
Aku menghabiskan hari-hariku dengan membantu Kai, membaca materi, kadang berbincang-bincang bersama Bry, dan mengunjungi orangtuaku. Aku sama sekali tidak terpikirkan tentang V atau Robbie disana.
"Menikah itu berat Dream. Bagaimana kalau kamu tunangan saja dulu dengan keduanya?" usul Bry suatu hari.
"Tunangan? Apa itu?" aku bertanya kepadanya.
"Jadi kamu memang terikat, tapi kalau tunangan tidak selalu harus menikah. Atau kamu bisa ke level rendah dulu, yaitu berkencan." sahutnya lagi.
"Apa keduanya itu tidak selalu harus menikah?" aku bertanya lagi. Aku belum mengerti apa yang di maksudkan Bry, "oh, tunangan itu seperti waktu kamu dan V?" sahutku.
Bry mengangguk, "Iya, kami lebih terikat, tapi pada akhirnya hubungan kami selesai tanpa pernikahan." jawab Bry.
"Oh seru juga. Tapi kalau seperti itu berarti sudah harus berkomitmen kan? Aku bingung, andai tubuh dan sifat dewasa Robbie ada di V, aku akan memilih V....hahahaha." sahutku. Bry tertawa bersamaku.
"Ikutlah bersamaku, Bry. Jadilah teman bicaraku disana." pintaku.
"Tidak boleh!" Kai tiba-tiba muncul entah darimana, menolak mentah-mentah permintaanku.
"Kenapa?" aku bertanya kepada Kai.
"Sudah jelas kan, kamu saja bisa tergila-gila dengan Robbie. Tipe pria kalian itu sama. Apa yang terjadi denganku nanti?" jawab Kai.
"Denganmu? Apa hubungannya? Oh, Kai...mungkinkah kamu dan Bry ...." aku tersenyum menggoda Kai.
"Apakah akhirnya kamu membuka hatimu untukku, Kai?" tanya Bry agresif.
Kai tersipu malu, "Ma...maksudku, ah bukan begitu. Maksudku, bagaimana pekerjaan dia disini, dia kan juru bicaraku! Ah, kalian ini! Sudahlah!" katanya, dan dengan wajah yang sangat merah Kai meninggalkan kami yang asik cekikikan.
Tak lama dia menoleh ke belakang, "Dream bersiaplah untuk membantu program kerjaku!" katanya. Wajahnya masih memerah. Aku mengacungkan ibu jariku ke udara setinggi mungkin, supaya Kai bisa melihatnya.
...----------------...
"Aku ingin banyak ruangan hijau, tingkat polusi udara saat ini cukup tinggi." sahutku kepada Kai.
Kai membuat maket untuk pembaharuan letak tata kota, dan dia meminta saranku.
"Boleh sih, kita perluas Eden Park sampai ke arah sini, dan aku akan mengerahkan dua atau tiga unit mesin untuk menjaga area taman. Oke begitu?" tanya Kai.
Aku mengangguk, "Dan, tempatkan beberapa unit sebagai polisi udara, akhir-akhir ini banyak pengendara mobil yang terbang di area setinggi pesawat terbang. Sudah jelas itu di larang." sahutku sedikit kesal. Karena beberapa hari yang lalu, aku mengendarai mobil terbangku, dan dari arah kanan, sebuah mobil mendahuluiku dan terbang sangat tinggi. Tidak mungkin kan pesawat membunyikan klakson? Itulah mengapa kecelakaan udara sering terjadi akhir-akhir ini.
Kali ini Kai yang mengangguk, "Apa kita membuat lintasan saja? Jadi semua pengendara berada di lintasan masing-masing. Jika melanggar, polisi udara akan menembaknya, dan membatalkan lisensi mengemudinya, bagaimana dengan itu?" usul Kai.
"Ide bagus. Dan ini letakkan disini." sahutku memindah-mindahkan rencana pembangunan pusat belanja, gedung perkantoran, dan rencana pembangunan perumahan, "Kita buat area dilarang mendirikan bangunan, dan kita ganti dengan ruang hijau, seperti piknik area, bagaimana?" aku bertanya lagi.
"Aku membayangkan akan banyak surrogate bermunculan di area ini hanya sekedar untuk mencoba seberapa asik tempat ini. Kemalasan manusia." sahut Kai.
Aku tertawa kecil, dan tiba-tiba muncul sebuah ide, "Bagaimana kalau surrogateku yang ke tahun waktu 2022? Aku akan mengontrolnya dengan baik." sahutku.
__ADS_1
"Apa kamu rela Robbie memainkan lidahnya di mulut surrogatemu? Katanya ciuman dia tidak tergantikan? Atau kamu mau melewatkan sentuhan sensasional V yang seksi itu?" tanya Kai.
"Kapan aku berkata kepadamu sentuhan V sensasional? Apa kamu pernah mencobanya juga? Hahahaha" godaku kepadanya.
"Dari apa yang kudengar kalau kamu berbicara dengan Bry mengenai hal-hal dewasa seperti ini. Aku hanya baru melakukannya denganmu, dan itu menjadi kenangan terindahku." sahut Kai, dan wajahnya bersemu merah kembali.
Aku mendekatinya, dan menggodanya, "Kamu mau lagi?" sahutku, dan berbisik di telinganya, "Hahahaha, sekarang aku tidak bisa membayangkan aku melakukan itu denganmu, Kai."
"Hen ..hentikan, Dream. Kita sedang rapat! Ehem!" sahutnya lagi, mengembalikan wibawanya. Aku masih tertawa melihat perubahan sikapnya.
"Ayo, lanjutkan!" seru Kai lagi.
...----------------...
"Dream, bagaimana keputusanmu?" tanya papa saat aku berkunjung ke rumah orangtuaku.
"Keputusan apa?" aku bertanya, sambil menyesap teh chamomile yang diberikan ibu Kai.
"Papa, biarlah Dream disini sebentar lagi, dan janganlah sering-sering bertanya tentang keputusan." sahut mama.
Aku memeluk mama yang duduk di sebelahku, "Terima kasih mamaku." sahutku.
"Aku sudah bertemu dengan Robbie, dia berwibawa, sudah cukup siap untuk berkomitmen, dan yang paling penting adalah dia bisa menjadi pemimpinmu. Pilihlah dia, Dream." sahut papa.
"Bagaimana dengan Voltaire? Aku suka dia." sahutku.
Aku memainkan bibirku, "Papa, tidak tau kalau aku sedang dilemma. Mereka berdua membuatku bingung. Dan ini bukan sekedar pilihan seperti memilih baju atau tas." sahutku.
"Aku tau, baiklah aku akan bertanya, bagaimana pendapatmu tentang Robbie?" tanya papa.
"Dia dewasa, dia mengerti aku, dia tidak membosankan, maksudku aku lebih sering berbeda pendapat dengannya, dia tidak selalu menurutiku. Dan sifatnya itu berbanding terbalik dengan Voltaire." aku memberikan penjelasan kepada papa.
"Kamu sudah mengetahui jawabannya, katakan itu kepada mereka, dan jalani dahulu selama sisa waktumu disana. Kamu masih bisa memilih, jika itu gagal, kembalilah, pimpinlah parlemen ini, sekuat tenagamu, Dream." jawab papa bijaksana.
Mama memandangku, meremas tanganku, dan mengangguk memberikan dukungannya kepadaku. Aku balas memandangnya dan tersenyum. Aku menghela nafas lega, aku tidak diharuskan menikah, tapi aku harus membenarkan apa yang sudah terjadi, karena masa depan seseorang akan berubah hanya karena aku mengacak-acak masa lalu mereka. Bahkan ada anak kecil di dalamnya.
...----------------...
"Lusa kamu akan kembali kesana?" tanya Bry sore itu.
Aku mengangguk, "Lebih cepat lebih baik kan?" sahutku.
"Aku akan merindukanmu, Dream." katanya.
"Aku juga. Entah apa yang akan aku putuskan disana." sahutku. Aku memandang jauh ke depan dengan tatapan kosong.
"Putuskan yang menurutmu paling baik, Dream." sahutnya.
__ADS_1
Aku mengangguk kembali, "Tapi aku masih mau disini." sahutku.
Buugghh!! Kai tiba-tiba memukul belakang kepalaku dengan buku yang di pegangnya.
"Sakit, Kai!" tukasku kesal.
"Benarkah? Ah, maafkan aku, aku hanya menggodamu." sahutnya dan membantuku mengusap kepalaku, "Dream, aku percaya kepadamu, apa pun dan siapa pun pilihanmu, aku yakin itu yang akan membuatmu bahagia dan itu sudah pasti menjadi keputusan yang terbaik." sahut Kai.
Aku balas memukulnya, " Sok bijak di depan Bry." sahutku lagi, dan Kai mencubit pipiku, "Tidak pernah seperti itu kan, anak bodoh!" sahutnya.
Bry tertawa melihat ekspresi wajahku.
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
"Hai, Robbie. Aku Kai, ada yang ingin bertemu denganmu." sahutku ceria. Robbie tampak suram, tidak seperti terakhir aku melihatnya sedang berciuman dengan Dream.
"Kai, apa Dream baik-baik saja?" tanya Robbie.
Aku mengangguk, "Dia baik-baik saja. Dan biarkan dia istirahat sejenak disini sebelum kembali." sahutku.
"Apa dia bisa kembali?" tanya Robbie penuh harap.
"Tentu saja, atau masa depan kalian akan berubah." sahutku.
Dan Robbie tampak lebih berwarna sekarang, walaupun masih tampak sedikit abu-abu menyedihkan.
Tak lama, Mark berhasil tersambung dengan kami.
"Halo, namaku Mark, ayah Dream, ah Luna maksudku. Aku tau, kamu sudah memgetahui asal usul putriku. Benar,?" tanya Mark.
Robbie mengangguk, "Luna menceritakan kepadaku, dia berasal dari masa depan."
"Kamu mencintai anakku?" tanya Mark lagi.
Robbie mengangguk, "dengan segenap jiwa ragaku. Saat pertama aku bertemu dengannya, aku sudah tertarik dengannya, dia berani mendobrak prinsipku dengan melemparku memakai kotak ponsel. Dia wanita berprinsip, pendekatan terhadap anak-anakku pun membuatku kagum." jawab Robbie.
Mark mengangguk senang, "Hahahaha... dia saja berani terhadapku, apalagi kepadamu. Kalau memang kamu bisa mendampingi dia, dampingilah hingga waktu memisahkan. Dia pernah gagal sekali, dan aku tidak mau dia gagal lagi, bukan berarti aku menutup kemungkinan untuk Voltaire, tidak! Semua tergantung keputusan anakku. Tolong jaga dia, dan jika kamu mencintainya, cintailah dia sama seperti aku mencintainya." terang Mark kepada Robbie.
"Akan aku lakukan pah, aku akan mencintainya dengan tulus." jawab Robbie.
"Semoga omongannya bisa di buktikan, aku melihat Robbie cukup bisa di percaya." sahut Mark saat mengakhiri panggilannya dengan Robbie, "Kai, terus bantu awasi Robbie dan Voltaire, laporkan perkembangannya kepadaku secara berkala."
Aku mengangguk, "Baik, dan semoga ini bisa menjadi keputusan yang terbaik untuk Dream." sahutku.
__ADS_1
...----------------...