
"Kamu gila, Dream!!" sahut Kai. Aku menatapnya, dan menggelengkan kepalaku. Aku mempunyai sebuah ide, tapi aku juga tidak tau apa ide ini akan berhasil atau tidak. Aku akan mencobanya.
"Bangunkan Voltaire terlebih dahulu." pintaku kepada pak Walikota.
"Dia hanya kuberikan suntikan obat tidur sedikit. Sebentar lagi akan sadar." katanya tanpa perasaan. Dan jawabannya membuatku sangat kesal.
"Kenapa harus di suntikkan obat tidur? Karena dia mengatakan kebenaran?" tanyaku kepada walikota itu.
"Hahahaha...kebenaran apanya. Dia hanya meracau." jawab si pria lawan politik. Aku tidak tau namanya, dan aku tidak akan bertanya. Author juga tidak memberikan nama kepadanya, jadi aku akan tetap memanggil dia dengan pria lawan politik.
"Itu terdengar sedikit lebih klasik, bukan?" tanya si author kepadaku. Dia terdengar putus asa kalau diminta mencari nama. Secara tidak sadar aku menggelengkan kepalaku.
"Apa maksud kalian dengan suamiku meracau?" tanyaku, kemudian aku teringat pelarian narapidana, dan kerusuhan besar-besaran yang mengakibatkan papa mundur dari jabatannya.
"Ah, narapidana itu? Si pria mawar, hidung kerbau, dan satu lagi aku lupa. Itu juga ulahmu? Ternyata, kamu di belakang semua itu!" tukasku kepada pria lawan politik itu.
"Ayolah, thor. Berikanlah nama untuknya!" pintaku jepada author, "agak ribet kalau mau panggil dia." ucapku lagi.
"Aku yang akan ribet mengetiknya. Baiklah, akan kupikirkan namanya." jawab si author.
"Cerdas sekali kamu rupanya. Tapi kebenaran itu tidak akan pernah terungkap." jawab Harry, nama si pria lawan politik itu.
"Hmmm...cukup bagus namanya." sahutku, "Thank you."
"Aku yang akan mengungkapkan semuanya. Dan yang aku heran, mengapa kamu benci sekali kepada papaku?" tanyaku kepada Harry.
"Dalam politik pasti akan saling sikut menyikut, naif sekali pola pikirku, Maam. Benar kata teman-temanku, kamu masih terlalu kecil untuk berpolitik." kata Harry.
Aku menunda jawabanku, karena Kai memanggil nama V, "V, kamu baik-baik saja?" tanya Kai.
V terduduk, dan melihat ke sekeliling untuk memgingatkan dia berada dimana. Dia memandangku dan Harry bergantian.
"Dream!! Dia pelakunya!" pekik V.
Harry tertawa, "Hahahaha... tuan Voltaire kita yang terhormat sudah sadar." katanya, kemudian menatapku, "jadi, aku menagih janjiku. Aku mau kamu menggantikan dua tawananku." tagihnya.
Aku menatapnya, "Baik, akan kugenapi janjiku." ucapku. Aku menghampiri V dan Kai, "Kalian pulanglah, cari bantuan untukku, aku akan terus menyalakan konektorku, sehingga kalian tau aku dimana. Dan kumohon berikan aku informasi secara berkala tentang papa." pintaku kepada mereka.
V menggelengkan kepalanya, "Tidak, Dream! Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian disini!" sahutnya.
"Turuti kata-kataku, dengan kalian berada disini itu tidak akan membantuku. Keluarlah, dan lakukan apa yang kukatakan tadi. Kumohon." pintaku kepada V.
__ADS_1
Kai setuju dengan usulku, dia menarik lengan V, dan mengajaknya keluar. Aku melihat sampai mereka hilang dari pandanganku.
Baiklah, sekarang aku berjuang seorang diri. Aku tidak boleh takut, aku kembali duduk dan berhadapan dengan Harry, "Jadi, apa yang ingin kamu tawarkan?" tanyaku.
" Berikan kota ini kepadaku, wilayahnya akan membuat kekuasaanku lebih di akui." kata Harry.
"Untuk apa? Toh kita masih berada dalam satu negara. Apa kamu berniat membuat negara boneka? Non sense! Bodoh sekali pola pikirmu!" sahutku.
"Hahaha...terserah kepadamu. Aku meminta wilayah ini." katanya lagi.
"Aku akan mengabulkannya dengan syarat keluarlah dari negara ini! Bagi siapapun warga yang terlibat denganmu, aku akan mengusirnya." ucapku tak mau kalah. Aku membuka jam tangan serbagunaku, aku membuat catatan disana, dan aku menjabarkan catatanku itu dalam bentuk hologram.
"Lihat, aku sudah memperjelas segalanya. Kita akan mengadakan live voting, dan ini akan terhitung secara langsung jumlah suara yang akan masuk. Setelah semua suara terkumpul, pergilah. Aku akan membuat perbatasan disebelah sana." ujarku tegas, "Bagaimana?" aku sekarang membalikkan keadaanya, dan aku mendesak Harry dan kroni-kroninya.
"Atau, kota ini akan tetap disini tanpa ada perubahan apapun, akui kesalahanmu, dan ketika pemilihan tiba, aku akan memberikanmu hak veto untuk mengajukan dirimu sendiri menjadi mentri utamaku. Bagaimana? Tentu setelah masa hukumanmu selesai." sahutku lagi.
Harry tampak berpikir-pikir, dan kemudian dia berkata, "Lalu bagaimana dengan Kai Johnson mentri utamamu itu?" tanya dia.
"Sudah kukatakan, aku menunggu kondisi ayahku dulu baru aku mengajukan tuntutan hukuman atasmu kepada hakim. Setelah kamu keluar dari sel itu, mungkin dia sudah pensiun menjadi mentri utamaku." jawabku.
"Bodoh sekali kalau aku memikirkan itu! Kamu akan menjebakku!" ujarnya.
"Cukup bernyali juga kamu sebagai seorang wanita, aku salah menilaimu." balas Harry.
Aku tersenyum kepadanya, "Semua orang selalu salah menilaiku, itu menjadi titik kekuatanku." jawabku kepadanya.
Tak lama, Kai mengirimkan pesan melalui jam serbagunaku, "Ayahmu kritis, Dream. Aku dan V standby di rumah sakit." katanya.
Aku menimbang-nimbang waktuku, apa yang harus kulakukan, dan bagaimana caraku keluar dari sini. Aku berpikir cepat.
"Harry, bagaimana kelanjutannya? Aku sudah memberikan penawaran kepadamu. Dan aku membutuhkan jawabanmu!" ucapku, sambil menulis pesan kepada Kai. Dan ketika membacanya, aku tersenyum lega.
"Penawaranmu tidak masuk ke logikaku, Maam. Aku menolaknya!" katanya.
Aku melihat diagram hologramku, dan live voting sudah mulai terhitung, satu per satu warga bantaran telah menentukan suaranya, "Lihatlah Harry. Bahkan voting ini sudah mulai berjalan. Tentukan pilihanmu sekarang! Aku tidak akan memberikanmu kesempatan yang kedua atau merubah penawaranku, jadi kamu harus memutuskannya sekarang." aku mendesaknya. Sedangkan suara sudah masuk hampir 50 persen.
Harry berpikir....
"Baiklah! Baiklah! Aku memilih tawaranmu yang kedua!" jawabnya.
Jeblak...!!!
__ADS_1
Pintu menjeblak terbuka dengan paksa.
Segerombol unit robot pengawal, dan para petugas polisi memasuki rumah kecil ini, dan mengepung mereka.
"Tangkap mereka, pisahkan sel kurungan mereka! Dan untuk sel kurungan Harry, pakaikan dobel pengaman, dan berikan kamera pengawas di selnya." perintahku kepada robot-robot dan para petugas itu.
Mereka mulai bergerak satu per satu. Pemungutan suara masih berlangsung dan aku menunggunya hingga 100 persen suara keluar.
Dan begitu semua sudah menentukan suaranya, diagram hologramku menghitung cepat, tidak sampai satu menit, hasil voting sudah keluar, "Tangkap semua yang memihak kepada Harry!" sahutku memerintahkan robot dan para petugas tersebut.
Pekerjaanku disini sudah selesai, aku mengendarai mobilku secepat mungkin ke rumah sakit. Sesampainya disana, "Bagaimana?" tanyaku.
"Masih kritis. Jantung papa sempat terhenti sesaat, dan mereka sedang mengusahakannya." ucap V, dan kemudian dia memelukku.
Aku melihat dokter dan robot-robot perawat kecilnya sedang berusaha membantu papa untuk bertahan.
"Papa bertahanlah." sahutku berdoa dalam hati.
Aku melepaskan pelukanku dari V, dan memeluk mama untuk menguatkannya. Mama hanya memandang papa, dan tidak sedetik pun mama melepaskan pandangannya dari papa.
"Pah, hiduplah pah. Aku dan mama masih butuh papa. Aku bahkan belum memberikanmu seorang cucu. Ayolah papa, bertahanlah." aku terus berdoa dalam hati.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Kenapa kamu setuju meninggalkan Dream disana?! Kamu gila, Kai!! Aku akan kembali kesana!!" ucapku gusar.
"V, dengarlah!! Dream meminta bantuan kita! Berpikirlah, V! Ayolah! Jangan kembali! Kalau kembali, kita akan mengacaukan rencananya." jawab Kai.
"Apa rencananya?" tanyaku.
"Dia mengulur waktu, dan mencari bukti apa Harry dibalik semua kekacauan yang pernah dan baru saja terjadi dan dia meminta kita untuk menyimpan rekaman pembicaraannya dengan Harry nanti. Dream juga akan melihat seberapa banyak komplotan Harry. Aku tidak tau bagaimana dia akan melakukannya, tapi aku percaya kepadanya." jawab Kai.
Aku memikirkan ucapan Kai dan segala kemungkinan yang akan menimpa Dream. Dan akhirnya aku paham rencana Dream, "Baiklah, kita kirim bantuan terlebih dahulu untuk mengepung rumah itu." sahutku.
Kai mengacungkan ibu jarinya, dan segera bergegas pergi dari sana. Aku berharap istriku baik-baik saja disana. Bertahanlah, Dream.
...----------------...
__ADS_1