Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Two Little Kreachers


__ADS_3

"Luna, kemarin kamu mencari info tentang pekerjaan paruh waktu, kan? Aku sudah mendapatkannya, dan aku rasa ini akan cocok untukmu." sahut Claire temanku. Akhir-akhir ini aku dan Claire cukup sering berjalan bersama. Namun Claire memintaku untuk mempunyai ponsel, sehingga memudahkan dia menghubungiku setiap saat. Hari ini, dia memberitahukan kepadaku tentang pekerjaan paruh waktu. Kai dan V mengijinkanku untuk bekerja paruh waktu, jadi aku lakukan itu.


"Oh yah? Apakah itu?" tanyaku kepadanya.


"Baby sitter." jawab Claire ceria.


What??!! Baby sitter??!! Kai dan V sering memanggilku anak manja dan cengeng, dan aku seperti mendapatkan tantangan baru dalam hidupku. Baiklah, challenge accepted!! Untuk apa hidup mudah jika hidup bisa dibuat lebih sulit, itulah motto hidupku sekarang....hahahahaha.


"Oke, dimana?" tanyaku kepada Claire.


"Itulah. Kamu butuh sebuah ponsel, Lun, dia memintamu untuk menghubunginya." jawab Claire.


"Aku belum punya uangnya untuk membeli sebuah ponsel, dan aku berpikir itu untuk apa?" sahutku. Di jamanku, ponsel pintar sudah tidak ada. Kami memakai worldmetaverse atau surrogate jika kami malas untuk keluar atau sedang sakit misalkan. Seperti itulah.


"Baiklah, ini alamatnya dan dia mencantumkan no ponselnya juga, kamu bisa menghubunginya." sahut Claire lagi. Aku mengangguk.


"Oke, terima kasih, Claire." sahutku. Aku melihat kartu namanya, Robbie Stans. Kenapa bukan nama istrinya yang tertulis?


"Aku akan hubungi Robbie ini sesegera mungkin, aku pergi duluan, Claire. Thanks." sahutku. Dan beranjak pergi.


...----------------...


"Dengarkan aku. Aku sudah mendapatkannya." sahutku malam itu kepada V dan Kai.


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya V, "penguntitku atau penggemar Kai?" tanya V lagi sambil tertawa.


"Untuk apa aku mencari mereka. Kalian memang tampan, aku akui itu." sahutku, "tapi bukan itu maksudku, aku mendapatkan pekerjaan paruh waktu." sahutku sombong, dan memperlihatkan kartu nama Robbie kepada mereka. Mereka bergantian melihatnya.


"Dan sebagai apa kamu bekerja? Pasangan bayarannya kah?" tanya Kai. Aku memandangnya kesal! "Kenapa kamu menganggapku rendah, Kai?!" sahutku. Kai tau candaanya sudah kelewat batas, "Maafkan aku." sahutnya.


"Oke, aku akan bekerja sebagai baby sitter dan...." namun kata-kataku terputus, karena mereka menertawakanku.


"Apa katamu? Hahahaha...kamu bekerja sebagai pengasuh bayi...hahahaha." sahut mereka mengejek.


"Hei dengar kataku. Menguncir rambutmu sendiri pun, kamu tidak sanggup, apalagi mengganti pampers anak bayi? Hahahaha... Sadarlah Lunaku, my baby Luna." sahut mereka lagi. Baiklah, akan aku buktikan aku sanggup!


"Oke, kita adakan taruhan!" tantangku kepada mereka. Mereka terdiam, namun raut wajah menggoda mereka masih tersisa.


"Oke, aku taruhan hanya 5 hari, dan kamu,V?" tanya Kai.


"Aku tidak kejam. Seminggu, kamu akan bertahan seminggu disana." sahutnya.

__ADS_1


"Oke, apa taruhannya?" aku bertanya kepada mereka.


"Baik, tidurlah bersama salah satu dari kami kalau kamu kalah." sahut V.


"Apa-apaan itu?!" tanyaku kesal dan tidak terima.


Tidur bersama mereka sama dengan tidak tidur semalaman. Mereka akan mendengkur, saling tendang, tidur berputar searah jarum jam, dan terkadang mengigau.


Kai mengangguk, "Ide bagus. Berjanjilah sebagai laki-laki, Dreamy Eve." sahut Kai memberikan ibu jarinya kepadaku.


"Aku terima janji kita, Kai Johnson dan Voltaire Brian!" sahutku dan menempelkan ibu jariku ke ibu jari Kai, kemudian memutarnya ke bawah dan bersalaman. Aku melakukan hal yang sama dengan V.


Baiklah, janji antar laki-laki sudah terikrarkan. Perang dimulai.


...----------------...


"Permisi, apa benar ini kediaman Robbie Stans?" tanyaku kepada seorang perempuan muda berseragam maid. Perempuan itu menganggukan kepalanya, "Mbanya siapa yah?" tanya perempuan muda itu kepadaku.


"Aku Luna. Aku ingin mendaftar sebagai baby sitter disini." sahutku.


Perempuan itu membukakan pintu pagar super besarnya, dan mempersilahkan aku masuk, "Masuklah, tunggulah disana." katanya sambil menunjuk ke arah kursi kecil cantik berlengan di tengah-tengah taman, dan di lengkapi dengan meja bundar yang tidak kalah cantiknya dengan kursi kecil tersebut. Aku berjalan dan duduk di salah satu kursi tersebut.


Tidak lama muncul seorang wanita paruh baya, kali ini berseragam nany, dengan membawa dua map besar, dan duduk di depanku. Wanita itu mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku dengan resmi.


"Luna." balasku.


Nancy meluruskan tangannya menyuruhku duduk.


"Luna, berapa umurmu?" tanya Nancy, sudah siap dengan sebuah pena dan secarik kertas di tangannya.


"25 tahun." sahutku.


Nancy menaikkan alisnya.


"Saya mulai saja. Kamu akan mengasuh dua anak kembar berusia 5 tahun. Mereka Jean dan Jeannete. Nanti kita akan temui mereka, dan kamu bisa belajar membedakannya sejak hari ini." sahutnya, dan mengajakku masuk ke dalam.


Begitu aku membuka pintu, aku di sambut dengan suara teriakan, suara televisi super kencang, dan tangisan. Luar biasa... ckckckck! batinku. Apa aku menyerah saja? Tidak, Dream! Harga diri dan kualitas tidurmu di pertaruhkan!


"Yang berteriak, Jean, dan yang menangis Jeannette. Jean lebih aktif daripada Jeannette. Jadwal mereka ada di pintu kulkas bisa di lihat disana." jelas Nancy, "silahkan berkenalan. Aku akan tinggalkan kalian untuk saling mengenal." sahutnya lagi dengan senyum kemenangan luar biasa yang belum pernah aku lihat seumur hidupku.


Mereka menatapku, begitu pun aku. Aku tersenyum kecil, "Hai." sapaku kepada mereka. Mereka saling berpandangan, dan mendekatiku.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya salah satu dari mereka.


"Namaku Luna." jawabku, merendahkan posisiku sehingga sejajar tinggi dengan mereka.


"Nama kamu seperti kucing. Kenapa Luna?" tanya kembarannya. Dan sekarang mereka memperhatikan mataku, "Mata kamu juga seperti kucing, tidak ada manusia mempunyai warna mata sangat biru seperti itu. Rambutmu pun seperti bulu kucing, abu-abu hitam." sahut mereka bergantian. Aku menahan emosiku, rambutku di tarik-tarik per helainya, mereka mengendus-endusku, memelototiku, seakan-akan aku berasal dari planet lain.


"Baiklah, sekarang katakan padaku siapa namamu?" tanyaku.


"Aku Jean." jawabnya. Aku memperhatikan dia, wajahnya bulat, bibirnya tipis, rambutnya sedikit ikal, dan dia mempunyai tanda lahir di tangan kanan.


"Dan kamu, pasti Jeanette." sahutku puas. Aku memperhatikan dia juga, wajahnya lebih lonjing, rambutnya sangat ikal, dan tidak ada tanda lahir.


"Salah, aku Jean! Dan dia Jeanette! Hahahaha!! " sahutnya, dan mereka berdua tertawa.


Aku bangkit berdiri, mengatur nafasku untuk menurunkan emosiku.


Sabar, Dream, sabar....orang sabar pasti kesal...sabar.. dan aku berusaha untuk menarik otot- otot facialku kembali. Aku berjalan menuju pintu kulkas dan melihat jadwal mereka. Jadwal mereka lebih padat daripada jadwal aku dan papa dijadikan satu. Mereka hanya mempunyai waktu bermain satu jam, dan itu di jam 5 sore.


"Kalau kalian tidak mau memberitahukanku mana Jean atau Jeannette, maka aku tidak akan menambahkan 30 menit jam bermain kalian lebih cepat." sahutku, tersenyum. Mereka terdiam dan berpikir.


"Jawabanmu itu tadi benar. Aku Jean dan dia Jeannette." sahut si empunya tanda lahir.


"Oke... ayo kita bermain di taman!!" sahutku dan menggandeng tangan mereka.


...----------------...


**EPILOG


Kai POV**


"Apa kita tidak perlu mencari tau tentang Robbie Stans ini, Kai?" tanya V.


Aku menggeleng, "Belum di perlukan. Apa kamu yakin Dream akan bertahan lama disana?" tanyaku kembali kepadanya. V gantian menggelengkan kepalanya.


"Tapi kenapa perasaanku tidak nyaman dia bekerja disana?" tanya V lagi.


Aku pun demikian, tapi tidak ada salahnya untuk membiarkan Dream memilih-milih kepada siapa dia bertemu, hanya untuk meningkatkan kewaspadaan dia terhadap bahaya.


"Percaya sajalah kepadanya." sahutku kepada V, "aku akan melaporkan ini kepada Mark " sahutku.


V berjalan mengikutiku.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2