Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Brace Yourself


__ADS_3

"Kai... Kai...Kai!!" teriakku memanggil Kai. Yang muncul dengan tergopoh-gopoh adalah ibu Kai.


"Ada apa nona Dream?" ibu Kai bertanya dan menundukan tubuhnya serendah mungkin.


Ibu Kai ini selalu lupa, aku tidak suka kalau ibu Kai menundukan tubuhnya terlalu rendah.


"Kai dimana bu?" aku bertanya kepadanya.


"Kai sudah bekerja, nona." jawabnya. Aku memejamkan mataku, oh iya, dia menggantikan posisi papa, kenapa aku bisa lupa?


"Oh iya, bu. Terimakasih yah." sahutku. Aku berjalan lemas dan tertunduk lesu menuju ruanganku lagi, apa yang harus aku lakukan disini? Aku benar-benar lupa tentang hal itu.


Tidak lama Bry menghampiriku, "Hei, ikutlah bersamaku." sahutnya.


Aku bersemangat dan mengikutinya, "Kemana kita akan pergi?" aku bertanya dengan antusias kepadanya.


"Mencari baju yang pantas untukmu." jawab Bry singkat. Dan aku bisa menebak, dia lagi dalam sistem bekerja. Bryanna sangat professional, dia bisa membedakan waktu bekerja dan bermain.


"Hah?! Baju? Untukku? Untuk apa?" aku bertanya kepadanya.


"Kai memintamu untuk belajar tampil di depan publik mulai sekarang." sahutnya.


"Apa?! Papaku ah maksudku apa Mark tau tentang ini?" tanyaku.


"Mark yang mengusulkan, mumpung kamu ada disini kan?" sahutnya. Dan kami mulai memasuki ruangan penuh baju-baju, coat, blazer, celana bahan, dan kemeja polos yang membosankan.


"Aku akan membelinya sendiri. Dan demi Tuhan, model-model ini ketinggalan jaman, Bry. Aku tidak akan memakainya!" sahutku.


Bry memandangku, dan berbisik, "Benar kan? Aku setuju." sahutnya, kemudian berdeham, "untuk sementara gunakan yang ada dahulu nona Dream." sahutnya lagi.


Aku memilah-milah setiap baju, tapi tidak ada yang kusukai, sampai pada akhirnya, Bry memberikan virtual hologram di depanku, "Pilihlah, akan di antar dalam waktu satu jam." sahutnya.


Aku bersorak kecil, dan mengecup pipi Bryanna, "Terimakasih " sahutku. Dan kemudian aku sudah mengklik tidak hanya satu melainkan beberapa pasang baju. Aku menawari Bry juga, dan dengan tetap mempertahankan gaya keprofessionalannya dia memilih dua pasang baju.


...----------------...


"Jadi apa yang harus kupelajari?" aku bertanya kepada Kai.


Kai mengirimkanku beberapa ebook melalui emailku, "Bacalah!" sahutnya. Aku hanya bisa memandang putaran loading saat menggugahnya.


"Apa kamu akan membunuhku? Ini banyak sekali, Kai?! Inikah hukuman di negara ini? Membaca?! Yang benar saja!" sahutku, dan mulai membuka setiap files yang sudah berhasil aku unduh.


Kai tertawa, "Kamu yang ingin pulang, kalau kamu kembali tiga bulan lagi, ini sudah selesai aku rangkum dan akan menjadi sangat singkat. Tapi kamu mempercepat prosesmu sendiri, jadi bacalah." sahutnya.


Aku menghela nafasku, "Hhhh...haruskah?" aku bertanya lemas.


Kai mengangguk, "Dan nanti akan ada beberapa orang yang menemuiku, ikutlah bersamaku." sahutnya.

__ADS_1


"Siapa mereka?" aku bertanya kembali.


"Oh, aku mencari dukungan dari beberapa orang parlemen, dan itu akan menguntungkan posisiku. Aku harus meyakinkan mereka bukan?" sahutnya, "Membuat perjanjian ini dan itu, dan segalanya supaya posisiku kuat sampai kamu siap untuk menggantikanku." sahutnya lagi menjelaskan.


"Papamu di jatuhkan oleh kabinet, dan mereka membentuk mosi tidak percaya terhadap pemerintahan papamu, maka dari itu aku mengambil dukungan dari mereka yang masih percaya kepada papamu." jelas Kai lagi.


Aku mengangguk, "Bagaimana proses pengangkatanku nantinya?" aku bertanya.


"Hak prerogative. Aku akan memakainya di saat kamu sudah siap, Dream." jawabnya.


"Kenapa tidak kamu saja, Kai? Kamu lebih cocok." sahutku.


"Sudah kukatakan aku tidak bisa, dan aku tidak mau. Aku ingin hidup damai dengan hanya menjadi rakyat biasa." jawab Kai.


"Aku pun tidak mau." sahutku.


"Maka itu, Dream yang cantik. Menikahlah, biarlah suamimu yang menjalankan pemerintahan ini, kamu tetap akan bisa berhaha hihi bersama kami. Kandidatmu kan hanya satu bukan? Atau sudah dua?" tanya Kai sambil menggodaku.


Aku melemparkan bantal sofa ke wajahnya, "Kamu saja yang menikah!" sahutku kesal, "Tidak semudah itu Kai. Dan kenapa setiap kali, aku sudah yakin dengan V, selalu saja ada orang ketiga yang hadir dan membuatku goyah." sahutku tertunduk lemas.


"Robbie membuatmu goyah hanya karena ciumannya memakai lidah? Bodoh sekali! Menikahlah dengan seekor katak, dia akan selalu menggunakan lidahnya untuk menangkap mangsanya!" sahut Kai sedikit kesal.


"Bukan tentang ciumannya, Kai! Dia lebih dewasa, lebih mengasuhku, kami bisa bertengkar dan berbeda pendapat. Sedangkan Voltaire, dia terlalu baik, kami jarang bertengkar, karena dia selalu mengalah. Kamu tau, hidup itu tidak selalu rata, itu akan membosankan, begitulah V." aku menjelaskan kepada Kai, "V itu ibarat muffin selalu manis di dasarnya, sedangkan Robbie itu donat, terkadang donat itu ada yang isinya asam, manis bahkan tawar, dan kita tidak pernah bisa menebak isinya bukan, toppingnya coklat, tapi siapa yang tau kalau isinya strawberry. Tapi mereka berdua lembut. Aku menyukai muffin dan donat." sahutku kepada Kai yang sekarang memincingkan matanya ke arahku.


"Baru kali aku mendengarmu berfilosofi, dan itu tentang pria muffin dan pria donat... ckckckck." sahutnya berdecak heran.


Tak lama virtual hologram Bry muncul, "Tamu anda sudah tiba." sahutnya tanpa senyum sedikit pun.


Kemudian Kai menghidupkan worldmetaversenya, begitu juga dengan aku.


Kai berjabat tangan dengan mereka, dan mereka memperkenalkan diri mereka, yang satu adalah mentri pertama, dan yang kedua adalah mentri keuangan.


Kai memperkenalkanku juga, "Dreamy Eve, putri tunggal Mark Fransiskus." sahutnya.


Aku menjabat tangan keduanya. "Bukankah anda sedang berada di luar tahun waktu, menurut kabar yang beredar?" tanya mentri pertama.


Kai yang menjawabnya untukku, "Tidak, itu sama sekali tidak benar. Dreamy Eve baru saja kembali dari luar negri dalam rangka berlibur. Beliau disana untuk belajar dan mencari pengalaman." jawab Kai.


Kemudian Kai menjelaskan tentang program-programnya dan reward kepada mereka yang mendukungnya. Kai juga menjelaskan bahwa masa jabatannya sementara dan hanya ada satu periode selama satu tahun. Kemudian Kai mengatakan kepada mereka bahwa aku menggantikan posisinya dengan menggunakan hak istimewanya, dengan atau tanpa suami bersamaku.


...----------------...


"Besok-besok, kamu yang akan memperkenalkan dirimu sendiri." sahut Kai.


"Kenapa? Untuk apa kamu ada?" sahutku santai.


"Ingat Dream, aku sudah dilantik menjadi perdana mentri, dan untuk apa kamu ada disini jika aku tidak bisa memanfaatkanmu...hahahaha". jawabnya sambil bercanda.

__ADS_1


"Baik pak Kai " sahutku dan menundukkan tubuhku serendah mungkin.


Kai mengetuk kepalaku, "Bangunlah, aku tidak suka seperti itu." sahutnya.


"Dream, ayahmu ingin menemuimu." sahut hologram Bry yang tiba-tiba saja muncul. Aku menjawab oke dan berterimakasih kepadanya.


Kai mengikutiku dari belakang. Dan ketika aku sudah sampai di rumah orangtuaku, papa memintaku untuk duduk.


"Dream, aku mendapat laporan, perkenalan cukup baik hari ini, dan itu cukup berkesan untuk mereka. Untuk itu aku berterimakasih kepada Kai yang seharian ini membantumu.," kata papa.


Kai menunduk dan meletakkan tangan kanannya di dadanya sebagai tanda penghormatan.


"Dan aku memintamu untuk kembali ke tahun waktu yang kemarin kamu tinggalkan, selesaikan masalahmu disana. Dan kamu boleh kesini lagi setelah masa jabatan Kai habis." sahut papa, "Atau, kamu akan memakai kalkulator cinta untuk menikah dengan pasangan 100%mu disini. Aku akan mencarikan yang terbaik untukmu." sahut papa lagi.


"Tiga bulan, itu yang Kai janjikan kepadaku." sahutku histeris, "dan kenapa harus seperti itu? Aku sedang mendinginkan hatiku sejenak disini." sahutku lagi.


"Tiga bulan kalau kamu menikah, setaun jika tidak." jawab papa tenang, "aku tau kamu mampu memimpin, tapi kamu punya hutang kepada dua orang yang menantimu." sahut papa lagi, "atau kamu memilih kalkulator cinta?" tanyanya.


Aku menggeleng, "Berikan aku lima hari lagi disini." pintaku, "aku mohon papa, kabulkan keinginanku." aku memohon kepada papa.


"Lima hari, setelah lima hari, kembalilah." sahut Kai.


Aku mengangguk lesu, kenapa harus kembali di saat aku belum memutuskan.


"Latih keberanianmu, Dream, dan hadapi mereka, hadapi cinta mereka." sahut Kai, "bagaimana pun juga, pilihlah berdasarkan kata hatimu." tambahnya lagi.


Aku hanya tertunduk dan terdiam.


...----------------...


**EPILOG


Kai POV**


"Apa maksudmu untuk menyuruhnya kembali di saat dia belum memutuskan?" tanyaku penasaran kepada Mark.


"Tanggung jawab Kai. Yang kudengar, sekarang Dream mempunyai dua pilihan, benarkah itu?" tanya Mark.


Aku mengangguk, "Benar, Voltaire dan Robbie." jawabku.


"Aku ingin Dream mampu menggunakan hatinya, mengendalikan emosi dan nafsu sesaatnya. Aku tidak melarangnya untuk melakukan apapun yang dia suka, hanya aku tidak mau melihatnya terjerumus ke dalam lubang hanya karena nafsu sesaatnya saja." sahut Mark lagi.


"Kalau ada waktu, berikan aku informasi tentang Robbie, apapun itu. Dan hubungkan aku dengannya." pinta Mark.


Aku kembali menganggukan kepalaku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2