Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Kaguya Hime No Monogatari


__ADS_3

Malam itu, Robbie dan anak-anaknya melarangku untuk menepi dan pulang. Jean dan Jeannette menangis merajuk karena ingin di bacakan dongeng sebelum tidur bersamaku. Aku menghela nafasku, dan meminta ijin, untuk memberi kabar kepada V, "Hai V, kamu tidak perlu menjemputku, sepertinya malam ini aku akan menginap." sahutku.


"Apa??! Pulanglah saja! Aku akan kesana untuk menjemputmu!" sahutnya sedikit marah.


"Aku tidak di rumah Robbie, kami sedang berada di kapal pesiar milik Robbie. Dan Jean Jeannette melarangku pulang, mereka menangis, V. Aku tidak tega." aku menjawabnya.


Dan V mendecak kesal, "Baiklah, berhati-hatilah. Dan begitu besok kamu mendarat, hubungi aku secepatnya. Aku akan menjemputmu di dermaga. Dan Dream, bisakah aku berbicara dengan Robbie?" pinta V. Apa yang mau dibicarakannya? Aku pergi mencari Robbie, dan begitu aku menemukannya, aku memberikan ponselku kepadanya.


Selesai mereka berbicara, Robbie mengembalikan ponselku, dan aku masih mendengar V berbicara di seberang sana, "Istirahatlah Dream. Jangan tidur malam-malam. Aku tutup yah. Bye." sahut V.


" Bye Voltaire." baru saja akan kututup, V memanggilku lagi, "Dream..." katanya.


"Ya? V?" aku menjawabnya.


"Tidak jadi. Tutuplah dan tidur." katanya dan mengakhiri panggilanku.


Ada apa dengannya? Aneh sekali. Aku kembali memasuki kamar Jean dan Jeannette, dan mengambil buku yang sudah mereka pilih untuk aku bacakan.


Putri Kaguya --- Kaguya Hime No Monogatari


Cerita putri Kaguya adalah cerita tentang seorang kakek dan nenek. Si kakek adalah pengambil bambu di hutan. Suatu hari, si kakek menemukan pangkal bambu yang bercahaya, dan si kakek memotongnya, betapa terkejutnya si kakek, ternyata ketika dibuka, bambu tersebut berisi seorang anak perempuan kecil.


Semenjak saat itu, setiap kali kakek pergi mengambil bambu, di dalam bambu yang ia potong terdapat emas di dalamnya. Sehingga kakek dan nenek menjadi kaya raya. Putri Kaguya pun tumbuh menjadi seorang gadis cantik, dan banyak pria yang ingin menikahinya. Namun putri Kaguya menolaknya, "Aku bukan berasal dari dunia ini." selalu begitu jawaban Kaguya.


Akan tetapi para pria masih menunggu Kaguya di halaman istana, sampai akhirnya Kaguya mengajukan syarat untuk menikahinya. Barang siapa yang mau menikahinya harus membawa barang asli dari Buddha. Dan tidak ada pria yang mampu membawakan barang asli dari Buddha. Karena hal itu, putri Kaguya setiap malam selalu menangis dan menatap bulan. Hingga suatu malam orang - orang dari bulan turun dan membawa Kaguya.


Aku menutup cerita dongeng tersebut, dan kulihat Jean dan Jeannette sudah tertidur. Aku terdiam sejenak dan berpikir, hidup putri Kaguya sama dengan hidupku, kisah cintanya rumit, sampai akhirnya dia di jemput untuk pulang, tidak ada yang berhasil menikahinya, apa nanti aku juga akan seperti itu? pikirku dalam hati.


Robbie mengetuk pintu, dan memintaku untuk keluar menemaninya. Kami duduk di dek kapal sambil menikmati bintang dan angin malam.

__ADS_1


"Terimakasih sudah mau membacakan dongeng untuk anakku." sahut Robbie. Dia menawarkanku segelas anggur merah. Aku mengambilnya dan menyesapnya.


"Terimakasih juga mau meluangkan waktu untuk mereka." sahutku kepadanya. Robbie tersenyum.


"Maukah kamu untuk menetap disini, bersamaku?" tanyanya.


"Jean dan Jeannette memintaku untuk membacakan dongeng kuno dari Jepang, putri Kaguya. Apa kamu tau cerita itu?" tanyaku, dan Robbie mengangguk, "Kamu tau, aku sama seperti Kaguya. Aku tidak berasal dari sini, rumahku jauh disana." jawabku, "dan jika aku merindukan rumahku, orang tuaku, aku sama seperti Kaguya, hanya menatap langit, bulan dan bintang. Apalagi setelah Kai pergi." jawabku lagi menambahkan.


Robbie tampak tidak mengerti dengan apa yang aku bicarakan.


"Kamu tidak perlu mengerti sekarang Rob. Suatu saat, ketika saatnya tiba untuk aku kembali, aku akan menceritakannya kepadamu." sahutku.


Robbie membetulkan rambutku yang terkena angin, dia mengambil karet rambut dari kantong celana pendeknya, dan memintaku untuk membelakanginya, "Berputarlah sebentar, aku akan mencoba merapikan rambutmu." sahutnya. Dan aku memutar posisi dudukku, kemudian Robbie mengambil rambutku dan menjadikannya satu genggaman tangan, sapuan lembut jari tangannya saat mengambil dan mengikat rambutku, membuat jantungku berdebar-debar. Ada apa lagi dengan jantungku ini? Kenapa harus selalu berdebar-debar?


"Oke, sudah jadi. Maaf berantakan, aku tidak semahir kamu atau Nancy dalam mendandani anak-anakku." sahutnya, "dan ini pertama kali aku mengikat rambut seorang wanita selain anak-anakku." tambahnya lagi. Aku berdeham begitu dia selesai membenahi rambutku.


"Ehem, tidak jelek..hahahaha." jawabku sambil menggodanya. Robbie tertawa.


"Apa yang akan orang lain pikirkan jika kamu memanggilku dengan sebutan seperti itu? Aku milikmu, bukan?" aku mencoba menolaknya secara halus.


"Apa kamu tidak mau menjadi milikku?" tanya Robbie lagi.


"Aku akan tetap milik orangtuaku, apapun yang terjadi!" sahutku dan Robbie tertawa lagi, "Aku bahagia sekali berada di dekatmu, hidupku akan di penuhi dengan tawa karena ocehanmu." katanya.


"Baiklah, jadi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Robbie lagi.


"Aku sedang tidak ingin berkomitmen atau terikat, tapi aku harus karena waktuku tidak banyak. Pertanyaanmu mudah sekali, kamu hanya harus membuat musik di hatiku, bukan musik biasa, melainkan sebuah orkestra yang sangat indah dan megah, dan jika itu terjadi, aku akan menikahimu, dan membawamu ke tempat asalku." jawabku, dan jujur saja, setengah jawabanku dimaksudkan untuk menakuti dia. Tapi ternyata dia tidak takut, dan tidak bertanya darimana asalku.


"Oke. Deal!" sahutnya, ada raut kemenangan terpancar di wajahnya.

__ADS_1


"Kamu tidak takut?" aku bertanya kepadanya. Robbie menggeleng, "Usiaku bukan usia mencari kekasih, usiaku adalah usia mencari seorang istri. Kamu tau?" tanya Robbie kepadaku.


"Kamu terlalu percaya diri, Rob." sahutku.


Robbie tersenyum, "Tentu saja. Nama tengahku adalah Robbie percaya diri Stans, lihat kan?" sahutnya lagi.


Aku tertawa mendengar leluconnya. Dan kemudian Robbie mengecup pipiku lembut...deg... Aku memegangi pipiku, dan aku merasakan panas di wajahku.


"Selama kamu masih bersama V, dan statusmu belum berubah, aku hanya akan mencium pipimu." sahutnya. Aku kehilangan kata-kataku, dan hanya terdiam seperti orang bodoh yang tiba-tiba harus mengerjakan soal aljabar dan rumus phytagoras dalam waktu lima menit.


Hidupku memang menjadi lebih berwarna, lebih berdebar-debar selama melintasi waktu, dan bertemu V, namun hidupku tampak semakin rumit seperti ikatan DNA dan RNA.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Apa tidak boleh aku menyukainya?" tanya Robbie di telpon saat malam itu, Dream menghubungiku untuk memberitahukanku bahwa dia menginap di kapal pesiar bersama Robbie dan keluarganya.


"*Tentu tidak boleh! Dia milikku! Dan aku peringatkan kepadamu, jangan lakukan apapun kepadanya! Ingat itu?!" sahutku lagi menahan kesal.


"Voltaire, hei sadarlah, kamu hanya cinta sendiri, sedangkan Luna tidak. Hanya sekedar *** bukan selamanya cinta. Kamu tau itu kan*?" ucapnya lagi. Kali ini ucapannya membuat darahku menggelegak dan mendidih.


"Kamu tidak tau bagaimana perjuanganku mendapatkannya, walaupun dia belum menerimaku sepenuhnya, aku harap kamu tidak membuatnya goyah, Rob." sahutku.


"Hahahaha... kamu tau dia akan goyah. Aku akan menggoyahkan hatinya dan membuatnya menjadi milikku." katanya lagi.


"Tidak akan pernah terjadi Rob. Aku pastikan itu! Dan tolong kembalikan ponsel Luna, karena kekasihnya masih ingin bicara dengannya!" sahutku emosi.

__ADS_1


Selesai bicara dengan Robbie aku menghela nafasku, dan berusaha untuk terdengar baik-baik saja di depan Dream. Paling tidak aku bisa mengucapkan bahwa aku mencintai dia.


......................


__ADS_2