
"Benarkah kami bisa tinggal disini dalam waktu yang lama selamanya?" tanya Jean.
"Yup, tapi kalian harus menaati peraturan yang aku buat disini, dan harus sekolah sendiri." sahutku.
Mereka mengangguk dengan semangat, "Iya, Luna." jawab mereka serempak.
"Ah, mengenai panggilan, namaku Dream. Akan aneh sekali jika kalian tetap memanggilku Luna." ucapku, "dan satu lagi, sebelum aku lupa, 7 hari mulai dari besok, kalian akan bersama Quincy, ibu kalian." aku menjelaskan
Tampak sekali perubahan air muka mereka, "Tapi aku tidak mau mami Quincy." sahut Jean.
Jeannette menggeleng-geleng, "Aku juga tidak mau. Aku mau Luna Dream." sahutnya.
"Kecuali kalau Luna Dream ada disana juga, kami mau." sahut mereka.
"Aku tidak bisa menemani kalian, tapi aku sudah berjanji kepada mami Quincy, bahwa kalau kalian sudah bersamaku selamanya, dia minta waktu kalian hanya 7 hari. Sedangkan waktu untuk kita bersama-sama itu 365 hari. Banyak bukan?" ucapku menjelaskan.
Mereka berpandangan, "Baiklah. 7 hari, tidak ada tambah-tambah." sahutnya.
Aku berjanji kepada mereka, "7 hari." aku mengaitkan kelingkingku dengan kelingking mereka bergantian.
Aku sudah menyiapkan kamar untuk mereka, kamar mereka berhadapan dengan kamarku, jadi kalau ada apa-apa terhadap mereka, aku segera mengetahuinya.
Aku sudah menghubungi Robbie bahwa dalam minggu ini, aku tidak bisa membawa Jean dan Jeannete kesana karena mereka harus bersama ibunya selama tujuh hari.
"Kamu sudah benar-benar berjanji kepadanya?" tanya Robbie saat itu.
" Tentu saja, ketika aku berjanji, aku harus menepatinya, kan?" sahutku.
Robbie tersenyum padaku, "Bagaimana kabar dia?" tanyanya lagi.
"Dia baik, dia sangat baik kukira. Karena dia sudah hidup bersama pria yang dia cintai dan mencintainya." jawabku.
"Ah, benar juga. Hanya aku yang masih sendiri. Maukah kamu menemaniku, hahahahaha?" tanyanya. Entah sambil bercanda atau serius. Jadi, aku hanya menanggapinya dengan tersenyum.
Hari untuk mengantar Jean dan Jeannete pun tiba, karena tidak ada yang bisa mengantarku, (atau dengan kata lain mereka menolak untuk menemaniku hanya karena aku tidak mau naik pesawat, teman macam apa itu?!), jadi aku pergi menggunakan lorong waktu.
"Apa itu Luna Dream?" tanya Jean melihat satu pleton pasukan dan beberapa unit robot yang berjaga di depan lorong waktu.
Penjaga, dan pengawal ditambahkan karena berita tentang Jean dan Jeannete sudah menyebar ke seluruh negri.
"Perdana Mentri Dreamy Eve Memiliki Dua Anak Sekaligus, Siapakah Ayah Mereka Sebenarnya?"
Dan di pasanglah foto Robbie dan Voltaire bersebelahan.
"Clonnings Twins From Dreamy Eve? Akhirnya Kloningan Manusia di resmikan?"
Menurut Kai, "Apa bedanya berita jaman dahulu dengan masa kini? Sama seperti sampah! Tidak ada perbaikan dalam dunia jurnalis!" sahutnya kesal.
"Di masa ini, kata-kata itu beterbangan dan dalam bentuk hologram yang melayang-layang." jawab Bry, "dan itu lebih menakutkan." tambahnya lagi.
Maka dari itu, jumlah petugas satuan waktu di tambah, dan beberapa unit robot di tambahkan juga, dan banyak juga robot pers melayang-layang.
"Aku tidak akan menjawab pertanyaan apa pun dari pers, sampai Jean dan Jeannete berada di tanganku sepenuhnya!" sahutku menegaskan kepada Kai, V, dan Bry sebelum kami berangkat.
"Baiklah, aku akan merelease perkataanmu kepada pers." kata Kai.
Kami mulai di check untuk diidentifikasi terlebih dahulu, setelah itu baru diijinkan masuk ke dalam lorong waktu.
__ADS_1
Lorong waktu sudah di setting sesuai tahun waktu dan tempat tujuan kami. Pertama, aku menggendong Jean dan kemudian Jeannette di tangan sebelahku, dan kami mulai meluncur.
*Syuuutt...
Puuukk...
"Tunggu aku...aaaaaaa*!"
Pendaratan Jean dan Jeannete belum begitu mulus, dan mereka selalu jatuh tertumpuk satu sama lain. Untuk menuju ke rumah Quincy, kami hanya tinggal berjalan kaki saja, dan sampailah kami disini.
"Hallo Quincy." sapaku.
"Oh, anak-anakku." sahut Quincy memeluk mereka.
Sebelum aku meninggalkan mereka, aku berpesan kepadanya, "Kalian disini selama tujuh hari, oke? Dan jika, hanya jika, kalian benar-benar ingin bersama mami Quincy pada akhirnya, itu tidak akan menjadi masalah bagiku. Dan kalau kalian tetap mau tinggal bersamaku, aku sangat berterimakasih sekali. Oke, sekarang peluk aku." sahutku kepada mereka. Dan mereka memelukku.
"Danke, Luna Dream." sabut Quincy.
Aku mengangguk dan bergegas pergi, melambaikan tanganku kepada mereka, apapun keputusan mereka nanti, aku akan menerimanya dengan kuat.
...----------------...
5 Days Later
"Kai...!!!"
"Kai..!!! Bryanna!!!"
"Hei, ada apa denganmu, kenapa kamu berteriak seperti itu?!" sahut Kai.
"Mana istrimu?" tanyaku.
"Ikuti aku!" sahutku, dan menarik tangan Kai. Kai menuruti kemauanku.
Aku menemukan Bry, di ruang kerjanya, "Hai, Bryanna, pulanglah sekarang!" tukasku.
Bry menengok ke arahku, tanpa membagi fokusnya kepadaku, "Kenapa?" tanyanya
"Apa kalian berhasil membuat anak?" tanyaku.
Bry dan Kai terbatuk-batuk, "Uhuk...uhuk... kamu pikir, kami mesin?" sahut Kai ketus.
"Dan apa yang ada di pikiranmu, Dream?! Menurutmu, untuk menjadikanya seorang anak hanya dengan satu kali celup??!! Apa kamu tau, mereka harus saling berkelahi dulu untuk bisa menembus pertahananku??" tukas Bry menggelengkan kepalanya.
"Aah...aku rindu Jean dan Jeannete...." sahutku.
"Buatlah bersama Voltaire! Menikahlah, dan giatlah kamu membuat anak!!" seru Bry.
Aku meninggalkan Kai dan Bry, dengan langkah terseyok-seyok, membuat anak memang lebih mudah menggunakan cloning daripada harus bermain celup-celupan seperti itu, tapi kalau memakai clonning belum tentu hidup lama.
The Day
"Akhirnya... Ayo V temani aku, kita pakai lorong waktu saja." sahutku menarik baju V.
"Eh...eh... tapi bagaimana kalau mereka tidak mau pulang?" tanya V.
Benar juga? Bagaimana kalau itu terjadi?
__ADS_1
"A...aku akan membuat anak bersamamu, setiap pagi, siang, sore dan malam. Kita akan membuatnya sampai jadi!" sahutku.
V tertawa terbahak-bahak, "Bwwwwaaaahahahahahaha, kamu menggemaskan sekali, Dreamyku!!" sahut V, "Ayolah, berharaplah yang terbaik." katanya.
Kami kembali menyebrangi waktu, dan tidak beberapa lama, sampailah kami di Wiesbaden, Mainz.
"Hallo Quincy." sapaku.
"Luna Dream, hallo, silahkan masuk." sahutnya ramah. Tak lama, Jean dan Jeannete menurunk tangga dengan ramai, dan bunyi gledak gleduk, "Luna Dream...Luna Dream!!!" sahut mereka dan memelukku.
"Hei, apa kabar kalian?" tanyaku kepada mereka.
"Kami sangat baik, Luna Dream. Disini indah sekali, mami Quincy mengajak kami untuk memetik blueberry dan papa Bernie mengajak kami memancing di sungai, disana itu." sahut mereka bersahut-sahutan.
Quincy memeperhatikan mereka, dan ada secercah harapan di matanya. V menangkap tatapannya itu, "Jadi, bagaimana? Apa kalian akan ikut dengan kami atau tinggal disini?" tanya V.
Mereka terdiam, dan suasana menjadi canggung, jantungku berdegup kencang, tapi aku tetap berusaha untuk tersenyum.
"Kami akan ikut denganmu, tentu saja, Luna Dream. Kamu sudah berjanji untuk hanya tujuh hari saja." sahut Jean. Dan aku memeluk mereka, "Terimakasih sayang. Terimakasih." sahutku. Aku tidak bisa menahan rasa haruku.
Quincy terbatuk, untuk memecahkan suasana kami, "Ehem, terimakasih sudah menepati janjimu, Luna Dream. Tujuh hari ini merupakan keajaiban untukku. Aku bisa menjadi ibu untuk mereka selama waktu itu." sahutnya.
Aku memeluk Quincy, "Aku akan mengunjungimu kesini walaupun tidak sering." sahutku. Quincy memelukku kembali.
Setelah berpamitan, kami akhirnya pulang, gerbang waktu masih terbuka.
"Apa kalian mau naik pesawat?" tanya V.
Jean dan Jeannete menggeleng, "Kami mau naik sliding." katanya.
"Oke!" sahut V dan menggandeng mereka untuk memasuki lorong waktu.
*Syuuuttt....
Syuuuttt...
"Owch".
"Oh, sepatuku*....!!!"
Setelah pendaratan penuh drama, aku mengajak mereka ke rumah orangtuaku untuk kukenalkan kepada mereka, dan saat memasuki pintu gerbang rumah orangtuaku, ternyata mereka menyiapkan kejutan, "Selamat datang di masa depan, Jean dan Jeannete!!"
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
"Wei, Voltaire, segeralah menikah dengan Dreamy itu! Dia selalu mengusik kehidupanku, seperti tadi dia memintaku dan Bry pulang hanya untuk membuat anak. Aku tidak paham jalan pikirannya." sahutku lelah.
"Tenang sobat, setelah Jean dan Jeannete memutuskan, aku akan segera melamarnya. Bersabarlah. Orang sabar pasti kesal." jawab V, dan menepuk pundakku.
"Baguslah kalau seperti itu. Tidak perlu pakai pesta, yang penting aku sudah tergantikan olehmu." sahutku tenang, "Bagaimana kalau Jean Jeannette tidak mau kembali?" aku bertanya, mengungkapkan kekhawatiranku.
"Ya, terpaksa, kamu harus giat dalam membuat anak, Kai. Dan kalaupun Bry sudah melahirkan, mereka akan berebut mengurus anakmu." jawab V santai.
Aku membayangkannya dengan kengerian terlintas di benakku, "Baiklah, jaga staminamu, dan bersiaplah malam ini, V. Aku mendukungmu!" sahutku, "Aku akan berkemas, pergi jauh dari sini." ucapku lagi menambahkan.
__ADS_1
...----------------...