Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Just Kiss Me!


__ADS_3

Keesokan paginya aku mengekor kemana pun V berjalan. V ke dapur, aku ikut ke dapur, V pergi ke halaman, aku juga ikut ke halaman, V membantu si mbah nenek masak nasi, aku pun mengikutinya. Sampai, "Aku mau buang air, apa kamu mau ikut juga?" tanya V tertawa. Aku menggeleng. Selesai V buang air, aku memegang ujung baju V, dan mengikutinya lagi. Namun tiba-tiba V membalikan badannya, dan memandangku, "Kamu takut? Cemas?" tanyanya. Aku menggeleng, "Tidak." jawabku.


"Terus? Kenapa mengikutiku?" tanya V lagi, tersenyum.


"A...aku tidak mengikutimu. Hanya memegang bajumu, sombong sekali. Apa membuatmu begitu terganggu?" tanyaku, kesal.


V tertawa, "Hahahahaha...aku tidak terganggu, hanya saja aku takut kamu akan menabrakku." katanya. Kemudian, V maju ke arahku, mendekatiku, aku mundur perlahan, "Ke..kenapa sekarang kamu begitu?" tanyaku. V terus maju mendekat, hingga aku menabrak tembok di belakangku, kedua tangan kekarnya diluruskan ke arah tembok, dan membuatku seakan terpenjara oleh lengannya, jantungku kembali menemukan ritmenya. V mendekatkan wajahnya ke arahku, "Kamu mau main cinta-cintaan bersamaku?" tanyanya berbisik. Wajahnya dekat sekali....deg...deg...deg...


"Bu...bukan begitu, maksudku, a...aku hanya... sudahlah!" sahutku, dan mengalihkan pandangan mataku darinya. V tertawa, "Hahahaha...kalau melihat reaksimu, kamu masih mencintaiku, Dream. Sulit sekali menikah denganmu ampai kita harus menyebrang dan melintasi waktu seperti ini." sahutnya. V kemudian menjauh, "Hei, Dream, maukah ikut bersamaku hari ini?" tanya V. Aku menoleh lagi memandangnya, "Kamu mau kemana?" tanyaku.


"Nenek mempunyai toko kelontong, aku mau kesana. Nenek bilang sudah ada pekerja baru disana, tapi aku tetap mau kesana. Bagaimana denganmu?" V bertanya lagi.


"Aku ikut. Tega sekali jika kamu meninggalkanku disini sendiri." sahutku. V tersenyum lagi, "Anggap saja kita sedang berlibur, Dream. Santai saja." jawabnya. Aku mengangguk. Benar juga kata V, aku tidak sendiri disini, dan lagi kakiku sudah hampir pulih sepenuhnya, ini lebih cepat dari dugaan si perawat. Dan aku sudah bisa berjalan perlahan dengan berpegangan tanpa crutch itu. Semangat, Dream! Target awalku adalah lepas dari crutch. Jadi aku harus sering-sering berlatih untuk berjalan.


Ketika kami sudah siap jalan, tiba-tiba si mbah nenek datang, "Loh, nduk...ealah, mau kemana toh?" tanyanya.


"Mau ikut ke toko, nek." jawabku.


"Ndak usah. Di rumah aja karo aku. Yok." sahut si mbah nenek, memapahku untuk kembali masuk ke dalam. Aku menengok, dan memandang V, dan memberinya tatapan tolong-selamatkan-aku, tapi sepertinya V tidak peka. Dasar V bodoh!! sahutku dalam hati.


Nenek mengajariku berjalan tanpa crutch, mengajakku menyiram tanaman dengan menggunakan teko air, ini sangat melelahkan, karena jika habis harus diisi lagi, dan di pakai kembali untuk menyiram. Tak lama setelah itu, nenek mengajariku untuk melukis di atas kain atau mbatik seperti kata si mbah nenek. Ini mengasyikan, dan membuat pikiranku menjadi ringan dan teralihkan karenanya. Ada bermacam-macam alat untuk membatik ini, dan namanya sangat aneh, canting, malam, saringan, gawangan, begitulah.


"Bisakah aku membawa ini saat aku kembali nanti?" aku bertanya kepadanya. Si mbah nenek tersenyum, mengangguk, "Bagaimana? Oh, boleh saja. Suka yah nduk?" tanya si mbah nenek kembali. Aku mengangguk, "Ini indah, tapi panjang sekali kain ini." sahutku. Mbah nenek menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari kain itu, "Ini nanti untuk kamu dan V. Aku ngga bisa kasih apa-apa, saat kalian kembali nanti, aku sudah tidak ada, jadi bawalah ini supaya kalian selalu mengingatku." sahutnya.


"Terimakasih mbah." jawabku. Aku mau memegang tangannya, tapi takut mengganggu, jadi aku urungkan niatku.


"Ini nanti 'tak jahit dulu ya, jadi baju." sahutnya lagi. Aku mengangguk, dan tersenyum.

__ADS_1


Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, aku menunggu V kembali di halaman rumah. Sambil sesekali melongok ke luar pagar, kalau-kalau ada taksi atau apa itu berhenti di depan rumah si mbah nenek. Ah, itu dia.. Aku berjalan terpincang-pincang menghampirnya, si mbah nenek berteriak dari dalam, "Nduk, hati-hati nduk, alon-alon." katanya. Aku tidak paham artinya.


"Hai V. Kamu sudah sampai?" tanyaku kegirangan, sambil membuka pintu pagar. Dan memeluk V yang baru saja sampai.


"Aku merindukanmu V, lama sekali disini." sahutku lagi setengah menangis. V membalas pelukanku, dan kemudian dia melepasnya, "Lihat, siapa yang kutemukan, Dream?" katanya. Aku melihat di belakang V, dan


"KAI...KAI...KAI....oh, Kai...aku merindukanmu sekali. Kamu baik-baik saja Kai? Oh, Kai!!" sahutku, dan memeluknya erat. V tersenyum. Kai menggendongku ke dalam.


"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." sahutku. Tapi Kai diam saja, dan tidak berkata apapun. Setelah sampai di dalam, dia menurunkanku, dan menatapku, matanya berkaca-kaca, "Tahukah kamu, Dream, kamu itu wanita yang paling bodoh yang pernah aku temuin. Aku pikir, ketika kamu semakin dewasa kamu akan bertambah pintar, tapi ternyata kamu spesial, Dream, kamu semakin bodoh. Bodoh sekali." katanya menatapku.


"Apa maksudmu, Kai jelek?!" sahutku, "Kamu tiba-tiba datang dan mencaciku seperti itu, ada apa denganmu, Kai?!" sahutku lagi. Menyebalkan. Kai menjitak kepalaku, "Kamu tau apa yang kamu lakukan? Bisa-bisanya kabur di saat semua orang memegang senjata api?! Apa itu namanya kalau bukan bodoh?!" jawabnya. Aku menunduk, tapi kemudian harga diriku yang tinggi ini memberontak dan tidak mau di kalahkan, "Aku tidak bodoh, aku membayangkan ketika aku kabur, kalian semua menembaknya, tapi ternyata si pria mawar itu lebih cepat." sahutku.


"Gambit!" jawab V dan Kai bersamaan. Aku memandang mereka bergantian, "Jadi kalian sekarang bersekutu menyerangku? Baiklah, lakukanlah!" sahutku, dan membuang mukaku.


"Kalau kamu seekor semut, Dream, kamu sudah kuinjak halus!" sahut Kai gemas dan mencubit pipiku.


"Wes...wes...makan dulu. Ajak teman-temanmu V. Ini Kai pekerjaku, oalah, ternyata kenalan. Pantes mukanya modern sekali. Ngganteng." sahutnya. Kai tersenyum dan memgucapkan salam kepada si mbah nenek.


Kemudian kami bersiap-siap untuk makan. Setelah makan si mbah nenek, mengajak kami berbincang-bincang, "Jadi, Kai, Dream, dan kamu dari masa depan? Awalnya aku tidak percaya, kalau V tidak memperlihatkan tanda lahir. Tanda lahir seperti ciri khas seseorang seperti tanda pengenallah, dan bagaimana ini bisa terjadi? Dan bagaimana kalian kembali nanti?" tanya si mbah nenek. Kami saling berpandangan tanpa tau jawabannya.


"Waktu mbah, kembali lagi, kami akan menunggu waktu terbuka." jawab V.


"Tapi aku senang, aku bisa bertemu cucuku dan istrinya yang ayu ini." kata si mbah lagi, "Wes lah istirahat dulu kalian semua. Aku mau ke kamar duluan." sahut mbah nenek.


"Jadi?" tanya Kai.


"Jadi apa?" tanyaku

__ADS_1


"Kalian resmi suami istri disini?" tanya Kai lagi. V tertawa, "Ya, kenapa?" tanya V, "Apa kamu iri?" tanya V lagi. Kai memalingkan wajahnya, "Untuk apa aku iri? Wanita bodoh ini, aku benar-benar tidak habis pikir." jawab Kai lagi. Aku kesal mendengar jawabannya, "Apa kamu tidak merindukanku, Kai?" aku bertanya kepadanya. Dari awal bertemu hanya menyebut aku bodoh, dan bodoh. Ngga sopan!


"Tidak, tentu tidak." jawabnya. Tapi matanya tidak memandangku, dia berbohong.


"Lalu, untuk apa kamu kesini?" tanyaku lagi.


"Papamu yang memintaku menyusulmu, aku pengawalmu, ingat?" jawab Kai. V memegang bahu Kai, "Hentikan Kai, jangan menyebut dirimu seperti itu." sahut V. Aku benci Kai. Aku meninggalkan mereka, dan masuk ke kamar. Kenapa harus bilang dia pengawalku? Kita bisa berteman, kan? Berteman baik seperti sebelumnya. Padahal aku rindu sekali pada Kai.


...----------------...


...**EPILOG...


Kai POV**


"V, bagaimana Dream?" tanyaku malam itu.


"Banyak menangis, mengekor padaku, trauma sudah pasti, cemas juga sudah jelas, kan? Berbagai kejadian buruk di alaminya berturut-turut, wajar dia menjadi sangat labil." jawab V.


"Bisakah malam ini aku menemaninya? Maksudku, kita tidak tau kapan gerbang waktu akan dibuka kan? Aku ingin meminta ijinmu selama satu hari bersamanya. Atau malam ini saja." pintaku kepada V. Bagaimana pun, V atasanku, dan aku sangat menghargai perasaannya terhadap Dream, dan segala perjuangan yang sudah ia lakukan untuk kami. V mengangguk, "Ini berat, Kai. Kalau bukan kamu, aku tidak akan memberikan ijinku, dan kumohon jangan lakukan lebih dari itu." jawabnya. Aku mengangguk, "Terimakasih banyak, V. Ini sangat berarti sekali untukku." jawabku.


Perlahan, aku memasuki kamar Dream.


"Hei, sudah tidur?" tanyaku kepada Dream. Dia memalingkan tubuhnya, "Untuk apa kamu menghampiriku yang bodoh ini?" tanyanya.


Aku berjalan mendekatinya, dan memeluknya, "Dream, just kiss me." sahutku, dan kemudian aku mencium bibirnya. Aku bersumpah, ini akan jadi yang terakhir untukku. Setelah 24 jam, aku akan menjadi pengawalnya lagi, dan mengantarnya kembali.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2