tangannya. Kami menyambutnya, "Hai, aku Luna." sahutku.
__ADS_1
"Aku Kai." sahut Kai membalas uluran tangannya. Kai berpamitan untuk pulang lebih dulu, sedangkan aku masih berbincang-bincang dengan Claire.
" Oh, jadi kamu mau mencari kerja paruh waktu?" tanya Claire. Aku mengangguk.
" Baiklah, aku akan membantumu mendapatkannya." jawabnya.
"Terimakasih." sahutku.
Setelah itu aku menemui Kai dan V yang sudah menungguku di tempat kami berjanji akan bertemu.
"Mau makan di luar atau di rumah?" tanyaku kepada mereka.
"Terserah kamu. Aku bisa memasak dengan cepat untukmu." jawab V.
"Kita makan di rumah saja, penghematan. Karena kita belum mendapatkan penghasilan, bukan?" jawab Kai. Aku dan V mengangguk, "Tapi, kalian harus membantuku memasak yah?" jawab V.
......................
**EPILOG
Kai POV**
"Awasi dia, Kai. Ajak dia kuliah, dan jadilah temannya. Aku akan menempatkan Voltaire untuk menjadi dosen kontrak disana." sahut pak Mark.
" Baik pak," jawabku, "Bagaimana kalau dia meminta untuk membantu kami?" tanyaku lagi.
"Bekerja maksudmu?" tanya pak Mark
"Iya." jawabku.
"Ijinkan dia bekerja, paruh waktu ya Kaky, dan selalu awasi setiap gerak-geriknya." sahut pak Mark. Aku mengangguk, "Baik pak, akan saya awasi melebihi saya menjaga nyawa saya sendiri." sahutku.
"Aku percaya padamu Kai. Jaga anakku, jaga putriku. Terimakasih banyak Kai. Aku berhutanh banyak kepadamu." sahut pak Mark lagi. Aku menggeleng, "Tidak pak, iti sudah tugas saya." sahutku. Aku berusaha untuk bersikap professional, dan meletakkan perasaanku di tempat yang tidak bisa dilihat orang lain.
......................
__ADS_1