
Josh Benedict sosok pria paruh baya dengan rambut cepak, yang sebagian sudah memutih, mata berwarna cokelat, dan memakai kacamata bulat.
"Halo, kamu pasti si kecil Dreamy...hahahaha. Mark membesarkanmu dengan sangat baik. Dia pasti sangat bangga padamu." sahut Josh mengacak-acak rambutku. Aku tersenyum.
"Dan, ini dua anak laki-laki kesayangan Mark, yang mana Voltaire, dan yang mana Kai?" tanyanya.
V maju, dan mengulurkan tangannya kepada Josh, "Aku, Voltaire, dan dia Kai." ucap V.
Kai juga mengulurkan tangannya kepada Josh, Josh membalas uluran tangan mereka satu per satu.
"Aku turut berduka cita untuk papamu, Dream. Dia orang yang baik, tapi aku yakin memang sudah waktunya papamu pergi." sahut Josh dengan tatapan menyesal.
"Aku juga sudah mendengar berita tentang gebrakan baru dari perdana mentri Dreamy Eve. Luar biasa, dan akibatnya angka kriminalitas mampu di tekan dengan baik." ucap Josh lagi.
"Ahahaha, terimakasih pak Josh." sahutku tersipu.
"Panggil aku Josh saja." katanya. Kemudian dia beranjak dari kursinya, masuk ke kamarnya, dan kembali dengan membawa sebuah kotak beludru berwarna merah.
Josh kembali duduk, dan meletakkan kotak beludru merah itu di atas meja, tidak ada satu pun dari kami yang berani berkata-kata.
Akhirnya Josh kembali bersuara, dia membuka kotak beludru merah, dan mengeluarkan isinya, seuntai kalung dengan jam pasir kecil sebagai liontinnya, "Ini, bukan kalung biasa." katanya, "dan ini.." menunjuk liontin jam pasir, "juga bukan sekedar liontin hiasan biasa." katanya.
Kami bertiga saling berpandangan, "Waktu itu sangat mengerikan. Makanya ada istilah orang yang suka membuang-buang waktu, tidak akan mendapatkan apa pun di hidupnya. Karena waktu akan terus berjalan, mau kalian sedang bekerja, sedang sakit, bahkan sedang tidur pun, waktu tidak akan berhenti." katanya.
Baik aku maupun V atau Kai, belum menangkap apa maksud dari pembicaraannya tersebut. Josh melanjutkan pembicaraannya lagi, "Kalung ini sangat istimewa, oh, aku akan menceritakan bagaimana aku mendapatkan kalung ini." katanya, kemudian dia bercerita.
"Aku dan Mark bersahabat sejak lama, kami bertemu saat Mark bertugas di tahun waktu ini. Apa dia mengajakku untuk tinggal di tahun waktunya, tentu saja. Aku tergiur mendengar cerita-ceritanya tentang masa depan. Aku pernah kesana beberapa kali, dan wow, betapa peradaban manusia sangat maju disana. Apa yang terlihat di film-film Hollywood di tahun ini, menjadi nyata di masa depan. Aku nyaman berada disana." ucapnya lagi.
"Cepat sekali aku terbuai, sampai aku melupakan istriku disini. Saat itu, kamu masih kecil sekali, Dream. Aku meminta kepada Mark untuk kembali ke tahun waktuku. Dan begitu aku kembali, aku telah kehilangan istriku. Dia sakit, dan aku tidak ada di sampingnya, parahnya lagi keluarga dia sama sekali tidak ada yang mengenalku. Dan disaat itulah, Mark memberikanku kalung ini, hanya untuk menebus waktuku, dia berkata putarlah ini sebanyak tiga kali, dan perbaiki waktumu. Awalnya aku tidak percaya, namun aku mencobanya. Dan, akhirnya aku berhasil bertemu istriku kembali, aku menemani hari-harinya dia, sampai dia pergi selamanya. Kemudian kukembalikan lagi waktuku, dan tidak ada penyesalan lagi di hatiku." sahut Josh lagi, menutup ceritanya.
__ADS_1
Kami memandangnya dan tidak tau harus berkata apa, selain, "Turut berduka cita untuk istrimu, Josh."
Dia tersenyum, dan menyerahkan kalung itu kepadaku, "Aku akan mengembalikan kalung ini kepadamu, Dream. Aku tidak menyangka papamu akan pergi secepat ini, jadi aku titipkan kalung ini kepadamu. Aku berharap tidak pernah ada penyesalan di hidupmu, sehingga kamu tidak perlu berharap untuk memutar waktu." katanya lembut kepada kami.
Aku menerimanya, "Terimakasih Josh, ini berarti sekali untuk kami, kalau berbicara tentang penyesalan, akan selalu ada rasa itu. Tapi sebisa mungkin kami akan memperbaiki dan menerima segala konsekuensi atas kesalahan kami itu. Andaikan aku bisa memutar waktu, aku akan memutar waktuku kembali di hari pernikahanku dimana papa tertembak, aku akan melindungi papaku sekuat tenagaku, bagaimana pun, aku tidak pernah membayangkan papa akan pergi secepat itu, dan dengan cara seperti itu...sungguh...itu saja penyesalanku." ucapku, suaraku tercekat, dan airmataku mengalir, membasahi pipiku.
V memelukku, dan mengusap airmataku, "Kami akan menerima dan menyimpan ini dengan baik, Josh. Sebisa mungkin kami tidak akan memakainya." kata V.
" Benar, penyesalan memang akan selalu ada, tapi kami tidak akan memutar waktu, pasti ada resikonya kan? Sama seperti ketika kami menyebrangi waktu seperti ini." ucap Kai.
"Aku mendengar dari Mark, kamu, Voltaire bukan berasal dari masa depan, benarkah itu?" tanya Josh.
V mengangguk, "Begitu juga dengan istri Kai. Dia temanku." jawab V.
"Resiko yang kalian hadapi sungguh besar bukan. Terlupakan, dilupakan, melupakan." kata Josh.
Josh tertawa, "Filosofi yang bagus, Voltaire." katanya.
"Itu benar. Yang tidak bisa hilang hanyalah kemampuan kita. Maka dari itu, silahkan menyesal, karena menyesal itu manusiawi, penyesalan terjadi karena perbuatan yang kita lakukan di hari kemarin, kan? Tapi ada satu hal yang sangat aku takut tanyakan, pernahkah terjadi lorong waktu itu rusak? Maksudku, tidak berfungsi sebagaimana mestinya?" tanya V.
Aku tidak berpikir sampai sana, karena yang aku tau maintenance lorong waktu itu sangat teratur, dan tidak bisa di kerjakan oleh sembarang orang.
Josh berpikir dan mengingat-ingat, "Ah, pernah. Aku dan Mark merasakannya satu kali, itu terjadi karena adanya pergolakan waktu di pusaran waktu tersebut. Pergolakan bisa saja terjadi kalau banyaknya para penyintas waktu keluar masuk ke tahun waktu yang berbeda. Itu pernah kami rasakan." jawab Josh, "Kami jadi berkeliling waktu, dan tidak bisa berhenti sampai pusaran waktu kembali stabil." katanya menambahkan.
"Mengerikan sekali. Bisa saja, saat kita mendarat, kita berada di jaman purba, dan bertemu seekor Trex yang sedang kelaparan, habislah kita." ujar Kai.
Aku bergidik, "Benar juga yah. Aku tidak pernah berpikir sampai sana." sahutku.
Josh tertawa, "Saat ini aku yakin maintenance lorong waktu sudah lebih ditingkatkan, karena berita tersesat di pusaran waktu sudah jauh berkurang. Dan semoga bukan kalian korban selanjutnya." ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah mengobrol panjang lebar bersama Josh, kami berpamitan, Josh menawarkan bantuannya untuk mengantar kami sampai lorong waktu.
Kami berpamitan dari sana, "Bye, thank you Josh." ucap kami dan segera memasuki lorong waktu. Josh melohat kami hingga kami tidak terlihat lagi.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Josh Benedict ini orang yang sulit di tebak yah. Aku tidak tau menyukainya atau tidak." sahutku malam itu setelah kami kembali dari perjalanan waktu.
"Iya, aku pun begitu. Ada yang aneh darinya." ujar Kai.
"Apa yah? Hei, Kai, apakah kamu tertarik menggunakan kalung itu?" tanyaku pada Kai.
Kai memberengutkan bibirnya, "Ada keinginanku untuk mencobanya..." katanya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Hmmm...aku penasaran saja apa yang akan aku lakukan kalau aku tidak bertemu denganmu atau Bryanna?" jawab Kai.
"Itu namanya sudah takdir! Mana bisa kan kamu menolak takdirmu! Nikmati saja hadirnya Bry dan aku di hidupmu." sahutku.
"Tentu, aku menikmati Bry, tapi kan aku tidak bisa menikmati kamu...hahahaha."
Sepanjang malam itu, kami berandai-andai kemana kami akan mengulang waktu jika.kalung itu bisa berfungsi.
...----------------...
__ADS_1