
Sebuah gedung dengan design artistik klasik minimalis, sudah muncul di depan mata. Kami memasuki gedung itu, dan disambut dengan iringan musik orchestra Ludwig van Beethoven, Symphony no. 7 in A Major.
"Silahkan." sahut penerima tamu, dan membantu kami menunjukkan ruangan yang sudah disiapkan. Kami memasuki ruangan tersebut, dan sudah ramai sekali dengan orang.
"Hei , Robbie!" sahut salah seorang temannya. Robbie membalas lambaiannya, "Hei, biasalah aku mempunyai terlalu banyak wanita di hidupku." sahutnya sambil memegang bahuku. Aku memberi mereka salam dengan menundukkan kepalaku. Jeannette yang takut akan keramaian menggenggam jari telunjukku kencang. Jean di sebelahku pun demikian.
"Wow, lihat! Siapa yang dia bawa? Apa itu wanita barumu, Rob?" tanya seorang temannya yang lain. Robbie tertawa, memintaku untuk duduk di sebelahnya, aku memberikan kursiku untuk Jean dan aku di tengah-tengah di antara Jean dan Jeannete.
"Hahahaha... sesukamu. Dia nany baruku. Sudah lama aku tidak mengajak anak-anakku keluar. Kenalkan, namanya Luna." katanya kepada teman-temannya.
Aku berdiri di antara mereka, dan mengucapkan salam.
"Oh wow, cantik sekali, Rob. Dimana kamu menemukan dia?" tanya temannya yang tadi.
"Hahahaha...sudahlah. Dia disini hanya akan mengawasi anak-anakku, mari fokus ke topik yang akan kita bicarakan." sahut Robbie.
Hah! Dunia macam apa ini?! Pantas banyak manusia punah di tahun waktu ini, beginilah pola hidup mereka, dan aku yang harus menanggung resiko dari ulah mereka. Mereka minum-minum, makan apapun yang mereka suka, mengeluarkan asap dari mulut mereka, entah itu menggunakan rokok atau roko elektrik. Ckckckck...menyedihkan sekali.
"Luna, aku ingin muntah " sahut Jeannette.
"Hei, Rob, aku mengantar Jeannette ke kamar kecil. Dia sepertinya mual." sahutku. Rob hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke anak-anaknya. Aku menggendong Jeannette keluar, Jeane mengikutiku.
Setelah muntah, aku bertanya kepada mereka, "Apa kalian ingin kembali kesana?" tanyaku. Mereka menggeleng.
"Tapi kalian perlu makan, kalian belum makan sama sekali di dalam sana tadi. Apa kalian ingin makan disini saja?" tanyaku lagi. Mereka mengangguk lemas.
"Baiklah, mari kita duduk disini saja." sahutku, dan mengajak mereka duduk di meja dengan kursi seperti sofa, dan dekat dengan jendela.
"Kalian ingin pizza atau sesuatu yang berkuah?" tanyaku. "Pizza. Luna, aku ingin pizza dan ice cream sundae dengan toping yang banyak " jawab Jane.
"Aku juga. Tapi aku tidak suka tomat ada di pizzaku." sahut Jeannette.
"Baiklah." aku memanggil waitress dan memesankan menu seperti apa yang mereka mau.
Ketika pesanan kami datang, mereka makan dengan lahap. Dan seperti janjiku, tidak ada tomat di pizza Jeannette, dan setelah mereka makan, mereka akan mendapatkan es krim sundae dengan banyak topping.
"Luna, perutku sakit." sahut Jean.
"Perutku juga, Luna, sakit sekali, seperti ditusuk-tusuk." sahut Jeannette, dan dia mulai menangis. Bagaimana ini?
Gula?! Mereka terlalu banyak mengonsumsi gula. Apa yang harus kulakukan.
__ADS_1
"Dimana rumah sakit terdekat?" tanyaku kepada penerima tamu restoran.
Aku segera memanggil taksi, dan menggendong Jean dan Jeannete dalam satu pelukan, dan mengantar mereka ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung diberikan tindakan oleh dokter.
"Bagaimana dokter?" tanyaku khawatir.
"Anda walinya?" tanya dokter tersebut. Aku mengangguk.
"Mereka mengonsumsi terlalu banyak gula. Karena itu kadar gula mereka naik, dan perut mereka menjadi kembung." kata dokter menjelaskan, "biarkan mereka tertidur selama beberapa waktu, tidak perlu rawat inap, dan bisa segera pulang saat infusannya sudah habis." kata dokter itu lagi.
"Terimakasih dokter." sahutku. Aku menarik nafas lega, untunglah mereka baik-baik saja. Aku duduk di tengah-tengah tempat tidur mereka, dan memegang tangan mereka.
...----------------...
"Kenapa kamu bertindak sendiri??!!" bentak Robbie kepadaku.
Pria sialan ini cuma berani sama perempuan!
"Karena kamu tidak peduli kan?! Ketika mereka mengeluh perutnya sakit, kamu hanya memberikan tanganmu, tanpa memandang mereka sedikit pun! Apa pedulimu?!" sahutku tak kalah seru.
Robbie menarikku keluar, karena takut membangunkan Jean dan Jeannete yang masih tertidur.
"Aku pengasuh mereka, tapi aku lebih peduli kepada mereka, dibanding kamu, yang mengaku ayah mereka!" jawabku. Emosiku menggelegak keluar, "tidak boleh seorang ayah seperti itu!!" sambungku lagi.
"Aku harus bekerja untuk mereka juga kan?!" sahutnya tak mau kalah.
"Memang, tapi kalau sesuatu terjadi kepada mereka, dan mereka pergi selama-lamanya, apa fungsi uangmu itu? Apa fungsi gelar ayah yang kamu sematkan di hidup mereka?! Itu tidak akan berarti, Rob! Buka hatimu, berikan perhatian sedikit untuk mereka!" sahutku.
"Jam kerjaku sudah selesai. Aku akan datang lagi lusa, kalau kamu masih membutuhkanku!" sahutku lagi, dan bergegas pergi meninggalkan Robbie.
Aku berjalan kaki untuk menurunkan emosiku, sampai ketika aku merasa lelah, aku terdiam dan otakku mulai bekerja. Dimana aku sekarang? Bagaimana menghubungi Kai atau V?
Aku kembali berjalan menyusuri jalanan, dan menuju rumah Robbie untuk menunggu V dan Kai.
Benar saja, mobil V sudah menungguku disana.
"Hai, Luna, bagaimana harimu? Wow, kamu cantik sekali" tanya V. Kai memandangku, dan V melihatku dari spion tengah.
"Menyebalkan. Kita langsung pulang saja. Aku ingin mandi dan istirahat." sahutku.
__ADS_1
"Hei, apa terjadi sesuatu?" tanya Kai cemas, dia melirik ke arah V.
"Robbie Stans, aku benci dia!" sahutku tegas.
V dan Kai saling berpandangan, "Mau kah kamu menceritakan ada apa antara kamu dan Robbie Stans?" tanya V.
Aku menceritakan kejadiannya siang itu kepada mereka.
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi." sahutku.
"Apa kamu akan datang lagi kesana?" tanya V khawatir.
"Harus kan, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dengan baik." sahutku. Mereka mengangguk setuju.
"Bagaimana dengan ponsel?" tanya Kai.
"Kapan-kapan sajalah, setelah kupikir-pikir dengan Robbie sebagai atasanku, aku tidak membutuhkan ponsel. Kalian tau, rasanya akan seperti di teror 24 jam Luna, bagaimana Jeannette? Luna, berapa banyak manisan yang kamu kasih kepada mereka? Luna, siang ini akan ada guru les piano yang akan datang. Akan seperti itu, pasti!" sahutku.
"Nasibmu sama seperti aku, Dream. Papamu menerorku seperti itu. Kai, bagaimana Dream? Apa dia menangis hari ini? Apa dia masih ingin pulang? Hahahahaha. Akhirnya kamu merasakan apa yang aku rasakan, Dream. Aku senang sekali...hahahaha." sahut Kai, menggodaku.
...----------------...
EPILOG
V POV
"Robbie Stans, seorang direktur dari sebuah perusahaan terkenal, pemain saham, dan ini yang mungkin penting untuk kita awasi, seorang duda dengan dua anak." sahut Kai. Kami mencari tau segala informasi tentang Robbie Stans, dan saat ini, kami sedang berdiskusi bertiga dengan papa Dream.
"Duda? Apa itu?" tanya papa.
"Dia sudah menikah tapi saat ini berpisah dengan istrinya entah karena cerai yang sama seperti pembatalan pernikahan, atau karena mungkin istrinya meninggal dunia." aku menjelaskan. Papa mengangguk-angguk.
"Semoga sifatnya menyenangkan." kata papa penuh harap. Aku dan V berpandangan.
"Dream sudah mengeluh, selama sebulan, baru pertama dia bertemu dengan Robbie, dan saat kami menjemputnya kemarin, dia tampak kesal sekali. Lebih kepada perlakuan Robbie kepada anak-anaknya." kata Kai menjelaskan.
"Dream sangan sensitif soal itu, kamu tau hal ini kan Kai?" tanya papa. Kai mengangguk.
"Biarkanlah dia menyelesaikan kekesalannya sendiri, jika tidak ada tanda bahaya, tidak perlu bergerak." kata papa lagi, dan kemudian papa mengakhiri panggilannya.
"Aku akan tetap mengawasi Dream. Aku khawatir." sahutku.
__ADS_1
"Awasi saja perilaku Dream selesai bekerja, sebisa mungkin kamu terutama V, ada di sampingnya." sahut Kai. Aku mengangguk, "Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya." sahutku.
...----------------...