Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Choice


__ADS_3

Keesokan paginya, aku memikirkan apa yang aku lakukan seharian kemarin, dari pagi hingga malam hari.


Aku bahkan berciuman dengan Robbie, dan malamnya aku bermain cinta-cintaan dengan Voltaire, wowh, kamu berhak mendapatkan gelar player, Dream.


Aku menoleh ke sebelahku, V masih tertidur, nafasnya bergerak perlahan dan teratur. Wajahnya sangat manis, dan seksi di pagi hari. Aku membetulkan rambutnya yang jatuh ke wajah tampannya. Dan itu membuatnya terbangun, dia memicingkan matanya, dan tersenyum.


"Selamat pagi Dream." sahutnya.


"Se...selamat pagi, V." sahutku, dan menutupi wajahku dengan selimut. V tertawa kecil, dan menarik selimut itu dari wajahku. Kemudian, dia menciumku dengan lembut. Ah, aku tidak pernah bisa menolak ini, aku membalas ciumannya.


Ciuman ini semakin lama semakin dalam dan panas dan sulit untuk di hentikan.


"Tadi malam kurang yah?" tanya V tertawa.


"Ti...tidak! Kamu yang menciumku terlebih dahulu, dan...dan aku membalasnya...ka...kan tidak baik menolak pemberian orang lain." jawabku, dan aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku.


V tertawa mendengar jawabanku, "Ya sudah, aku akan kasih kamu lagi yah." godanya, dan mulai menciumku kembali. Kami saling ******* satu sama lain, sampai V melepaskan bibirku, dan menurunkan ciumannya. Sama seperti tadi malam, dia mengulanginya kembali, dia membuat jejak di kiri dan kanan setiap inci tubuhku. Tidak ada yang terlewat olehnya. Dengan lembut, V mulai bergerak ke tengah, dan menuntutnya untuk memasukiku, di saat tangannya masih asik bermain dan di tinggalkannya di atas sana.


Pagi itu, aku sarapan dengan permainan panas dari Voltaire. Dia sangat mahir memainkannya. Kami bergerak semakin cepat... hingga aku dan V mencapai puncaknya bersama.


"Kita butuh nutrisi yang banyak pagi ini." katanya.


Aku mengangguk setuju, "buatkan aku makanan bergizi tinggi, supaya aku kuat dan bisa bertahan lama!" sahutku bersemangat.


V tertawa mendengar ucapanku, "memangnya kamu baterai? Kuat dan tahan lama?" tanya V masih tertawa.


Tak lama wajahnya tampak berubah serius," Berjanjilah kepadaku, kamu tidak akan mencium Robbie lagi." sahutnya.


"Kemarin itu aku hanya berpura-pura menjadi kekasihnya. Aku juga kesal! Tapi berkat dia, kita bisa bermain seperti ini kan?" tanyaku sambil menggodanya.


Saat itu, terdengar suara ketukan di pintu.


"Hoi, apa kalian sudah selesai? Aku tau apa yang kalian lakukan di dalam sana. Apa aku harus mencari sarapan di luar?" tanya Kai.


V mengecup bibirku, dan membukakan pintu untuk Kai.


"Apa yang kami lakukan yang kamu tau?" tanya V.


" Ah, pokoknya aku tau!" seru Kai bersikeras, "Hari sudah mau siang, ayo sarapan." sahut Kai.


Aku mengangguk dan mengikutinya keluar kamar. Di meja makan, sudah tersedia sarapan buatan Kai. Kai ini orang yang cepat sekali dalam belajar. Dia dapat dengan mudahnya mengingat sesuatu. Termasuk memasak.


"Apa rencana kalian hari ini? Tidak ada kan?! Ayo kita berbelanja. Aku ingin merasakan seperti orang-orang, berbelanja dengan mendorong troli itu, dan mengambil barang-barangku sendiri." sahutku. Kemarin sewaktu kami masih di tahun waktu mbah nenek Emily, aku belum sempat merasakannya karena kakiku masih sakit. Dan karena sekarang sudah sembuh, aku mau mencobanya. Sepertinya akan menyenangkan.


"Apa yang akan kamu beli?" tanya Kai.


Aku berpikir sejenak, "Aku ingin membeli sebuah tembakan!" sahutku.


Kai dan V tersedak dan terbatuk-batuk mendengar jawabanku.

__ADS_1


"Anak bodoh!! Untuk apa membeli tembakan?" tanya Kai.


"Untuk menembak kan? Untuk berjaga -jaga saja kalau ada sesuatu menimpaku, aku bisa langsung menembak mereka di tempat." jawabku.


V dan Kai kembali tersedak, "Sudahlah, habiskan makananmu dahulu, setelah itu ayo kita berbelanja. Aku hanya akan membuatkanmu semprotan merica saja." sahut Kai. Aku mengangguk tersenyum mendengar jawabannya.


V yang aku cintai, dan Kai yang selalu bisa aku andalkan... sempurna sekali hidupku, rejeki anak sholeh... hihihi.


Selesai sarapan, kami bersiap-siap untuk pergi ke supermarket. Dan sesampainya disana, aku senang sekali. Aku mengambil troli, memilih ini dan itu, walaupun pada akhirnya Kai dan V mengembalikan lagi ke tempat semula.


"Untuk apa di kembalikan?" aku bertanya untuk kesekian kalinya kepada mereka.


"Untuk apa kamu membeli itu, Dream?" tanya mereka, menatapku lelah.


"Aku akan mencobanya. Itu kan snack. Aku mau snack!" sahutku setengah merajuk.


"Lihatlah, apa kamu tidak bisa membaca tulisannya, snack bayi terbuat dari tepung beras." jawab Kai kesal, "berapa umurmu? Kamu sudah bisa melakukan adegan 17 tahun ke atas bersamaku, bersama V, dan bersama Robbie, tapi mau membeli snack bayi! Apa kamu tidak malu, Dream? Kasian biskuitnya!! Sudah! Kukembalikan, cari yang lain!!" seru Kai.


Aku memberengut kesal, "Tapi terlihat enak, Kai dan kenapa harus dibahas seperti itunya? Saat itu kamu juga menikmati." sahutku. Aku memandang sedikit ke arah V, wajahnya antara kesal, mau tersenyum, tapi semua di tahannya.


"Sudahlah...sudahlah...kita cari snack lain yang lebih enak. Dan aku akan mencari apa yang bisa aku masak hari ini." sahut V, "kita berpencar saja. Dream, aku akan menghubungimu jika sudah selesai, dan jangan sampai hilang, yah?!" sahut V lagi.


"Ponselku tidak akan hilang, itu aman di kantongku." sahutku kesal. Kenapa mereka semua memperlakukanku seperti anak kecil? Huh?!


"Maksud V adalah kamu yang akan hilang, Dream." jawab Kai. V tertawa mendengarnya, dan mendorong trolinya ke bagian sayuran dan daging mentah.


Baiklah, aku berjalan menyusuri koridor permen dan coklat. Wuah, ada banyak sekali cokelat disini, apa boleh aku mencobanya dulu satu-satu. Tidak mungkin aku membeli semuanya, kan? Aku mengambil beberapa batang coklat, beberapa toples coklat, dan segenggam permen beruang...hehehe..ini adalah peningkat imun. Kalau aku bisa memberikannya kepada mamaku minggu ini, aku akan memberikan coklat ini untuknya.


Dan benar saja, aku mencari ke arah suara itu, "Hai Jeannette, dan mana Jean?" sambutku kepadanya, dia memintaku untuk menggendongnya.


Dan aku menuruti itu, tak lama suara Jean mulai terdengar, dia berlari mendekatiku, rambut ikalnya yang tanggung tampak berlompatan di atas kepalanya, dan entah mengapa, tampak kusut sekali.


."Luna...Lunaku!" katanya, dan sama seperti kembarannya, Jean membuka tangannya, minta di gendong.


" Hai, sayang-sayangnya aku." sahutku menyambutnya, "dengan siapa kalian kesini? Nancy kah?" aku bertanya kepada mereka.


Mereka menggelengkan kepalanya, "Papa. Lihat dia datang!" sahut Jean, kemudian dia melompat dari gendonganku, dan berlari menuju papanya.


"Hai." Robbie menyapaku kaku, "sedang apa disini?" tanya Robbie, dan terlihat sekali dia sulit berbasa basi.


"Oh, hai. Aku mencari tembakan, sepertinya aku tidak menemukannya disini. Sayang sekali. Kalau ada, aku akan membelinya, dan menembakmu kalau kamu melemparkan seseuatu lagi kepadaku." sahutku. Dia mendelik ke arahku, hah?! Senang bisa membalasnya.


"Hei, dengarkan aku. Terimakasih untuk kemarin, maksudku, kamu tau kemarin itu kita.." ucapnya, dan aku balas menatapnya.


"Ya, aku tau. Dan kumohon, jangan memintaku untuk berakting seperti itu lagi." sahutku.


Saat aku membalas ciumannya kemarin, aku paham sekali, dia tampak kaget. Aku sendiri juga kaget, kenapa aku bisa melakukan hal memalukan seperti itu.


"Dan aku ingin melakukan itu dengan cepat, tapi kamu...kamu membuatku memikirkannya semalaman. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Apa yang ada di otakmu sampai kamu membalasnya seperti itu?" tanya Robbie kembali. Wajahnya yang biasanya keras dan tegas, berubah menjadi lembut dan tampak putus asa.

__ADS_1


"Ma...maafkan aku.. itu salahku juga. Aku tidak akan mengulanginya lagi." aku meminta maaf kepadanya, dan menundukkan kepalaku, "aku akan segera melupakannya dan tidak akan mengulanginya lagi." sahutku menambahkan.


"Besok datanglah ikut aku ke kantorku." sahut Robbie.


Aku menggeleng, "Besok hari liburku, dan aku ada jam kuliah, kamu ingat aku hanya bekerja separuh waktu." jawabku.


"Temui aku setelah selesai jam kuliahmu, aku akan menunggumu." katanya memaksa.


Tak lama, Kai menghampiriku bersama V. Aku memperkenalkan Robbie kepada mereka.


"Kai, V, ini Robbie, dia adalah bosku." sahutku memperkenalkan mereka, "dan, Robbie, mereka adalah teman serumahku " sahutku.


" Aku penjaganya, Kai. Jaga sikapmu terhadapnya!" seru Kai, menjabat tangan Robbie.


"Aku prianya, dan aku harap kejadian kemarin, tidak pernah terulang lagi!" sahutnya tegas.


Prianya?! Aku merasakan wajahku memerah. Robbie menjabat tangan mereka tanpa tersenyum, ada ketegangan yang terjadi di antara mereka bertiga.


"Ehem, aku akan katakan disini saja kalau begitu, aku membutuhkan Luna sebagai asisten pribadiku. Aku menaikan jabatannya." sahut Robbie.


"Ehem, Dream, ah maksudku Luna. Dia bisa menjadi apa saja denganmu, itu hakmu, tapi kami mohon, kejadian kemarin, kamu tidak akan mengulanginya kembali!" tegas V, matanya memandang tajam ke arah Robbie.


"Tidak akan!" sahut Robbie, "kupastikan, itu akan jadi yang pertama dan terakhir." jawabnya.


"Kami pegang omonganmu bapak Robbie Stans yang terhormat. Tolong jaga Luna kami selama dia bekerja dengan anda." sahut Kai, "dan kami akan berpamitan, permisi." sahutnya lagi. Kemudian menarik troliku.


"See you, Jean and Jeannette!" seruku kepada anak-anak kembar itu.


...----------------...


**EPILOG


Kai POV**


"Dia menciumnya! Pria berotot itu mencium Dream!" sahut V saat malam dia kembali bekerja.


"Apa??!! Robbie Stans maksudmu?" aku bertanya kepadanya dan V mengangguk, "maksudku, bagaimana bisa seperti itu?" tanyaku lagi. Aku tidak habis berpikir. Dan entah kenapa, semenjak melintasi waktu, Dream menjadi sedikit nakal, aku akui itu.


"Entahlah. Saat aku akan menyajikan makanan untuk mereka, dan mereka sudah seperti sulit dibedakan, mana kemana, dan siapa." sahut V lemas. Aku menepuk punggungny, membesarkan hatinya.


"Tidurlah, dan lupakan, anggap saja itu kecelakaan." sahutku. Dia berjalan lemas ke kamarnya.


Malam itu, sebenarnya aku ingin berbicara kepada mereka kalau aku ingin kembali, dan menitipkan Dream kepada V disini sampai suasana disana cukup kondusif. Tapi sepertinya harus aku tunda. Aku berjalan dengan gontai ke kamarku, cara melupakan masalah terbaik adalah dengan tidur. Itu yang akan kulakukan.


Namun, begitu aku melewati kamar Dream, kamarnya terbuka sedikit. Dan aku mendengar V tampak kesal dengan Dream. Baru saja aku akan masuk, aku mendengar Dream, "Yang ada di kepalaku itu kamu, V. Aku membayangkanmu!" sahutnya kepada V.


Rasanya seperti ada yang menembakkan anak panah kepadaku, namun dengan lembut. Lama mereka terdiam, dan aku melihat (ini ketidaksengajaan) V mulai bergerak mencium Dream. Aku mundur perlahan, dan menutup pintu kamar Dream tanpa menimbulkan suara.


Aku bisa tenang kembali kesana, dan menitipkan Dream kepada V. Besok pagi akan kuungkapkan maksudku ini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2