
Segarnya hari ini, setelah beberapa hari kemarin aku hanya tertidur dan makan. Aku bergegas turun dari kasurku, dan membuka pintu kamarku.
"Selamat pagi, Dream. Aku membuatkan bubur untukmu." sahut V, yang sudah siap dengan apron dan celemeknya.
"Aku bosan makan bubur, adakah yang lainnya?" aku bertanya. Selama aku sakit, aku hanya makan bubur, menurut Kai, aku tidak boleh makan yang aneh-aneh, dan jika aku masih lapar, Kai meninggalkan pil makan disini.
Menurut Kai, aku terlalu banyak mengkonsumsi micin, dan itu membuat V meradang, dan bersikeras dia tidak pernah memakai monosodium glutamate seperti itu di dalam masakannya.
"Kamu mau makan apa? Roti? Cereal? Atau buah saja?" tanya V, dan menuntun tanganku untuk duduk di meja makan.
"Buah sajalah, sisanya aku akan menggunakan pil saja." sahutku.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik? Tidak mau istirahat dulu?" tanya V khawatir.
Aku menggelengkan kepalaku, "Tidak perlu." sahutku, "Aku mau menyerahkan tugas setelah itu aku akan ke rumah Robbie."
"Tugasmu sudah kuserahkan melalui email. Dan aku akan mengantarmu ke rumah Robbie." sahut V. Aku mengangguk.
"Terimakasih V." jawabku berterimakasih kepadanya.
......................
"Dream, Robbiemu menjemput." teriak V.
"Tolong katakan tunggu sebentar V, aku sedang bersiap-siap." teriakku membalas teriakan V.
"Hai cantik..." aku menoleh dan melihat Robbie sudah di depan kamarku.
"Kok turun? Sebentar lagi aku siap. V akan mengantarku ke rumahmu, tapi kamu datang kesini." sahutku.
Robbie berjalan mendekatiku, dan memelukku dari belakang, dan kemudian dia mendudukanku di pangkuannya, V melihat kami, dan melongok ke arah kamarku, "Hei bung, tahan nafsumu, dia baru saja sembuh." tegas V.
Robbie mengangkat kedua tangannya, "Aku tidak melakukan apa-apa kepadanya." tangkis Robbie.
V menatapnya, dan mengacungkan sutilnya ke arah Robbie.
"Apa itu, V? Dia tamu, kan? Sopanlah sedikit." sahutku. Dan V meletakkan sutilnya lagi dan berlalu pergi.
"Mau kemana kita hari ini?" aku bertanya kepada Robbie selepas V pergi.
"Kita tidak akan kemana-mana, hanya memindahkan tempat istirahatmu dari sini ke rumahku., Bawalah beberapa helai baju, atau tidak usah saja, nanti juga bajumu tidak akan terpakai." jawab Robbie menggodaku.
Aku tertunduk malu, "janganlah berbicara seperti itu, kamu membuatku semakin menginginkanmu." sahutku. Robbie menciumku, dan aku membalas ciumannya.
__ADS_1
"Ehem...Ehem...Ehem...!!" seru V yang melewati kamarku lagi, "Apa perlu kututup pintunya? Atau kalian mau melakukannya di dapur, di meja makan, atau bahkan di atas piano?" tanyanya sinis.
"Ide bagus, V. Kami akan bermain di atas piano, kalau kamu mengijinkannya." sahutku sambil bercanda.
"Silahkan, aku pergi." sahut V, membanting pintu.
Aku dan Robbie saling berpandangan dan tertawa, "Kamu mau bermain di atas piano? Wow, liar sekali imajinasimu, Luna." sahut Robbie.
"Hihihi...aku hanya senang menggoda V. Dia lucu." sahutku, "Apakah kamu hari ini bekerja? Atau kita bermain aja disini?" sahutku menggodanya.
Aku membalikkan posisi badanku, dan duduk di pangkuannya, "Kita bisa mencobanya di atas piano...hahahaha!" sahutku lagi.
Robbie menciumku, "Ciumanmu masih sedikit hangat, Luna, istirahatlah, aku akan menemanimu disini." sahut Robbie.
Dia beranjak dari kursi kecilku, mengeluarkan laptopnya dan mulai menenggelamkan dirinya disana. Sedangkan aku? Aku mengerjakan sisa tugas kuliahku, yang hampir selesai di kerjakan bergantian oleh V dan Robbie.
"Rob, sebentar lagi aku akan lulus. Setelah itu, aku akan kembali, maukah kamu berkunjung kesana?" tanyaku kepadanya, dan duduk di atas meja sebelah Robbie.
"Hmmm.. boleh saja, tapi aku rasa aku tidak bisa menetap disana." jawab Robbie.
"Lalu bagaimana dengan kita?" aku bertanya.
"Kamu bisa menetap disini, kan? Maksudku tidak harus kembali kesana." sahut Robbie. Dia mendekatiku dan mencium punggung tanganku.
Sekarang Robbie menatapku dan memberikan atensinya kepadaku, "Aku pun begitu..." kemudian dia berdiri, dan memegang kedua pipiku, dan menciumku lembut.
"Kamu masih hangat, Luna..." katanya.
"Hmmm.. kamu yang membuatku semakin panas, Rob." sahutku dan membalas ciumannya.
Robbie menggendongku dan benar-benar mendudukanku di atas piano. Bunyi tuts piano yang biasanya berdenting kini menjadi jreng...jreng.. tidak berirama. Hanya suara piano yang memekakan telinga dan suara ******* kami yang semakin terdengar memenuhi ruangan ini.
"Wow....!!" sahutku setelah kami selesai bertarung, "kamu mewujudkan fantasi liarku, Rob... hahahaha." sahutku.
"Aku tidak pernah bisa menyelesaikan pekerjaanku, jika kamu ada di sampingku. Apa kututup saja laptopku dan kita bermain sepanjang hari ini?" tanyanya menggodaku.
"Kembalilah bekerja. Aku juga harus menyelesaikan tugasku, saat jam istirahat nanti, aku akan mengerjakan tugasku yang lain." sahutku. Robbie mengecup dahiku, dan membetulkan kemejanya, yang kancingnya sudah berada di antah berantah.
...----------------...
Uhuk....uhuk...uhuk...
Aku terbatuk-batuk di hari berikutnya, ada apa denganku sekarang? Kenapa jadi cepat sekali sakit?
__ADS_1
Hari ini aku hanya berdua dengan Robbie karena V harus pergi bekerja. Tadinya dia tidak mau pergi, tapi kuingatkan padanya, uang itu penting dan tidak akan dapat dua kali. Setelah itu dia pergi dengan bersungut-sungut, dan meminta Robbie menjagaku disini.
Robbie sedari tadi melakukan virtual meeting, dan aku tidak mau menganggunya, jadi aku pergi ke kamar V. Aku sudah ijin kepadanya terlebih dahulu tentunya.
"V yang baik, aku pakai kamarmu." begitu tulisku dalam pesan yang kukirimkan kepada V sebelum aku memakai kamarnya.
"Jangan dipakai untuk bercinta, setelah kalian melakukan hampir di seluruh ruangan rumah kita 😏" balas V
"Baru mau aku katakan akan kupakai untuk kami bercinta, hahahaha. Tentu tidak bodoh! Aku mau berbaring di kamarmu, Robbie virtual meeting di kamarku, aku tidak mau mengganggunya." balasku lagi melalui pesan
"Ah, kamu rindu padaku? Tidurlah disana, dan resapi harum tubuhku yang menempel di bantal dan kasurku. Selamat menikmati 😘" balas V lagi.
"Apa yang kamu pikirkan??!! Terimakasih" sahutku lagi, dengan agak kesal aku memasuki kamar V dan berbaring disana.
Uhuk...Uhuk...Uhuk...
"Robbie...uhuk...Rob...!" sahutku, sepertinya aku akan pingsan.
Aku bangkit dari tempat tidur V dengan perlahan, dan berjalan merambat menuju kamarku. Aku melihat Robbie menghampiriku, aku berjalan terhuyung-huyung saat mendekatinya, dan tiba-tiba pandanganku mulai gelap dan lagi-lagi kesadaranku meninggalkanku.
......................
**EPILOG
V POV
"Apa maksudmu, Kai?" sahutku terkejut.
"Dream harus kembali secepatnya. Sudah hampir setahun dia disini, dan itu sudah batas maksimal dia disini. Dream tidak bisa menetap disini." jelas Kai.
"Jadi?" tanyaku.
"Dia harus kembali secepatnya." jawab Kai singkat.
"Lalu, bagaimana dengan Robbie?" aku bertanya kembali kepada Kai.
"Itu pilihan dia, V. Kita tidak bisa memaksanya ikut. Mark juga sudah bilang, kalau ini gagal lagi, itu tidak akan jadi masalah." sahut Kai.
"Bagaimana dengan Dream kalau Robbie tidak ikut bersamanya?" tanyaku lagi membayangkan betapa sakit hatinya Dream andai Robbie tidak mau ikut bersamanya.
Kai menepuk pundakku, "Sudah kukatakan kepadamu, jangan tinggalkan Dream, tolong jaga dia. Hal ini juga yang aku takutkan. Selama Dream sehat, itu sudah cukup, V. Tapi tetap dia harus di awasi. Kekebalan tubuhnya sudah menurun." jawab Kai.
Aku menatap Kai yang akan kembali ke tahun waktunya dengan tatapan bingung. Dan kemudian Kai menghilang ke dalam pusaran waktu.
__ADS_1
...****************...