
Aku tersadar....berat sekali mataku. Aku berusaha membuka mataku, dan mengerjap-ngerjapkannya. Aku melihat ke sekelilingku, dimana aku? Ah, aku ingat, kemarin, 3 orang menyekapku, kepalaku masih pusing.
"Hei!!! Hei!!!" sahutku. Mungkin suaraku kurang keras.
"WOI!!!" sahutku lebih keras. Seorang pria berbadan besar, dengan tato bunga mawar merah di lengannya, masuk ke dalam ruangan. Diikuti oleh dua pria besar lainnya. Aku diculik, lagi?
"Sudah sadar ternyata nona kita ini." sahut si pria mawar, dan dengan kasar, dia membangunkanku dan menyeretku untuk duduk di sebuah sofa kecil lusuh. Aku memberontak sekuat yang aku bisa, tapi tenaganya terlalu kuat. Berbeda dengan Rufus.
"Siapa kalian?" tanyaku. Mereka bertiga tertawa.
"Dreamy Eve, berapa yang mampu ayahmu keluarkan untuk menebus putri semata wayangnya?" sahut pria satu lagi, dia berbadan besar, berkulit hitam, dengan tindikan di hidung seperti kerbau. Aku memandang ke pria satu lagi, punggung tangannya terluka, dia di balut seadanya, wajahnya pucat, pasti kehabisa darah atau karena infeksi, pikirku.
"Kalian bodoh! Untuk apa menculikku, aku saja dibuang oleh ayahku sendiri! Culiklah ayahku, bukan aku! Dia tidak akan datang mencariku!" jawabku, dadaku sakit sekali saat mengucapkan hal itu, dan kenyataan pahit bahwa papaku bahkan tidak tau anaknya di culik.
"Semakin menarik, kami bisa bermain-main denganmu lebih lama kalau begitu." sahut si pria kerbau. Wajahnya mendekatiku, dan aku bisa mencium bau nafasnya yang menyengat.
Aku berpikir, apa yang harus aku lakukan. Pertama, aku harus tau siapa mereka, dan dimana aku sekarang.
"Kalian siapa? Apa yang kalian mau? Dan dimana ini?" tanyaku, berusaha memberanikan diriku, dan menjauhkan rasa takut yang semakin merasukiku. Adrenalinku berpacu dengan cepat.
"Mau kenalan rupanya nona kita ini. Jack, buka ikatannya, kita bicara santai disini." sahut pria mawar. Si pucat mendekatiku, dan melepaskan ikatanku, aku melirik tangannya yang terbalut, dan masih mengeluarkan darah cukup banyak. Apa itu chip?!
"Tanganmu? Kamu mengeluarkan chip dari tanganmu?!" aku bertanya kepadanya. Dia menyeringai, dan memamerkan balutannya.
"Kamu pikir itu cara pintar, bodoh sekali! Chip itu ada 2, kamu hanya berhasil mengeluarkan yang besar, tapi microchip yang tertanam di pembuluh darahmu, tidak akan pernah hilang. Usahamu sia-sia...kita lihat seberapa kuat kamu bertahan dengan darah terus mengalir di tanganmu?" sanggahku. Mereka tampak terkejut. Dan sekarang aku tau siapa mereka.
"Kalian narapidana, karena hanya narapidana yang mempunyai chip, apa tujuan kalian?" aku bertanya kepada mereka.
Senyum mereka menghilang sekejap dari wajahnya. "Kamu cukup tau banyak ya nona. Tidak kusangka. Aku salah sangka terhadapmu, kupikir kamu hanya seorang putri kecil yang cengeng dan manja. Kiprahmu di dunia politik ternyata bukan isapan jempol semata. Luar biasa!" sahut si pria mawar.
"Dimana kita sekarang?" tanyaku. Pria mawar itu menyeringai, "Apa nona kecil serba tau ini sudah mulai takut?" dia bertanya mengejek.
"Aku tidak takut kepada kalian." jawabku. Padahal aku takut sekali. Bagaimana caranya aku menghubungi Kai atau siapapun di luar sana.
"Wowwhhh....hahahahaha...luar biasa. Kulihat kita sudah melintasi waktu, bukan begitu, Jack, Spark?" tanyanya meminta persetujuan dari kedua temannya.
"Tidak mungkin kalian berani melintasi waktu! Bodoh sekali! Waktu akan di hentikan begitu terdeteksi ada penyelundup waktu, apalagi narapidana yang kabur. Aku akui, kalian cukup hebat bisa menyebrangi pulau dan melewati lautan luas demi menculikku." sahutku.
Aku berusaha mengulur waktu, paling tidak, aku bisa sambil berpikir dan menyusun rencanaku. Aku yakin ini tidak jauh dari tempat V. Tidak mungkin mereka melintasi waktu, waktu di hentikan begitu sirine berubah warna dan berbunyi. Dan mungkin, aku juga berharap ini mungkin terjadi, papa tau sesuatu terjadi kepadaku.
__ADS_1
"Jadi, aku akan tetap meminta tebusan dari ayahmu itu" sahut pria mawar. Tampaknya dia sedang berpikir.
"Silahkan, dia tidak akan datang. Waktu di culik sebelumnya pun dia tidak datang untuk menyelamatkanku." sahutku, "nah, lepaskan aku sekarang. Anggap saja kita berdamai, serahkan diri kalian, dan aku tidak akan mengadili kalian, hah, bagaimana?" aku berusaha untuk melakukan penawaran.
"Kamu harus tetap ada disini sampai ayahmu mengirimkan tebusan kepada kami. Jack, ikat dia lagi! Dia terlalu banyak tau!" sahut si pria mawar.
Aku mengumpulkan tenaga dan keberanianku, Kai, pinjami aku kekuatanmu, V tolong aku, papa, dimana pun papa berada, doakan aku, mama...doakan aku juga, aku merindukan kalian. Pria pucat itu mendekat dengan membawa tali yang tadi mengikatku, dan ketika dia mendekatkan tubuhnya ke arahku untuk mengikatku, aku menggigit tangannya yang terbalut.
"Aargghh" serunya sambil memegangi tangannya, aku tidak peduli darahnya mengalir semakin banyak. Aku menuju pintu, dan membukanya, sial, terkunci! Aku memandang berkeliling dengan cepat, dan aku menemukannya, di kantong si pria kerbau.
Pria mawar menyeringai kepadaku, "Mau kemana nona kecil?" katanya. Bersyukurlah, badanku kecil, jadi aku bisa menghindari tangkapannya. Aku mengambil tali di tangan si pucat, dengan cepat, aku naik ke sofa, mensejajarkan tinggiku dengan si pria kerbau, dan aku mengalungkan tali ke lehernya dari belakang, dan voila! Aku mendapatkan kuncinya.
"Tangkap anak sialan itu, kalian bodoh, tinggalkan Jack! Spark, kejar dia!" seru si pria mawar.
Aku berlari berputar-putar, melompat kursi, berguling masuk ke dalam kolong sofa, dan merangkak melewati kaki mereka, dan membuka kunci dengan cepat.
Braaakkk!! Pintu terbuka, aku berlari sekuat tenagaku. Kemana aku harus pergi, kiri kanan atau lurus.
Pria kerbau masih mengejarku, aku mempercepat lariku. Aku akan mencari pos polisi terdekat. Baiklah, aku berlari, dan pria kerbau itu masih mengejarku, tapi nampaknya dia sudah kelelahan. Oke, aku bersembunyi di balik dinding sebuah bangunan,dan ketika dia mendekat, aku menjulurkan kakiku, brukkk...yes!! Dia tersungkur. Aku menaiki tubuhnya, dan membekukan tangannya. Pria kerbau itu meringis kesakitan.
"Katakan kepadaku, ini tahun waktu berapa?!" tanyaku kepadanya. Aku memegang ujung rambutnya dan menjambaknya.
Tak lama, aku menemukannya.
"Tolong aku, tolong aku. Tolong bantu aku menemukan Casanova Restaurant!" sahutku tercekat. Seorang polisi wanita memintaku duduk, dan memberikan sebotol air kepadaku. Aku menenggaknya, "Hhhh...tolong bantu aku, dimana Casanova Restaurant?" tanyaku setelah berhasil mengatur nafasku.
"Apa yang terjadi?" tanya polisi wanita itu.
"Di ujung sana, ada seorang pria berbadan besar, dengan tindikan pada hidungnya, 2 orang lagi, ada di dalam gudang kosong di tengah tanah lapang sana" sahutku. Polisi wanita itu meminta anak buahnya untuk menuju ke tempat yang aku maksud.
"Siapa namamu?" tanya polisi wanita itu.
"Dream...maksudku Dreamy Eve" sahutku, "Kamu tidak akan menemukan namaku, karena aku tidak tinggal disini, aku seorang pelintas...maksudku, pendatang." sahutku.
"Siapa yang menjaminmu?" tanya polisi wanita itu lagi.
"Voltaire Brian " jawabku.
"Alamatnya?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Casanova Restaurant." jawabku. Dan tampaknya polisi wanita itu mulai kesal kepadaku.
"Ya itu alamatnya dimana?" tanyanya dengan nada gusar.
"Aku tidak tau." sahutku lemah.
"Bagaimana aku bisa membantumu kalau kamu tidak tau data pribadi seperti ini." polisi wanita itu berpikir, "Tunggulah di situ, sementara aku mencari laporan orang hilang atau Casanova Restaurant itu." katanya. Dia menyuruhku masuk ke dalam satu ruangan kecil, dan berjendela kecil juga.
Tidak lama, para polisi pun tiba, dan mereka berhasil menangkap para narapidana itu. Mereka memandangku tajam. Aku terduduk lemas... Percuma aku berlari, apa tidak ada seorang pun yang mencariku. Aku memejamkan mataku, dan tertidur.
...----------------...
**EPILOG
Police Office POV**
"Aku tidak bisa menemukan data tentang Dreamy Eve" sahutku, lebih kepada diriku sendiri. Darimanakah asalnya? Bahkan nama ketiga pria itu tidak terdaftar disini. Siapa mereka sebenarnya? Aku menyalakan wifi kantor, dan menghubungkannya dengan laptopku.
Casanova Restaurant
Jl. Bumi IV, blok D 24
Tidak ada nomor telpon yang dapat dihubungi? Restaurant apa itu?
"Aku patroli keliling dulu, dan tolong jaga wanita itu. Berikan dia makan dan minum" pintaku kepada rekan kerjaku.
Aku bergegas mengendarai mobilku, dan menuju jl. Bumi itu.
Setelah beberapa jam aku sampai. Dan benar namanya, Casanova Restaurant. Ada seorang pria tinggi, berwajah seperti lukisan, tampan sekali, di depan restaurant itu.
"Permisi, saya Queenie dari kepolisian setempat" sahutku, dan menunjukan kartu keanggotaanku kepadanya.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" sahut pria itu.
"Anda Voltaire Brian?" tanyaku kepadanya.
Pria itu mengangguk.
"Apa anda mengenal Dreamy Eve?"
__ADS_1
...----------------...