Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Addopted


__ADS_3

Aku memulangkan Jean dan Jeannete kepada Robbie, di temani oleh V.


"Bagaimana Robbie bisa melupakan kami, Dream?" tanya V sesaat setelah mereka berhasil melintasi waktu. Dan kami sedang berada di taksi online, aku memangku Jeannette, dan V memangku Jean.


Aku tersenyum lebar, "Dengan sentuhan ini dan itu, aku bisa melakukannya. Dan lagi, kenapa kamu mau bertemu Robbie?" tanyaku kembali.


"Ini anak-anaknya, kenapa boleh di ambil olehmu?" tanya V.


"Dengar, aku tidak mengambilnya. Aku akan mengangkat mereka menjadi anakku." sahutku, kemudian aku berbisik di telinganya, "mereka bukan anak kandung Robbie."


"Apa??!!" teriak V. Aku menutup mulutnya, karena Jean dan Jeannete melihat ke arah kami.


Sesampainya di rumah Robbie, aku berpamitan kepada mereka. "Bolehkah kami tinggal di rumahmu saja, Luna?" tanya Jean, "aku tidak suka tinggal disini." bisik Jean ke telingaku.


"Tunggulah beberapa saat lagi, Jean. Aku akan membawamu dari sini." bisikku lagi kepadanya. Jean mengangguk senang.


Tak lama Robbie datang, dan bergabung bersama kami, "Oh, ini yang waktu itu kesini, kan? Dia kenalanmu, Luna?" tanya Robbie.


V memandangku dengan ngeri, kemudian menjabat tangan Robbie, "Voltaire, panggil saja V." sahutnya.


"Berbicara soal adopsi anak-anak ini, aku telah memikirkannya, bagaimana kalau kita mengurusnya berdua saja?" sahut Robbie, "maksudku, aku tidak bisa melepas mereka begitu saja, kan? Bagaimanapun aku telah mengasuh mereka selama lima tahun, dan sulit bagiku untuk tiba-tiba melepasnya bersamamu." ucap Robbie lagi.


"Loh, kemarin kamu sudah setuju, Rob!" seruku, "kenapa sekarang berubah lagi?" tanyaku kepadanya.


"Saham. Ibunya maksudku istriku memberikan mereka saham atas nama masing-masing dari mereka, dan jumlahnya cukup fantastis, aku tidak mungkin melepas mereka kan?" tukas Robbie.


Plakkk...!!!


Aku menampar pipinya, "Kamu tidak pernah mengurusnya sepanjang yang aku tau, dan sekarang kamu melihat mereka sebagai nilai saham! Ambillah saham brengsekmu itu, ketika nanti mereka bersamaku, nama mereka akan otomatis hilang disini! Silahkan ganti namanya, dan nikmatilah!" sahutku, kemudian pergi meninggalkan Robbie.


"Andai aku bisa membawa tuan penanam chip itu akan aku hapus semua ingatannya dan aku akan mengganti ingatannya, aku akan menjadikan dia seorang gelandangan yang miskin dan jelek!!" ucapku kesal.


V kembali memandangku, "Kamu seperti monster, Dream. Mengerikan, aku bersumpah tidak akan berbuat macam-macam padamu." katanya.


Dan kami melintasi waktu kembali ke tahun waktu kami. Setelah sampai, Bry langsung mengantarku dan menyerahkan jadwalku kepada V, "Kenapa padat sekali? Apa mereka tidak tau, aku menua??!!" sahutku gusar.


V tertawa, "Apamu yang menua? Hahahaha." katanya.


"Sudahlah, kita langsung jalan rapat saja lah, tidak usah pulang dulu, aku akan sulit melepaskan kasur dan bantalku kalau sudah disana." ucapku.


V tersenyum, "Kalau Kai mendengar keluhanmu...." sahutnya.

__ADS_1


"Dia akan segera memintaku untuk menikah." aku menyambung V, dan kami tertawa.


Jadwal pertamaku adalah rapat bersama mentri utama tentang ekspor dan impor, V yang mengambil alih pada akhirnya. Kemudian rapat kedua, bertemu dengan perdana mentri negara sebrang, kembali V yang mengambil alih, jadwal ketigaku ada menyerahkan data-data Jean dan Jeannete kepada kependudukan tahun waktu ini, Kai sudah membuatkan janji untukku, dan aku akan di wawancara mengenai kesiapanku dan lain-lainnya, jadi aku harus fokus sekarang.


"Apa yang mendasari anda untuk mengadopsi mereka? Dan mereka dari masa lalu, anda akan merubah masa depan seseorang?"


"Saya sudah siap dengan segala konsekuensi dan tanggung jawab yang akan saya terima. Yang mendasari saya adalah ayah dari anak-anak ini tidak mengurus mereka dengan baik." jawabku.


"Maksud anda, ayahnya menelantarkan mereka, begitu?" tanyanya lagi.


"Bukan menelantarkan, karena kehidupan mereka di masa lalu lebih dari cukup. Tapi mereka tidak mendapat kasih sayang yang cukup dari kedua orangtuanya." sahutku.


"Darimana anda tau?" tanya si penginterwiew itu lagi.


"Saya mengamati saat saya bertugas ke masa lalu." jawabku.


Pria itu mengangguk -angguk, robot kecil putih membantunya mengetik, dan menyamakan data-data Jean dan Jeannete dengan data-data yang telah Kai berikan.


"Anda tau konsekuensinya kan, ingatan orang-orang terhadap anak ini akan hilang di masanya, dan mereka akan terhitung mundur sejak di tempatkan di tahun waktu ini, mereka akan dianggap terlahir pada tahun 3261. Begitu juga dengan masa depan mereka, tentu saja akan berubah juga menyertai tahun lahir mereka yang baru." ucapnya menjelaskan.


Aku mengangguk, "Saya paham."


Sudah kuduga, aku pasti akan di tanyakan hal ini, dan nantinya pers akan gempar sekali memberitakan masalah ini ke masyarakat luas.


"Di rumah saya ada 4 orang. 2 orang wanita dewasa, dan 2 orang pria dewasa, kami akan mengurusnya bersama, akan tetapi saya mau, pada data anak-anak itu, tolong tulis saya akan menjadi ibu mereka. Untuk ayah, saya sedang dalam proses pencarian." aku menjawab sebisa mungkin supaya terdengar bijaksana.


Robot kecil itu kembali mengetik dengan cepat, "Baik, akan kuputuskan dalam lima belas hari kerja." sahut pria itu lagi.


Aku mengangguk, dan memandang V yang menjawabnya dengan kedikan di kedua bahunya.


"Kita tunggu saja. Yang di tahun waktu sana juga kamu baru mengajukan kan, setauku untuk proses adopsi itu minimal atau maksimal setahun, Dream." kata V.


"Setahun??!! Rambutku akan segera memutih jika selama itu, V." sahutku.


"Rambut hitammu mulai banyak yang luruh, Dream. Rambut pirang keemasanmu sudah banyak yang muncul." katanya.


"Sudahlah, maksudku itu, akan lebih baik jika mereka bisa lebih cepat kan? Sehingga aku tidak perlu bolak balik melintasi waktu." tukasku, "Kenapa suka sekali bertele-tele dan membuang waktu seperti ini."


V merangkulku, "Bersabarlah, Dream."


Sore itu aku melanjutkan aktifitas rapat dan kunjungan politik kesana kemari. Hingga pukul 8 malam, aku baru sampai rumah, dan meregangkan tubuhku.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian, Kai datang dan membawa berita mengejutkan, "Robbie meminta banding." katanya.


"Apa??!! Bagaimana bisa??!!" sahutku


"Dia minta kompensasi terkait saham yang tidak bisa dipindah namakan." terang Kai.


"Orang itu serakah! Aku akan kesana dan membunuhnya!!" sahutku, dan beranjak pergi.


"Dia memintamu menjadi ibu dari anak-anaknya, dengan kata lain, jika kamu menolak menjadi istrinya, makan proses adopsi akan dibatalkan secara sepihak." lanjut Kai, "Rumit sekali, Robbie ini." katanya menambahkan.


Genderang perang serasa di tabuhkan di dalam diriku, sangkakala mulai di gemuruhkan, Robbie sialan itu!! Apa maunya sih!


Kai memandangku, "Jangan terburu-buru, istirahatlah dahulu, dan dinginkan hati dan kepalamu. Aku akan mencari cara untuk memenangkan kasusmu." kata Kai, "Aku akan menyiapkan pengacara di tahun waktu sana untuk mendampingimu pada kunjungan berikutnya. Kalau dia tidak bisa diajak secara kekeluargaan, terpaksa kita naikan kasus ini ke meja hijau." sahut Kai lagi.


Aku mengangguk setuju.


...----------------...


EPILOG


Kai POV


"Aku Kai, pengacara utama, Luna." sahutku memperkenalkan diriku kepada Robbie.


"Mengenai proses adopsi yang klien saya tujukan kepada saudara Robbie..."


"Saya mengajukan banding." sahut Robbie, "Klien anda boleh mendapatkan hak asuh anak-anak saya dengan syarat, dia harus menjadi istri saya. Jika menolak, maka proses pemindahan hak asuh akan saya batalkan." sahutnya lagi menambahkan.


"Boleh saya tau alasannya?" tanyaku.


"Tidak ada alasan. Saya hanya menginginkan sebuah keluarga yang utuh untuk anak-anak saya. Setau saya, klien anda belum mempunyai seorang suami, jadi saya berpikir, darimana nanti anak-anak saya akan mendapatkan sosok seorang ayah? Disini mereka tidak mendapat figure seorang ibu, maka lengkaplah, jika kami menikah." ucap Robbiedm dengan wajah mengesalkan.


"Tapi berdasarkan informasi yang saya dapatkan, mereka bukan anak kandung anda." balasku.


"Tapi saya yang mengurusnya sejak mereka ditinggalkan oleh ibu kandung mereka, sampai mereka sebesar ini. Saya selalu memberikan yang terbaik untuk mereka." jawab Robbie.


"Begitu pula klien saya. Percayalah anak-anak anda akan aman, dan bahagia bersama klien saya." tukasku.


"Saya menolak, kecuali klien anda mau memenuhi syarat yang saya ajukan. Sisanya, silahkan berbicara dengan pengacara saya. Terimakasih." sahutnya, dan dengan pongahnya meninggalkan aku yang sudah siap dengan dokumen di tanganku.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2