
"Ada..perlu...apa..kalian.. bertemu denganku?" tanya Quincy terbata-bata, "Kalian tadi menyebutkan Robbie? Saya sudah tidak berhungan sama Robbie sejak bertahun-tahun lalu." serunya lagi.
"Kami kesini bukan untuk Robbie, tapi untuk Jean dan Jeannette. Dan sebelumnya, aku mau meminta maaf, apa boleh percakapan ini di record?" tanyaku kepada wanita Jerman itu. Setelah kuperhatikan Jean dan Jeannette membawa wajah Quincy, tapi kami belum bertemu dengan ayah Jean dan Jeannette, mungkin saja wajah dan sifat mereka tercampur, kan?
"Record? Untuk apa?" tanya Quincy lagi.
"Jadi, aku Luna, nama asliku adalah Dreamy Eve..." aku menceritakan dari awal bagaimana pertemuan pertamaku dengan Robbie, bagaimana kami mengakhiri hubungan kami, dan bagaimana aku berempati kepada Jean dan Jeannette dan niatku untuk mengadopsi mereka. Sebisa mungkin, aku bercerita tanpa menimbulkan kecurigaan bahwa aku berasal dari tahun waktu yang berbeda.
Quincy berusaha memahami ceritaku, dan mengulanginya perlahan, "Jadi, kamu ini pernah menjadi kekasih Robbie, dan kalian putus, tapi kamu suka dengan anak-anak saya? Begitukah?" katanya.
Aku mengangguk, "Dan sebenarnya ada yang mau kami tanyakan juga, mengenai saham yang tertulis atas nama Jean Jeannette. Apa itu kamu yang memberikannya kepada mereka?" tanyaku.
"Kalau mau record silahkan saja. Tapi sebelum sampai sana, saya akan bercerita dari awal. Saya dan Robbie tidak pernah membuat Jean dan Jeannette, saya membuatnya dengan pria lain, yang sekarang menjadi suami saya sekarang. Pada awal, saya dan Robbie teman satu fakultas, dia menyukai saya, tapi saya tidak. Saat kelulusan, kami berpesta, dan saya dalam keadaan tidak sadar dengan temannya teman saya, laki-laki, dan itu suami saya sekarang. Setelah itu, kami hanya bertukar nomor saja, dan melupakan kejadian hari itu." jelasnya panjang, kemudian dia berhenti sebentar untuk berusaha menggali memorinya.
"Saya tidak tau saya hamil saat itu. Ketika kami sudah mulai bekerja, saya bertemu dengan Robbie lagi, dan dia masih menyukai saya, dan mengajak saya menikah. Saya menolak saat itu, sampai akhirnya saya tau saya hamil, saya bilang sama dia, saya hamil tapi bukan dengan kamu, apa kamu masih mau menikah dengan saya? Dan dia tetap menjawab, ayo menikah, anak-anakmu dia yang akan mengurusnya, begitu katanya. Kami menikah, dan saya bantu dia menjalankan perusahaannya, waktu itu masih belum sebesar sekarang, dan saya membeli saham dia tanpa sepengetahuan Robbie, saat itu, harga sahamnya masih murah. Begitu tau, anak saya twins, saya beli dua saham. Next, kami cek ke dokter dan dokter bilang anak saya perempuan, jadi saat itu saya kasih nama untuk mereka, dan saya tulis nama anak-anak saya di saham tersebut." jelas dia. Kami mendengarkan dengan seksama. Dan tidak ada dari kami yang memotong ceritanya, hanya sekedar untuk bertanya. Terkadang dia berhenti untuk mengingat, dan mungkin itu pengalaman menyakitkan, sehingga sulit untuk membuka memorinya itu.
Dan dia memulainya kembali, "Anak-saya lahir, bersama dengan berkembangnya perusahaan Robbie, saya berpikir tidak apa kalau saya tetap menikah dengannya. Sampai suatu hari, suami saya, ayah twins datang, dia mencari saya karena tau saya hamil. Robbie marah sekali, dia bilang saya tidak boleh berhubungan dengan suami saya itu. Tapi dari awal memang saya tidak cinta Robbie, saya semakin cinta sama suami saya itu. Akhirnya saya bilang sama Robbie, saya mau bekerja lagi, tapi tidak dengan dia, saya mau usaha sendiri. Robbie tau saya mau ke pria itu, dia mengusir saya, pergi... pergi... pergi!! katanya. Tapi saya tidak boleh bawa anak saya. Saya menangis, memohon kepadanya, itu anak saya. Berikan kepada saya, Robbie. Itu anak saya. Tapi Robbie tetap tidak mempedulikan saya. Saya sempat lihat anak-anak saya menangis, memanggil nama saya, mami...mami...mami...hati saya sakit mendengarnya."
Begitu dia menceritakan bagian ini, suaranya tercekat, dan airmatanya menetes, Bry dan aku mendekatinya dan memeluknya. Ini berat untuknya, tapi dia bersedia menceritakan memori seperti itu kepada kami.
Dengan satu tarikan nafas panjang, dia memulainya lagi, "Setelah itu, saya pergi menemui suami saya itu, dan dia mengajak saya kesini untuk melupakan kesedihan saya." katanya lagi, "Jadi, disinilah kami."
Aku memandang teman-temanku, kami terdiam tanpa sanggup mengucapkan satu patah kata pun.
"Jika, Luna Dream mau mengambil anak-anak saya silahkan. Tapi bisakah kamu menyerahkan mereka kepada saya, bagaimana pun saya ibu mereka." pinta Quincy.
Aku memandang yang lainnya lagi, V mengangguk, "Apa tidak mungkin untuk kami mengasuhnya? Maksud kami, Jean dan Jeannette sudah sangat dekat dengan Dream. Dan saat ini kami sedang dalam proses pemindahan hak asuh mereka. Hanya saja, terhalang oleh Robbie, dia meminta Dream menikah dengannya." jelas V kepada Quincy.
"Saya juga ingin bertemu, bisakah sebelum putusan pengadilan, saya bertemu dengan mereka. Dan biarkan mereka disini seminggu, setelah itu kalian boleh membawanya." kata Quincy.
"Untuk masalah Robbie, dia selalu terobsesi terhadap sesuatu atau seseorang. Dia tidak akan mudah melepasmu." jelas Quincy lagi.
__ADS_1
"Dia meminta saham atas nama anak-anakmu." ucap Kai.
"Bisa itu dipindah tangankan? Aku akan memberikan kompensasinya" sahutku.
Quincy tampak kaget, "Itu sudah tinggi sekali harganya. Sesayang apa kamu sama anak-anak saya?" tanyanya terkejut.
"Tentu saja rasa sayang itu tidak bisa di ukur kan? Yang jelas aku menyayangi mereka." jawabku.
Quincy berpikir, "Aku akan memindahkan nama mereka menjadi namamu...."
"Tidak perlu, ganti saja menjadi nama Robbie Aku tidak memerlukan itu." sahutku.
Quincy memandangku, "Itu akan bernilai tinggi selama perusahaan Robbie tetap berkembang, dan tidak akan terpengaruh oleh suku bunga. Bahkan saat perusahaan Robbie akan bangkrut, nilainya akan tetap tinggi." sahut Quincy.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Du bist verrückt!" sahutnya, kamu gila!
"Danke, Quincy." sahutku.
"Gern geschehen" jawabnya tersenyum.
"Dimana kalian akan menginap sore ini?" tanya Quincy, "kalau kalian tidak ada tempat tujuan, menginaplah disini, nanti saya kenalkan kepada suami saya itu. Ah, sebentar lagi dia sampai." katanya dengan riang.
Kemudian dia pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan dan lain-lainnya.
"Ah, aku lega sekali kita sudah sampai sini, bertemu Quincy, dan menyelesaikan ini dengan sangat baik." sahutku.
Mereka mengangguk, "Tidak sia-sia aku datang dari masa depan kesini dengan cara manusia purba berpindah tempat." seru Kai
V mengetuk kepala Kai, "Sudah kubilang, jangan menyebut kami manusia purba, kalau kami musnah total, tidak akan ada peradaban di jamanmu Kai." tukas V.
__ADS_1
Kai tertawa, "Kamu sudah tua sekali yah V, sensitif sekali dengan ucapan manusia purba." sahut Kai bercanda.
...----------------...
**EPILOG
Robbie POV**
"Quincy, aku menyukaimu, maukah kamu menjadi kekasihku?" tanyaku saat itu. Aku terpesona kepadanya saat melihat dia menari di lantai dansa di acara kelulusan kami.
"Aku tidak menyukaimu, Rob. Kamu lihat pria yang dibawa oleh Cadence, temanku itu. Dia tampan, Rob. Menarilah bersama kami di lantai dansa." balas Quincy, dan menarikku ke lantai dansa untuk menarik bersamanya.
Aku tidak menyukai suasana ramai seperti ini. Dan aku melihat Quincy menghilang bersama pria culun itu. Aku meninggalkan lantai dansa dan pulang ke rumahku.
Acara kelulusan masih berlangsung keesokan harinya. Tapi aku tidak menghadirinya. Ayahku mengajariku cara memulai suatu usaha, dan mendirikan sebuah perusahaan. Siang malam, aku bekerja dan belajar hanya untuk memenuhi keinginan ayahku, sampai akhirnya aku berhasil menciptakan suatu lapangan pekerjaan, dan merekrut orang-orang di dalamnya.
Quincy salah satu orang yang melamar di tempatku, dia masih cantik. Aku menerima dia bekerja bersamaku. Kami menjadi cukup dekat, dan perasaanku yang dulu pernah ada mulai mekar kembali.
Aku mengungkapkan kembali perasaanku, tapi dia kembali menolaknya. Aku sangat kesal kepadanya saat itu. Setelah aku menyatakan cintaku, dia sempat tidak masuk beberapa hari dengan alasan sakit.
Aku memgunjungi dia di rumahnya, dia menangis, dan aku bertanya ada apa dengannya, "Aku hamil, Rob. Dengan teman Cadence, kamu ingat? Sebulan atau dua bulan yang lalu saat kita pesta kelulusan." katanya.
Aku mengangguk, "Menikahlah denganku, aku akan mengurus anakmu dengan baik seperti layaknya mengurus anakku sendiri."
Akhirnya kami membuat pernikahan sederhana yang hanya di hadiri oleh keluarga dan rekan-rekan terdekat kami. Dan kami diberikan kejutan, Quincy mengandung anak kembar, perempuan. Aku sangat bahagia, seolah ini anakku sendiri.
Namun, kebahagiaan kami tidak berlangsung lama, pria brengsek itu kembali mencari Quincy, dan mempengaruhi Quincy untuk kembali padanya. Dan Quincy memilih pria itu, dan memilih menekuni karir bersamanya.
Aku yang tersulut emosi, mengusirnya, "Pergi kamu!! Pergi dari hadapanku, dan jangan pernah datang lagi kesini! Mereka sudah menjadi anak-anakku! Pergilah tanpa membawa mereka! Pergilah!!" sahutku.
Dan Quincy pun pergi meninggalkan kami, sampai sekarang aku tidak pernah mencarinya lagi, dan bagaimana kehidupannya, aku tidak peduli.
__ADS_1
...----------------...