Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Wake Up, V!!


__ADS_3

Kami sedang menunggu V di sebuah rumah sakit, peluru yang bersarang di dadanya sudah di angkat, namun dokter bilang, dia mengalami luka dalam, beruntung peluru tidak mengenai jantungnya, jadi dia masih bisa di selamatkan.


Namun, karena adanya pendarahan di organ dalamnya, akan membuat V akan sedikit lebih lama untuk sadar. Begitulah yang dokter katakan.


Selama V naik ke ambulance (ambulance dengan kondisi gawat darurat akan diijinkan melintasi udara dengan pengawalan ketat.) aku sudah menangis, sesampainya di rumah sakit aku menangis, dan ketika dokter memutuskan untuk mengoperasi V, aku juga menangis, dan melihat kondisi V sekarang, aku menangis lagi.


Robbie sedang disidang, menurut Kai dia masih menyimpan pecahan kecil konektor Lyn, dan dia beruntung karena hanya dengan pecahan sekecil itu, dia bisa melintasi waktu.


"Benar-benar nekat, Rob itu. Luar biasa. Aku tidak dapat memahami apa yang ada di pikirannya saat itu?" ucap Kai keheranan, "sebelum kejadian ini, kami sudah membujuknya untuk datang kesini, tapi dia menolaknya, sekarang malah dia menggila. Cinta membuat siapa saja menjadi gila...menakutkan." sahut Kai lagi.


"Dream, apa kamu tidak mau menemui Robbie? Dia menunggumu?" tanya Kai.


Aku menggeleng, "Ini kesalahan dia, Kai. Aku akan tetap disini sampai V sadar." jawabku.


"Aku akan menjaganya, Dream. Beristirahatlah. Ah, tapi jangan pulang ke rumah dulu. Tinggallah bersama kami." ucap Kai.


"Banyak police line kah?" aku bertanya, karena rumahku pasti menjadi tempat kejadian perkara, dan akan di segel selama beberapa waktu.


"Robot pers tentunya, aku tidak bisa menolaknya, mereka bahkan membawa surat ijin, apa yang bisa aku lakukan kalau seperti itu, kan?" jawab Kai.


"Biarkan mereka meliput apa yang ingin mereka liput, mereka berhak mendapatkannya, kita akan bertindak kalau ada berita yang menyimpang dari kebenaran." ucapku.


Kai mengangguk setuju. "Ada baiknya saat kamu menemui Robbie, Bry ikut bersamamu." ujar Kai.


Aku mengangguk, "Aku belum siap menemuinya, Kai." sahutku.


"Menurutku lebih cepat lebih baik, Dream. Supaya masalah ini bisa segera selesai." sahut Kai, "Jelaskan kepadanya tentang kemauanmu, tentang perasaanmu juga, Dream." ucap Kai lagi.


Aku merenungkan kata-katanya, "Baiklah aku akan menemuinya." aku mengambil Lyn bersamaku, "Hubungi aku secepatnya jika V sudah bangun " pintaku kepada Kai.


Kemudian aku berpamitan kepada V, "V, aku mengurus Robbie sebentar, cepatlah bangun. Aku menunggumu." sahutku, dan aku menggenggam tangan V yang terkulai lemas.


"Aku akan meminta Bry untuk menemuimu di sel kurungan." sahut Kai. Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepadanya.


Sesampainya disana, Bryanna sudah menungguku. Bry menggandeng lenganku, dan menguatkanku.

__ADS_1


Kami sampai ke ruangan tempat Robbie di tahan. Sama seperti Bry dulu, dia sempat terkurung disini selama beberapa hari karena menyelundup ke tahun waktu kami. Begitu melihatku, Robbie berdiri. Dia bukan Robbie yang kukenal, pikirku.


"Tolong buka, dan biarkan aku berbicara kepadanya di ruangan kerja kalian." pintaku.


Para petugas itu membuka kunci ruang tahanan, dan mengeluarkan Robbie. Mereka mengawal kami untuk sampai ke ruang kerja mereka. Aku meminta Bry untuk menunggu di luar, dan Bry paham, dia melaksanakan perintahku dengan cukup baik.


"Apa yang kamu lakukan, Rob?" aku mulai bertanya kepadanya, sulit untuk menghilangkan nada interogasi dalam suaraku.


"Aku mencarimu, Lun..Maksudku Dream." jawabnya.


"Untuk apa kamu mencariku?" tanyaku lagi.


"Menikahlah denganku, maafkan kesalahanku. Jean dan Jeannete, anak-anak kita, mereka selalu menanyakannmu, Luna." sahutnya meringis dan berharap.


"Atas apa yang telah kamu lakukan, Rob? Dan sekarang kamu memintaku untuk menikah denganmu? Dimana hatimu, Rob?" aku bertanya lagi. Aku tidak habis berpikir, sekian lama dia menggantungku, sekian lama aku menunggu dan menanti jawaban darinya, sekian lama aku mengajaknya untuk menetap, dia sama sekali tidak tersentuh, dan sekarang dia datang kesini, menimbulkan huru hara, sehingga menyebabkan V tertembak, dan tidak sadarkan diri di rumah sakit.


"Maafkan aku, Luna. Maafkan aku." sahutnya.


"Aku memaafkanmu, Rob. Tapi aku tidak bisa melupakan apa yang telah kamu lakukan kepadaku." sahutku.


"Apa maksud kedatanganmu kesini, setelah kemarin kamu menolakku, bahkan untuk sekedar datang ke acara pelantikanku saja, kamu tidak hadir." ucapku, "bagaimana caraku memberikan kesempatan kepadamu?" aku bertanya kepadanya.


Aku tidak ada niat untuk memberikannya kesempatan apapun, dia telah menyakiti hatiku, dan membuatnya hancur menjadi kepingan.


"Dan satu lagi, jangan bawa nama anak-anakmu di masalah ini. Kamu tidak pantas jadi ayahnya. Mungkin aku akan mengadopsi mereka, dan mengajaknya tinggal disini. Aku akan meminta petugas waktu memulangkanmu." sahutku lagi.


Robbie merintih, "Kumohon, jangan lakukan itu kepadaku. Aku benar-benar hancur tanpamu. Saat itu aku benar-benar tidak sadar, dan aku mengakui kesalahanku, maafkan aku, Luna." sahutnya.


"Sudah kubilang, aku memaafkanmu! Pada kasus ini, aku yang hancur! Coba kamu bayangkan menjadi aku. Aku menunggumu berhari-hari, berminggu-minggu, dan betapa bahagianya aku, saat Lyn berpendar-pendar, tapi yang kulihat, kamu saling memagut bersama wanita lain, dan tidak hanya itu, kalian bercinta di depanku, di siang hari, dimana waktu itu yang selalu kamu jadikan alasan untuk menemuiku. Bayangkan saja, Rob! Bayangkan, betapa hancurnya aku." aku tidak akan menangisi kisahku, ini harus segera di selesaikan dan di lupakan.


"Kamu bukan Robbie yang aku kenal, kamu berubah, aku tidak mengenalimu lagi. Andaikan kamu datang dengan baik, tanpa bermaksud menculikku, mungkin aku akan mempertimbangkanmu kembali, karena cintaku untukmu masih tersisa banyak." sahutku lagi menambahkan.


Aku bergegas keluar...


"Itu karena Voltaire! Ini semua salahnya! Dia menemuiku, dia menghancurkan konektor yang kamu berikan kepadaku. Dan dia berkata aku harus melupakanmu, dan membiarkanmu hidup bahagia. Dan dia juga berkata, bahwa dia yang bisa membuatmu bahagia. Bukan aku! Itu membuatku gelap mata, Luna!" jelas Robbie.

__ADS_1


Aku menarik nafasku, memejamkan mataku, dan berbalik menatapnya, "Sayangnya, dia benar, Rob. Apa yang dikatakan V, semua benar. Aku akan mengurus proses adopsi Jean dan Jeannete secepatnya. Dan aku akan meminta petugas untuk mengembalikanmu, jadilah Robbie seperti dulu, Robbie Stans yang selalu berdiri gagah dan berwibawa. Dan, lupakan aku." sahutku.


Robbie kembali di pindah ke sel kurungan, dan aku bergegas keluar ruangan, Bry menungguku, aku menceritakan segalanya kepadanya.


"Bagaimana kamu akan membuatnya melupakanmu? Itu tidak mudah, Dream." tukas Bry.


Aku menghampiri petugas penanam chip, "Halo." sapaku.


Dia membungkuk, "Apa yang bisa saya bantu ma'am?" tanya petugas itu.


"Tanamlah chip di kepalanya, kemudian aktifkan penghilang ingatan di lobus temporal, dan fokuskan ke bagian hipocampusnya, modif semua memorinya tentangku, setelah itu, cabut kembali chip tersebut, dan kembalikan dia ke tahun waktunya." sahutku.


"Itu perlu tindakan operasi ma'am." jawabnya.


Aku mengangguk, "Silahkan, dan aku mau lakukan ini dengan sangat rahasia. Jika rahasia ini bocor, aku akan memberikanmu sanksi yang cukup berat." aku menjawabnya dengan sedikit mengancam.


"Itu salah satu bentuk kejahatan, Dream." tukas Bry.


Aku menempelkan jari telunjukku ke bibir Bry, "bawa rahasia ini sampai kamu mati, Bry. Kumohon " sahutku. Bry memgangguk, "Aku akan segera melupakannya." jawabnya.


...----------------...


**EPILOG


Dream POV**


"V, aku datang... kamu belum mau bangun, yah? Sepertinya kamu lelah sekali...maafkan aku yah V. Bangunlah, kumohon, jangan tinggalkan aku sendirian, V." sahutku menangis.


Aku memandang wajah V yang terlelap, aku mengusapkan jariku ke rambutnya, matanya, hidungnya, bibirnya, aku berharap dia bangun dan menyapaku, "Hai, Dream."


Aku mengusap dadanya yang terbalut perban. Aku berharap, lukanya cepat sembuh, dan V bisa segera bangun kembali.


"V, kata kamu, kamu tidak akan mati, karena kamu belum mendapatkan cintaku, aku tidak akan memberikan cintaku padamu sekarang, karena nanti kamu akan mati. Aku akan belajar mencintaimu, dan aku akan membuka hatiku untukmu, dan aku juga akan menempatkanmu di sebelahku. Bangunlah V, aku mohon....bangunlah...!!"


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2