
Hari saat dimana aku harus bekerja menjadi asisten pribadi Robbie Stans, kakiku terasa berat sekali. Ini hari pertamaku ikut ke kantornya, Robbie mengajakku untuk jalan bersama dari kediamannya. Pagi itu, V mengantarku ke rumah Robbie.
"Dream, setelah pulang kamu dari Robbie ada yang ingin aku bicarakan denganmu." sahut Kai.
Aku memandangnya, "Apa itu?" aku bertanya kepadanya. Akan tetapi Kai tidak mau menjawabnya, "Nanti saja setelah kamu selesai dengan urusanmu. Selamat bersenang-senang." sahut Kai lagi.
V menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam mobilnya, dan aku menggunakan kesempatan ini untuk bertanya kepadanya, "Ada apa dengan Kai? Apa yang ingin di bicarakannya kepadaku?"
"Bersabarlah, Dream sampai nanti malam." jawab V tanpa mengalihkan fokusnya dari jalan.
Ada apa sih sebenarnya, kenapa suasanya jadi serius seperti ini. V juga tidak mau memberitahukannya kepadaku.
"Dream, aku mau bertanya, apa status kita?" tanya V kepadaku, aku terkejut mendengar pertanyaannya.
"Apa maksudmu dengan status?" tanyaku kembali. Aku tidak paham dengan maksudnya.
"Setelah kita tidur bersama, dan melakukan itu, maksudku sesuatu seperti itu, apakah berarti statusku naik?" tanya V.
Sekarang aku paham maksudnya, "Oh itu, biasanya kalau seseorang sudah melakukan itu, apakah statusnya menjadi suami istri? Aku tidak pernah tau apakah orangtuaku melakukan seperti yang kita lakukan, karena mereka sudah suami istri sejak lama, kan?" tanyaku kembali.
"Tidak mungkin ada kamu kalau orangtuamu tidak melakukan seperti yang kita lakukan, Dream!" sahut V, "maksudku adalah, dengan kita sudah melakukan itu, hubungan kita menjadi berkembang. Berarti, apakah kamu sudah menjadi kekasihku sekarang?" jawab V menjelaskan.
"Hmmm, berarti kita seharusnya sudah suami istri yah?" sahutku, dan entah kenapa tiba-tiba terpikirkan hal itu.
"Kok jadi sedih? Kenapa?" tanya V tersenyum, "kamu lucu, Dream." sahutnya lagi.
"Aku mau menikah denganmu, tapi aku tidak memaksamu untuk harus menikah denganku. Yang aku tau saat ini, aku sayang sekali sama kamu, Dream." sahut V menambahkan.
Tak terasa, rumah Robbie sudah di depan, aku tidak segera turun, aku menatap matanya dan memandangnya dalam-dalam.
"Begitukah? Entah kenapa aku takut untuk menikah, mungkin karena di tahun waktuku aku tidak banyak mencoba ini dan itu, dan ketika bertemu denganmu, aku bisa melihat lebih luas, bertemu macam-macam manusia, dan rasa egoisku semakin menuntutku macam-macam hal." aku memberikan penjelasan kepada V, dan dia menganggukkan kepalanya, "aku merasakan perasaan yang sama saat bersamamu, V. Dan aku menikmati setiap waktuku bersamamu." sahutku lagi, menambahkan.
V memelukku, dan menciumku sebelum mengijinkan aku untuk turun dari mobilnya.
...----------------...
__ADS_1
Sesampainya disana, Robbie langsung memerintahkanku untuk ikut bersamanya ke kantornya. Dia menunjukanku jadwalnya yang sangat padat, bahkan saking padatnya, dia lupa menyisakan waktu untuk bernafas, aku heran kenapa sampai detik ini dia masih sanggup berjalan? Manusia di tahun waktu ini sangat suka menyiksa diri mereka sendiri, tidak memikirkan anak cucunya yang akan hidup di masa depan.
Dengan terburu-buru Robbie, berpamitan kepada kedua anaknya, dan saat aku berpamitan kepada mereka, merek menatapku dengan tatapan sangat sedih, dan mereka saling berbisik.
"Luna telah di culik oleh monster, dan dia ikutan menghilang." bisik Jean kepada saudaranya. Jeannette mengangguk setuju, "Mengerikan sekali, aku tidak mau dewasa, semua orang dewasa menghilang di culik monster." seru Jeannette, dan mereka berteriak histeris.
"Tidak ada ciuman manis untukku?" seruku, berusaha memanggil mereka.
Mereka mengintip dari balik pagar mainan, dan berlari lagi mendekatiku. Aku memeluk dan mencium mereka satu-satu, "Kalau aku mendapat laporan yang baik dari mr. Kifan hari ini, aku akan mengajak kalian bermain di taman bermain sepuasnya, bagaimana?" sahutku, menantang mereka.
Mereka mengangguk lagi, "Benarkah? Bersamamu? Horeeee....!!!!" sahut mereka.
...----------------...
Ruangan kerja Robbie berwarna putih, mulai dari dinding, sofa, meja kerjanya, dan tampak sangat sepi. Aku memandangnya, memperhatikan dia bekerja, menerima berbagai macam telpon, melakukan transaksi ini dan itu, menandatangani apapun yang diberikan oleh sekretarisnya, dia cukup sibuk, tapi aku bisa melihat dia kesepian. Tidak seperti laki-laki yang aku kenal, mulai dari papa, Kai atau pun V. Mereka pun sibuk tapi mata mereka memancarkan cahayanya masing-masing. Tetapi, tidak dengan mata Robbie, tidak ada cahaya yang memancar dari kedua matanya.
"Kenapa kamu berdiam diri melihatku?" tanya Robbie di saat dia sudah luang.
"Aku memperhatikanmu, dan aku bersedih untukmu." jawabku.
Robbie mundur, "Ada apa sih? Kenapa harus ada cahaya di mataku?" tanyanya galak.
"Ya, tandanya kamu kesepian, kamu tidak mempunyai kehidupan, dan kami sebenarnya tidak minat terhadap ini dan itu. Kamu hanyalah seorang yang kosong!" sahutku, menjawab pertanyaannya.
Robbie terdiam, dan menenggelamkan diri lagi ke pekerjaannya, "Buatkan aku kopi!" perintahnya.
"Aku tidak bisa, dan kalau pun aku bisa, aku tidak mau!" balasku.
Robbie menatapku kesal. Dan tiba - tiba pintu ruangan menjeblak terbuka dengan kencang, "Kata siapa pak Robbie sibuk? Lihat.. dia sedang berkencan dengan seorang anak kecil!" sahutnya.
"Billie??!! Ada apa kamu kesini?" sahut Robbie.
Ah, yah, Billie. Aku lupa namanya, dan kenapa dia terus mengatakan aku seorang anak kecil?! Menyebalkan sekali. Aku memperhatikan mereka berdebat, aku rasa sebentar lagi akan ada pertarungan dahsyat. Situasinya sama seperti kalau mama kesal terhadap papa, sahutku dalam hati.
"Aku dengar kamu membawa anak kecil itu kesini! Ada apa denganmu Rob?" sahut Billie dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Anak kecil itu asistenku sekaligus kekasihku, B! Kita sudah tidak ada hubungan apa pun! Kontrak batal, kita pun batal!" sahut Rob tidak kalah tingginya, "dan anak kecil itu punya nama, Luna! Panggil dia dengan namanya, Luna!" seru Robbie lagi.
Degggg....haruskah aku berperan menjadi kekasihnya lagi? Aku tidak mau!
Dan mendengar kata-kata Robbie, wajah Billie seakan di tampar dengan tangan yang sangat besar. Ada ketidakpercayaan di wajahnya, dan memandangku dengan pandangan jijik. Aku tersenyum dan menjabat tanganku, "Luna, panggil aku Luna." sahutku, dan kuberikan senyuman yang paling manis kepadanya. Kemudian, dia pergi dengan membanting pintu.
"Maafkan aku, Luna." sahutnya, dan tampak sangat lelah. Robbie menghela nafas, dan berpindah tempat duduk, menjadi duduk di sebelahku.
"Billie dan aku merencanakan untuk melakukan pernikahan kontrak, karena aku ingin menggabungkan saham B dan sahamku untuk bekerja sama dengan perusahaan yang lebih besar. Di tengah rencana kami, aku berpikir tidak ada salahnya aku menikahi Billie sungguhan, anak-anak membutuhkan sosok seorang ibu. Namun yang terjadi adalah Jean dan Jeannette tidak menerima Billie bahkan sebagai temanku, mereka menganggap Billie sebagai monster. Nancy pernah mendapati Billie mencubit tangan Jean hanya karena Jean tidak mau makan, Billie berkilah dengan mengatakan dia mencubitnya karena gemas, tapi itu meninggalkan bekas memar berwarna biru di lengan Jean. Aku terpaksa membatalkan pernikahan kami karena hal itu, dan dia tidak terima akan hal itu. Saat itu, aku memberinya alasan, aku jatuh cinta kepada seorang gadis, dan bertemulah aku denganmu. Nancy menceritakan bagaimana anak-anak begitu menerimamu, dan selalu mencarimu, maka hari itu aku memutuskan untuk bertemu denganmu, dan ternyata kamu seorang gadis yang menarik. Kamu tidak hanya cantik, tapi sangat menarik." sahut Robbie menjelaskan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa hidup dia sangat tidak bahagia.
"Terimakasih sudah terbuka kepadaku, aku akan berusaha menjadi teman baik untuk anak-anakmu. Aku menyukai anak-anak, dan aku menyukai mereka." sahutku, paling tidak itu salah satu usahaku untuk membuat hari ini mempunyai sedikit kebahagiaan.
Dan benar saja, ada sedikit cahaya yang memancar dari matanya. Aku tersenyum saat melihatnya.
.
...----------------...
.
**EPILOG
Kai POV**
"Dengar V, aku akan pulang ke tahun waktuku, ibuku membutuhkanku. Dari laporan Mark, kondisi disana mulai stabil, Mark mengundurkan diri dari jabatannya. Cepat atau lambat, Dream harus mengisi posisi kekosongan itu atau akan di ambil alih oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Mark memintaku mengisi jabatan itu untuk sementara, hanya sampai, kamu dan Dream menikah. Maka, aku bisa menyerahkan jabatan itu kepadamu." sahutku menjelaskan.
V terdiam, dia tidak bisa mengeluarkan satu patah kata pun. Aku paham dengan keterkejutannya mendengar berita yang sangat mendadak ini.
"Kenapa tidak kamu saja yang terus mengisi itu?" tanyanya ketika sudah bisa berbicara.
"Aku tidak bisa, dan aku tidak mau." sahutku.
"Dream tidak mau menikah atau saat ini dia belum mau menikah, Kai. Bahkan aku takut dengan hadirnya Robbie di hidupnya." sahut V, tampak cemas.
"Aku akan mengatakan ini saat dia libur nanti. Jadi dia berpikir dengan jernih. Sampai saat itu tiba, yakinkanlah dia untuk tidak berpalimg darimu, dan tolong, jadilah kuat untuk Dream, jangan sampai kamu kehilangan dia lagi. Aku percaya padamu, V." ucapku.
__ADS_1
...----------------...