Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Hourglass


__ADS_3

"Bagaimana Kai, kamu siap?" tanyaku, bersiap-siap memutar jam pasir.


"Tu... tunggu dulu, Dream. Bagaiamana kalau kita melakukan kesalahan?" tanya Kai, "maksudku kamu pernah dengar kan, bahwa rencana yang sempurna pun akan berantakan?" katanya lagi.


"Aku tau." jawabku, dan meletakkan kembali kalung jam pasir itu.


"Kalau kita memutar waktu, kemana kita akan kembali?" tanya Kai, masih ragu-ragu.


"Saat kita semua hendak melintasi waktu untuk kembali ke tahun waktu kita, dan tepat sebelum kita terpisah-pisah." jawabku.


"Ba...baiklah... tapi kalo ternyata kita melakukan kesalahan?" tanyanya lagi.


"Tidak boleh salah! Atau kita akan terkurung di waktu itu selamanya." jawabku tegas.


Kai menelan ludahnya, dan berusaha menenangkan dirinya sendiri, "Baiklah, aku siap." katanya.


Aku mengangguk, "Baiklah, akan aku putar sekarang.."


"Tu...tunggu dulu. Kita akan menghitungnya bersama-sama." pintanya.


Aku mengangguk, "Kamu siap?" tanyaku kepada Kai.


Kai mengangguk, "Ayo, Dream. Kita lakukan kegilaan ini." katanya.


Aku memutar jam pasir itu,


Satu kali putaran,


Aku dan Kai menarik nafas lagi, dan menghembuskannya panjang


Dua kali putaran


Kami sekarang saling berpandangan, dan kembali menghembuskan nafas kami dengan panjang. Aku dan Kai mengangguk...


Tiga kali putaran,


Seisi rumah ini seakan tersedot ke dalam, dan orang-orang berlalu lalang dengan cepat, kami seakan melihat potongan-potongan film yang di percepat sekian kali.


Kemudian kami berhenti beberapa meter di depan gerbang waktu, dan melihat kami berdua sedang mengecek gerbang waktu.


"Itu kita, Dream!" tukas Kai.


Aku mengangguk.


"Dan dimana V dan Bry?" tanya Kai.


"Ada di rumah yang pernah kita tempati itu. Mereka sedang menunggu kabar dari kita." jawabku, "dan ini adalah waktu di saat kita akan melintasi waktu, Kai." sahutku lagi.


"Jadi, kita akan tunggu disini?" tanya Kai.


Aku mengangguk, "Kita akan menunggu disini sekitar dua puluh menitan, baru kita akan menemui V dan Bry." jawabku.


Dua puluh menit yang mendebarkan, kami harus menunggu disini, dengan harapan bisa memperbaiki waktu kami.


Sesudah dua puluh menit, aku mengajak Kai menyusul V dan Bry "Ayo Kai, kita harus mendatangi V dan Bry dan memutar jam pasir sebelum kita yang itu kembali." sahutku.


Aku dan Kai berlari ke rumah itu, dan mendapati V dan Bry yang sedang berbincang-bincang.


Bry dan V memandang kami dengan heran, "Apa kalian baru saja berlari?" tanya V.

__ADS_1


Kai memeluk Bry erat, "Kamu baik-baik saja, Bry? Dan bagaimana dengan anak kita?" tanya Kai.


Bry tertawa, "Ada apa denganmu? Kamu seperti sudah lama tidak bertemu denganku? Padahal baru dua puluh menit kamu pergi..." kata Bry.


Kai tidak memperdulikan ucapan Bry, aku pun menahan diri untuk tidak langsung memeluk V. Betapa aku bersyukur sekali bisa melihat dia, dan kami bisa berkumpul kembali.


"Dengar, kita tidak bisa melintasi waktu. Untuk sementara kita tinggal disini dulu." ucapku.


"Ada apa Dream?" tanya V.


Kai dan aku mengangkat bahu, "Sepertinya sedang ada pergolakan waktu, dan itu membuat gerbang waktu menutup. Andaikan kita tetap melintasi waktu, aku takut kita akan terpencar." sahut Kai yang sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya kepada Bry.


"Pergolakan waktu?" tanya Bry.


Kai mengangguk, "Iya. Untuk lebih amannya kita disini saja sementara." jawab Kai.


Aku mengajak mereka untuk keluar, dan berencana akan memutar jam pasir disana.


"Aku lapar, ayo kita makan di kafe itu." ajakku kepada V.


"Baiklah nona gembul. Ayo." kata V.


Kai dan Bry setuju. Kami berjalan kaki menujubkafe tersebut, karena jaraknya cukup dekat dari tempat tinggal kami.


Sesampainya, disana aku sambil memperhatikan jam tanganku, karena aku harus menyesuaikan waktu dengan kepulangan Kai dan aku di waktu lampau.


Kai paham mengapa aku selalu melirik jam tanganku, dan dia juga sedang sambil melirik ke arah luar jendela, walaupun tidak terlihat, tapi Kai terus melakukan hal itu.


Sekitar lima belas menit, aku ijin keluar hanya untuk melihat aku dan Kai di masa lampau, dan aku sudah melihat mereka berjalan kembali ke arah rumah kami.


Aku pun bergegas berlari, dan mengajak Kai untuk memutar waktu, "Kai, sekarang." tukasku.


Satu kali putaran,


Dua kali putaran,


Kembali gedung-gedung, orang-orang, segala kendaraan, semua tersedot ke dalam, dan kami seperti menonton potongan film yang di percepat lagi.


Begitu potongan filmnya terhenti, kami kembali di masa kini, hanya berbeda tempat, dan berbeda tahun waktu.


Aku dan Kai berjalan ke arah cafe, jantung kami berdebar-debar, apakah kami melakukan kesalahan atau kami sudah melakukan seperti yang kami rencanakan?


Kami mengintip ke dalam kafe, "Ada mereka tidak Kai?" tanyaku kepada Kai.


Kai belum menjawab, dan masih terus melihat. Sepersekian detik, "Ada, Dream! Kita berhasil!! Kita berhasil!!" sahutnya.


Aku bersorak kegirangan, dan memeluk Kai, "Benarkah itu, Kai??!! Ya Tuhan, akhirnya!! Akhirnya kita berkumpul lagi!!" ujarku.


Aku dan Kai masuk ke dalam kafe, dan benar saja, Bry dan V menunggu kami disana.


Aku berlari memeluk V, begitu pula dengan Kai. V membalas pelukanku dengan heran, "Hei, kamu kenapa? Atau tepatnya, ada apa dengan kalian?" tanya V.


Aku dan Kai saling berpandangan, "Tidak ada apa-apa, kami hanya senang melihat kalian berdua." jawabku, dan bergantian memeluk Bry.


"Kamu tau, Dream. Kandunganku tinggal hitungan hari, sudah seminggu kita disini, dan waktu seakan cepat sekali. Aku berdebar-debar tidak sabar menunggu anak kami." ucap Bry.


Kai mengelus perut Bry, "Mau minggu ini atau besok, aku akan ada disini, aku akan menemanimu Bry." sahut Kai.


Aku menarik nafas lega, dan mengeluarkan kalung jam pasir yang baru saja aku pakai. Dan berterimakasih kepadanya.

__ADS_1


...----------------...


**EPILOG


Kai **POV****


"Bry, bertahanlah!!" sahutku.


Bry mulai kontraksi dari tadi malam, dan dia menolak untuk dibawa ke rumah sakit, "Tunggu sampai kontraksinya sering, Kai. Bersabarlah." katanya tadi malam.


Dan ternyata, Bry sudah tidak bisa tidur sampai pagi, dan kontraksinya sudah semakin sering. Aku membantunya menghitung kontraksinya selama dua puluh menit.


Jadi, pagi ini kami bertiga mengantar Bry ke rumah sakit.


"Bry, apa kamu tau bagaimana cara mengeluarkan bayimu?" tanya Dream.


Bry menggeleng sambil mengerang kesakitan, "Aku tidak tau Dream. Bahkan aku tidak berani membayangkan bagaimana anak ini akan keluar...Eeerrrgghhh!" sahutnya.


Aku memandang Dream, dan Dream memandang V. Voltaire biasanya paling paham masalah wanita seperti ini, "Kenapa aku??!!" tanyanya ikutan panik.


"Meyetirlah lebih cepat, V!!" teriakku kepada V.


"Tapi kita akan melanggar lalu lintas." sahutnya.


"Kita terdesak!! Tambah kecepatanmu!!" pintaku.


"Ba...baiklah." jawab V.


Aku terus memegangi tangan Bry, yang meremas tanganku dengan kencang, dan bahkan sesekali mencakarnya, atau mencengkram lenganku, hingga meninggalkan warna kemerahan disana.


Sesampainya di rumah sakit, Bry langsung di bawa ke kamar bersalin, kami menemaninya disana.


"Bu, ini sudah bukaan 8, ibu hembuskan nafas sebanyak tiga kali, seperti meniup lilin, kemudian dorong yang bu..ini tidak akan lama." kata perawat di ruang bersalin itu.


Tidak lama, seorang dokter datang, dan siap membantu persalinan Bry.


Aku terus memegang tangan istriku ini, dan menguatkannya, akhirnya, hal yang aku tunggu menjadi kenyataan, impianku untuk mendampinginya saat melahirkan menjadi nyata.


Airmataku menetes karena itu, sekaligus melihat perjuangan Bry untuk mengeluarkan anak kami.


"Terakhir bu, dorong yang kuat yah..satu...dua...tiga... dorong bu!!" kata perawat itu menyemangati Bry.


Sebuah kepala mungil memyembul keluar dan tak lama suara tangis bayi memecah ketegangan di kamar bersalin.


"Anaknya cantik bu, beratnya 2,8kg, dan panjangnya 49cm, selamat yah bu, pak" kata perawat, dan meletakkan bayi mungil itu di atas tubuh Bry.


Aku membelai makhluk mungil yang terus menangis itu.


"Siapa nama dedeknya bu?" tanya perawat itu.


"Amber.... Amber Eilia Johnson." jawab Bry. Perawat.itu menuliskannya di seuntai gelang, dan memakaikannya ke lengan kecil Amber.


"Nama yang cantik." sahutku, dan mengecup kening Bry.


"Berterimakasihlah pada Dream. Dia yang memilihkannya." balas Bry.


V dan Dream menatap kami dengan penuh haru, dan aku mendekati Dream, memeluknya dengan erat sekali.


"Terimakasih Dream... terimakasih untuk segalanya." bisikku ke telinganya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2