
Akhirnya aku keluar dari rumah sakit setelah beberapa waktu aku menghabiskan waktuku disana. V selalu menemaniku, dari pagi hingga pagi lagi. V memanggil taksi, dan memintaku untuk masuk ke dalamnya.
"Dimana kita sekarang?" tanyaku kepadanya. Dia selalu menjawab, "Fokus sembuh dulu, setelah keluar dari sini, silahkan tanyakan kembali." begitu yang V selalu ucapkan. Jadi sekarang aku menagih janjiku.
"Mungkin, sekitar tahun 1986-1985." jawabnya.
"Tahun apa itu?" sahutku. V mengangkat bahunya. Kemudian dia berbisik di telingaku, "Aku juga belum lahir di tahun ini." jawabnya.
Aku memegang kedua pipiku, "Terus, bagaimana kita akan makan atau tidur? Kalau tau akan seperti ini, aku tidak mau keluar dari rumah sakit." sahutku.
V tertawa, "Hahahaha.. Kalau kamu sudah bisa protes, tandanya sudah sehat."
"Bagaimana kamu membayar semuanya itu?" aku bertanya penasaran.
V tersenyum, "Dengan sedikit ini dan sedikit itu...hahahaha" jawabnya misterius.
"Dan akan kemana kita sekarang?" tanyaku lagi.
"Rumah nenekku. Di tahun ini, nenekku masih hidup, aku punya tanda lahir di panggul kananku, kamu tau? Dan itu seperti tanda pengenalku, dan nenek langsung percaya kepadaku." jawabnya.
"Benarkah? Kamu punya tanda pengenal seperti itu?" tanyaku kagum. Ternyata tidak harus chip untuk di jadikan tanda pengenal, tanda lahir pun bisa, hebat sekali. Apa aku juga punya?
"Ah, tapi V, kenapa aku tidak pernah melihat tanda pengenalmu?" tanyaku heran.
"Karena kita belum pernah bermain sampai di bawah sana..hahahaha" jawabnya menggodaku. Aku bisa merasakan panas di wajahku karena mendengar jawabannya.
Aku merindukan saat - saat tertawa bersamanya sebelum peristiwa penculikan atau pun pembatalan pernikahan itu. Andai itu tidak terjadi, apakah saat ini aku sedang hidup berbahagia dengannya atau apakah kami sudah mempunyai seorang anak? Entahlah.
"Heh, bengong aja, ayo masuk." sahut V. Tak terasa kami sudah sampai di rumah nenek V. Seorang wanita paruh baya, dengan senyum tulus, rambut di konde, dan memakai baju kebaya kain, keluar menyapa kami.
"Eh, sudah sampai. Iki bojomu toh le'?" sambut nenek V. Aku tidak paham nenek V bicara apa. V tersenyum, dan nenek mengajak kami untuk masuk ke dalam. Aku berjalan menggunakan crutch ( tongkat penyangga di ketiak untuk membantu berjalan).
"Nje mbah...iki Dream, bojoku, dari tahun sana." sahut V. Aku melihat V melakukan gerakan membungkuk dan mencium punggung telapak tangan nenek (salim atau salaman), aku mengikuti salam V kepada neneknya.
"Oalah, ayu sanget. Naminipun sinten?" tanyanya. Aku menengok ke arah V, tidak mengerti. *oalah, cantik sekali. Siapa namanya?*
"Dream, mbah. Kala-wau sampun kula sebataken, naminipun, Dream." jawab V. *Dream, mbah. Tadi sudah saya sebutkan kalau ini namanya Dream* Aku memandang mereka bergantian. Entah aku berada di planet mana saat ini.
Nenek yang di panggil mbah itu mengajak kami ke ruang makan.
__ADS_1
"Sapunika nedha rumiyin. Nedha sawontenipun mawon yah. Mugi-mugi remen kalih makananipun." sahutnya lagi sambil tersenyum, dan menyiapkan nasi beserta segala - galanya untuk kami. *Makan dulu. Makan pakai lauk seadanya. Semoga suka sama makanannya*
"Mbahku ini bahasa jawa alus, wajar kalau kamu tidak mengerti. Aku paham sedikit" sahut V menjelaskan kepadaku, "nanti aku kasih tau si mbah untuk bicara pakai bahasa kita saja yah." sahutnya lagi sambil tersenyum.
Aku mengangguk, pantas saja aku tidak paham, di tahun waktuku mungkin pulau itu sudah menghilang dan menjadi satu dengan lautan. Makanan di tahun ini pun, tidak pernah aku lihat, tapi rasanya cukup enak.
"Dream, aku disini harus bekerja, kita tidak tau sampai kapan kita disini, semoga lorong waktu segera terbuka kembali. Dan, si mbahku ini taunya kita suami istri, jadi hanya disiapkan satu kamar, dan satu tempat tidur. Kamu tidur di tempat tidur saja, biar aku di bawah. Oke." sahut V tersenyum.
"Dimana kamu akan bekerja?" aku bertanya kepadanya. Karena di tahun waktu ini sepi sekali. Mobil tua berkeliaran, dan belum banyak gedung.
"Aku belum tau." jawabnya dengan wajah sama bingungnya denganku.
"Tunggulah disini hingga 7 hari, kalau lorong waktu belum terbuka juga, aku akan membantumu bekerja " sahutku menambahkan, "V, boleh aku memelukmu sebentar?" aku bertanya kepadanya. Dia mendekatiku dan memelukku.
"Maafkan aku yah V, harusnya di saat ini aku tidak cengeng, tapi airmataku mengalir terus menerus." sahutku.
"Menangislah Dream, kamu mengalami banyak kejadian yang pasti membuatmu trauma, menangislah sepuasmu." kata V menenangkanku.
Malam hari pun tiba, aku melihat berkeliling kamar nenek mbah V ini. Benar-benar hanya ada satu tempat tidur di dalam kamar, tanpa ada sofa atau couch atau bench, benar-benar hanya tempat tidur.
"Kita tidur berdua saja di tempat itu." sahutku menunduk. V memandangku, "Bagaimana denganmu? Kamu akan nyaman dengan itu?" tanya V. Karena memang kami belum pernah tidur bersama, sekamar tapi tidak pernah tidur bersama.
"Apa ini?" tanyaku dan membentangkan kain itu.
"Ini daster batik, begini cara pakainya." V membantuku memasukkan kain daster ke dalam kepalaku, "nah seperti itu, sekarang lepas dan ganti pakaianmu." sahut V. Dan dia berjalan keluar.
"V, kamu mau kemana?" aku bertanya kepadanya, karena dia keluar kamar.
"Kamu akan ganti pakaian kan, jadi aku keluar." jawabnya.
"Kenapa kamu harus keluar?" aku masih belum paham.
"Ini bukan rumahmu dimana kamar ganti, kamar mandi, serta kamar tidur menjadi satu ruangan. Jadi, sekarang aku harus keluar kamar kan?" jawab V.
Tiba - tiba si mbah nenek datang, dan bertanya apa yang terjadi. Si mbah nenek tertawa, "Kamu suaminya, masuk saja, bantu istrimu berganti pakaian, dia akan kesulitan melakukannya sendiri. Yo wes, mbah mau istirahat. Tidur yah nduk." sahut si mbah nenek, dan ternyata kamar si mbah nenek ada di depan kamar kami.
Akhirnya V masuk ke dalam kamar lagi, dan jujur saja, memang aku membutuhkan bantuannya untuk berganti pakaian.
"Tolong aku V, dan jangan berpikiran macam-macam!" sahutku mengancamnya.
__ADS_1
"Aku tau." jawabnya, aku bisa melihat wajahnya berubah menjadi merah bahkan dalam keremangan cahaya kamar ini.
"Terimakasih" sahutku saat V selesai membantuku. Dia menopang tubuhku untuk naik ke tempat tidur.
"Tidurlah, Dream. Dan berharaplah, semoga hari esok lebih baik." sahutnya, dan mengecup keningku.
Aku mengangguk, " V, bisakah kamu tidak membalikkan badanmu? Dan bolehkah aku menggenggam tanganmu malam ini?" aku bertanya kepadanya, karena itu yang kulakukan bersama Kai saat aku merasa tidak nyaman.
"Kamu melakukan ini bersama Kai?" tanya V.
Aku mengangguk, "Dari aku kecil. Aku tidak punya teman selain Kai, kamu tau, karena papa orang terpandang disana, jadi aku tidak bebas berteman dengan siapa saja. Hanya Kai." jawabku sambil tersenyum, "dan kamu tau, ibu Kai itu pengasuh mama waktu mama kecil, jadi bisa di bilang keluarga Kai dan keturunannya sudah bekerja dengan papa dari sejak lama." sahutku lagi, V hanya mendengarkan, dan terkadang memberikan respon, "Oh yah?" atau "Oh" atau bahkan hanya "hmmm" .
"Dan kamu tau satu lagi V, aku menggigit lengan Jack yang terbalut..dia bodoh sekali mau melepaskan chip di tangannya, maksudku, sebelum mereka mau kabur harusnya mereka membuat semacam research kan. Dan si pria kerbau itu, apa dia mati? Aku rasa dia mati sama seperti pria mawar. Bagaimana dengan Jack? Hei V!" sahutku.
V memandangku, "Tidurlah, Dream" kemudia V mengecup keningku. Setelah bercerita ini dan itu, ketakutanku berkurang, dan setengah bebanki terangkat.
"Terima kasih V." sahutku, dan aku memberanikan diriku mengecup bibirnya. V tersenyum.
...----------------...
EPILOG
Kai POV
Ah, dimana aku? Apa mereka terlempar ke tahun waktu ini? Orang-orang memperhatikanku, aku bangkit berdiri, dan bertanya kepada salah satu dari mereka.
"Maaf, ini tahun berapa?" tanyaku kepada seorang pria bertopi tinggi, berkumis tebal, dan memakai jas serta kaos kaki tanggung.
"1986. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu. Aku menggeleng dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Seharusnya mereka mendarat disini, tapi dimana mereka? Dream dalam keadaan terluka, bagaimana aku mencarinya? Berpikirlah, Kai!!
Aku terus berjalan, hingga menemukan sebuah toko seperti supermarket, sedang membutuhkan pekerja. Aku haus dan lapar, oke sambil mencari, aku akan bekerja disini. Aku berharap bisa bertemu mereka disini.
"Permisi, saya membaca pengumuman tertempel di jendela anda, apakah anda masih membutuhkan pekerja?" tanyaku. Seorang wanita paruh baya mendatangiku, berjalan perlahan mendektiku.
"Oh, anda berminat? Saya Emily, dengan siapa?" tanya wanita itu sambil mengulurkan tangannya.
"Kai...saya Kai, saya berminat menjadi pekerja anda." sahutku dan membalas uluran tangannya.
...----------------...
__ADS_1