Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Accident


__ADS_3

Hari terakhir kami berada disini, dan sekarang kami sedang bersiap -siap untuk pulang. Agak disayangkan, karena kami pelintas waktu, tidak dapat membawa oleh-oleh dalam bentuk apapun. Kalau kami membawa barang, maka barang itu akan menjadi tembikar atau semacam barang purba lain, kalau kami membawa makanan, bisa di bayangkan makanan basi selama berabad-abad bagaimana bentuk dan rupanya. Jadi kami tidak membawa apa pun dari sini.


Kami kembali menaiki pesawat, dan selama di pesawat aku hanya tertidur. Setelah sampai kami segera pergi ke lorong waktu. Anehnya, kami tidak dapat menemukannya.


"Biasanya disini kan?" tanyaku kepada Kai.


Kai mengangguk, sambil sesekali melihat keadaan Bryanna, "Apa yang terjadi?" tanya Kai. Dia berusaha menghubungi petugas satuan waktu. Tapi tetap saja lorong waktu tidak mau membuka.


Bagaimana ini? Karena kami memikirkan kondisi Bry, kami memutuskan untuk mencari restaurant atau kafe terdekat supaya Bry bisa beristirahat. Aku meminta V untuk menjaga Bry, sehingga aku dan Kai bisa fokus di depan lorong waktu.


"Apa kira-kira yang terjadi, Kai?" tanyaku untuk kesekian kalinya.


Kai mengangkat bahunya, "Entahlah, Dream. Tidak mungkin ada kerusuhan lagi disana kan? Sedangkan kita semua berada disini, siapa yang akan menjaga disana?" tanya Kai ragu, dan ada rasa takut di suaranya.


Kai mengajakku kembali ke tempat Bry dan V menunggu hari sudah mulai sore. "Apa kamu masih ingat rumah yang waktu itu kita sewa, Dream?" tanya Kai di perjalanan menuju tempat Bry.


Aku mengangguk dengan ragu, "Lupa-lupa ingat sih, Kai. Apa kamu mau bermalam disana dulu?" tanyaku.


"Iya. Daripada kita harus mencari penginapan lagi yang bahkan aku tidak tau dimana penginapan terdekat dengan lorong waktu. Hanya rumah itu yang lokasinya paling dekat dengan lorong waktu." ujar Kai.


Aku berusaha mengingat-ingat, "Sepertinya aku tau dimana." jawabku, dan meminta si supir untuk mengikuti arahanku.


Sesampainya disana, untunglah ada ibu pemilik rumah, jadi kami bisa langsung bertanya padanya, "Permisi ibu, kami tertarik untuk menyewa rumah ibu yang ini, apa masih kosong?" tanyaku.


Ibu itu tersenyum, "Halo, masih...masih kosong. Mau masuk dulu yuk." jawab ibu pemilik rumah itu.


Kami mengikuti ibu itu untuk masuk ke dalam rumah dan menyelesaikan transaksi disana. Setelah selesai, kami merapikan rumah itu.


"Masih sama seperti dulu." ujar Kai.


Aku mengangguk, "Baiklah, begini. Aku akan menjemput Bry dan V, sedangkan kamu berjaga di lorong waktu. Andaikan terbuka, dan kita bisa kembali, aku bisa langsung membawa mereka ke gerbang waktu." kataku memberikan usul kepadanya.


Kai mengacungkan ibu jarinya tanda setuju, "Oke. " katanya. Kemudian kami bergegas pergi dan mengambil jalan yang berbeda.


Sesampainya aku di tempat V dan Bry menunggu, aku bercerita tentang apa yang kami alami, dan apa yang kami rencanakan.


"Terus bagaimana?" tanya Bry panik.


"Kita akan bermalam di sebuah rumah. Kami pernah menempati rumah itu, dan sekarang kita berempat akan bermalam disana sementara, kita tidak tau apa yang terjadi, tapi yang jelas untuk saat ini kita aman." jawabku, menggenggam tangan Bry, untuk menenangkannya.


Aku mengajak mereka untuk bergegas ke rumah itu, supaya Bry bisa beristirahat. Dan tak lupa aku menawarkan Bry cemilan atau makanan yang sedang ingin ia makan sebelum kami kembali ke rumah itu.


Setelah membeli keperluan Bry dan keperluan perut kami, kami kembali ke rumah. Belum nampak Kai kembali, karena aku yang membawa kunci rumah, aku meminta V untuk menjaga Bry, aku menyusul Kai.


"Bagaimana Kai?" tanyaku.


Kai menggelengkan kepalanya, "Belum ada apa-apa. Aku sampai di awasi oleh polisi bertuliskan sekuriti itu." jawabnya.

__ADS_1


"Besok pagi saja kita kesini lagi, sekarang sudah malam, kita istirahat dulu." sahutku mengajak Kai pulang.


Malam ini kami bermalam di rumah sewaan yang pernah kami pakai sebelumnya. Rumah ini cukup besar dan nyaman, jadi Bry tidak mengeluh tentang rumah ini.


Esok paginya, aku dan Kai kembali ke gerbang waktu, namun masih tidak ada perubahan, dan akhirnya kami kembali lagi ke rumah. Aku dan Kai bergantian mengecek gerbang waktu setiap tiga puluh menit sampai satu jam sekali.


"Haddduuuhhh Kai...Mamaku bisa khawatir kalau aku tidak kunjung kembali." ujarku siang itu.


"Kita berdoa yang terbaik, Dream. Aku juga memikirkan Bry. Dia sudah harus kontrol kan untuk melihat dimana posisi bayinya berada." katanya tertunduk lemas.


Akhirnya kami kembali lagi ke rumah. Sore hari, aku dan Kai pergi lagi ke gerbang waktu, dan kembali berjalan dengan isi kepala kami yang semakin penuh.


"Baiklah, aku akan mengantar Bry untuk ke rumah sakit, bagaimana pun juga aku harus tau posisi kepala bayi kami." sahut Kai suatu hari.


Aku dan V setuju. V berusaha mengingat-ingat dimana ia menyimpan mobil pribadinya di tahun waktu ini. Setelah V mengingatnya, dia bergegas mengambil mobilnya itu, dan menyerahkan kuncinya kepada Kai. Aku dan V akan menunggu mereka di rumah.


"Bagaiaman kalau seandainya Bry harus melahirkan disini, Dream?" tanya V.


Aku sedang mencari nama untuk anak Bry dan Kai, "Ya, kalau memang harus seperti itu. Selama anak mereka selamat, itu tidak menjadi masalah untukku." jawabku.


"Apa kamu belum merasakan bayi di dalam perutmu?" tanya V lagi.


Aku tertawa, "Tidak secepat itu. Voltaire Voltaire junior harus bertarung dan bertahan di dalam sana, sampai Dream junior datang dan membukakan pintu untuk Voltaire junior yang sanggup bertahan." jawabku.


V tampak putus asa, tapi setelah itu dia berbicara kepada perutku, "Bertahanlah wahai jumior-juniorku!!" katanya bersemangat.


Aku tertawa melihat tingkahnya, "Terimakasih yah V, kamu sudah membuatku tertawa hari ini." kataku.


Tak beberapa lama kemudian, Bry dan Kai datang, "Perkiraan waktunya antara dua sampai tiga minggu lagi. Dan kalian tau, aku yang mules..." ucap Kai.


Bry tertawa dan merangkul pinggang suaminya itu. Aku menyodorkan selembar kertas kepada Bry, "Lihatlah, aku telah membuatkanmu daftar nama untuk anakmu nanti. Kalau kamu mau memakainya aku akan sangat berterimakasih sekali. Nama akhir anakmu, silahkan kalian yang memilihnya." sahutku.


Bry memelukku terharu, "Terimakasih Dream. Kamu tante terbaik sepanjang abad. Anak kami akan senang sekali mempunyai tante keren sepertimu." katanya.


Sore itu, aku dan Kai kembali mengecek gerbang waktu.


*Drrrttt


Dddrrrtt


Drrrttt*


Dan muncul kilatan kecil seperti petir, kemudian gerbang waktu terbuka.


"Kenapa terbukanya seperti itu?" tanya Kai, "Ya sudahlah, bagaimana pun juga yang penting terbuka, dan kita bisa kembali. Ayo kita jemput mereka." sahut Kai bersemangat.


Aku mengangguk, dan bergegas mengikuti Kai.

__ADS_1


Kami segera pergi ke gerbang waktu, takut-takut gerbang waktu menutup lagi. Entah kenapa perasaanku tidak enak saat kami satu per satu masuk ke dalam pusaran waktu.


Drrrtt... Bry masuk pertama disertai kilatan kecil.


Ddrrrtttt...kemudian V menyusul di belakangnya, masih ada kilatan kecil di belakang V.


Setelah itu aku dan Kai, dan pusaran waktu yang biasanya tenang dan hanya berputar, kini seperti ada gelombang laut yang tinggi dan menelan kami.


Aku mendengar suara Kai memanggil Bry. Kai merai tanganku, dan menangkapnya. Aku berusaha mencari tangan V atau Bry, tapi aku tidak menemukannya.


*Jdarrr!!!


Pluk*....


Kami berhasil mendarat...


Tapi ini bukan tahun waktu kami..


Kai masih memegang tanganku, dan kami mencari Bry dan V. Gerbang waktu sudah menutup dengan kilatan kecil yang sangat terang.


"Kai, kita dimana? Dan dimana V dan Bryanna?" tanyaku.


Kai menelan ludah dan wajahnya tampak panik, "Apa yang terjadi, Dream?!" tanyanya.


...----------------...


**EPILOG


Kai POV**


"Bry, entah kenapa perjalanan kali ini membuatku sangat khawatir." ucapku kepada istriku malam itu.


Bry dengan wajahnya yang cantik menoleh kepadaku, "Kenapa?" tanyanya, dan kembali memandang lautan lepas di depan kami.


"Aku tidak tau." sahutku, dan merangkul pinggangnya sambil mengelus perutnya yang sudah membesar. Aku merasakan tendangan kecil dari dalam.


"Apa kamu merasakannya, Bry. Dia menendang tanganku." ucapku takjub.


Bry tertawa, dan memegang tanganku, "Dia kesal, kenapa ayahnya tidak membiarkannya menikmati waktu santai seperti ini." kata Bry.


Aku kembali mengelus perut Bry, "Hei baby, aku sudah tidak sabar bertemu denganmu. Cepatlah keluar, setelah itu kita akan bermain sepanjang waktu." sahutku mengajak bayi kami berbicara.


Dan dia membalasnya kembali dengan tendangan dan sepertinya dia melompat juga, karena gerakannya berpindah, "Apakah artinya iya?" tanyaku kepada Bry.


Bry tersenyum, dan menatapku sambil mengangguk, "Iya katanya, dia setuju." jawab Bry.


"Aku sungguh tidak sabar menantikan anak kita nanti, semoga semuanya akan baik-baik saja yah " sahutku sambil berharap dalam hati.

__ADS_1


.


...----------------...


__ADS_2