Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
I Never Loose You (Again)


__ADS_3

Aku tertidur setelah dari kejadian Rufus kemarin itu. Entah berapa lama aku tertidur. Hari ini Kai membangunkanku, "Dream, kamu mati?" katanya. Aku membuka mataku, meragangkan badanku, dan memandang Kai, "Dimana kita, Kai?" tanyaku. Aku mekihat sekeliling. Kai tersenyum, dan membantuku untuk duduk.


"Masih di hotel. Aku sudah bilang sama papa, kamu butuh tidur dan istirahat sedikitnya 3 hari sebelum kembali bekerja, dam papamu menyetujuinya" sahut Kai. Aku tersenyum lega mendengarnya.


"Terima kasih yah Kai" sahutku, dan bergegas berdiri.


"Dream, bisakah aku memelukmu?" tanya Kai lagi. Aku memandangnya, dan Kai memelukku, "Terima kasih sudah kuat dan bertahan disana Dream" sahutnya. Aku membalas pelukannya, "Iya, Kai. Terima kasih juga sudah datang, walaupun terlambat" sahutku. Kai melepaskan pelukannya dan tertawa.


"Aku bersumpah Dream, aku tidak akan pernah membiarkan kejadian seperti itu terulang kembali" janji Kai kepadaku. Aku hanya tersenyum mendengarnya, "Oke" sahutku.


Sesampainya di restaurant bawah, V menghampiriku, dan memelukku, "Kamu kenapa sih Dream?" sahutnya, suaranya hampir menangis.


"V? Aku ngga kenapa-kenapa kok." sahutku menenangkan.


"Berjanjilah kepadaku, kamu ngga akan bertindak sendiri lagi, aku udah membayangkan kamu di apa-apain sama buronan itu" sahutnya lagi, dan melepaskan pelukannya.


Kami bertiga menuju tempat duduk terdekat, "Kalian tuh laki-laki, tapi punya hati yang cukup manis" sahutku meggoda mereka, "Seperti yang sudah aku bilang, Rufus bukan orang jahat, dia bahkan memberiku air dan roti" sahutku lagi.


"Dan apa yang membuat dia setenang itu?" tanya V.


"Teriakanku" sahutku tertawa.


...----------------...


Selesai kami makan, V memintaku berjalan bersamanya. Aku meminta ijin kepada Kai, dan setelah mendapatkan ijin dari Kai, aku menghampiri V.


"Hai" sahutku. Aku melihat V sudah berganti pakaian, masih terlihat tampan seperti biasa.

__ADS_1


"Hai" sapanya. Mengajakku naik ke dalam mobilnya.


"Wuiihh, udah punya mobil sekarang" godaku kepadanya. Dia tersenyum mendengarnya.


"Lebih enak sepertinya kerja di hotel daripada di restaurant yah?" tanyaku kepada V, dan kami mulai berjalan.


"Sama aja kok, tapi memang untuk pendapatan lebih besar di hotel, makanya bisa kebeli ini." katanya kepadaku. Kami berbincang-bincang dengan santai.


"Oh, kalau aku boleh bertanya, kenapa kamu putus dengan Bry?" tanyaku, pertanyaan itu terus terngiang di pikiranku, "kalau kamu keberatan untuk menjawabnya, ngga perlu di jawab ngga masalah" sahutku lagi.


"Kamu mau jawaban jujur atau bohongnya?" tanya V kepadaku. Aku mengernyitkan keningku, "Aku tidak mau berdosa, jadi aku mau jawaban jujur darimu" jawabku.


Dia tersenyum menatapku, "Jawaban jujur aku, kamu" sahutnya.


"Maaf, bagaimana?" tanyaku, sepertinya aku kebanyakan teriak kemarin, sehingga pendengaranku agsk sedikit terganggu.


"Penyebab aku putus dari Bry, itu karena aku selalu kepikiran kamu" jawabnya, menatapku. Aku terkejut mendangarnya, "Kok bisa? Maksudku, kita sudah tidak berhubungan lagi kan? Maksudku setelah kejadian itu, kita sama sekali tidak melakukan komunikasi atau apa?" tanyaku, "karena begitu keputusan pembatalan pernikahan di setujui, dan kamu kembali kesini, ya aku benar-benar berusaha untuk melupakanmu, aku membuat diriku sibuk kesana kemari, dan itu berhasil, sampai dengan papa, memintaku untuk kesini, baru aku teringat kamu." terangku lagi. V mengangguk, "Sedihnya jadi aku yah? Kamu berhasil melupakanku dengan cepat..hahaha" sahutnya, dan memasang wajah pura-pura sedih. Aku pun tertawa, "Terimakasih kamu masih mengingatku dengan baik V" sahutku, menatapnya. Debaran jantungku kembali aktif, lupp...dub...lupp...dub.. perlahan tapi pasti, mereka mulai berirama. Irama yang aku kenali dengan pasti.


Sesampainya di pantai, kami berjalan-jalan menyusuri pantai, setelah lelah berjalan, kami duduk di bawah pohon kelapa, dan meneruskan perbincangan kami disana.


"Dream, kamu tau, saat kemarin kamu di sekap oleh Rufus, hatiku mau meledak rasanya. Aku panik, aku takut, tapi melihat kepanikan Kai yang luar biasa juga, aku menguasai diriku, dan menenangkan Kai." sahutnya.


"Ya, aku minta maaf kepadamu, aku juga sudah meminta maaf kepada Kai, karena membuat kalian berdua khawatir" jawabku, menundukkan kepala.


"Kamu tidak perlu meminta maaf kok, aku hanya mengungkapkan perasaanku, bahwa aku mengkhawatirkanmu, aku pun terkejut bahwa kamu ternyata masih ada di hatiku, dan itu tidak berubah Dream" sahut V.


Aku tidak tau harus tetap menunduk, menatapnya atau bagaimana. Akhirnya aku memutuskan untuk memandang laut lepas di depanku, memasukkan sebanyak mungkin suara deburan ombak ke dalam telingaku. Karena aku tau, V mulai membuat debaran jantungku semakin kencang.

__ADS_1


"Kita cari makan yuk" sahutku, berusaha mengalihkan topik pembicaraan. V menatapku dan tersenyum, "boleh, yuk" jawabnya. Aku menghela nafas lega. Tentu saja, karena aku tidak menyangka dia akan membawa isi hatinya ke tengah pembicaraan kami, wowh, tunggu dulu Voltaire, kejarlah aku dahulu, baru aku akan menilaimu kembali. Selesai makan, aku mengajaknya pulang, dan sesampainya di hotel, aku berpamitan kepadanya, tapi dia menahan tanganku, "Kapan kamu kembali?" tanya V.


"Mungkin lusa" sahutku, "Kenapa?" tanyaku kepadanya. Dia menggeleng, "Aku hanya tidak mau kehilangan kamu lagi, Dream" sahutnya, "Bisakah kamu tinggal?" tanyanya. Aku menggeleng, "Aku harus kembali, kisah kita sudah berbeda V" jawabku, "maafkan aku" sambungku lagi


"Hei, Dream, santai saja. Aku hanya memintamu untuk disini sebentar lagi, aku belum puas bertemu denganmu" sahut V lagi. .Aku memeluknya erat, dan dia membalas pelukanku, "Bisakah kita kembali seperti dulu?" tanyanya, "sebelum kita menikah maksudku" sahut V lagi. Aku mengangguk, "Pasti V, tapi kita berbeda ruang dan waktu, dan itu akan sulit sekali untuk kita kembali seperti dahulu" jawabku. Aku memberitahukan realita kepadanya, kita tidak bisa hidup hanya dengan berpatokan pada pengandai-andaian atau mimpi.


"Aku akan memikirkan hal itu, dan aku pasti bisa menemuimu dan Kai" sahutnya, penuh dengan percaya diri. Aku tersenyum dan berpamitan kepada V.


Sesampainya di kamar Kai, sudah menungguku,


"Malam sekali kamu baru sampai." sahutnya sinis. Aku tertawa, "Kenapa gayamu seperti pak Mark?" tanyaku menggodanya. Dia tertawa, begitu pula aku. Aku menceritakan kepada Kai tentang hari ini, namun untuk moment dimana V mengatakan bahwa masih ada aku di hatinya, aku merahasiakannya dari Kai.


"Kapan kita kembali Kai?" tanyaku kepada Kai.


"Kamu sudah siap kembali besok? Waktu kita masih lama disini, tapi ayahmu panik dan sangat ingin bertemu putri tunggalnya yang habis diculik" sahutnya.


"Baiklah, aku akan memikirkannya malam ini. Aku lelah Kai" sahutku, menguap.


"Istirahatlah, selamat tidur, Dreamy" sahutnya, dan Kai mengecup keningku.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Kai, ijinkan aku mengajak jalan Dream" pintaku pada Kai, "aku berjanji tidak akan jaun, gpsku dalam kondisi aktif, kamu bisa melacak kemana aku pergi" sahutku lagi.

__ADS_1


"Ini bukan tentang kamu mau kemana, ini lebih kepada, apa yang mau kamu lakukan?" tanya Kai. Saat ini, sulit sekali menembus pertahanan Kai.


"Aku tidak akan melakukan apapun pada Dream, percayalah kepadaku, Kai, aku mohon." sahutku. Akhirnya Kai mengangguk, "dengan syarat, aku ngga mau Dream pulang dengan wajah memerah tersipu-sipu atau pun ada tanda merah di leher atau dimanapun" sahutnya lagi. Aku tertawa, "aku berjanji" sahutku, dan menjabat tangan Kai.


__ADS_2