Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Tell me You Loved Me!!


__ADS_3

Aku tinggal di rumah Robbie selama beberapa hari, dan sampai Jean Jeannette sehat. Itu membuat V marah-marah, namun dia mengunjungiku setiap hari selama aku disana. Kadang mengajakku jalan di waktu kosongku, dan tetap mengantar jemputku kalau aku ada jam kuliah.


Bagaimana dengan Robbie?


"Andaikan aku pengangguran seperti dia, aku akan selalu bisa di sampingmu. Cih!" sahutnya. Robbie menunjukan ketidaksukaannya kepada V secara terang-terangan. Dan seperti kata Kai, aku harus bersabar sedikit lagi. Itu kulakukan. Hanya saja aku sedang bertaruh pada diriku sendiri, hatiku yang kalah atau aku berhasil menguatkan hatiku. Jujur saja, Robbie bergerak secara perlahan tapi pasti membuka pintu hatiku, tidak seperti V yang asal jalan, asal dobrak. Kedewasaan Robbie membuatku memberinya nilai lebih.


"Baiklah, aku akan libur selama beberapa hari dan aku harap kamu tidak menganggu liburanku." sahutku, saat berpamitan kepadanya.


"Tinggalah disini Luna. Kamu mau kemana?" tanya Jeannette, dan memegang ujung kaosku.


"Nah, benar itu. Kamu memang mau kemana, Luna? Tinggal saja bersama kami, temani Jean, Jeannette, dan papa, bukan begitu J?" sahut Robbie menggoda. Dan memberikanku tatapan mata anak anjing yang membuatku sedikit goyah.


Aku tersenyum, "Rumahku kan bukan disini, dan aku yakin papa Robbie punya banyak teman, selain aku." sahutku menegaskan.


Robbie tertawa, "Aku akan mengantarmu, V sedang ada jam kerja kan?" Robbie bertanya kepadaku. Dan sepertinya akhir-akhir dia senang mencuri dengar obrolanku dengan Nancy.


"Silahkan." sahutku, "Terima kasih."


"Yes, apa kalian mau ikut? Jadi, kalau Luna tidak datang, kita bisa bermain ke rumahnya, bagaimana?" tanya Robbie kepada Jean dan Jeannete.


"Bolehkah? Horeee....!!!" sahut mereka sambil bersorak.


Akhirnya mereka mengantarku, dan sesampainya di depan rumah, rumahku tampak sepi, biasanya V sudah menyalakan musik untuk menemaninya memasak di dapur.


"Sepertinya V belum pulang." sahutku, dan melongok ke dalam rumah, "ah, terima kasih sudah mengantarku pulang." sahutku.


"Luna, ayo bermain di rumahmu." sahut Jean. Jeannette mengulang pertanyaan yang sama.


"Aku tidak punya mainan seperti di rumahmu." jawabku. Namun Robbie sudah turun, dan membukakan pintu untuk anak-anaknya keluar.


"Aku akan menemanimu sampai V kembali." sahutnya, dan mereka mendahuluiku, menungguku di depan pintu rumahku. Aku hanya bisa menghela nafasku.


"Selamat datang, silahkan masuk." sahutku, dan mempersilahkan mereka masuk.


Mereka masuk dan melihat-lihat ke sekeliling rumahku.


"Kamu tidur berdua dengan V?" tanya Robbie sambil melongok ke arah kamar.


"Tidak dong! Ada 3 kamar disini, kamarku, kamar V, dan di ujung kamar Kai." sahutku sambil menunjuk masing-masing kamar.


"Dan kamarmu berada di tengah-tengah kamar mereka?" tanya Robbie. Aku mengangguk. Karena dia belum tau kisah hidupku yang sudah di culik dua kali, jadi dia menganggap itu sedikit aneh.


"Boleh aku masuk?" tanya Robbie, dan sebelum aku menjawabnya, Jean dan Jeannete sudah masuk lebih dulu. Dan berbaring di atas kasurku. Robbie tertawa, "Itu sudah jawaban." katanya, dan melangkah memasuki kamarku.


Asik melihat dan memegang semua benda-benda yang ada disana, sampailah tangan mereka pada Lyn.


" Luna, apa ini?" tanya mereka. Aku mengambilnya.

__ADS_1


"Ini namanya Lyn, dia boneka kesayanganku. Aku tinggal jauh dari papa mamaku, dan kalau aku memegang Lyn, rasa rinduku terobati." jawabku. Tidak mungkin kan aku menjelaskan kepada mereka bahwa itu adalah komunikator?


Mereka memegang-megang Lyn dengan gemas. Aku ngeri melihatnya, "Ah, di pegang saja yah, kalau kalian memencetnya seperti itu, dia akan menangis dan marah. Tanduknya akan berpendar berwarna merah dan ungu." sahutku. Dan aku juga tidak mungkin menjelaskan, kalau mereka memencetnya, maka lorong waktu terbuka, dan muncullah Kai disana... tidak mungkin, bukan?


Setelah lelah bermain, Robbie memesankan kami makanan, dan selesai makan, aku membantunya merapikan cucian piring. Kemudian Robbie memanggil anak-anaknya untuk segera pulang, tapi tidak ada jawaban dari mereka. Aku mengintip ke kamarku, dan ternyata mereka tertidur.


"Akan aku gendong mereka." sahut Robbie.


Aku melarangnya, "Biarkan mereka tidur disini malam ini, aku akan menemaninya. Kamu bisa tidur di tempat Kai." sahutku.


"Aku akan menemanimu disini dulu, bolehkan?" tanya Robbie. Aku mengangguk.


"Jadi, apa ini?" tanya Robbie sambil memegang Lyn, "aku tau ini bukan boneka biasa." sahutnya lagi.


"Itu komunikator, jika aku memencetnya, tanduknya akan mengeluarkan warna yang berpendar, dan ada sesuatu yang akan terjadi." jawabku.


Robbie mengangguk, dan mulutnya membentuk huruf kecil, "Dan tentang kita, apa kamu memikirkannya?" tanya Robbie.


"Apa yang harus kupikirkan?" tanyaku balik kepadanya.


"Pertanyaanku, maukah kamu mencobanya, maksudku menjalin hubungan denganku?" tanya Robbie, kali ini tatapannya tajam dan serius.


"A...aku tidak tau, Rob. Aku dan V saja tidak terikat apa pun, apalagi denganmu kan? Dan aku harus kembali, aku tidak bisa tinggal!" sahutku.


"Dari kata-katamu, berarti aku mempunyai kesempatan kan?" tanya Robbie lagi.


Robbie mendekatiku, namun aku menjauhkan diriku darinya. Robbie terus mendesakku, "Kamu tau Luna, kamu membuatku tergila-gila padamu. Kenapa saat itu kamu membalas ciumanku? Itu membuatku susah untuk menyingkirkanmu dari pikiranku, dan kamu semakin menguasai hidupku. Aku jadi tergantung padamu." sahutnya. Matanya terus menatapku.


"Saat itu kita berpura-pura kan? Dan aku melakukannya dengan cukup professional, aku tidak memikirkan apapun saat melakukannya denganmu." sahutku lagi.


"Karena itu, aku penasaran apa kali ini, kamu akan memikirkannya atau tidak." sahutnya, aku memejamkan mataku saat dia semakin maju mendekatiku, dan kenapa juga aku tidak menghindarinya, saat dia melekatkan bibirnya ke bibirku. Kenapa aku harus membalas ciumannya saat ini? Robbie menciumku semakin panas dan menuntut. Dia terus mendesakku, dan ciumannya semakin dalam. Kenapa juga aku tidak segera melepaskan ciumannya? Ini berbeda sekali dengan Voltaire. Siapa pun sadarkan aku!!


Bukannya mendorong atau melepas, aku semakin menarik Robbie ke arahku, dan bukannya berteriak minta pertolongan, aku mengeluarkan suara ******* yang bukan seperti suaraku. Padahal Robbie hanya menciumku.


Tiba-tiba ada suara yang memanggilku, dan berdeham, "Ehem...ehem..!"


"Ehem...Ehem!!"


Aku mendorong Robbie menjauh, dan baru sadar, virtual hologram Kai sedang memelototiku, "Kamu memanggilku hanya untuk melihatmu bercumbu dengan laki-laki dewasa, ah maksudku, hai Rob!" sahut Kai.


Aku menacari-cari Lyn, ah ternyata dia tertekan tanganku, dan tanduknya masih mengeluarkan cahaya.


"Ma...maafkan aku. Itu tertekan tanganku. Maaf Kai." sahutku, dan mengambil Lyn yang tampak sengsara.


Robbie sedang mencerna apa yang terjadi, dan akhirnya dia berdeham, "Ehem...hai Kai. Maaf aku melewati batasku." sahutnya.


"Sudah kukatakan, Dream, maksudku Luna kami ini luar biasa, dia bisa membunuh pria hanya dengan tatapan matanya." sahut Kai, "Ah iya, mana V?" tanyanya, dan pada akhirnya sadar dia belum melihat V.

__ADS_1


"Itu anak-anakmu? Manis sekali. Jadi kalian memutuskan untuk menikah?" tanya Kai bersemangat.


"Tidak." sahutku


"Ya!" sahut Robbie


Kami mengucapkannya secara bersamaan. Kai tersenyum, "Putuskan secepatnya Dream, ah Luna, tiga bulan lagi. Waktumu tiga bulan lagi. Kalau kalian menikah, kasian sekali Voltaire itu." sahut Kai.


"Kenapa kamu harus mengasihaniku, Kai?!" tanya V yang tiba-tiba datang bergabung dengan kami, dia melewati berdiri di depan Robbie dan menatapnya tajam. Setelah itu menatap Kai, "Kamu berpihak kepadanya?!" tanya V tidak percaya.


"Tidak. Aku netral." sahut Kai, "Baiklah, aku pergi. Dan Luna, katakanlah kamu mencintainya, jangan mempermainkan mereka." sahut Kai lagi, dan dia pergi dengan bunyi plop.


Setelah Kai pergi, aku meminta Robbie dan V keluar dari kamarku. Jantungku masih berdetak cepat.


"Luna, ijinkan aku masuk sebentar." sahut V dan mengetuk pintu kamarku.


Aku membukanya, "Apa yang ingin kamu bicarakan?" aku bertanya kepadanya.


"Siapa yang kamu cintai, aku atau Robbie?" tanya V.


"Tidak dengan kalian berdua!" sahutku dan membanting pintu kamarku di hadapannya. Aku memandang Jean dan Jeannete yang tertidur. Ayo, Dream katakanlah kamu mencintainya! Aku menghela bafasidan berbaring bersama mereka.


......................


**EPILOG


V POV**


"Siapa yang dicintainya?" tanyaku lebih kepada diriku sendiri.


"Sudah jelas kan, dia mencintaimu, hanya saja, aku sudah masuk ke hatinya juga." jawab Robbie singkat. Ada senyum kemenangan di wajahnya.


.


Aku menatapnya serius, "Dengar Rob, dia bukan wanita biasa seperti kebanyakan wanita. Dia luar biasa." sahutku, "dan kamu baru mengetahui seperempat kehidupannya." jawabku lagi.


"Dia sudah menceritakan segalanya kepadaku, termasuk tentang kamu. Dan kami baru saja berciuman, itu kedua kalinya kami berciuman. Luna sangat paham bagaimana membuat seorang pria sulit untuk melupakannya, dia terlalu sempurna." sahut Robbie.


Aku mengarahkan tinjuku ke wajahnya, "Apa yang kamu katakan?!! Kamu menciumnya??! Kamu sudah tau dia milikku, kan?! Atau kamu sengaja??!!" sahutku, emosiku membuncah begitu mendengar mereka berciuman.


"Dia membalas ciumanku!!" sahut Robbie, dan dia melayangkan tinjunya juga ke arahku.


"Seharusnya kamu menjauhi dia, sialan!!" sahutku dan kembali menyerangnya. Kami saling menyerang, meninju, dan memukul, aku bersyukur rumah ini kedap suara, sehingga Dream tidak terbangun.


Setelah beberapa lama bergulat dengannya, aku mengakui, dia lawan yang cukup tangguh.


"Kita biarkan Luna memilih pasangannya sendiri!" sahutku terengah-engah. Robbie mengangguk setuju.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2