Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Final Decision


__ADS_3

"V, maafkan aku!" sahutku, saat ini aku sedang berlatih di depan cermin kamarku. Entah apa yang kupikirkan tadi malam sampai aku mengiyakan keduanya.


"V, maafkan aku, kemarin aku dikuasai ketidaksadaran. Kondisiku...."


"Ada apa dengan kondisimu? Dan kenapa kamu minta maaf kepadaku?" V tiba-tiba muncul dan mengejutkanku.


"Kamu tau, ini kamar seorang wanita, ketuklah dahulu." sahutku.


V tertawa, "Sorry my lady." sahutnya membungkukkan badannya, "Ada apa denganmu?" tanya V lagi.


"A...anu V. Aku...duduklah dulu." sahutku, menggandeng tangan V dan mendudukannya di kasurku. Kemudian aku menarik kursi kecil untuk duduk di depannya.


"Baiklah, aku...aku...ma...maafkan aku V. Tadi malam, aku tidak bermaksud untuk mempermainkanmu tapi aku...aku..." aku berkata dengan terbata-bata. Aku takut melukai hatinya. Tapi aku melihat V tersenyum.


"Kamu tidak sungguh-sungguh saat berkata iya kepadaku tadi malam?" tanya V.


"Kamu tau? Maksudku, kamu sudah tau?" tanyaku terkejut.


"Tentu saja, Robbie memberitahuku. Tapi aku sudah berniat memberikanmu kejutan malam itu, jadi aku menyelesaikannya dengan baik." jawab V.


"A...apa hatimu sakit?" aku bertanya lagi.


Dia tertawa, dan membusungkan dadanya dengan bangga, " Tentu saja tidak sakit hanya sakit sekali, Dream. Kamu menolakku setelah apa yang kita lalui bersama." jawabnya. Ada kesedihan di dalam suaranya, dan matanya menatapku sendu.


Aku memberanikan diri memeluknya, "Masih bolehkah aku memelukmu?" aku bertanya.


Dia kembali tertawa kecil, "Harusnya aku kan yang bertanya, masih bolehkah aku memelukmu?" V balik bertanya.


Aku mengangguk, dan mengalungkan kedua tanganku ke lehernya, "Terima kasih V, dan maafkan aku." sahutku.


"Kamu tidak perlu meminta maaf Dream. Aku akan bahagia jika kamu bahagia." jawabnya.


Aku melepaskan pelukannya, "masih bolehkan aku untuk tetap tinggal disini?"


"Tentu saja. Ini rumahmu." jawab V singkat.


Aku memberikan senyuman paling manis untuknya. Lega rasanya sudah bisa memutuskan. Aku dan V semoga bisa menjadi teman seperti aku dan Kai. Aku mau dia tetap ada di sisiku, egois sekali bukan? Tapi memang seperti itulah sifat seorang anak tunggal...hehehehe.


V mengantarku ke rumah Robbie, dan Robbie sudah menungguku di depan pintu gerbangnya, seperti setiap pagi dia lakukan.


"Pagi, Lunaku." sapanya, "pagi V, dan terimakasih sudah mengantar Lunaku." sahut Robbie lagi.


"Sudah kubilang jangan sebut dia Lunaku, dia masih tetap milikku, kamu tau?" timpal V, "Aku akan menjemputmu nanti." sahutnya kepadaku.


"Tidak perlu, aku mengajaknya menginap malam ini." sahut Robbie.


Namun sepertinya, V tidak menghiraukannya, "kabari aku." bisiknya, dan itu membuat Robbie kesal.


"Jaga sikapmu, Voltaire!" seru Robbie, dan menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Robbie membawaku ke dalam ruangannya, "Dimana Jean dan Jeannete?" aku bertanya kepadanya, karena rumah Robbie tampak rapi dan sepi.


"Mereka bersiap untuk sekolah. Aku mulai memasukannya ke sekolah sungguhan, supaya mereka bisa bersosialisasi." jawab Robbie.


Aku menatapnya bahagia, karena selama ini anak-anak Robbie hanya sekolah di rumah, dengan alasan tidak ada yang menjaganya saat sekolah.


"Apa?" tanya Robbie saat mendapati aku sedang menatapnya, "Hei, kamu membuatku salah tingkah. Hentikan itu." sahutnya, wajahnya tersipu, dan Robbie menundukkan kepalanya. Kemudian dia berjalan untuk menyiapkan segala sesuatu yang harus disiapkan.


Aku memeluknya dari belakang, "Terimakasih karena sudah mau memberikan kesempatan anak-anakmu untuk bersekolah." sahutku.


Robbie memegang tanganku, dan membalikkan badannya, aku menatapnya, "Anak-anak kita." sahutnya.


Aku tersenyum, "Belum." jawabku.


Robbie mengecup bibirku, "Ayo, temani aku untuk mengantar mereka." sahutnya. Aku mengangguk, dan bergegas menemui anak-anak itu.


......................


"Hei, Rob, andaikan aku membawamu ke tahun waktumu, apa kamu setuju?" aku bertanya kepadanya.


"Boleh saja, tapi apa tidak lebih baik kamu menetap disini?" tanya Robbie.


Aku memandangnya, "Kenapa?" tanyaku.


"Sudah jelas kan, aku akan memberikan kehidupan untukmu, kamu bisa melakukan apa saja disini." jawab Robbie.


"Istriku meninggalkan kami hanya karena dia tidak mau meninggalkan karirnya. Aku berpendapat, dia bisa melakukan keduanya, tapi dia menolaknya. Sepeninggalan istriku, aku menyibukkan diriku dengan pekerjaanku, sehingga aku melupakan anak-anakku. Sebelum kamu datang, mereka mengerikan, mereka menyebutku monster, begitu pula sebaliknya, kami saling berteriak, dan sedikit banyak aku menyalahkan keberadaan mereka. Padahal mereka tidak minta untuk di lahirkan. Begitu kamu datang, kamu merubah segalanya, kamu merubah mereka, kamu merubahku, bahkan kamu merubah pandanganku tentang hidup dan diriku sendiri. Itu sebabnya aku jatuh cinta padamu, Luna. Kotak ponsel yang kamu lemparkan itu membuat otakku terang ...hahahaha." sahutnya panjang.


Aku tidak pernah menyangka aku bisa merubah kehidupan mereka, bahkan aku tidak menyangka aku bisa memilihnya untuk menjadi pasanganku, "Awal aku bertemu denganmu, jujur saja, kamu menyebalkan, kamu suka melempar dan memerintah orang seenaknya. Dari segala sifat diktaktormu yang membuatku jengkel, tatapan matamu kesepian, dan itu membuatku kasihan kepadamu. Dan dari simpati, perasaanku semakin berkembang." sahutku berpendapat.


Robbie menatapku, "Luna, ikutlah denganku." sahutnya, dan menarik tanganku.


"Ta...tapi anak-anakmu belum selesai, dan kamu ada rapat." sahutku.


"Aku akan mengurusnya!" sahutnya.


Aku tidak tau mengapa Robbie tiba-tiba terburu-buru seperti ini. Apa ucapanku ada yang salah, sehingga dia mengajakku pergi dari lingkungan ramah anak.


Tak lama, dia memarkirkan mobilnya di sebuah kawasan perhotelan megah. Dan dia bergegas turun. Tidak sampai 15 menit, Robbie muncul kembali, dan menarikku untuk turun. Dia masih menggenggam tanganku, dan tidak di lepaskannya sedikit pun.


Lift berhenti, dan membuka. Robbie menarik tanganku, membuka kunci kamar hotelnya, menutupnya, dan dia menciumku. Aku membalas ciumannya, membuka mulutku, dan membiarkan ciumannya semakin masuk ke dalam mulutku.


Aku tidak tau berapa lama kami saling memagut, kali ini permainan tangan Robbie dimulai. Sembari bibirnya semakin menyapu inci demi inci tubuhku, tangannya pun bergerak liar.


"Robbie.... Rob..." hanya itu yang bisa kuucapkan. Di dalam kepalaku hanya ada Robbie sehingga mulutku tidak berhenti memanggil namanya.


Ketika Robbie semakin berkonsentrasi terhadapku, tiba-tiba, papa melayang di otakku, kendalikan dirimu, Dream! begitu kata papa, tepat ketika Robbie hendak memasukkan dirinya lebih dalam.


Aku tersadar, dan menahan tubuhnya, "Tu...tunggu dulu! Tidak sejauh itu!" sahutku dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


Robbie menatapku, dan memberhentikan aktifitasnya, kemudian merobohkan dirinya di atasku. Aku bisa merasakan detak jantungnya, setiap helai nafasnya yang masih memburu.


Kemudian dia menciumku lembut, "Maafkan aku Luna. Maafkan aku." sahutnya meminta maaf.


Kami terdiam selama beberapa saat.


"Robbie, maafkan aku, maksudku aku belum siap untuk sejauh itu." sahutku.


Robbie menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku yang salah. Ucapanmu membuatku ingin memilikimu lebih lagi." sahutnya.


"Aku akan mengajak anak-anak menginap disini. Bagaimana dengan itu?" Robbie bertanya kepadaku, "Aku akan membuka kamar untukmu sendiri." sahutnya.


Aku memeluknya, dan duduk di atas tubuhnya, "Tidak perlu, aku akan tidur denganmu." sahutku, dan menciumnya.


Robbie membalas ciumanku sesaat, "Luna, kamu bisa merasakannya, ada yang menusuk di bawah sana? Kamu menantangku untuk bermain lagi? Aku tidak akan menahannya lagi saat ini." sahutnya.


Aku mencerna ucapannya, dan merasakan apa yang Robbie tunjuk, "Ups." dan aku bergegas turun dari tubuhnya.


......................


**EPILOG


V POV**


"Dream memilihnya, Kai." sahutku saat menghubungi Kai. Hologram Kai melayang-layang di atas meja kerjaku.


Kai tampak terkejut, "Apa?! Aku pikir dia akan memilihmu, dan kita bisa kembali menjadi fantastic four!" sahutnya, "ternyata dia lebih memilih pria katak itu." tambah Kai lagi.


Aku mengernyitkan dahiku, "Pria katak? Apa maksudmu?" tanyaku penasaran.


"Berdasarkan cerita mereka, Dream dan Bry. Ciuman Robbie itu hot karena dia pandai memainkan lidahnya." jawab Kai, dan mempraktekkan lidahnya dijulur-julurkan keluar.


"Iyuuuhh, hentikan Kai. Itu menjijikan." sahutku.


"Tapi bagi para wanita itu, lidahnya seksi. Dan bahkan mereka membayangkan melakukan itu dengan memakai lidah dan mereka ber kyaaa seperti itu." jelas Kai lagi, "aku juga tidak paham. Tapi dari apa yang kulihat, Robbie cukup bertanggung jawab dan dewasa." sahut Kai lagi.


"Jelas dia lebih dewasa secara umur kan?" tanyaku sinis, "bolehkah aku menunggu Dream?" tanyaku lagi.


"Menunggu Dream untuk memutuskan hubungannya dengan Robbie? Hahahaha... frontal sekali idemu V." jawab Kai tertawa.


"Aku serius, maksudku, aku berpikir aku masih punya peluang karena Robbie punya tanggung jawab berupa anak-anaknya disini. Dia tidak akan mudah untuk berpindah ke tahun waktu, kan?" pikirku penuh harap.


"Ah benar. Dia sudah mempunyai tanggungan. Tunggulah saja jika itu membuatmu bahagia, tapi aku berpikir itu akan membuang waktumu." jawab Kai.


Aku memikirkan ucapan Kai, "Baiklah, aku menunggunya sambil bermain-main, jadi aku tidak di rugikan...hahahaha." sahutku memutuskan.


Dream, bagaimana ini? Aku belum siap melepasmu...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2