
3 bulan sudah seusai Bry melahirkan Amber. Sekarang Amber jadi mainan baru buat kami. Dia di gendong sana, di gendong sini, dan V terjangkit sindrom Ingin Punya Bayi dimana setiap malam dia mengajakku untuk bercinta, dan pagi harinya akan bertanya, "Apa kamu merasa mual? Pusing? Atau tidak enak badan?"
Ini membuatku senewen, karena jadi ada beban setiap kami punya waktu untuk berdua.
"V, hentikan itu!" sahutku kesal.
"Maafkan aku...maaf kalau aku terlalu memburu-burumu." katanya, kemudian memelukku.
"Aku tau kamu sangat menginginkannya, tapi dengan kamu yang seperti itu malah membuat hal itu menjadi beban untukku. Kita jalani saja pelan-pelan." pintaku, dan memeluknya lagi.
Aku tidak terlalu memusingkan soal anak beranak ini, aku lebih memikirkan mamaku, Jean dan Jeannete disana. Bagaimana kabar mereka? Apa mereka baik-baik saja?
Setiap waktu aku menyempatkan diriku untuk melihat ke lorong waktu, jujur saja ada sedikit trauma untuk melintasi waktu kembali.
Kami sudah berkumpul berempat bahkan berlima sekarang, dan aku tidak ingin kami terpisah lagi. Walaupun begitu, aku tetap tidak bisa melepaskan pikiranku begitu saja.
Aku menikmati hari-hariku disini, apalagi setelah kehadiran Amber di hidup kami, rumah kami jadi terasa ramai. Suara tangisannya, ketawanya, Bry yang meneriaki Kai atau V karena salah membersihkan Amber. Atau aku yang bertengkar karena beda pendapat dengan Bry. Ini momen yang tidak akan bisa aku lupakan.
Seperti sekarang, hari ini adalah jadwal Amber untuk imunisasi, dan begitu pulang dari rumah sakit, Kai dan Bry berdebat.
"Dream, dengarkan aku. Andaikan kamu punya bayi kecil mungil seperti anakku ini, kemudian kamu akan membawanya untuk vaksin, dan dokter anakmu menawarkan dua pilihan : pilihan pertama adalah vaksin dengan harga standard tapi kemungkinan anakmu akan demam, atau vaksin combo dengan harga berkali-kali lipat, tapi anakmu tidak demam. Mana yang kamu pilih? Sebagai seorang ibu, dan seorang wanita? Dan terutama sebagai ibu babtis Amber?" tanya Bry.
Kai memohon kepadaku untuk memihak kepadanya, tapi V sudah membela Kai lebih dulu, "Kalau aku akan mengambil pilihan pertama, anak itu harus sakit dulu supaya kita tau sistem imunnya bekerja." sahut V mantap, dan jawabannya mendapatkan dukungan serta tepuk tangan luar biasa dari Kai.
"Aku akan memilih yang kedua, karena kalau anak demam atau rewel, pasti ibunya yang akan menjaga. Dan ibunya bisa tidak tidur semalaman demi menjaga anaknya bahkan menggendongnya sepanjang malam." jawabku, Bry mengacungkan ibu jarinya kepadaku.
"Apa pilihanmu tadi untuk Amber?" tanyaku.
"Tentu saja opsi ke dua." jawab Bry mantap.
"Kita berempat bisa bergantian menjaganya sepanjang malam nanti kalau Amber rewel." usulku.
Dan pada akhirnya malam itu, kami bertiga berjaga untuk Amber. Dan membiarkan Bry tertidur, dia pasti lelah karena harus memompa, dan kadang Amber hanya mau minum susu dari Bry langsung.
"Aku tidak pernah membayangkan punya anak itu akan serepot ini." sahut Kai.
"Makanya sudah kuperingatkan V untuk tidak terburu-buru memiliki anak. Aku belum siap." jawabku berterus terang.
"Kai..." terdengar suara Bry memanggil. Yang dipanggil hanya Kai, tapi kami bertiga tetap mengekor di belakang Kai.
"Ada apa Bry?" tanya Kai. Aku dan V ikut masuk ke dalam kamar, dan terlihat Amber sedang mengoceh-oceh sambil menghisap ibu jari kakinya.
__ADS_1
"Dia pupup, aku harus memompa asinya, karena sudah bengkak dan sakit sekali." ucap Bry.
Kai mengangguk, "Baik Bry... Mana anak cantik daddy?" kata Kai dan menggendong Amber, kemudian dengan cekatan melepas dan membersihkan Amber, serta memakaikan kembali pampers Amber.
V sedikit-sedikit belajar tentang kemampuan Kai, bagaimana Kai bisa menyerap semua ilmu tentang mengasuh anak dengan cepat.
Setelah Amber bersih, aku dan V menidurkannya. Begitulah tugas kami. Kami saling membantu, itu tidak menjadi masalah untuk kami, karena aku dan V senang dengan kehadiran Amber.
Suatu pagi, Kai dan V sedang berpikir serius.
"Ada apa dengan kalian, serius sekali tampaknya?" tanyaku.
"Pundi-pundi uang kita menipis, kita harus bekerja." ucap V, "Aku akan kembali menjadi chef tampan yang seksi supaya aku bisa mendapatkan tip yang besar. Ketampananku belum pudar..." katanya sambil bergaya.
"Iya deh." sahutku menggodanya.
V menggigit lenganku, "Apa kamu tidak mau membantu suamimu yang tampan ini?" tanyanya.
Aku menggeleng, "Aku akan menjaga Bry disini. Kalau kita semua bekerja, nanti tidak ada yang membantunya. Aku rasa dengan kalian berdua yang bekerja sudah cukup." sahutku.
Mereka berdua mengangguk, "Semoga yah...mengingat semua harga kebutuhan di tahun ini cukup mahal. Ingin menangis rasanya." kata Kai, menyandarkan kepalanya ke bahu V. Kemudian V menepuk menenangkannya. Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat kelakuan mereka berdua.
"Apa kalian yakin aku tidak perlu memasak dulu untuk kalian?" tanya V.
Kami menggelengkan kepala, "Tidak perlu, serahkan urusan dapur kepadaku." ujarku meyakinkan.
"Aku sungguh tidak bisa tenang, apalagi kamu sudah berbicara seperti itu." balas V.
Aku mengalungkan lenganku ke lehernya dan menciumnya lembut, "Percayalah kepadaku, baby." ucapku merayunya.
V membalas ciumanku, kami saling memagut selama beberapa waktu, "Kita lanjutkan nanti malam, dan doakan aku hari ini." kata V, mengecup bibirku.
Aku mengangguk, "Pasti. Dan semoga kita bisa segera kembali ke tahun waktu kita. Aku merindukan mama, Jean dan Jeannete." sahutku.
Kai menatapku, "Nanti aku akan melewatinya dan akan mengeceknya." katanya.
"Kalau masih ada kilatan, jangan minta kami untuk masuk ke dalamnya, Kai. Cukup perhatikan saja." pintaku. Kai mengangguk.
Soal jam pasir aku dan Kai tidak memberitahu V dan Bry, karena mereka pasti tidak akan mempercayai hal segila itu. Aku pun tidak, jika aku tidak merasakannya sendiri.
V dan Kai pun berpamitan, semoga mereka mendapatkan apa yang mereka cari, dan semoga juga kami tidak terlalu lama berada disini.
__ADS_1
Setelah mereka berangkat, Bry memintaku untuk menjaga Amber sebentar. Aku menganggukan kepalaku dan bergegas menjaganya, "Hai, anak cantik." sahutku, "Suatu saat, kamu akan kami bawa ke tahun dimana kamu akan menetap. Kalau disini kan sementara. Tapi mommy kamu bukan berasal dari sini, begitu juga dengan kami. Nanti aku akan membawamu naik mobil terbang, berkeliling ke taman-taman di atas awan, dan aku akan mengenalkanmu pada Jean Jeannette, juga granny kamu. Tapi kita harus bersabar, karena aku juga tidak tau kapan gerbang waktu akan terbuka kembali." sahutku, mengajak Amber bicara.
"Eee...oooo....ao...ee.." jawab Amber. Dan aku mengartikan sebagai oke darinya.
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
"Kai, ada yang ingin kubicarakan denganmu." ucap Bry pada suatu malam.
Aku yang sedang berbicara dengan V segera menghampirinya, "Ada apa honey?" tanyaku.
Aku melihat Amber sudah tertidur pulas, dengan mulut menganga menggamaskan tanda perutnya full karena susu.
"Menurutku, kita tidak perlu kembali ke tahun waktu masa depan, Kai. Kita menetap disini saja selamanya." sahut Bry.
Aku terkejut mendengarnya, "Kenapa sayang?" aku bertanya.
"Bukan apa-apa, kita sekarang sudah punya anak. Apa Amber sanggup melintasi waktu? Dan lagi aku rasa aku lebih nyaman tinggal disini. Kita juga tidak tau kapan gerbang waktu akan terbuka kembali kan?" kata Bry.
"Tapi, kita tidak bisa disini. Lebih tepatnya Dream yang tidak bisa berlama-lama disini." sahutku.
"Biarkan Dream dan V kembali. Tapi kita tetap disini. Bagaimana menurutmu?" tanya Bry lagi.
Aku tidak sanggup kalau harus meninggalkan masa depan, dan tinggal di jaman dimana peradaban belum canggih seperti sekarang ini.
"Aku harus memikirkannya dulu, Bry. Ini bukan persoalan yang mudah. Dan segala keputusan akan mempengaruhi masa depan kita." sahutku.
"Maka dari itu, kita menetap disini..."
"Aku memikirkan ibuku, Bry. Dia seorang diri disana. Dream juga masih membutuhkanku, aku pengawalnya, dan aku harus selalu menjaganya. Itu janji yang harus kutepati, Bry. Mengertilah." pintaku kepada Bryanna.
"Aku meninggalkan orangtuaku, bahkan saat ini aku hanya punya kalian, karena keluargaku sudah melupakanku, begitu pula aku. Bahkan aku tidak tau siapa nama ibu atau ayahku." ucap Bry.
"Itu karena kamu mengejar Voltaire, bukan salahku. Tapi permasalahan yang kita hadapi sekarang berbeda. Aku akan meminta waktu untuk memikirkan ini sejenak " jawabku, "Istirahatlah, Bry. Amber sudah tidur, sekarang giliranmu tidur juga." sahutku, dan mengecup kening Bry, dan mengecup pipi Amber.
Kemudian aku keluar kamar dengan seribu pikiran bersarang di kepalaku sekarang.
...----------------...
__ADS_1