
"Untuk aku aja kalau begitu" sahut Bry ketika aku bertanya kepadanya.
"Tidak boleh. Kai itu dari kecil sudah menemaniku kemana pun aku pergi. Dia memang di tugaskan untuk menjagaku, Bry." aku menjawab Bry dan menjelaskan kepadanya. Kai memang dari dulu selalu di sampingku, dan selalu menempel kepadaku, atau mungkin aku yang selalu menempel kepadanya, yang selalu menangis saat aku dimarahi orang tuaku.
"Pokoknya tidak boleh yah Bry, Kai itu milikku!" sahutku mempertegas jawabanku. Bry tertawa mendengarnya.
"Lalu, bagaimana dengan V?" Bry bertanya.
"Dia cinta pertamaku, dia orang pertama yang membuat aku berdebar, dia yang mengajarkan aku untuk kuat dan dewasa" jawabku kepada Bry. Bry mengangguk.
"Bagaiman denganmu? Kamu putus dengan V, dan V sekarang ada disini, apa kamu tidak mau memperbaiki hubunganmu?" aku bertanya. Bry menggelengkan kepalanya, "Tidak. Mungkin sekedar berteman, itu pun akan sangat sungkan, bukan?" katanya lagi. Benar juga sih, seseorang sidah sangat lama bersama - sama dan tiba - tiba harus berpisah, itu akan sungkan sekali untuk berteman.
"Dream, bagaimana kalau kalian bertiga, mengikuti test kecocokan? Jadi kamu bisa memutuskan siapa yang akan kamu pilih." kata Bry. Oh, Iya, betul juga, pikirku.
"Ah, tapi nanti kalau aku beneran disuruh menikah, bagaimana?" aku menjawab, dan sedikit khawatir juga.
"Ya, menikahlah" jawab Bry sangat tenang. Aku termangu mendengar jawabannya, "Kamu pikir menikah semudah itu?" jawabku.
"Hei Dream, aku serius, andai aku melakukan test kecocokan dengan Kai, dan hasilnya 100%, apa yang kamu lakukan?" tanya Bry, wajahnya serius saat menanyakan hal itu.
"Aku harus tunduk pada hukum kan? Maksudku, kalau memang kamu dan Kai memang harus menikah, ya menikahlah, walau setengahnya aku tidak rela." jawabku. Bry tertawa melihat wajahku, "Jangan di anggap serius Dream, aku hanya bertanya." katanya dan memelukku.
...----------------...
"Hah??!! Aku??!! Aku tidak mau!" sahutku. Mama yang sedari tadi di depanku, menatapku bingung.
"Loh, Dream, ini untuk kebaikanmu juga loh." kata mama. Aku memalingkan wajahku, aku kesal.
"Kemarin aku gagal, aku takut gagal lagi." aku menjawab dan menatap mama. Mama menghembuskan nafasnya, "Jangan sampai gagal lagi. Berjuanglah." jawab mama.
"Biarkan aku menata masa depanku dahulu, baru aku menikah" sahutku lagi.
"Karirmu sudah cukup bagus, dan lagi, aku mau menempatkanmu di luar tahun waktu dalam waktu yang cukup lama" kata papa tiba - tiba, entah datang darimana, "Menikahlah kembali dengan Voltaire, lakukanlah pendekatan kepadanya lebih serius. Setelah kalian menikah, aku akan mengangkatmu untuk menjadi duta besar waktu tahun 3266 ini, di tahun 2000an. Daya tangkap dan analisismu lumayan cepat" sahut papa lagi. Aku menghela nafas, "Kenapa tidak dengan Kai?" aku bertanya.
__ADS_1
"Kai? Dia ajudanmu, dia pengawalmu, Dream, sadarlah!" jawab papa lagi. Perbedaan status sosial ini sungguh mengesalkan, tapi bukan berarti aku tidak mencintai V juga, pikirku.
"Apa masalahnya? Aku takut gagal dengan Voltaire." sahutku. Papa tipe orang keras dan tidak mau mengalah, sifat buruknya ini menurun kepadaku.
"Coba lagi. Tapi tidak dengan Kai. Apa kata orang nanti, anakku menikah dengan pengawalnya sendiri! Semua orang tau itu, Dream!" jelas papa lagi. Aku memberengutkan wajahku, dan berbalik pergi, "Hei, aku belum selesai denganmu, Dream! Kembali kesini!" seru papa meneriaku.
"Aku mau bertemu Kai!" sahutku berteriak. Aku menutup telingaku, dan berusaha tidak mendengar apa yang papa ucapkan saat terakhir tadi.
Kenapa harus begitu? Ada masalah apa dengan papa? Kenapa juga aku harus di tempatkan di luar tahun waktu? Aku suka disini, aku suka rumahku.
Brukkk....!!
"Ah, maafkan aku." sahutku, membungkukkan badanku ke arahnya.
"Hai, Dream ini aku." jawab orang itu. Aku mengadahkan wajahku, "Oh kamu V, kalau begitu, aku menarik permintaan maafku!" sahutku
V tertawa dan merangkulku, "Ada apa dengan wajahmu?" tanyanya kepadaku. Kami berbicara sambil berjalan.
"Tidak ada yang terjadi, aku hanya sedang kesal, dan apa yang kamu lakukan disini?" aku bertanya kepadanya. Setauku, dia tidak punya pekerjaan di tahun waktu ini.
"Dream, ada apa sih?" tanya V lagi. Aku menempelkan jari telunjukku ke bibir V, "ssstttt"
Tak lama virtual hologram Kai muncul, "Temui aku sekarang!" pintaku
"Kenapa tidak berbicara sekarang?" tanya Kai. Dia sedang berjalan, dan tak lama tampak Kai mengendarai mobil terbangnya, "Tunggu aku" jawabnya lagi. Dan hologram Kai pun hilang.
"Aku akan di tempatkan di luar tahun waktu, dan tentu saja aku harus menikah dahulu" jelasku kepada V.
"Dan dengan siapa kamu akan menikah?" tanya V. Aku menunjuk jariku ke arahnya, V tampak mengerti, dan tersenyum. Dia menghampiriku, dan mengalungkan lengannya di pinggangku, "Kamu tidak mau?" tanya V.
"Bukan aku tidak mau, maksudku, aku tidak tahu apa yang aku mau" jawabku, "dan lagi, kamu belum pernah memberikan hatimu kepadaku, maksudku kemarin kita menikah itu hanya untuk sebuah misi penyelamatan, bukan berdasarkan cinta." jawabku. V menghela nafasnya, dan berbalik menatapku, "Dengar, apa yang perlu aku buktikan supaya kamu yakin kepadaku?" tanya V.
"Lihat aku dan fokus kepadaku." aku menjawab pertanyaan V, karena memang aku tidak tau apalagi selain itu. V tersenyum, "Aku sudah melihatmu, sekarang pun aku melihatmu" katanya, matanya memandangku sangat dalam, dan itu sudah cukup meyakinkanku, seharusnya seperti itu, bukan?
__ADS_1
"Entahlah V, kalau kamu tau maksudku apa itu melihat" jawabku. V tetap tersenyum, "Baiklah, kalau kamu memang belum yakin kepadaku, kita jalani ini pelan - pelan sampai kamu yakin kepadaku" jawabnya. Dan tak lama, Kai masuk ke dalam, wajahnya cukup terkejut melihat aku sedang berdua dengan V.
"Ma---ma--maafkan aku, kamu tau, aku tidak sengaja, dan silahkan lanjutkan, kalian tau, apa yang sedang kalian lakukan, permisi" sahutnya terbata - bata. Sungguh bodoh orang ini, pikirku.
"Kai bodoh, apa maksudmu?" aku bertanya kepadanya. Dia menengok ke arahku, menutupi wajahnya, dan membuka sebelah matanya saat melihatku, "Aku tidak melihat, silahkan berbicara." sahutnya.
Aku segera keluar dan menyeret tangan Kai, aku mengajaknya keluar agak jauh dari tempatku, dan berbicara dengannya.
"Apa kamu bodoh? Kamu pikir aku perempuan seperti itu?" aku bertanya kesal kepadanya.
"Aku tidak berpikir seperti itu, hanya, kamu tau, kalian, kalau kamu tau maksudku" jawab Kai, dia tidak memandangku.
"Aku melakukannya hanya denganmu, Kai bodoh! Aku dengan V tidak pernah melakukan itu, masih ada batasannya, tapi aku melakukan itu denganmu!" sahutku kesal. Kai memandangku kali ini, "Benarkah?" tanyanya. Aku mengangguk, wajahku memanas, dan aku melihat wajah Kai juga merona merah. Kai menyembunyikan wajah merahnya dengan mengalihkan wajahnya ke bawah.
"Aku akan menikah,." sahutku, dan seketika Kai mengangkat wajahnya lagi.
"Denganku?" tanya Kai, "Kupikir kita tidak bisa, maksudku dengan statis sosial yang kita miliki." kata Kai.
"Tidak denganmu, Kai, tapi dengan Voltaire" aku menjawab. Kai tersentak, "Apa?" katanya. Aku mengangguk, "Papa memintaku menikah lagi dengan V, kita tidak bisa, maksudku, kamu mengerti kan Kai?" tanyaku, Kai mengangguk perlahan, "Aku paham, tapi kita bisa berjuang kalau kamu mau" sahut Kai lagi. Aku mengangkat bahuku sebagai jawaban, dan Kai paham maksud dari jawabanku.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Maksud kedatanganku kemari, aku ingin menikah kembali dengan Dream, dan mengajaknya tinggal di tahun waktuku" aku memberanikan diriku bertemu dengan pak Mark, atau papanya Dream. Papa tampak berpikir, dan mengambil teko teh, dan menuangkannya ke sebuah cangkir kecil cantik.
"Kenapa kamu ingin menikahi putriku kembali? Kamu tau kejadian pembatalan pernikahan yang kalian lakukan kemarin, membuat lingkup geraknya sangat terbatas" sahut papa. Aku mengangguk, aku mencoba berempati dengannya dan dengan kondisi Dream saat itu.
"Kali ini, aku bersumpah, tidak akan meninggalkan dia lagi, aku akan menjaganya dengan sepenuh jiwa ragaku" sahutku, menjanjikan kebahagiaan putrinya akan terjamin bersamaku. Papa mengangguk kembali, memegang jenggot yang tidak ada di dagunya.
"Baiklah, kalau Dream menolak, tinggalkan tempat ini, lupakan putriku, dan jangan datang lagi" jawab papa. Aku mengangguk, "Baik papa" sahutku, mengucapkan terimakasih dan berpamitan kepadanya.
__ADS_1
...----------------...