Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Happiness is You


__ADS_3

4 Months Later


"Dream, woi bangun...!!" aku mendengar suara ketukan di pintu, dan sayup-sayup suara V terdengar.


"Iya Voltaire, aku bangun...tunggulah sebentar." sahutku, masih menahan kantukku.


"Kalau kamu tidak keluar kamar, aku akan membuka kamarmu, aku akan mulai menghitung" sahutnya.


"Sepuluh..."


"Sembilan.."


Aku tidak tahan mendengar ocehannya. Aku membuka pintu kamarku, "Ini hari liburku V bawel! Biarkan aku istirahat dalam tenang." sahutku.


V menahan nafas, dan menatapku dari atas hingga bawah, "Dream..ehem, ba...bajumu...ma...maafkan aku." sahutnya terbata-bata.


Aku melihat ke arah bajuku, astaga! Aku masih menggunakan baju tidur karena tadi malam panas sekali.


Aku menempelkan tanganku ke wajah V, "Kamu minta maaf tapi tidak mengalihkan pandanganmu dariku." sahutku seraya menutup tubuhku dengan kardigan.


"A .. aku sudah sering kesana. Aku tidak akan terkejut." jawabnya, "tapi kuperhatikan punyamu tampak lebih besar." goda V lagi.


"Voltaire bodoh!!" teriakku, dan melemparkan sisirku ke arahnya, "Ngga sopan, dasar mesum!!" teriakku lagi.


V menghindari lemparanku sambil tertawa, "Ayolah, peganglah Dream, dan rasakan perubahannya, hahahaha." sahutnya lagi sembari tertawa menjauh.


Dasar V bodoh!! Aku memang masih dalam masa pertumbuhan kan, wajar saja ada yang berkembang di tubuhku... huh!!


Haccciiiuummm...


Heh? Apa yang terjadi denganku? Baru saja aku bersin? Aku tidak pernah bersin atau batuk sebelumnya. Mungkin tingkat debu lagi tinggi.


"Apa rencanamu Dream?" tanya V kepadaku.


"Entahlah, V baru saja aku bersin." sahutku.


"Lalu?" tanya V, "maksudku itu sesuatu hal yang biasa terjadi kan? Ketika ada debu, atau ada sesuatu masuk ke dalam hidung atau mau flu, bisa saja kan?" jawab V.


"Itu tidak biasa. Aku tidak pernah sakit semasa hidupku. Apa tingkat debu tinggi saat musim panas disini?" aku bertanya kepada V.


"Tentu saja. Bagaimana hubunganmu dengan Robbie? Aman terkendali? Sudah bermain cinta-cintaan?" tanya V tertawa kecil.


"Sembarangan! Robbie itu tidak buru-buru, eh tapi V setiap kali aku mau bermain cinta-cintaan, kenapa bayangan papa selalu muncul?" aku bertanya lagi, dan aku sendiri juga bingung. Itu tidak pernah terjadi kepada Kai atau V.


"Papamu tidak merestuimu, Dream. Waktu kita, malah kamu yang selalu menggodaku, belum lagi kamu memakai kostum-kostum aneh itu...hahahaha. Itu lucu sekali, Dream. Aku belum bisa melupakannya. Pakailah saat bersama Robbie.." sahut V tertawa.


"Saat itu aku masih bodoh, sekarang aku sudah pintar." jawabku bangga.

__ADS_1


"Aku tau, aku bisa merasakannya dari ciumanmu yang semakin dewasa....hahahaha!" sahutnya sambil menggodaku.


"Hentikan V...hentikan itu!" sahutku, memukul V dengan tanganku.


V menangkap pukulan tanganku, dan pandangan mata kami bertemu, deg...deg...debaran bodoh itu lagi!


"Ehem...aku ke kamar dulu." sahutku melepaskan tangannya.


...----------------...


" Dream, ada pacarmu!!"


Aku mendengar suara V lagi, menggedor-gedor pintu kamarku.


Tak lama pintu kamarku terbuka, masuklah Robbie dan V bersamaan.


"Tidak biasanya kamu tidur seharian. Apa kamu benar-benar sakit?" tanya V, kemudian menempelkan telapak tangannya ke dahiku.


"Tidak, aku hanya mengantuk, kamu tau." semburku kepada V. Dan aku melihat Robbie, "Hai... maafkan aku, entah kenapa hari ini aku mengantuk sekali." sahutku.


Robbie membelai rambutku, "Tidurlah saja, aku akan menemanimu." kemudian Robbie melonggarkan dasinya, melepas jasnya, membuka kancing atas kemejanya, dan berbaring di sebelahku.


V yang melihat itu, berpaling keluar kamar, "Sewalah kamar hotel jika kalian ingin bermain cinta-cintaan. Aku tidak mau mendengar suara ah ih uh eh oh di hari tenangku!" sahutnya dan menutup pintu dengan keras.


Robbie memandangku, "Apa itu cinta-cintaan?" tanya Robbie.


"Ah itu, istilah yang sempat kami pakai." jawabku tersipu malu.


Dan seperti biasa, papa muncul di saat kami akan melakukannya, dan aku selalu menghentikan Robbie disitu.


"Maaf, aku belum bisa." sahutku.


Robbie menatapku, dan tersenyum, "Tidak masalah, kita bisa pelan-pelan dan itu tidak begitu penting." jawabnya.


Kami membetulkan tata letak pakaian kami. Dan aku tertidur di lengan Robbie tak lama setelah itu. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhku, kenapa sekarang begitu lemah? Atau aku yang terlalu lelah? Robbie hampir setiap hari mengajakku jalan, atau sekedar bermain dengan Jean dan Jeannete. Apa itu melelahkan?


"Luna...Luna...hei, bangunlah." suara lembut Robbie membangunkanku.


Aku terbangun, keringat membasahi tubuhku, "Apa yang terjadi?" aku bertanya kepada Robbie.


"Ada apa denganmu? Kamu bermimpi buruk? Karena kamu mengigau." sahut Robbie.


Tak lama V membuka kamarku, dan tampak habis berlari, "Ada apa dengannya?" tanya V kepada Robbie.


Robbie mengangkat bahunya, "Dia tertidur, dan mengigau, tubuhnya agak panas, V." sahut Robbie sesaat dia menempelkan telapak tangannya ke dahiku.


Aku mengikuti Robbie mengecek dahiku, dan memang terasa hangat. V mendekatiku, dan melakukan hal yang sama dengan kami.

__ADS_1


"Apa yang kamu rasakan, Dream ah maksudku Luna. Begini saja, nama asli dia Dreamy, Luna nama samaran." jelas V kepada Robbie, "Katakan padaku, apa yang kamu rasakan?" tanya V kepadaku.


"Hanya terasa panas dan lelah." jawabku.


Robbie meremas tanganku. Dan menatap V, "Maafkan aku, aku tadi, kita tadi berciuman dengan sangat panas." sahutnya dan wajahnya di penuhi penyesalan.


V mengambil Lyn, tak lama hologram Kai muncul, dan respon pertamanya adalah, "Wow, kalian bertiga bersama-sama, luar biasa sekali." dan bertepuk tangan.


"Hentikanlah, Dream sakit panas." V menjelaskan keadaanku kepada Kai.


Kai secepat kilat berjalan mendekatiku, "Kamu sakit?! Kamu tidak pernah sakit! V temui aku di lorong waktu sekarang. Robbie tolong jaga Dream. Perhatikan dia selalu, berikanlah cairan yang banyak!" sahut Kai, "Jemput aku sekarang!!" sahutnya ke arah V. Kemudian hologram Kai menghilang.


V keluar dari ruangan, dan membawakan satu cup es krim favoritku, "Suapi dia dengan ini sampai panasnya turun. Dia suka sekali es krim ini. Dream, cobalah untuk menghabiskannya. Aku akan menjemput Kai. Jaga dia untuk kami, Rob." sahut V dan dia bergegas keluar untuk menyiapkan mobilnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Robbie kebingungan, "Kamu hanya sedikit demam tapi reaksi mereka seperti kamu sakit keras." sahutnya bingung.


"Karena aku tidak pernah sakit, Rob. Wajar mereka seperti itu. Ketika aku harus di operasi, dokternya kagum denganku." sahutku.


Aku menceritakan kisah itu kepada Robbie, dan dengan lembut, Robbie menyuapiku es krim, dan bahkan dia memesankan bubur ayam untukku.


Tidak sampai satu jam, Kai datang, dan masuk ke kamarku, "Bagaimana kondisimu?" tanya Kai.


Aku mengangguk, "Aku masih oke." sahutku santai.


"Ada apa dengan kalian? Dia hanya sedkit demam kok, minum obat turun panas, perbanyak cairan, dan tidur, besok sudah sehat kembali." sahut Robbie.


"Dengar Rob, dia tidak boleh sakit!!" sahut Kai tegas, "Jika dia sampai sakit, ada sesuatu yang salah di tubuhnya sedang terjadi!" sahut Kai lagi sambil mengeluarkan beberapa pil, dan memintaku meminumnya. Tak lama aku merasa mataku sangat berat dan mengantuk sekali. Pandanganku mulai kabur, dan kesadaranku semakin menjauh.


......................


**EPILOG


V POV**


"V, dengarlah, hari ini aku bahagia sekali...bla...bla...bla..."


Besoknya atau beberapa hari kemudian,


"V, dengarkan aku, Robbie membuatku kesal...bla...bla..bla!!"


"Dia mencurahkan seluruh kegiatan dan perasaannya tentang Robbie kepadaku, Kai. Bagaimana aku tidak gila?! Bahkan dia menceritakan sedetail mungkin apa yang dia lakukan saat bercinta dengan Robbie!!" sahutku, dan berjalan mondar mandir di depan hologram Kai.


Kai tertawa mendengar ceritaku, "Maaf V, tapi itu lucu sekali menurutku...hahahaha. Dan kamu mendengarkan tanpa berusaha merasakan... Astaga aku tidak menyangka Dream sepolos itu." jawab Kai.


"Apa yang terjadi kalau aku merasakan apa yang dia ceritakan, jadi V, tiba -tiba Robbie menciumku, dan kamu tau, V ciumannya benar-benar seperti hidup, dan kemudian dia bermain di leherku, itu membuatku melayang....Aku gila mendengarnya." sahutku menirukan Dream, "Maksudku, aku juga pernah melakukan itu bersamanya, tapi dia tidak sebahagia itu." sahutku memprotes.


"Kamu itu bukti nyata cinta sejati, V. Kamu tidak berpaling dari Dream, sedetik pun tidak, bahkan kamu tetap ada di sisinya saat dia sudah bersama orang lain. Aku bangga terhadapmu, V." sahut hologram Kai dan menepuk pundakku.

__ADS_1


"Yeah, melihat dia seperti itu sudah membuatku bahagia, Kai." sahutku, "Kebahagiaanku adalah Dream bahagia." sahutku lagi.


...****************...


__ADS_2