Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Engagement


__ADS_3

"Oke, jadi kalian mau sekolah yang mana?" tanyaku pada Jean dan Jeannete. Kami sedang mensurvey sekolah terbaik untuk anak-anak itu. Aku memberikan mereka kebebasan untuk memilih mana tempat yang nyaman untuk mereka.


Dan pilihan mereka berbeda, kata penasihat belajar mereka, itu tidak menjadi masalah. Malah bagus karena nantinya mereka tidak akan dibandingkan satu dengan yang lainnya.


Akhirnya kuputuskan mereka bersekolah di tempat yang berbeda. Selesai mengurus sekolah, aku kembali ke rumahku, V sudah siap membacakan jadwalku selanjutnya.


"Siapkan kendaraannya." sahutku kepada robot pelayanku.


Tapi V mengangkat tangannya kepada robot itu, "Tidak perlu, Dream. Kita bisa menggunakan worldmetaverse untuk menghadiri acara itu." jelas V.


"Benarkah? Baiklah, aku akan ke ruanganku." sahutku, dan langkahku menjadi sedikit ringan.


"Jean dan Jeannete, guru kalian sudah menunggu, sebelum kalian sekolah, kalian harus mengikuti sekolah persamaan dahulu, dan cukup lama, tapi itu akan berguna untuk kalian." sahutku.


"Ya...Luna Dream" sahut mereka.


Aku menyelesaikan sisa hariku dengan cukup sempurna. V memijit pundakku, dan itu malah membuatku tertawa, "Geli, V....hentikan " sahutku.


"Orang masa depan, di pijitin ketawa, di jamanku, ketika orang dipijit, akan glegean, atau bersendawa eeeeee, seperti itu Dream." sahut V.


"Aku kan bukan dari masa lampau, wajarlah itu aneh." protesku.


"Kita berlibur yuk, aku pernah melihat agenda kerjamu, kalau kamu ingin berlibur." ajak V.


Aku mengingat -ingat, "Ah benar juga. Sekarang tidak bisa kan, kerjaanku banyak, dan kamu tau, si kembar itu sekarang benar-benar membuatku sibuk." jawabku tersenyum.


V juga tersenyum, "Dream, maukah kamu menikah denganku?" tanya V.


Aku menatapnya, "Cincinnya mana?" sahutku.


"Ini lamaran dadakan, Dream. Aku tidak merencanakannya. Ah, baiklah pakai ini saja." kata V, mengambil seikat karet rambut berwarna cokelat entah milik Jean atau Jeannette, aku tidak tau, dan memasangkannya di jari manisku, kemudian mencium jari manisku.


"I... ini serius atau bohongan?" tanyaku gugup.


"Menurutmu, bagaimana?" V balik bertanya, "pernahkah aku bercanda saat mengungkapkan perasaanku kepadamu?"


Aku berpikir sejenak, kemudian V menepuk kedua tangannya di depan wajahku, "Ya sudahlah." sahutnya kesal.


Aku menarik ujung bajunya, "Aku menerimamu." sahutku pelan.

__ADS_1


V mundur sedikit, "Apa? Apa yang barusan kamu katakan?" tanya V.


"Aku menerimamu." jawabku lagi.


V mendekatkan telinganya ke arahku, "Kurang kencang, Dream. Aku menua, sudah ada beberapa rambut putih dan keriput muncul di wajahku." sahutnya menggodaku.


"Aku akan mengatakan sekali saja, dengarkan baik-baik, pria tua! AKU MENERIMAMU MENJADI PASANGANKU!!" teriakku, dan berjalan menjauhi V.


Aku mendengar V tertawa terbahak-bahak, dan kemudian mengejarku dan merangkulku, "Terimakasih." katanya, mencium keningku.


...----------------...


"Bar-bar seperti kalian, menyatakan cinta seperti itu, seperti bukan dari peradaban manusia." sahut Kai pura-pura serius, "tapi, apa boleh buat kan, selamaaaatttt untuk kalian berdua." katanya lagi.


Bry dan Kai menyambut kami memakai konfeti virtual yang suara ledakannya bisa di sesuaikan kemauan si pendengar.


"Kapan rencananya kalian akan merelease berita ini?" tanya Kai.


"Kamu saja yang menikah, dan sekalian aku bertanya bagaimana petualangan sel spe*rmamu, apakah sudah berhasil menembus sel telur Bry?" sahutku membalas nyinyiran sinis Kai.


"DREAMY EVE!! Mulutmu itu harus di jaga yah, mana ada seorang tokoh masyarakat seperti itu?!!" sahut Kai marah dan mengejarku.


"Lihat saja, kalau juniorku yang di dalam sana mampu bertahan, aku tidak akan mengijinkannya menyentuh Kai juniorku!" katanya berlagak marah dan mengancam. Aku terkikik geli di belakangnya.


Dreamy Eve, memberontak kepada sistem karena memilih sendiri pasangannya.


"Luar biasa... ckckckck." sahutku, "dan saat kalian menikah, itu tidak menjadi masalah karena tidak menggunakan kalkulator cinta bodoh itu, dan aku sekarang dianggap memberontak kepada sistem." sahutku lemas kepada Kai.


"Hari ini saja, lakukanlah dengan cepat. Atau rayakanlah, kita buat ini menjadi acara langsung." usul Kai.


Aaahhh... mana ada hanya acara pertunangan saja dibuat siaran langsung.


Akhirnya, hari itu aku dan V melakukan acara siaran langsung pertunangan kami. Orangtuaku hadir dalam acara tersebut, dan menangis terharu.


"Kenapa kalian tidak langsung menikah saja?" kata papaku, "tidak ada habisnya mereka memberitakan tentangmu, Dream." katanya berbisik.


"Tidak masalah, prestasiku juga banyak, hanya berita itu tidak pernah naik." sahutku.


Jean dan Jeannete juga aku hadirkan dalam acaraku. Mereka tamlak cantik dan lucu mengenakan gaun berwarna putih. Tentu saja mereka yang paling bersemangat.

__ADS_1


Acara pertunangan kami dilakukan di Cloudy Park, taman gantung di atas awan, dan sekaligus aku ingin mempromosikan taman baru ini.


Dan benar saja, pers jadi lebih tertarik meliput taman otu, daripada acara kami.


"Ide bagus, Dream." sahut V memandangku, "ah, dan aku sudah membeli cincin sungguhan, lihatlah." katanya dan mengeluarkan cincin berbatu rubi berwarna ungu sebagai mata pada cincin itu.


"Ini indah sekali, V." sahutku.


Dan acara pun dimulai, kami bertukar cincin. Seorang pendeta yang memberkati cincin serta acara ini.


Selesai acara pertunangan itu, aku dan V kembali ke rumah. Rasanya agak canggung karena status kami sekarang.


"Kalau dipikir-pikir, kenapa kita tidak sekalian menikah saja yah?" aku bertanya kepada V.


V mendekatiku, "Kamu ini sangat menyebalkan, Dream." katanya kesal dan menciumku dengan lembut. Aku membalas ciumannya.


"Akankah ini berbeda dari sebelumnya?" tanyaku kepada V.


"Tentu saja. Kita akan lebih dulu mendapatkan V junior malam ini." jawab V.


Malam itu merupakan malam permulaan bagiku dan V, kami sudah pernah melakukan ini sebelumnya tapi tidak seperti malam ini.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Akhirnya, kamu melakukan itu juga, Voltaire. Aku bangga kepadamu." sahut Kai menepuk pundakku.


"Ini perjalanan yang sangat sulit dengan semua rintangan yang sudah kita lalui, benar kan?" tanyaku kepada Kai.


Kai mengangguk, "Awas saja kalau kamu membuat Dream sedih, aku tidak akan pernah mengampunimu." seru Kai.


"Tidak akan, tapi kalau untuk berpendapat tentang sesuatu, pasti kami akan ribut sedikit. Tapi itu tidak akan menjadi masalah. Tiga tahun mengenalnya, aku masih harus menyelam lebih dalam untuk lebih memahami kepribadiannya." aku menjawab Kai.


"Ya, belum rasa bosannya. Buatlah dia untuk tidak bosan terhadapmu. Carilah masalah supaya dia penasaran denganmu." sahut Kai, "karena prinsip hidupnya adalah jika ada yang sulit kenapa harus melakukannya dengan mudah, begitulah Dream." tambahnya.


Aku tersenyum mendengar jawaban Kai itu. Dan memang begitulah Dream.

__ADS_1


...----------------...


note : maaf jarang update, karena seminggu ini aku lagi sibuk di real life. Sama sekali ngga bisa kepegang untuk nulis. Kerangka udah dibikin, tapi belum ada waktunya. Terimakasih untuk yang selalu menunggu dan setia sama Dream dkk. Mohon dukungannya yah supaya novel ini bisa berkembang. Terimakasih 💜💜


__ADS_2