
"Tolong jangan di angkat...." lirih V saat ponselku berbunyi, "kita sedang berdua, Dream. Dan ini sudah di luar jam kerjamu." sahutnya lagi, "Tolong..." sahut V, yang kini menempelkan dahinya ke dahiku.
Aku menarik nafas panjang, "Sebentar saja." jawabku, mengambil ponselku, dan mengangkat panggilan Robbie. V menjauh dariku, dan tampak sangat kesal.
"Ada apa, Rob?" tanyaku.
"Jean menangis sepanjang siang, Jeannette agak demam. Apa kamu bisa menemani mereka malam ini?" tanya Rob, dan suaranya tampak khawatir. Dari sebrang, terdengar Nancy yang sedang menenangkan Jean.
"Apa dokter sudah datang?" tanyaku lagi.
"Sudah. Hanya terlalu lelah, dan butuh istirahat. Tapi mereka rewel sekali. Bisakah kamu membantuku? Aku akan menjemputmu." pinta Robbie lagi.
Aku memandang V yang masih tampak kesal, dan kemudian aku memegang tangannya, "Baiklah aku akan kesana, kamu tidak perlu menjemputku." jawabku tanpa melepaskan pandanganku ke arah V.
"Apa lagi kali ini?!" tanya V kesal.
"Anak-anaknya sakit, V. Tolong mengertilah." sahutku, aku tidak tau harus berbuat apa. V belum pernah semarah ini.
"Yeah, dia menggunakan anak-anaknya sebagai alasan untuk selalu memanggilmu. Aku paham sekali modus seperti itu. Bukankah dia sudah punya tunangan?" tanya V sinis, "dan dia mempunyai baby sitter cukup banyak bukan? Apa fungsi mereka disana? Kenapa harus kamu?" sahutnya lagi.
Aku menghela nafasku, "Entahlah, aku tidak mau berpikiran negatif terhadap orang lain, dan sekarang apa kamu mau mengantarku?" tanyaku.
V mengeluh, "Apa yang akan kamu lakukan kalau aku tidak ada disini, Dream?!" sahutnya, namun dia menjalan mobilnya dan mengantarku walaupun dengan kesal dan seribu keluhan.
Aku tersenyum, dan mengenggam tangannya, "Terimakasih V." sahutku.
V menoleh memandangku, "Kamu berhutang banyak kepadaku, Dream. Banyak sekali." sahutnya, dan mencium punggung tanganku. Aku membalasnya, aku mencium punggung tangannya juga.
......................
"Bagaimana keadannya Nancy?" tanyaku sesampainya aku di rumah Robbie. Nancy sedang menggendong Jean, yang begitu melihatku, langsung memintaku untuk menggendongnya.
"Sudah minum obat?" tanyaku kepada Nancy. Nancy mengangguk, "tolong siapkan air hangat atau apapun yang mereka mau, es krim juga boleh, yang penting adalah mereka tidak kekurangan cairan." sahutku. Nancy mengangguk.
Selagi Nancy menyiapkan yang aku perlukan, aku pergi ke kamar anak-anak, untuk melihat kondisi Jeannette, dan begitu aku membuka pintu, suara tangisan Jeannette memenuhi ruangan.
"Aku mau keluar, papa, aku mau keluar....!!" tangisnya. Robbie melihatku dengan rasa syukur.
"Terimakasih kamu datang, Luna." sahutnya, Robbie tampak kewalahan menggendong Jeannette.
"Aku mau Luna. Aku mau bersamamu Luna." sahutnya. Aku menyerahkan Jean yang sudah tertidur kepada Robbie, dan menggendong Jeannette.
__ADS_1
"Apa yang akan membuatmu nyaman, Jeannette?" aku bertanya kepadanya.
"Aku mau pudding, Luna." sahutnya. Aku mengangguk, dan mengambil intercom, untuk meminta Nancy menyiapkan pudding.
"Tidurlah dahulu supaya obatmu bekerja dan kamu akan merasa lebih baik." sahutku. Jeannette merangkulku. Aku menggendongnya sampai Jeannette tertidur.
Setelah menidurkan Jean dan Jeannete aku baru bisa beristirahat. Robbie mendekatiku, "Terimakasih sudah datang." sahutnya, dan duduk di sebelahku. Kamar Jean dan Jeannete memiliki masing-masing sofa kecil yang di letakkan berdampingan.
Aku meregangkan tangan dan kakiku, "Ya, dan tolong hari ini di hitung sebagai lembur." sahutku, "Kamu memanggilku di saat aku sedang berlibur bersama V, dan kamu mengganggu kami." sahutku, pura-pura kesal.
Robbie tersenyum, "Baiklah, aku akan menghitung hari ini sebagai lemburmu. Tapi, tinggallah disini sampai mereka sehat." pintanya, "mereka membutuhkanmu, begitu pula aku. Bisakah kamu mengabulkan itu?" tanya Robbie lagi.
"Entahlah, aku ada tugas kuliah yang cukup banyak, dan..."
"Aku akan membantumu mengerjakannya." potong Robbie.
Aku tertawa, "Bisakah kamu?" tanyaku kepadanya.
Robbie ikut tertawa, "Kamu belum mengenalku? Kamu tidak tau seberapa banyak tittle yang melekat di namaku?" katanya menyombongkan dirinya.
"Sombong!" sahutku sambil bercanda.
"Aku juga senang bersamamu, tapi tidak lebih dari itu. Dan tentang V, aku bahagia bersamanya walaupun kami belum terikat dalam suatu hubungan." jawabku.
"Belum? Berarti akan? Apa kamu akan mempertimbangkannya?" tanya Robbie lagi.
"Mungkin. Aku butuh seseorang yang bisa mendampingku, dan sudah mengenalnya begitu pula dengan keluargaku." sahutku.
"Darimana asalmu?" tanya Robbie menatapku. Aku mempertimbangkan, apa aku harus menceritakan yang sebenarnya.
"Apa yang kamu pikirkan tentangku?" aku kembali bertanya kepada Robbie.
"Entahlah, kamu cukup misterius. Matamu tidak seperti mata orang kebanyakan. Cara bicaramu, kemampuanmu yang seolah-olah mampu mengerjakan segalanya. Kamu membuatku penasaran, dan itu membuatku ingin semakin mengenalmu." jawabnya.
Aku tersenyum, "Kalau aku mengatakan sesungguhnya, aku takut kamu akan menginginkanku hanya untuk kekuasaan, maksudnya, sifat manusia seperti itu bukan?" sahutku.
Kali ini Robbie benar-benar meletakkan seratus persen perhatiannya kepadaku.
"Oke, aku tidak berasal dari sini. Aku berasal dari masa depan dan saat ini situasi kami sedang tidak baik-baik saja. Ceritanya panjang sekali kalau aku menceritakannya dari awal. Yang jelas saat ini, aku sedang dalam misi penyamaran dan aku tidak bisa memberitahumu lebih dari itu." jawabku.
"Wow... cerita yang hebat sekali. Dan siapa namamu?" tanya Robbie penasaran.
__ADS_1
"Luna, hanya Luna." sahutku singkat. Robbie tersenyum mendengar jawabanku, "Kamu wanita yang hebat. Apa Voltaire tau tentang ini? Oh, dia pernah menikah denganmu, itu artinya dia juga dari masa depan?" tanya Robbie lagi.
"Dia tidak dari masa depan. Sudah kukatakan kepadamu, ceritanya panjang sekali. Buktinya sudah sampai 51 episode, panjang bukan?" sahutku.
Robbie tersenyum, "Mau kamu dari masa depan atau dari masa lalu, kamu ya kamu. Dan aku tetap menyukai kamu siapapun kamu. " sahutnya. Aku memandangnya, dan mata kami bertemu, "sepertinya perasaanku sudah tidak dapat di bendung lagi, Luna. Maukah kamu bersamaku? Bersama anak-anakku?" pintanya. Aku memandangnya tanpa menjawabnya, entah apa yang aku cari. Ada satu hal yang tidak ada pada V dan itu dimiliki oleh Robbie. Aku ragu, dan aku tidak tau apa yang aku mau.
Keheningan kami di pecahkan oleh Nancy yang mengetuk pintu, "Luna, bagaimana dengan puddingnya?" tanya Nancy.
"Oh, baiklah, aku kesana." jawabku, "aku mengurus pudding Jean dan Jeannete dulu. Kalau mereka terbangun, tolong panggil aku." sahutku, dan bergegas menuju keluar daribkamar Jean dan Jeannete.
Aku mengalihkan pikiranku dengan menyibukkan diriku sesibuk mungkin, dan jauh di dasar hatiku, mereka berdegup kencang, ada satu alunan yang indah yang aku rasakan, dan masih terdengar sayup-sayup di dalam sana.
Apa ini yang dimaksud Kai? Apa ini musik yang dimaksud? Bagaimana ini Kai?
......................
**EPILOG
Dream POV**
Aku memegangi Lyn, dan memencet-mencet tanduk di atasnya, "Kai datanglah...aku membutuhkanmu saat ini, Kai. Kumohon muncullah."
"Kenapa Dream, dan mau kemana kamu pergi?" tanya V yang melihatku terburu-buru keluar rumah.
"Aku akan ke lorong waktu. Aku butuh Kai saat ini." sahutku.
"Aku antar!" jawab V dan dia mematikan kompor dan bersiap mengantarku.
"Apa yang akan kamu bicarakan dengannya? Kamu bisa membicarakannya denganku, Dream." sahutnya.
Aku menggelengkan kepalaku. Dan sesampainya di ujung lorong waktu, aku berjalan mondar-mandir di depannya, tanganku sibuk memenceti tanduk Lyn sampai nyaris pipih. Usahaku tidak sia-sia, tanduk Lyn berpendar-pendar, dan dari ujung lorong, muncul Kai, "Ada ap..."
Aku langsung memeluknya, "Kai, bawa aku pulang, bawa aku pulang." pintaku.
Kai mengusap rambutku, "Sabar Dream, sebentar lagi, sebentar lagi, bertahanlah. Sebentar lagi yah. Kuatkan dirimu sebentar lagi, Dream." sahut Kai.
Aku menggelengkan kepalaku, "Aku tidak bisa, Kai." sahutku. Kai melepaskan pelukanku, dan mengusap air mataku, "Sabarlah sedikit lagi. Oke." jawab Kai.
V merangkulku, dan berusaha menenangkanku selepas lorong waktu tertutup lagi.
...----------------...
__ADS_1