
Akhirnya hari kepulanganku pun tiba. Aku berpamitan kepada V, dan kepada semua petugas hotel yang telah melayani kami dengan baik. Sebelum petugas patroli waktu, menjemput kami, aku meminta Kai untuk membeli cemilan dan berbagai macam snack yang ada di tahun waktu ini, seperti bakso, mie ayam, cimol, sempol ayam, cilok, juga siomay. Ketika V mendengar hal itu, dia meminta kami memundurkan kepulangan kami 1 jam lebih lambat.
"Daripada kamu hanya membawanya, sekalian saja kita makan semua cemilan itu disini. Kapan lagi kan kamu kesini?" begitu kata V.
"Ide yang sangat brilliant V, luar biasa." sahutku, dengan mata berbinar-binar, "boleh yah Kai...yah...yah?" pintaku kepada Kai, dan aku memasang sinar mata super ekstra berpendar, sehingga Kai luluh, "Baiklah...baiklah" jawabnya tidak sabar.
"Yeeeiiiiyyyy, makasih Kai" sahutku, memeluk Kai.
...----------------...
Setelah kenyang makan, kami bergegas pulang, "Ah sayang sekali..." sahutku menatap sekumpulan gerobak jajanan tersebut.
"Lihat perutmu Dream, aku bahkan bisa menyembunyikan diriku di dalam lipatan perutmu" sahut Kai.
"Tidak sopan!! Mana mungkin begitu kan Kai?!!" jawabku. Tapi memang, perutku rasanya hampir meletus, aku rasa aku akan muntah saat melewati pusaran nanti. Membayangkannya saja aku sudah mual.
"Sepertinya aku mabuk" sahutku, V tertawa melihatku, dan Kai tampak kesal, "Awas saja kalau kamu sampai muntah di atas kepalaku saat berada di pusaran!" katanya. Aku memberikan cengiranku, dan membuat 2 jari di depan wajahnya, "Tidak, aku akan menahannya, kalau sampai itu terjadi, aku minta maaf" jawabku.
Tidak lama, seorang wanita bercepol dengan seragam hijau kecoklatan mendekati kami, "Sudah siap?" tanyanya. Petugas patroli waktu sudah datang menjemput, tandanya di sekitaran loromg sudah tidak ada orang lalu lalang, dan kami bisa segera masuk ke dalam loromg waktu tersebut. Aku dan Kai berpamitan kepada V, dan dia mengantar kami hingga ujung lorong, aku memeluknya, "Bye V, senang bisa berjumpa denganmu lagi" sahutku. V membalas pelukanku, "Tunggu aku yah Dream, aku akan menyusulmu" sahutnya. Aku tertawa, dan mengangguk asal. Karena mana mungkin kan? Hehehehe... Setelah berpamitan,kami segera memasuki lorong waktu, dan melompat ke arah pusaran waktu. Kami pun berputar-putar di pusarannya, yang makin lama makin cepat, gawat... aku mau muntah!!! seruku dalam hati. Tahan...tahan..Dream, tidak lama pusaran itu mulai berputar melambat, dan...syyuuuut...pluk...
Hhhuueeeekkkk... Aku memuntahkan semua makananku ketika kami mendarat, untungnya tidak mengenai Kai, namun dia menatapku seperti singa yang akan menerkam mangsanya, "Hehehehe...aku berhasil tahan kan, dan tidak memuntahkannya di dalam pusaran" sahutku, mencoba menurunkan emosi Kai.
"Dasar bodoh!!! Lain kali kalo kita mau pulang, jangan makan terlalu banyak!!!" sahutnya. Aku hanya memicingkan mataku, dan mengalihkan pandanganku dari tatapan Kai.
"Kan aku sudah minta maaf, dan lagi, itu sama sekali tidak mengenai kamu!" sahutku, kemudian mengambil mobil terbangku, dan kami pun kembali.
Sesampainya di rumah orang tuaku, papa dan mamaku nampak berlari-lari mendatangiku dengan tangan mereka terbuka lebar, wah ini seperti yang ada di televisi V, batinku. Aku pun ikut berlari, "Aaahhh.... aku rindu." sahutku, menjatuhkan diriku ke dalam pelukan kedua orang tuaku. Kai melihat kami, aku tau dia merasa bersalah, dan saat ini Kai sedang menunggu hukuman dari papaku.
"Pa, jangan terlalu keras kepada Kai. Kemarin aku yang memintanya untuk berjalan terpisah, karena untuk mengurangi timbulnya kecurigaan Rufus terhadapku, dan lagi, saat itu, aku memang sedang melakukan penyamaran." sahutku. Papa memandangku, "Aku akan bicara denganmu juga, tunggulah!" katanya. Kemudian papa berjalan, menghampiri Kai, entah apa yang terjadi dan apa yang mereka bicarakan. Mama lantas membawaku ke dalam.
Beberapa waktu kemudian, papa datang dan mengajakku berbicara, "Dream, kejadian kemarin, papa mohon jadi pembelajaran untuk kamu, jangan pernah bertindak sendiri dan selalu merencanakan sesuatu dengan matang," aku menganggu, "Iya papa, aku mengerti" jawabku. Setelah berbicara tentang tugas-tugasku yang lain, papa mengajakku untuk istirahat disana.
...----------------...
"Woi Dream, ayo jalan!" sahut Kai di depan ruanganku. Aku tidak menatapnya, "Tunggu, biar aku selesaikan ini sebentar lagi." Kai mendekatiku, dan melihat apa yang aku kerjakan, "Bikin apa sih?" tanyanya.
__ADS_1
"Laporan Rufus loh, aku membuat pembelaan untuknya. Hari ini dia sidang kan, ah aku ingin melihatny." sahutku. Kai menepuk kepalaku, dan tersenyum, "Berharaplah yang terbaik untuknya" sahut Kai lagi. Aku mengangguk.
"Ah semoga minggu-minggu ini berlalu dengan tenang yah Kai" sahutku, berharap.
"Tapi mana mungkin kan? Kalau kamu bekerja di divisi satuan waktu, tidak akan pernah tenang, bukan?" sanggahnya. Aku memberengutkan bibirku, "Itu benar, tapi tidak ada salahnya berharap kan?" sahutku. Kai tertawa, "Hahahaha...boleh dong berharap, tapi semesta pun tau kalau kita berhadapan dengan waktu tidak akan pernah tenang"
"Hei, lihat!! Ada notifikasi apa itu?!" tanya Kai, "Warna orange, bukankan notifikasi kalau ada penyelundup waktu?" tanya Kai lagi.
"Lagi??" jawabku, "Para petugas satuan waktu itu mungkin harus di bekali dengan alat untuk melumpuhkan para penyelundup waktu ini!" sahutku kesal.
"Ide bagus, ajukan proposalnya supaya segera di proses" sahut Kai.
Kami segera bergegas menuju pos masing-masing. Aku melihat, papa berjalan terburu-buru juga.
"Sudah dapat info dari tahu waktu berapa?" tanya papa. Kai menggeleng, "Belum pak. Kami baru mendapat info 5 menit yang lalu" jawab Kai. Papa mengangguk, "Hati-hatilah, dan Dream, jangan bergerak sendiri!" sahut papa.
"Baik pak Mark" sahut kami mengangguk.
Papa sudah jalan lebih dulu, dan kami mengikuti dari belakang. Tidak lama, cincin proyektor Kai, berkelap-kelip, Kai membukanya, dan nampaklah rekan kami, Bernie melayang-layang di udara, "Aku sudah mendapatkan datanya, tapi belum lengkap" katanya.
"Dari tahun waktu berapa?" tanya Kai lagi.
"Banyak manusia di tahun 2022, bukan berarti V, tenang Dream" sahutnya menenangkanku. Kai seperti membaca pikiranku.
"Temui aku di markas, bawa penyelundupnya kepadaku, tahan disana!" sahut Kai.
"Bern, bawa ke ruanganku saja" sahutku buru-buru. Bernie mengangguk, dan mematikan panggilannya.
"Untuk apa Dream?! Dia bukan Voltaire!" sahut Kai.
"Aku tau, tapi aku punya firasat kita mengenalnya Kai" sahutku. Kai hanya menggelengkan kepalanya, dan mempercepat laju kendarannya. Sesampainya di kantor, kami bergegas ke ruanganku, namun asisten papa segera menemui kami, begitu tau kami sudah tiba, "Pak Mark ingin bertemu" katanya. Kembali, aku dan Kai berpandangan, ada apa lagi ini? Kami mengikuti perintahnya, dan memasuki ruangan papa. Begitu melihat kami datang, papa meminta kami duduk, dan menjabarkan banyak data melayang-layang di atas meja kerja papa.
"Lihat datanya, aku rasa kalian mengenalnya" sahut papa. Aku membaca datanya, :
Nama : Brissia Bryanna
__ADS_1
Umur : 28 tahun
Tempat tanggal lahir : Perth, 24 Februari 1994
Alamat : Rd. Perth, WA 6000
Data tersebut disertai dengan foto, dan betapa terkejutnya kami, itu Bryanna.
"Kami akan segera membereskan ini, pak" sahut Kai. Papa memandang kami berdua, "Waktu tidak untuk bermain-main, kalian paham? Tidak ada yang boleh melewati waktu hanya untuk sekedar bertemu" kata papa. Kami mengangguk, dan segera ke ruanganku untuk menemui Bry. Dan benar saja, ketika kami masuk ke dalam ruanganku, Bry sudah ada disana.
"Hai Dream, Hai Kai, lama tidak jumpa" sahutnya sambil nyengir santai, dan melambaikan tangannya.
...----------------...
**EPILOG
BRY POV**
Aku akan pergi ke tahun waktu Dream. Aku akan tinggal disana, dan mengajukan pengajuan permanent resident disana. Tapi bagaimana caranya. Aku mengambil ponselku, dan aku mengirimkan pesan untuk V. Kami sudah tidak berhubungan lagi, dia ragu dengan perasaannya sendiri. Dasar laki-laki tidak jelas!
"Hai V, apa kabar?" dan aku mengirimkan pesanku kepadanya. Tidak lama balasan dari V muncul,
"Baik, maaf Bry, aku harus bekerja. Nanti akan kuhubungi kembali" jawabnya dalam pesan.
Baiklah, aku akan susul dia. Aku menghampiri tenoat kerja V, eh, dia sedang bersama Dream. Apa yang mereka lakukan?! Aku mendekati mereka, namun bajuku ada yang menarik dari belakang.
"Apa yang kamu dengarkan, Bryanna?" tanya suara yang aku kenal.
"Hai Kai" sahutku, "Aku hendak menemui V di tempat kerjanya, tapi aku lihat dia sedang bersama Dream" jawabku.
"Biarlah mereka menghabiskan waktu berdua, karena kita tidak tau kapan lagi akan bertemu, bukan? Kami akan segera pulang ke tahun waktu kami, petugas patroli waktu sudah menunggu kami di setiap lorong waktu." jawab Kai.
Tiba-tiba aku mendapat ide cemerlang.
"Baiklah kalau begitu, sampaikan salamku untuk Dream, nanti aku kesini lagi" sahutku. Kai mengangguk.
__ADS_1
Aku memutari daerah sekitaran situ, yang sekiranya di jaga oleh sekelompok petugas berseragam aneh. Ah, ada satu, sekarang tinggal bagaimana aku bisa masuk ke dalam lorong waktunya. Aku menunggu disana, ah, mereka pergi untuk menjemput atau mengawal putri perdana mentri itu mungkin, aku tidak melewatkan kesempatanki, dan aku masuk ke dalamnya.
...----------------...