
Sarah Eddison termasuk wanita pekerja keras, tidak sampai tiga puluh hari, saham atas nama Jean dan Jeannete berhasil berpindah tangan, menjadi atas nama Robbie Stans untuk dua saham tersebut.
Robbie sempat meminta saham yang satu lagi atas namaku, tapi aku menolaknya. Urusan saham selesai, sekarang kami mencoba untuk menyelesaikan masalah hak asuh secara kekeluargaan.
"Apakah klien anda setuju, hal ini tidak perlu dibawa ke meja hijau, kecuali untuk mengurus peralihan hak asuh?" tanya Derrick.
Robbie berbisik di telinga pengacaranya, "Menurut klien saya, beliau sudah mempertimbangkan gugatannya, dan hasilnya beliau mencabut bandingnya, dan akan bekerja sama untuk membantu proses peralihan hak asuh anak-anaknya." jawab pengacara Robbie.
"Apa ini sudah keputusan akhir klien anda?" tanya Derrick lagi.
Robbie mengangguk, "Aku mencintai anak-anakku, dan yang paling utama, aku kira aku mencintai Luna Dream, sehingga aku tidak mau dia jauh dariku, dan aku memintanya untuk menikah denganku." jawab Robbie.
Wajah V seperti di tampar, namun Kai mencegahnya, "Sabarlah V. Dia hanya mengungkapkan kejujuran, kita terima itu." jawab Kai.
Sejak Robbie berkata dia mencintaiku, aku menunduk, dan berpikir, bagaimana dia bisa mengulang rasa cintanya kepadaku?
"Saudara Dream, apa anda akan meneruskan masalah ini ke meja hijau, dan tetap akan menggugat Robbie Stans?" tanya Derrick.
Aku menggeleng, "Tidak perlu. Aku berterimakasih kepada Robbie, karena sudah mencabut bandingnya." sahutku, membungkukkan badanku kepadanya.
Robbie berbisik kembali kepada pengacaranya, "Klien saya mengajukan syarat." sahutnya.
Derrick bertanya, "Apa syaratnya?"
"Jika putusan pengadilan sudah keluar dan sah, klien saya ingin setiap 2 kali dalam seminggu, Luna Dream dan anak-anaknya wajib datang ke rumah Robbie, dan sebisa mungkin Luna Dream menginap disana." jelas pengacaranya.
Aku menepuk keningku, "Selalu mementingkanmu, ya Rob. Baiklah syarat di terima." sahutku.
Kai dan V berbarengan menatapku, "Kamu gila, Dream?!" tanya Kai.
"Wah, Dream sama seperti namanya suka memberikan mimpi kepada orang lain." sambung V.
Aku melotot ke arah V. Aku masih sedikit marah kepadanya, karena dia meninggalkanku, dan lebih memilih Sarah Eddison. Huh!! Walaupun pada akhirnya dia menyusulku dan meminta maaf.
"Maksudku, adalah, bagaimanapun juga Rob ini yang sudah mengurus Jean dan Jeannete sejak bayi, pasti mereka juga akan merindukan Rob, aku tidak tau akan seberapa besar rasa rindunya, tapi paling tidak, dalam seminggu itu, mereka tetap bisa bertemu dengan papanya." jelasku kepada V, "Bukan berarti aku pemberi mimpi, kan?" tambahku ketus kepada V.
"Oke, jadi dari pihak Dream, menyetujui persyaratan yang di ajukan oleh pihak Robbie?" tanya Derrick
Aku mengangguk, V masih menatapku, "Bisakah aku menemaninya menginap disana?" tanya Robbie.
Robbie dan pengacarany, berdiskusi dengan berbisik-bisik dan mengangguk, "Boleh tapi tidak menginap di rumah Robbie." sahut pengacaranya.
V setuju dengan berat hati. Akhirnya tinggal menunggu putusan pengadilan, setelah itu kami akan mengantarkan Jean dan Jeannete kepada Quincy untuk menginap disana selama seminggu.
...----------------...
Aku kembali ke tahun waktuku, Robbie meminta selama putusan pengadilan belum turun, aku dilarang untuk membawa Jean dan Jeannete ke tahun waktuku.
"Aku akan berpisah dengan mereka, bagaimana pun, teman berdebatku akan hilang, sekaligus dua." kata Robbie.
__ADS_1
Dan aku menyanggupinya, jadi ketika nanti aku berkunjung, aku tidak diijinkan membawa Jean dan Jeannette menginap.
"Dream, jadwalmu hari ini...." sahut Robbie.
"Aku sudah melihatnya." aku menjawab V.
V menarik tanganku, "Ada apa denganmu, Dream?" tanya V.
"Tidak kenapa-kenapa." sahutku ketus.
"Masalah Sarah, kemarin aku sudah meminta maaf kepadamu. Lalu kenapa kamu masih marah kepadaku?" tanya V.
Aku mengehela nafasku, "Dia sangat cantik, V, dan sangat tinggi, badannya juga bagus, apa saja yang dia kenakan selalu tampak bagus. Dan kehadirannya, jujur saja, itu mengintimidasiku." sahutku, "Dan kamu tampak senang sekali mengobrol bersamanya." jawabku lagi.
V tertawa, "Keluarga kami memang tinggi, Dream. Dia sepupu jauhku. Memang kami tidak ada hubungan darah, tapi aku menganggap dia seperti keluarga, bukan seorang
wanita. Dia memang cantik, tinggi, sama sepertiku, kan? Aku tinggi, tampan, dan apa yang kukenakan selalu tampak menarik." jawabnya sambil tertawa kecil.
"Aku dekat dengannya saat aku masih berhubungan dengan Bry. Kamu tau, Bry tinggal di Perth, begitu pula dengan dia. Saat itu aku menyusul Bry kesana, dan karena kesibukan Bry, Sarah yang menemaniku." jawab V lagi menjelaskan.
"Jadi, kamu tidak perlu cemburu, Dream. Aku sudah memberitahunya, bahwa kamu wanita pilihanku, dan kamu orang yang sangat penting di hidupku, dan aku juga berkata kepadanya kalau aku sangat jatuh cinta kepadamu." sahut V menambahkan.
Aku menatapnya yang saat ini sedang tersenyum lucu kepadaku, "Be...benarkah begitu?" tanyaku.
"Benar dong." jawabnya.
Kemudian, dia mendekatkan wajahnya ke arahku, dan menciumku lembut, aku membalas ciumannya. Setelah itu dia melepaskan ciumannya, tapi selama sepersekian detik, entah datang darimana, aku memiliki keberanian untuk menariknya kembali dan menciumnya.
"Ehem....!! Get a room, sir!!"
"Ehem...!!!"
Kai berdeham keras di belakang kami, kami melepaskan ciuman kami, dan ikut berdeham juga, "Aku rasa, bayi itu akan lebih cepat berada di perutmu, bahkan sebelum putusan pengadilan keluar." sahut Kai ketus.
V tertawa, "Tenang, sobat. Aku bisa menunggu sampai resepsi pernikahan tiba. Aku akan mengoyak baju pengantinnya nanti...hahahaha!" katanya.
Bry datang dan bergabung bersama kami, "Sayang sekali, aku melarangnya!" sahut Bry.
"Benar, aku juga tidak mengijinkanmu untuk mengoyak gaun pengantinku, itu bisa di wariskan. Belikanlah aku baju seperti Chaim membelikanku." sahutku tersipu.
V tertawa, dan mencubit pipiku, "Baiklaaahhh, aku akan membelikanmu." sahut V.
Kai mengambil tablet yang di jatuhkan V, "dan kalian menjatuhkan INI??!! INI BARANG MAHAL!! Astaga, pemborosan anggaran!" sahutnya sambil berdecak dan menggelengkan kepalanya.
A Moment Later
Kai menghubungiku, "Bersiaplah, putusan pengadilan sudah keluar." sahutnya.
Aku membatalkan seluruh jadwalku hari itu, "Dan aku tidak akan mendelegasikan siapa pun untuk mewakilkanku, kecuali orang kepercayaanku." sahutku saat rapat dadakan hari itu.
__ADS_1
Setelah aku menugaskan beberapa orang untuk menggantikan beberapa tugasku, maka aku segera bergegas menemui Derrick.
"Bagaimana?" tanyaku kepada Derrick begitu sampai disana.
"Kita tunggu Sarah, dan Robbie beserta tim pengacaranya." sahutnya tenang, "duduklah dulu, mau donat lagi, Dream?" tanya Derrick menawarkan.
Itu niat awalku, tapi begitu nama Sarah disebut, "Tidak, aku sudah kenyang, terimakasih Derrick." sahutku.
"Kamu yakin? Kemarin kamu doyan sekali loh, Dream." ucap Derrick lagi, "Aku juga belum makan, aku akan memesannya." katanya lagi menggodaku.
Sekarang aku tahan godaan, "Silahkan, aku sedang diet." jawabku singkat.
Kai dan V terbatuk-batuk mendengar ucapanku, "Apa yang kamu dietkan, Dream? Baru tadi aku mendengar seseorang atau bahkan robot penggantimu, berkata kepadaku aku ingin donatnya, ayo kita bertemu di kafe itu lagi, dan tampaknya, apa itu yang putih-putih dengan cairan berwarna cokelat? Itu tampak enak sekali, kan? Apa kamu mengingatnya? Hahahaha...atau apa kamu cloningan Dream?" tanya Kai lagi.
"Putih-putih dengan cairan cokelat itu bernama cireng sambal rujak, Dream. Dan itu enak sekali. Aku akan memesannya satu porsi saja. Kamu benar-benar diet kan? Jadi aku tidak akan memesankanmu." seru Bry.
Benar saja, donat dan cireng adalah racun yang menggoda sekali. Begitu racun-racum itu datang, aku mengambil hanya satu dari tiap mereka, semua mata memandangku, "Aku hanya mengambil satu. Hanya satu?" tegasku.
Tak lama, Sarah dan Robbie datang. Pengacara Robbie yang mendapatkan kehormatan untuk membacakan hasil putusan pengadilan.
"Dengan ini menyatakan hak asuh dan hak wali anak uang bernama Jean Ray dan Jeannete Ray jatuh kepada Saudari Dreamy Eve." sahut pengacara Robbie.
Aku bersorak dengan bahagia.
...----------------...
**EPILOG
V POV
Flashback**
"Voltaire, masuklah, begitu mama kamu telpon, tante langsung masak untukmu, ayo." sahut tante Sandra, adik mamaku.
"Iya tante, terimakasih." jawabku, dan masuk ke dalam rumahnya. Tak lama keluarlah, seorang wanita tinggi, cantik dan bermata hijau.
"Ini sepupu kamu, anak tante, belum pernah ketemu kan?" ucap tante Sandra dengan cepat.
Aku berdiri dan menjabat tangannya, "Voltaire." sahutku.
"Sarah" katanya. Kemudian dia pergi, "Sarah, anak tante kuliah disini jurusan hukum" kata tante Sandra.
Aku sedang berada di tempat Bryanna kekasihku, kami LDR selama setahun, dan aku baru kali ini mengunjunginya. Kebetulan kata mama, aku punya saudara jauh disini, jadi mama menawarkanku untuk menginap di rumah tante Sandra ini.
Aku dan Sarah cepat akrab, kami saling berbagi cerita, bahkan dia selalu menemaniku untuk menemui Bryanna disana. Tante Sandra juga mengenal Bry dengan baik.
Sampai pada suatu hari, Sarah mengungkapkan perasaannya, "Apakah sepupu boleh menikah?" tanyanya.
Aku mengangkat bahuku, "Kenapa?" tanyaku.
__ADS_1
Dia mengambil cincin yang terbuat dari benang berwarna merah, "Saat ini kamu berpacaran dengan Bry, tapi saat kita dewasa nanti, aku akan menikahimu." sahutnya, "Karena aku suka padamu." katanya menambahkan dan memakaikan cincin benang itu ke jari manisku.
...----------------...