Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Call Me Luna


__ADS_3

"Jadi, maksud papa, aku tidak bisa kembali?" tanyaku saat itu kepada papaku di ujung lorong waktu. Papa menggeleng, "Belum bisa, Dream. Maafkan papa." sahut papa. Aku terdiam, kehabisan kata. Kai dan V memegangi pundak dan pinggangku.


"Kai dan Voltaire tolong jaga anakku. Ubahlah penampilannya, buatkanlah identitas baru untuknya, ajarkan dia segala hal, dan aku mohon sekali lagi kepada kalian, jaga Dream." pinta papa kepada kedua priaku ini.


"Aku akan jaga dia selalu, sesuai tugasku." jawab Kai, "dan jika anda butuh bantuan...." sahut Kai. Tapi papa memotongnya dan menggelengkan kepalanya, "Terimakasih Kai, dan maafkan aku." sahut papa lagi, "Tolong kabari aku selalu mengenai apapun yang kalian lalui." sahutnya. V dan Kai menjawab papa, "Baik." kata mereka. Aku belum sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Aku memeluk papa erat-erat, karena aku tidak tahu kapan lagi aku bisa bertemu dengannya.


...----------------...


"Oke, waktu kita hanya 12 jam terhitung dari sekarang." sahut Kai. Pintu waktu dibiarkan terbuka selama 12 jam dengan pengawasan super ketat. Dan saat ini kami bertiga sedang berdiskusi akan ke tahun waktu berapa kami akan menetap.


"Aku mau kita ke tahun waktuku saja. Kita sudah tau tempatnya, ada yang kenal dengan kita juga jadi kalau mau minta tolong tentang apa pun lebih mudah." sahut V.


Kai mengangguk, "Benar juga itu. Bagaimana dengannya?" tanya Kai dengan menolehkan sedikit kepalanya ke arahku.


"Ya Dream akan tetap ikut kita, kan?" jawab V. Kai menepuk keningnya, "maksudku, kita harus memikirkan dia akan menjadi siapa dan bagaimana?" kata Kai menjelaskan.


Mereka berdua memandangku, dan seolah memintaku untuk menggunakan otakku sedikit.


"Apa? Kenapa aku harus di ubah?" aku bertanya kepada mereka.


"Iya dong, Dream. Kamu mau di culik lagi? Semua saingan papamu, sedang mencarimu demi menurunkan posisi papamu." jawab Kai. Aku menoleh kepada V, dan mencari perlindungan.


"Aku tau!" seru V tiba-tiba, "Warnai rambutnya jadi gelap, hitam atau apa, kemudian kita pangkas sedikit rambutnya, atau jadikan saja dia seperti seorang laki-laki." sahut V. Aku menatapnya tak percaya, "V bodoh! Sudah cukup kalau hanya rambut pirangku yang berubah jadi hitam, tapi untuk jadi laki-laki, aku menolaknya! No!" sahutku lalu membuang mukaku.


"Baiklah, rambutmu akan hitam, dan panjang rambutmu tidak akan berubah, tapi kalau masih bisa di kenali sebagai Dream, aku terpaksa setuju dengan V untuk membuatmu sebagai seorang laki-laki." sahut Kai.


"Dan aku sedang membayangkannya, Dream menjadi seorang laki-laki, dan begitu kita mencari tempat tinggal, dia akan dijadikan satu kamar dengan kita... wowwhhh..hahahahaha..kamu akan tau tentang dunia laki-laki, Dream. Itu akan seru sekali." sahut V, dan tertawa membayangkan. Aku mengambil sekotak tissue dan kulemparkan ke arahnya, bletakk!


"Bersihkan dulu otakmu dengan tissue, baru bicara lagi denganku." sahutku. V dan Kai tertawa bersama, "Hei Dream, tapi ide itu boleh juga kita coba. Tidak akan ada yang menyangka kamu akan berubah menjadi seorang pria, kan?" sambung Kai.


"Ya memang, tapi rambutku, baju-bajuku, aku harus mengorbankan itu semua...aku tidak mau!" sahutku.


"Ya sudahlah, baiklah. Yang jelas, keputusannya sudah ada jadi mari kita melaporkan ini kepada papamu." sahut Kai. Kami mengangguk. Untuk menghubungkan Lyn diperlukan sinyal yang cukup kuat. Jadi kami pergi kembali ke lorong waktu, dan menghubungkan Lyn dengan papaku. Tak lama muncul virtual hologram papa melayang-layang.


"Pak, kami sudah membuat rencana." sahut Kai. Wajah papa berseri-seri senang.


"Oh yah? Bagaimana?" tanya papaku, menurunkan nada suaranya, seolah akan ada yang mencuri dengar.

__ADS_1


Kai menceritakan rencananya kepada papa, "Tapi kami belum menemukan nama yang tepat untuk Dream." sahut Kai menjelaskan. Papa mengangguk-angguk, dan sekarang sibuk mencari nama untukku.


"Kalau dia menjadi seorang laki-laki, kita namakan dengan Luca, tapi jika dia tetap menjadi seorang perempuan, maka kita akan namakan dengan Luna. Bagaimana?" tanya papaku dan anehnya tampak senang, seolah akan mempunyai seorang anak.


"Papa, ini tentang aku, bukan tentang anakmu yang akan lahir kan?" tanyaku tidak percaya. Papa tertawa, "Ah, tentu tidak Dream. Merubahmu sama halnya seperti menyambut seorang bayi yang baru lahir, makanya aku semangat sekali. " sahut papa lagi. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.


"Oke, siap kapan?" tanya papa lagi.


"Sebentar lagi, biarkan kami menyelesaikan urusan kami disini dulu, berpamitan, baru kami siap jalan." jawab Kai.


"Sampaikan salamku untuk nenekmu yah V. Terimakasih telah menjaga anakku, dan membantu untuk memulihkan kakinya." sahut papa, dan berpelukan dengan V.


V mengangguk, setelah itu papa kembali menghilang di dalam pusaran waktu.


...----------------...


"Oh Tuhan, aku rindu sekali dengan tahun ini" sahut V begitu kami tiba di tahun waktunya, 2022.


Kami berhenti di tempat yang berbeda dengan tempat V tinggal.


"Kita harus make over Dream dulu, ayo!" sahut V. V memimpin jalan, karena katanya dia mengenal seseorang yang bekerja di salon kecantikan.


"Hai V sayang, basa basi dulu dong kita.." sahut Ken sambil mencubit pipi V, "Yang cewek ini ya say ..uh cantiknya kamu cin." sahut Ken dan mencengkramkan jari-jarinya di depan wajahku. Aku otomatis bergerak mundur.


"Ngga sayang ini kalau di hitam semua? Eike mix yah V, sama abu-abu, biar kece aja gitu. Yuk.." sahut Ken lagi dan membawaku ke tempat pencucian rambut.


V dan Kai meninggalkanku bersama om aneh ini, "Dream, ini akan memakan waktu lama, kami akan pergi mencari tempat untuk kita tinggal sementara." sahut Kai.


"Papa bilang kita akan tinggal di hotel kok, kenapa harus cari tempat lain?" jawabku.


"Itu akan terlalu menarik perhatian, Dream. Sudahlah, nikmatilah waktumu disini. Kami akan kembali." sahut Kai.


...----------------...


"Bagaimana? Bagaimana? Cantik kan?" tanya Ken. Aku hanya bisa memandang V dan Kai yang berdiri bodoh di depanku, dan melihatku dengan ekspresi aneh mereka.


"Sudah aku duga, ini akan jelek dan gagal." sahutku.

__ADS_1


"Ehem... tidak Dream. Kamu tidak jelek, hanya terlihat sedikit berbeda." sahut V seakan sedang mencari kata-kata yang halus untuk mengungkapkan maksudnya.


"I...itu benar, Dream. Maksudku, ma...maksud kami, kamu oke." jawab Kai seadanya.


"Tuh kan, cantik loh ini. Masterpiece Ken tidak pernah gagal. Apalagi ini...uugghh lala balabala, ya kan? Mata biru langitnya semakin terlihat kan? Uugghhh...cantik sangat." sahut Ken, yang tidak berhenti memujiku, iyalah pasti, kan dia yang mengerjakan jadi tidak mungkin kami bilang jelek kan?!


"Apapun hasilnya, aku tidak mau di potong pendek seperti laki-laki! Tidak akan mau!" sahutku, dan aku menyatakan perang kepada siapa pun yang memintaku untuk memotong pendek rambutku.


"What??!! Nei...nei... sapose yang suruh-suruh potong pendek?! Nei yah... rambutnya sudah bagus kan? Ken juga akan no!!" Ken mendukungku. Aku mengangguk dan mengacungkan jempolku tanda setuju kepadanya.


" Tidak perlu!" sahut V dan Kai berbarengan.


"Dan, siapa namamu?" tanya Kai, mengetestku.


"Luna." jawabku.


"Nama yang cantik." sahut V.


"Oh, namanya Luna? Tadi katanya Dream? Tidak jadi Dream?" tanya Ken. Kami bertiga tersenyum, dan menggeleng.


"Panggil aku dengan Luna." jawabku dengan senyum paling manis, "dan terimakasih sudah mendukungku untuk tidak memotong pendek rambutku, Ken." sahutku lagi. Ken memelukku, "Sama-sama anak cantik " sahutnya.


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Ini gawat Kai!" seruku kepada Kai. Kai menengok ke arahku dengan bingung.


"Kenapa?" tanyanya.


"Dream... maksudku Luna. Dia semakin cantik. Bagaimana ini?" sahutku. Jujur saja, aku pikir dengan rambut pirang terangnya di ubah menjadi hitam abu-abu itu akan gagal, ternyata, benar kata Ken, mata biru cemerlangnya semakin terlihat bersinar, seperti memancarkan cahaya. Jantungku tidak berhenti berdebar setiap kali memandangnya.


"Ya, aku akui itu. Aku merasakannya juga." sahut Kai, "dan setiap kali aku melihatnya, jantungku berdegup kencang." jawab Kai menambahkan.


Kami saling berpandangan. Kenapa jadi seperti ini? Ini di luar dugaan kami. Bagaimana kami akan mengelola perasaan kami ini nantinya? Dan harus bagaimana aku dengan Luna? Atau bahkan dengan Kai? Apa kami benar-benar akan bersaing?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2