
1,5 Tahun Kemudian
"Hei, tunggu aku!" sahut Kai mengejarku dari belakang, aku hanya tertawa mendengar Kai memanggil-manggil namaku. Aku mengitari mobil virtual Kai, dan melaju mendahuluinya.
"Kai, tingkatkan kecepatanmu sedikit" sahutku. Aku baru saja mendapat lisensi mengemudi. Di tahun waktuku, seseorang akan mendapat lisensi setelah berumur 23 sampai 25 tahun, hal ini untuk mengurangi angka kecelakaan di masa lalu. Dan saat ini, aku sudah bekerja di pemerintahan, menggunakan world metaverse, dimana kami tidak perlu berjalan atau mengendarai kendaraan kami sungguhan, dan di awasi langsung oleh papaku sendiri, tentu saja. Hal ini di karenakan, sekitar satu tahun lalu, aku menggoreskan peristiwa bersejarah, aku membatalkan pernikahanku sendiri dengan seorang pelintas waktu bernama Voltaire. Dan berita itu tidak ada berhentinya hingga 5 bulan kemudian, dan setiap gerak-gerikku benar-benar di perhatikan, dan efek satu lagi adalah Kai jadi overprotective sekali terhadapku. Sesampainya di tempatku bekerja, Kai mengomeliku, "Kalau menyetir itu harus hati-hati Dream, kalau terjadi sesuatu sama kami bagaimana? Terlalu ceroboh!" omel Kai padaku. Aku hanya tertawa mendengarnya. Aku bekerja di divisi waktu, bekerja sama dengan kesatuan polisi waktu, dan terkadang aku harus di tugaskan di luar tahun waktu. Agak deg-degan juga kalau menunggu keputusan tugas itu. Seperti hari ini, ketakutanku menjadi kenyataan, ketika seorang temanku yang berada di satu divisi memanggilku, "Dream, kamu diminta ke ruangan pak Mark sekarang" sahutnya.
"Eh, lagi? Apa aku akan ditugaskan di luar tahun waktu lagi?" jawabku. Temanku hanya mengangkat kedua bahunya. Setelah mengucapkan terima kasih kepadanya, aku bergegas menuju ruangan pak Mark alias papaku sendiri, dan benar saja disitu sudah ada Kai (Kai diangkat menjadi asisten papa saat di kantor, tapi masih seperti dulu, Kai tetap bertugas mengawasiku). Aku mengetuk pintu ruangan pak Mark, dan Kai membukakan pintu untukku, "Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku kepada pak Mark.
"Dream, selama satu bulan kedepan, aku akan menugaskan kamu ke tahun waktu 2022, kamu harus menyamar, jangan sampai ada yang tau bahwa kamu dari tahun waktu sekarang, semua peralatan dan pakaian sudah disiapkan. Tugas kamu adalah mencari buronan waktu bernama Rufus. Setiap polisi waktu, seperti biasa, akan di tempatkan di setiap lorong tahun waktu, Kai akan ada bersamamu." sahut papaku menjelaskan.
Degg...benar saja, hal yang aku takutkan terjadi. Kenapa harus aku?
"Tapi papa, oh maaf pak Mark, teman satu divisi saya ada beberapa, kenapa harus saya yang ke tahun waktu 2022? Bisakah tugas ini di gantikan?" tanyaku. Papa menggeleng, "Aku percaya padamu, tangkap Rufus dan cepatlah kembali" jawabnya, "Temui saya setelah jam kerja selesai," katanya lagi, dan sambil tersenyum papa berkata lagi, "mamamu merindukanmu, Dream " sahutnya. Aku ikut tersenyum, "Oke" jawabku.
Aku masih menempati rumah yang sempat kutinggali bersama V. Aku benar -benar sudah melupakannya dan tidak pernah mengingatnya sama sekali, dan sekarang karena papa menugaskanku ke tahun waktunya, aku jadi teringat kembali.
"Hei, jangan bengong" kata Kai, yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingku.
"Kai, temani aku malam ini yah, aku tunggu" pintaku pada Kai. Kai mengangguk. Ketika selesai jam kantor aku mematikan daya macbookku, dan Kai sudah ada di depan ruanganku.
"Masuklah Kai" sahutku, dan Kai berjalan masuk ke dalam ruangan, ditemani sebuah robot pelayan yang sudah membawa kue dan seperangkat peralatan minum teh.
"Ada apa Dream? Kamu kepikiran yah tentang tugasmu?" tanya Kai. Aku mengangguk, "Aku lebih takut bertemu dia daripada menghadapi Rufus" jawabku. Kai tertawa, "Hebat sekali kamu, Dream. Kamu lebih takut pada masa lalumu daripada musuhmu" jawabnya.
"Jelas dong, masa laluku membuatku sakit, sedangkan Rufus, dia bahkan tidak bisa menyentuhku, dan lagi, mengapa orang-orang ini senang sekali melintasi waktu hanya untuk mencari musuh mereka atau bahkan hanya sekedar mengubah masa lalu? Untuk apa masa lalu diubah, ubahlah masa depan? Kalo aku jadi penjahat, aku akan ke masa depan, bukan masa lalu!" sahutku. Kai tertawa, "Mereka yang mengubah masa lalu, berharap dapat mengubah masa depan juga, padahal setiap manusia selalu berubah, kan?" jawab Kai. Aku mengangguk, "Aku teringat Voltaire. Aku takut bertemu dengannya" jawabku, "bagaimanapun, dia pernah menjadi bagian hidupku, Kai." sahutku menambahkan.
__ADS_1
"Tidak apa kalau kamu mengingat dia, itu hal yang sangat wajar" jawab Kai.
"Bagaimana kalau nanti aku bertemu dengannya?" tanyaku lagi
"Tenang, kita berada jauh dari tempatnya Dream, tahun 2022 tidak hanya tentang V kan?" jawabnya lagi menenangkanku. Aku mengangguk, ya Kai benar, tahun waktu 2022 tidak hanya tentangnya. Ada banyak hal lain yang terjadi di tahun waktu tersebut. Ayolah,, jangan bodoh Dream, professionallah dalam bekerja, kataku mengingatkan diriku sendiri. Aku mengajak Kai untuk menemui orangtuaku, "Tidak melalui worldmetaverse?" tanya Kai. Aku menggelangkan kepalaku, "Bagaimana aku memeluk mama nanti? Tidak akan ada rasanya kalau melalui worldmetaverse. Kalau kamu menikah dengan pasanganmu, apa bisa berciuman dengan worldmetaverse, aku tidak suka, sama seperti kamu mencium layar macboxmu" sahutku. Kai tertawa, "Aku harus mencobanya suatu saat nanti kepadamu, Dream" jawabnya. Aku menggeleng, "Sebelum kamu lakukan itu aku sudah memberikan virus di dunia metaversemu" jawabku.
Sesampainya di rumah orangtuaku, mama sudah berlari mendekatiku, dan memelukku, "Papamu sungguh tega, bagaimana mungkin anak satu-satunya di tugaskan ke luar tahun waktu terus?" sahut mama, papa tertawa, "Aku mengajarinya bagaimana menjadi wanita yang mandiri dan kuat" jawab papa, "Itu tas yang akan kamu bawa, papa melakukan riset, baju apa yang akan kamu pakai disana, dan itu dia, sudah papa kumpulkan untukmu" sahutnya lagi. Aku mengangguk, "Nanti saja akan aku buka, thank you papa" sahutku, "Kapan aku mulai berangkat?" tanyaku.
"Lusa" jawab papa, "Sampai hari itu tiba, menginaplah disini, temani mamamu" jawab papa. Aku mengangguk, "baiklah" jawabku, memeluk mama.
Hari itu pun tiba, aku mengecek isi tas yang diberikan papa kepadaku, "Apa ini?" tanyaku sambil membentangkan helai demi helai baju, "Apa aku harus memakai ini? Apa papa tidak tau, kalau disana itu rasanya panas sekali? Kenapa menyiapkanku baju panjang-panjang seperti ini, dan tebal sekali? Apa kita akan bertemu dengan salju?" tanyaku pada Kai.
"Mungkin, ayahmu belum memberitahuku kita ditempatkan dimana" jawab Kai.
"Bawa saja, kalau ternyata tidak bersalju, kita bisa membeli lagi" kata Kai.
"Ah, kamu benar Kai, tapi apa tidak repot?" tanyaku, membayangkan membawa tas sebesar ini.
"Aku yang akan membawanya" jawab Kai. Aku mengangguk setuju, dan memberikan cengiran terdahsyatku untuk Kai.
Tidak lama kemudian, papa memasuki kamarku, "Sudah siap?" tanya papa. Kai dan aku mengangguk. Papa mengantar kami untuk membuat berita laporan di kepolisian waktu, setelah itu, lorong gerbang waktu pun terbuka, "Hati-hatilah Dream, cepat kembalikan Rufus sehingga kamu bisa cepat juga kembali kesini" kata papa, dan kemudian memelukku, "Kai tolong jaga Dream, ini tahun waktu yang paling aku khawatirkan, kamu tau alasannya kan, aku titipkan Dream padamu" kata papa kepada Kai. Kai mengangguk. Kami pun berpamitan dan masuk ke dalam lorong gerbang waktu, pusaran demi pusaran kami lewati, sensasi rasa yang diberikannya masih sama, berputar-putar, dan akan membuatmu merasa mual dan pusing.
Syuuuttt...puk, kami sudah mendarat dengan mulus, kami sudah lebih baik saat melakukan pendaratan, terdengar dari suara gedebuk yang berubah menjadi syuuut..puk, halus bukan?
Kami segera bergegas menuju hotel tempat sementara kami akan tinggal. Benar kata Kai, ini sangat jauh dari tempat V dulu. Kami melakukan pemesanan mobil online, dan ketika datang, kami bergegas meluncur kesana. Setelah sampai hotel, kami menuju ruangan masing-masing, papa sudah mengaturnya sedemikian rupa, sehingga memudahkan kami dalam melakukan reservasi ulang. Selesai kami beres-beres, Kai masuk ke dalam ruanganku, "Ini foto Rufus, besok kita harus sudah bergerak" sahutnya. Aku mengambil foto dari tangannya, "Wowh, penampilannya luar biasa sekali, aku tidak menyangka dia seorang buronan" jawabku.
__ADS_1
"Ya kan? Aku pun tidak. Hei, apa kamu ingin makan?" tanya Kai. Aku mengangguk, "Iya, ayo kita cari makanan* sahutku bersemangat.
"Disini kita punya restaurant, ada di bawah, kita makan disana aja" jawab Kai.
"Oke, ayo. Sayang sekali pil-pil ini, tidak pernah kita sentuh kalau kita tugas ke luar tahun waktu" sahutku. Kami bergegas menuju restaurant yang dimaksud Kai. Dan begitu sampai, wooowwhhhh, buffet..aku suka itu. Kai tersenyum melihatku. Namun karena kami adalah tamu VIP maka kami dilayani di ruangan khusus, mereka menyebutnya Kamikaze.
Seorang Chef berbadan tinggi sudah siap melayani kami, dengan membawa peralatan yang akan ia gunakan. Dan chef itu mengucapkan salam, "Selamat datang dan Selamat menikmati" ucapnya, mengangkat wajahnya dan tersenyum. Betapa terkejutnya aku, itu Voltaire!!!
.
EPILOG
V POV
Ah, hidupku kosong, seperti ada yang hilang dariku. Hatiku berlubang, tidak besar tapi tetap saja yang namanya berlubang akan terasa sakit.
"Kamu kenapa diam saja V?" tanya Bryanna kepadaku, "Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya lagi. Aku menggeky, "Aku tidak memikirkan apapun, tapi aku memikirkan tentang hubungan kita." sahutku
"Kenapa? Apa kamu akan melamarku?" tanya Bry lagi. Aku mengangkat bahuku. Sudah setahun ini aku menjalani hubungan dengan Bry tidak ada rasanya. Biasanya kami LDR, tapi itu terasa indah, manis, segala penantianku kepadanya membuatku bersemangat. Tapi setahun belakangan ini, terasa hambar, dan aku tidak merasakan apapun kepadanya.
"Kita harus putus Bry" sahutku. Bry memandangku, "Kenapa?" tanyanya.
"Aku sudah tidak merasakan apapun saat bersamamu" jawabku. Bry tidak melepaskan tatapan matanya dariku.
"Karena anak kecil itu kah?" tanyanya ketus. Aku menggeleng, "Lebih kepada sikapmu yang seenaknya sendiri. Kamu memutuskan segala sesuatu dengan caramu Bry. Kamu bisa hidup sendiri tanpa ada aku" jawabku, dan aku bergegas pergi, meninggalkan Bry sendiri, dan aku yakin, dia tidak akan terima dengan keputusanku ini
__ADS_1