
"Bry, kenapa kamu tidak mau kembali bersama kami?" tanyaku kepada Bry.
Aku cukup shock mendengar Bry tidak mau kembali, dan lebih kaget lagi, yang menceritakan itu kepadaku adalah Jean dan Jeannete, bukan Kai atau Bry sendiri.
"Aku merasa tidak aman, Dream. Perjalanan melintasi waktunya yang aku rasa tidak aman. Aku takut. Dan lagi, setelah ada Amber, aku pikir aku lebih nyaman berada disini." jawabnya.
Aku memandangnya, dan berusaha memahami jalan pikirannya, "Bry, andaikata Kai tidak mau ada disini, apa yang akan kalian lakukan?" tanyaku. Aku belum siap menerima kenyataan pahit, aku dan Bry serta Amber berpisah, apalagi Bry dan Kai. Aku belum siap dan bahkan tidak akan pernah siap mendengar keputusan itu.
"Ya, salah satu dari kami harus ada yang mengalah, kan?" jawab Bry lagi.
Aku menghela nafas lega, "Syukurlah. Maksudku, kalian tidak berpisah. Aku sayang kalian bertiga, Bry. Dan Amber sudah seperti anakku sendiri. Aku tidak mau kalian berpisah." sahutku.
"Semua keputusan ada resikonya, Dream. Kalau memang kita harus terpisah-pisah, ya itu sudah jalannya." jawab Bry.
Aku menahan airmataku, "Ti...tidak boleh seperti itu, Bry. Aku tidak mau..." sahutku, suaraku sudah tercekat karena menahan tangis.
Bry memelukku, dan tersenyum, "Jangan sedih dulu, Dream. Dari kemarin-kemarin kamu kuat, tidak nangis, sekarang kamu malah nangis padahal hanya karena persoalan ini saja." kata Bry.
"Bukan persoalan ini saja, Bry. Kamu, Amber, terlebih Kai sudah menjadi bagian dari hidupku, apa jadinya kita jika terpisah dan saling melupakan? Aku tidak bisa seperti itu, Bry." sahutku.
Bry tersenyum, "Kita akan mendapatkan jalan yang terbaik, Dream. Dan ayolah, dewasalah Dream. Pada akhirnya kita tetap akan terpisah oleh waktu." katanya.
Malam itu, kami berkumpul bersama untuk membicarakan hal ini, tentu saja setelah Jean dan Jeannete juga Amber tertidur.
"Jadi, jika lorong waktu terbuka dan kita bisa kembali, kamu tidak akan kembali, Bry?" tanya V.
Bryanna mengangguk, "Ya, aku akan menunggu Amber siap melintasi waktu. Untuk saat ini dia masih terlalu kecil untuk melakukan itu, aku takut dia tersesat atau terseret arus waktu, aku tidak ingin itu terjadi." jawab Bry.
"Dan bagaimana denganmu, Kai?" tanya V, kali ini matanya bergantian menatap Kai.
"Aku tidak bisa menetap disini, V. Faktor utama adalah, aku dan Dream memiliki masalah yang sama, imunitas kami tidak bisa beradaptasi di tahun waktu ini dalam jangka waktu cukup lama. Waktu yang bisa di toleransi, maksimal satu tahun. Dan lagi, hidup disini aku akui cukup berat dan tidak semudah di masa depan." jawab Kai.
Ini yang aku takutkan, "Ta... tapi kalian tidak bercerai kan?" tanyaku takut-takut.
"Tentu saja tidak!" ucap Kai menegaskan, "Kalau pun kami harus berpisah, hubungan kami akan tetap berjalan. Bukan begitu Bry honey?" tanya Kai memastikan ke Bryanna.
"Aku dan Kai tidak akan bercerai, hanya berpisah. Walaupun kita belum membuat kesepakatannya, tapi aku dan Kai akan tetap bersama." jawab Bry, mengenggam tangan Kai.
"Lantas, bagaimana dengan kehidupanmu disin" tanyaku, "dimana kamu akan bekerja, dan bagaimana dengan Amber jikan kamu bekerja? Ah, aku tidak bisa memikirkan kamu sendirian disini, Bry. Ikutlah bersama kami. Aku akan mengikat kencang Amber, supaya kita tidak terpisah-pisah." ucapku.
"Kita lihat nanti ya Dream. Lorong waktu juga belum sepenuhnya benar, kan? Mungkin saja pikiranku akan berubah ketika lorong waktu sudah bisa kita pakai." kata Bry.
Kami mengangguk, dan berharap semoga Bry ikut bersama kami. Beberapa bulan kemarin aku sudah merasakan terpisah-pisah seperti itu, dan aku tidak mau mengalaminya lagi.
Airmataku menetes, V memelukku, "Semua akan baik-baik saja, Dream. Tenanglah." katanya, menenangkanku.
Keesokan paginya, sebelum memulai aktifitas, aku bercerita kepada Kai dan V tentang pertemuanku dengan Josh.
__ADS_1
"Kamu kesana sendirian? Dan tidak tersasar? Kamu sudah dewasa, Dream." ujar Kai bangga.
"Aku tidak bodoh, aku menggunakan taksi online, dan aku berikan titik lokasinya kepada si driver. Dan aku sampai di rumah Josh." sahutku. Kemudian aku memberikan senter kecil itu kepada mereka, "Dia memberikanku ini." ucapku, dan aku menyinari kanan dan kiri dinding lorong hingga beberapa menit yang membuat putus asa karena tidak muncul angka tahun seperti yang dikatakan oleh Josh.
"Muncul Dream! Lihat, angkanya muncul!!" seru V. Dan benar saja, angka-angka tahun waktu bermunculan seolah-olah keluar dari dinding lorong.
"Di tahun ini kah si boneka kemarin mendarat? 1991?" tanyaku. Kai dan V mengangguk.
"Ayo, kita buat percobaan kembali. Kali ini siapa yang akan menjadi sukarelawan?" tanya Kai.
Aku dan V berpandangan, "Baiklah, aku akan mencobanya." sahutku.
"No!" seru V menolak, "Bagaimana jika terjadi sesuatu terhadapmu?" tanya V, "Tidak... biar aku saja!" sambung V.
Kai berpikir, "Mmmm...bagaimana kalau kalian berdua. Aku hanya ingin memastikan, kalian berhenti di satu tempat dan tidak terpisah." kata Kai.
Aku setuju, "Oke, ayo kita coba. Tapi kita tidak ada konektor, bagaimana menghubungimu?" tanyaku.
Kai menggeleng-geleng, "Sudah berapa kali sih kamu melintasi waktu, Dream?" tanyanya, "Kita akan mensetting ini terlebih dahulu kan, dan baru kalian masuk kesana?!" kata Kai.
"Ah, iya benar juga." kataku, tersenyum lebar.
"Oke, aku akan coba mensetting ini ke masa depan, hanya berbeda dua tahun dari tahun waktu ini. 2024. Dan, andaikan sesuatu yang buruk terjadi, kamu tau apa yang harus kamu lakukan, kan Dream?" tanya Kai.
Aku paham sekali maksudnya, jam pasir! Aku mengangguk, "Aku tau." sahutku.
Kai dan aku tidak mengindahkan protesnya, "Siap V, Dream?" tanya Kai. Aku mengangguk, dan V masih menuntut jawaban tentang rahasia kami. Tapi aku sudah menariknya memasuki lorong waktu.
*Syuuuut
Plukkk*
Aku mendarat lebih dulu, dan kemudian aku menunggu V di ujung lorong, berharap dia mendarat di tahun waktu yang sama denganku. Aku mondar-mandir menunggunya dengan cemas. Kalau dalam waktu lima belas menit, dia tidak muncul, aku akan mencari lorong waktu yang lain.
Sepuluh menit berlalu, "Oh, ayolah Voltaire keluarlah." aku berharap. Sambil sesekali menghitung waktu. Aku tidak ingin memakai jam pasir lagi.
Dua belas menit...
Tiga belas menit...
Empat belas menit...
Lima belas menit...
Aku menghembuskan nafas panjang, kemudian bergegas untuk mencari lorong waktu yang lainnya. Namun, tiba-tiba...
Pluk...
__ADS_1
"Dream!!"
Aku mendengar seseorang memanggil namaku, dan kubalikkan badanku, dan aku memeluk pria yang sedari tadi kutunggu-tunggu.
"Berhasil V, kita berhasil!! Aku pikir kita akan terpencar lagi!" sahutku. Kami saling berpelukan, dan menghabiskan waktu sekitar dua jam di tahun waktu ini.
"Apa maksudmu dan Kai tadi?" tanya V.
Aku tersenyum lebar, "Suatu saat, aku akan menceritakannya kepadamu. Sekarang, ayo kita kembali. Dan semoga kali ini kita kembali di tahun waktu Kai menunggu." jawabku berharap.
V mengangguk, "Oke. Siap?" tanyanya. Aku mengangguk, dan kembali masuk ke dalam lorong waktu.
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
"Oke, Bry. Kita akan membuat kesepakatan." sahutku malam itu.
Bry mengangguk, "Bagaimana percobaan kalian dengan lorong waktu? Apakah sudah berhasil?" tanya Bry.
"Sudah. Aku berhutang kepada V dan Dream, mereka menjadi sukarelawanku untuk melintasi waktu. Harus menunggu lama, tapi saat mereka kembali, perkiraan waktunya sudah tepat." jawabku.
"Syukurlah mereka tidak terpencar." kata Bry, wajahnya menampakan kecemasan dan kesedihan.
Aku menggenggam tangannya, "Bry, kita lakukan ini bersama-sama, kembalilah bersamaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu." sahutku.
Bry menatapku, "Kapan rencana kalian untuk kembali?" tanyanya.
"Secepatnya, Dream minta secepatnya. Kondisi tubuhnya sudah menurun." sahutku.
Bry tersenyum, "Kamu mempertimbangkan Dream. Baiklah, akan aku pikirkan." sahutnya.
"Jangan salah paham. Aku tidak memprioritaskan dia, aku telah berjanji kepada ayahnya akan menjaganya sampai aku bisa melepaskannya." sahutku.
"Sudah ada V. Kamu bisa melepasnya kalau kamu mau dan tinggal bersamaku disini." ujarnya, nada suaranya agak dingin.
"Aku belum bisa melepasnya. Bukan karena cinta, jangan salah paham. Aku terbiasa bersama dengannya, dan akan aneh sekali jika tiba-tiba dia menghilang begitu saja dari hidupku. Aku akan tinggal bersamamu, tapi tidak disini. Ayolah, Bry. Aku tidak bisa disini." sahutku.
"Alasannya? Berikan aku alasan yang bisa aku terima, Kai." katanya.
"Hidup di jaman ini sangat sulit, Bry. Dengan berbagai macam virus yang selalu di beritakan, pandemi yang belum berakhir, harga-harga menggila. Di masa depan, hidupku sangat mudah, aku akui itu. Dan aku tidak terbiasa hidup seperti ini." jawabku.
Bry menundukkan kepalanya, "Aku akan memikirkannya, Kai. Dan aku harap kamu juga demikian." sahutnya, mengecup keningku.
...----------------...
__ADS_1