Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Hangover


__ADS_3

"V, panas disini V." sahutku. V membawaku masuk ke dalam kamar. Dia memintaku minum air putih, tapi itu semakin membuatku tidak nyaman, "Aku bukan ikan, V." tukasku dan tanganku menolak gelas yang telah di berikan oleh V.


"Dream, sadarlah!" aku mendengar V memanggil namaku. Dan entah kenapa, aku ingin sekali menciumnya, dan menikmati tubuhnya malam ini.


Aku menarik V, dan mencium bibirnya, dia berusaha melepaskan diri, "Dream, hei...aku tidak mau kamu melakukannya dalam keadaan tidak sadar." sahut V.


Tiba-tiba airmataku berjatuhan, "Kamu....sudah bersama Sarah bermata hijau itu, V! Aku rasa dia keturunan penyihir dan dia telah menyihirmu!" tangisku...


"*Huaaaaa.....!!!"


"Huaaanaa*...!!"


V memelukku, "Dream, dengarlah, aku tidak terpikat olehnya. Percayalah." seru V.


"Kenapa kamu tidak mau bercinta denganku sekarang? Pasti karena Sarah si penyihir itu, baiklah, Abraaaa kadabraaa." sahutku tidak jelas, dan duduk di pangkuan V, dan menciumnya kembali.


"V... ayo V." sahutku, rasa panas yang tadinya berada di tubuhku, sekarang perlahan masuk ke dalam, dan yang sangat aneh adalah, aku menginginkan V saat ini dan detik ini.


Aku melepas pakaian V, dan mencumbunya perlahan, dari leher, turun ke dadanya yang bidang. Setelah itu aku mendorongnya hingga dia terpaksa membaringkan tubuhny di kasurku.


Ciumanku semakin menarik, dari dada aku turun ke perut datar V, aku bermain agak lama disana. V menariku dan menciumku.


"Hohoho, apa kamu akhirnya panas juga, V?" tanyaku menggoda.


Dia tidak menjawabnya, hanya membalikan tubuhku di bawahnya, dan melakukan apa yang baru saja kulakukan, kedua tangannya aktif bermain dan meremas apa yang ada disana.


Aku rasa, dalam minuman yang di berikan Robbie kepadaku tercampur obat untuk bermain seperti ini, aku akan bertanya ketika ini selesai, dimana dia membelinya.


"V...."


"Sebut namaku, Dream...seperti biasa." ucapnya dan menghujamkan miliknya ke dalam tubuhku.


Hanya dengan satu gerakan, V berhasil membuat gelombang tinggi di dalam sana. Dan aku berhasil melepaskannya, dan tentu saja menyebut namanya dengan benar.


Setelah itu rasanya lelah sekali, dan tiba-tiba saja sekelilingku gelap gulitan Rasanya mengantuk sekali, biasanya aku kuat bermain beberapa kali bersama V, ataukah aku mulai renta dan jompo? Aaarrghghhh, aku benci menjadi tua!!


...----------------...


Pagi hari, suara Jean dan Jeannette membangunkan tidurku, "Luna Dream, ayo bangun. Kamu terlalu banyak tidur, Luna Dream. Bermainlah bersama kami." sahut mereka, dan menaiki tubuhku.


Kepalaku berputar-putar, dan aku mencari V, tapi dia tidak ada, aku langsung terduduk.


"Dimana V?" aku bertanya kepada Jean dan Jeannette.


"Ah, dia sedang mengambilkanmu sarapan." sahut Jeannette.


Oh, iya. Aku daritadi belum makan, pantas saja aku lapar. Dan apa yang terjadi kepadaku. Lama berselang, Robbie mengetuk kamarku, dan Jean membukakan pintu untuknya.


"Luna, itu papa Robbie." sahutnya.

__ADS_1


"Ehem, selamat pagi." sapanya, "a...anu...a..aku minta maaf." katanya salah tingkah.


"Selamat pagi. Minta maaf kenapa?" tanyaku tidak mengerti.


"Kemarin aku memberimu minuman beralkohol, aku tidak tau kalau kamu tidak kuat dengan itu." sahutnya tulus.


"Dan, apakah kamu memberikannya obat perangsang juga?!" tanya V sinis, yang masuk dengan membawa senampan makanan.


"Demi Tuhan, aku tidak mencampurnya dengan apapun." jawab Robbie. Kali ini aku yakin Robbie berkata dengan jujur.


"Tapi, kenapa dia....?" tanya V heran.


"Apa yang terjadi dengan Luna Dream? Kamu baik-baik aaja Luna?" tanya Robbie, dia mendekatiku dan memeriksa tubuhku.


"Apa kamu pernah mengetahui reaksi alkohol tinggi terhadap tubuhnya?" tanya V, "dulu dia pernah sempat mabuk bersama kami, tapi tidak separah kemarin. Aku rasa alkohol yang kamu berikan cukup tinggi." sahut V menambahkan.


"A...apa yang terjadi padanya?" tanya Robbie.


"Sudahlah! Keluarlah dulu, Rob!" sahut V.


Robbie menurut, dan sempat memandangku. Aku yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan hanya terdiam. Apa yang terjadi denganku tadi malam?


"Tadi malam? Wow, kamu seksi sekali, Dream." jawab V saat aku menanyakannya.


Wajahku memerah, dan aku tersipu, "A...apakah aku menggodamu?" tanyaku.


"Makanlah dahulu, ini susu putih untukmu, dia akan menghilangkan rasa tidak nyamanmu. Setelah itu, aku akan mengajakmu berjemur di luar." sahutnya, dan menemaniku makan di kamar. Nancy sedang makan bersama Jean dan Jeannette di bawah sinar matahari, dengan kaki kecil mereka bermain di air.


Tak lama, Bry dan Kai masuk ke dalam kamar, "Ada apa denganmu tadi malam, Dream?" tanya Kai.


"Oh, dia hanya menyalurkan hasrat seksualnya kemarin malam dengan gayanya yang sensual. Aku rasa itu yang terpendam selama ini...hahahaha " sahut V tertawa.


"Astaga! Tidak seperti itu, Voltaire!" tukasku kesal dan malu.


Aku berusaha mengingat-ngingat kejadian tadi malam, apa saja yang kulakukan sampai V berkata seperti itu. Aahhh, aku sama sekali tidak bisa mengingatnya!!


"Bagaimana kondisimu sekarang, Dream?" tanya Bry cemas.


"Aku sudah kembali normal dan baik-baik saja." jawabku.


Bry memelukku, "Jangan sakit Dreamy, kita belum berenang seharian sampai kulit menghitam, dan kita belum melakukan itu dengan manis." sahut Bry.


"SUDAH!!" jawab Kai dan V bersamaan.


"Kapan aku dan Bry melakukan itu dengan manis? Dan apa kalian tau maksud kami dengan melakukan itu?" tanyaku kepada Kai dan V.


"Tentu saja. Sudah aku katakan kepadamu, tadi malam kamu sangat seksi, Dream. Dan ya, kami paham dengan maksud kalian tentang melakukan itu." jawab V, dan Kai mengangguk, mendukungnya.


Selesainya kami sarapan, kami hanya berenang, dan naik sebuah perahu kecil yang hanya bisa di tumpangi dua orang. Dan tugasku, membantu V untuk mendayung. Ternyata berat sekali. Sesampainya di tengah pulau, kami berenang kembali.

__ADS_1


Kami menghabiskan seharian kami hanya dengan seperti itu, tidak ada bosan-bosannya. Dan saat malam, kami makan bersama di tengah penginapan kami. Suara denting piring menemani kami.


Sarah dan Robbie duduk berdampingan, mereka sedang mengobrol cukup asik dan sesekali tertawa.


Selesai makan, Robbie memanggilku, "Maukah kamu berjalan di pinggir pantai bersamaku?" tanya Robbie.


V yang menggandengku memandangnya, "Untuk apa? Kamu bisa melakukannya disini, tidak perlu ke pinggir pantai. Aku akan menunggu kalian disini." seru V.


"Kami hanya akan berjalan dan mengobrol, apa itu sebuah larangan?" tanya Robbie kepada V.


"Mengingat apa saja yang pernah kamu lakukan kepadanya, ya itu sekarang menjadi sebuah larangan." sahut V menegaskan.


Aku memisahkan dan melerai mereka berdua, "Sudahlah...sudah. Aku akan berjalan bersamanya, tapi tidak di pinggir pantai." sahutku. V dan Robbie setuju.


Akhirnya, Robbie mengajakku duduk di depan kamarnya yang dekat sekali dengan tempat makan kami tadi. Setiap kamar di tempat ini memiliki private pool, dan menghadap ke pantai langsung. Jadi kami duduk di depan kamarnya, dan memasukan kaki kami ke dalam kolam renang.


"Maafkan aku Luna Dream." kata Robbie, "Kemarin malam, kamu tau? Tadi pagi aku belum bisa meminta maaf kepadamu dengan baik, dan kali ini aku benar-benar minta maaf." sahutnya.


"Tidak apa-apa. Aku bahkan tidak ingat sama sekali tentang kemarin malam...hahahaha." jawabku.


" Benarkah?" tanya Robbie lagi.


Aku mengangguk, "Sungguh." jawabku.


"Berenang yuk, Luna." ajaknya. Kemudian dia menceburkan dirinya ke kolam. Aku melepas bajuku yang selalu kurangkap dengan baju renang di dalamnya.


Kami bermain air, dan sangat menikmati malam kami, "Teman?" tanyaku.


Robbie tersenyum manis, "Teman." jawabnya.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Kamu tidak pernah tau reaksi alkohol terhadap Dream?" tanyaku kepada Robbie.


Robbie menggeleng, "Aku tidak tau." jawabnya.


"Dia menjadi sangat manis, dan.....sudahlah. Intinya jangan pernah memberikan dia alkohol lagi." sahutku menegaskan.


"Demi Tuhan aku hanya ingin bersenang-senang dengannya, tidak ada maksud apapun." jawab Robbie.


Aku menatap matanya, dan ada kejujuran tersirat di matanya.


"Baiklah, jangan diulang lagi. Beruntungnya aku yang ada di sisinya, bagaimana kalau kamu yang ada disana saat itu, dan....dan...! Sudahlah!" sahutku lagi, "pokoknya jangan lagi." sahutku menambahkan.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2