
"Perasaanku sungguh tidak enak, Dream." sahut Kai malam itu, "aku takut terjadi sesuatu kepada Bry." katanya lagi.
"Aku juga. Tidak nyaman sekali rasanya. Semoga mereka baik-baik saja." kataku berharap.
Aku tidak tau apa yang terjadi dengan mereka, dimana mereka dan semoga mereka bersama-sama, tidak terpisah.
Jantungku terus berorkestra sejak sore tadi, yang ada di dalam benakku, hanya Bryanna. Apa yang terjadi dengannya? Apa dia baik-baik saja?
Oh, Tuhan, semoga Bry dan V baik-baik saja, dan tidak terjadi sesuatu apapun kepada mereka.
Aku dan Kai saling menenangkan, kami saling berpegangan tangan. Kai sesekali melihat ke luar jendela, berharap V atau Bry datang mengetuk pintu. Namun tidak ada yang mengetuk pintu rumah kami.
"Kai, kita tidur saja dulu yuk. Kita harus beristirahat supaya kita tetap sehat." ajakku kepada Kai.
Kai mengangguk, tapi dia tidak kunjung beranjak dari kursi depan. Aku menggandeng tangannya, "Kai...ayo." sahutku. Kai akhirnya mengikutiku, dan tertidur di kamar, sebaliknya, aku berjaga-jaga malam itu di sofa depan, dengan harapan V atau Bry akan datang menemui kami disini. Bagaimana pun caranya. Dan pada akhirnya aku menyusul Kai tertidur malam itu.
Esok paginya, kami tidak bisa keluar rumah karena adanya lockdown total akibat kenaikan angka virus yang terdeteksi. Alhasil, kami kembali menghabiskan waktu sepanjang hari di rumah.
Kai semakin terpuruk karena memikirkan Bry di tambah situasi mencekam yang melanda hampir seluruh kota saat ini.
Aku menyalakan televisi, hampir seluruh stasiun TV memberitakan tentang penyebaran virus SARS-CoV2 yang sangat cepat, dan kabar kematian yang mencekam. Akhirnya, aku menyalakan musik tenang untuk menghibur Kai.
Aku menarik tangannya, dan meletakkannya di pinggangku, aku mengalungkan lenganku di lehernya, "Berdansalah denganku, Kai." ucapku. Kami berdansa mengikuti alunan irama lagu itu. Saat musik berganti, aku mengajaknya melompat-lompat untuk menikmati beat musik yang kencang.
"Aaaaaahhhh... aku haus, Dream. Aku istirahat sebentar." sahut Kai.
Aku tertawa, "Kamu benar-benar sudah tua, Kai...hahahaha. Ayo kita beristirahat dulu." ucapku.
Kai membuatkanku minuman buah seperti mocktail, dan memberikannya kepadaku, "Terimakasih Dream, tadi lumayan menghiburku, dan membuatku sedikit lega." ujar Kai.
Aku mengibaskan tanganku, "Sudah kubilang kita harus saling menguatkan dan saling menghibur. Ini saat yang berat yang harus kita lalui." aku menjawabnya.
Kai mengangguk, "Aku tau. Besok giliranku yang akan menguatkanmu, aku berjanji." kata Kai berjanji.
Aku mengaitkan jari kelingkingku ke jari kelingkingnya, kemudian aku memutarnya ke arah ibu jarinya. Setelah itu, aku membuatkannya nasi goreng untuk kami makan siang, satu-satunya masakan yang aku bisa anti gagal. Dan aku selalu bangga karena aku selalu berhasil memasaknya.
"Apa yang kita lakukan setelah ini?" tanyaku. Kai mengangkat kedua bahunya.
"Apa kita tidak bisa keluar sama sekali?" tanyaku.
__ADS_1
"Bisa. Hanya untuk membuang sampah atau membeli keperluan saja." jawab Kai singkat.
"Aku tidak pernah tau, bahwa di tahun waktu ini manusia sangat menderita sekali. Membosankan sekali terkurung seperti ini sepanjang waktu." sahutku mengeluh.
"Ah, apa yang harus kita lakukan?" tanyaku lagi. Kai mengajakku keluar, "Ayo kita cari mainan." katanya.
"Mainan apa?" tanyaku.
"Mainan apa saja yang ada di tahun ini. Ayo, berdiri dan ganti bajumu." sahut Kai.
Setelah berganti baju, aku keluar bersama Kai. Kami berputar dengan menaiki mobil yang kami sewa, sambil mengecek kondisi gerbang waktu yang terdapat disana.
"Belum ada perubahan. Apa kira-kira yang terjadi yah?" tanya Kai.
"Percuma kamu bertanya kepadaku, karena aku tidak tau jawabannya. Semoga mama dan semuanya baik-baik saja disana." sahutku, sambil berdoa dan berharap.
"Dan, Kai, entah kenapa aku punya firasat kalau Bry bersama dengan V, dan sepertinya hari perkiraan lahir Bry akan lebih cepat." ujarku. Sebenarnya dari kemarin itu yang aku pikirkan, Bry tidak lemah, hanya saja perut Bry sudah turun sekali, Bry yang mengandung tapi terkadang aku yang mules. Jadi aku rasa dalam minggu-minggu ini dia sudah akan melahirkan.
"Apa yang mendasarimu untuk berpikir seperti itu?" tanya Kai.
"Entahlah, namanya juga firasat. Kalau pun dia melahirkan lebih cepat, semoga baik-baik saja. Dari kemarin, hanya itu doaku." ucapku.
V and Bry POV
"Tahan Bry...tahan..." sahutku. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan saat ini. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi, akan tetapi Bry selalu menarik rambutku atau mencakar lenganku saat kontraksinya muncul.
Sesampainya di rumah sakit, aku mengambilkan Bry kursi roda, tapi Bry menolaknya, "Biarkan aku berjalan!" katanya.
"Ta... tapi anakmu nanti...Arrgghh, baiklah Bry." sahutku menyerah pada sifat keras kepalanya.
Kemana Kai ini? Harusnya dia yang ada di samping Bry saat ini. Aku bisa pingsan kalau di haruskan melihat jalannya proses persalinan.
"Suster, tolong... sepertinya air ketuban saya sudah pecah." kata Bry kepada seorang perawat di lobi depan.
Perawat itu langsung memasukan Bry ke dalam kamar bersalin, "Bapak suaminya kan? Silahkan menemani istrinya, pak." kata perawat itu memintaku untuk menemain Bry selama proses persalinan.
"Bu...bu...bukan...saya bukan..." sahutku, namun perawat itu sudah menarik tanganku untuk masuk ke dalam ruangan bersalin.
Sesampainya disana, seorang perawat mengecek sudah bukaan ke berapa Bry itu.
__ADS_1
"Ini tadi ibunya sudah pecah ketubannya yah pak, dan setelah tadi saya cek, ternyata sudah bukaan 3. Biasanya akan cepat untuk menunggu bukaan -bukaan lainnya." kata si perawat.
Aku mengangguk bodoh, "Ba...baiklah." sahutku, karena aku tidak tau mau jawab apalagi.
Bry terus kontraksi, dan tampak lelah sekali, dia meminjam tanganku, dan menggenggamnya dengan kencang. Tak lama, perawat datang lagi, dan memeriksa Bry.
"Ini sudah bukaan 7. Saya panggil dokter sebentar yah pak." katanya.
Lagi-lagi, aku hanya bisa mengangguk bodoh.
"Kalau suatu saat Kai akhirnya datang menemukan kita, aku akan minta dia yang mengurus anak kami 24 jam selama 30 hari berturut-turut! Dia tidak melihat perjuanganku! KAI!!!" katanya sambil menahan sakit akibat kontraksi luar biasa.
Perawat kali ini masuk bersama dengan dokter, dan mengecek bukaan Bry lagi, "Bukaan 9, ngeden yah bu. Ibu nafasnya kayak meniup lilin sebanyak 3x, kemudian hembuskan, kemudian mengejan kembali. Begitu seterusnya. Kita mulai yah bu..." sahut perawat itu menjelaskan.
Bry tampak tidak paham, begitu pula dengan aku...seharusnya bukan melahirkan seperti ini yang di harapkannya.
Bry memandangku, aku membalas tatapannya untuk menguatkannya, kemudian aku mengangguk, dan dia paham. Bry mulai bernafas cepat seperti meniup lilin sebanyak 3 kali, dan menghembuskannya panjang kemudian mengejan.
Entah sudah berapa kali, Bry melakukan itu, tapi akhirnya kepala mungil kecil mulai menyembul dari bawah, dan aku merasakan mual luar biasa.
Dokter dan perawat memberikan semangat kepada Bry, "Ayo bu, yang ini harus kuat supaya dedeknya bisa keluar tanpa terjepit." katanya.
Bry mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya, sampai akhirnya bunyi tangis bayi terdengar memenuhi seluruh ruangan.
Bayi tersebut kemudian di letakkan di atas tubuh Bry, "Dedeknya perempuan, dengan berat 2,9kg, dan panjang 49cm. Tidak prematur yah bu, karena usia kandungan ibunya 8 bulan menginjak bulan ke 9. Selamat ibu, dan bapak." kata dokter bersalin itu, dan menyalami kami berdua.
Airmataku menetes terharu, betapa beratnya mengeluarkan seorang bayi, dan aku membayangkan bagaimana perjuangan Dream nanti saat mengeluarkan anak kami.
Perawat mengambil bayi Bry, dan bertanya, "Sudah ada namanya bu?" tanyanya.
Bry mengangguk, "Amber...Amber Eilia Johnson." jawab Bry.
Perawat itu kemudian mencatatnya, dan bergegas membersihkan bayi Bry.
"Nama yang bagus." sahutku.
"Dream yang membuatnya." jawab Bry, kemudian dia tertidur dengan masih memegangi tanganku.
...----------------...
__ADS_1