
Aku membuka mataku, dimana ini? Aku menggerakan badanku, namun tidak bisa, rasanya pegal sekali dan sakit, aku menggerakan pergelangan tanganku, terikat?! Tanganku terikat ke belakang, dan kedua kakiku pun terikat, sakit sekali. Dan dimana aku? Ternyata, aku di dudukkan di sebuah kursi dengan tanganku terikat ke belakang dan kakiku terikat, aku takut... Kai kamu dimana? Aku melihat sekelilingku, kosong, tidak ada apapun di ruangan ini, cahaya lampunya remang-remang, membuatku semakin pusing, dan takut. Terdengar ketukan suara sepatu dari luar dan semakin mendekat, pintu ruangan terbuka, dan tampaklah pria berbadan tinggi besar, dengan janggut pirang lebat, dan topi lebar, Rufus!
"Lepaskan aku!" teriakku, sekuat yang aku bisa.
"Dreamy Eve, putri tunggal perdana mentri Mark Fransiskus, hehehehe...aku tidak bodoh!" sahutnya dengan bentakan mengerikan dan tatapan mata kejam yang berbeda sekali dengan kemarin. Psikopat, seperti kata Kai. Aku tidak boleh takut!
"Lepaskan aku!!" teriakku lagi lebih tegas dari sebelumnya.
"Apa yang kau lakukan disini wahai nona? Apakah ayahmu yang memintamu untuk menangkapku dan membawaku kembali? Aku tau kiprahmu disana nona" katanya sambil tersenyum, menampilkan deretan giginya yang besar, kuning dan berlubang.
"Aku harus menangkapmu, pengacau waktu!" sahutku. "Sebentar lagi, polisi waktu akan tiba, dan mereka akan menangkapmu!" sahutku, dan berharap seperti itu. Aku meraba cincinku menggunakan jari jemariku, syukurlah cincinku masih berada tepat di tempatnya. Aku menekan berkali-kali cincin itu, berharap Kai tau dimana posisiku.
"Anak kecil sepertimu mengerti apa tentang waktu?!" sahutnya lagi, dan dia sudah mengobarkan amarahku, aku paling benci di anggap anak kecil!!
"Aku bukan anak kecil, dan aku tau kejahatan apa yang telah anda lakukan!" sahutku, membalas ucapannya dengan berapi-api.
"Oh yah? Darimana? Dark web? Atau dari situs pencarian? Tau apa mereka tentangku!" jawabnya lagi.
"Anda telah menculik seorang wanita dan membawanya kabur ke tahun waktu ini, dan anda sedang dalam pencarian, semua polisi waktu dari semua tahun waktu sedang bersiaga untuk menangkap anda! Anda akan dikenakan sanksi dan pasal berlapis, siapkan pengacara untuk membela anda!" sahutku lagi dengan tenang. Rufus terkejut mendengarkan dakwaanku, dia berbalik dan membanting pintu ruangan tempat aku di sekap.
"Hei, Rufus, lepaskan aku!!" teriakku. Ah, tenggorokanku sakit, dan kerongkonganku kering, aku butuh air. Kai cepatlah datang, harusnya tidak selama ini, kan? Apa dia di sekap juga di ruangan lain? Ah bodoh sekali, kalau kami berdua di sekap kan? Siapa yang akan jadi pahlawan di bab ini nanti?
__ADS_1
Aku mencoba untuk tetap berpikir positive, bagaimanapun aku harus bertahan untuk menyelamatkan Kai. Tak lama, pintu ruanganku terbuka, dan seorang wanita berwajah tirus masuk dengan membawa sebuah gelas berisi air dan roti.
"Minumlah" katanya.
Aku memandangnya, "Kamu Catherine?" tanyaku. Dia menggeleng. Loh, jadi siapa lagi ini?
"Namaku Helena, aku harus berganti nama di setiap pemberhentian lorong waktu" jawabnya, "minumlah dulu, aku mendengar suaramu dari tadi berteriak-teriak" sahutnya lagi.
"Bagaimana aku bisa minum?" tanyaku, dan memandanginya, berharap dia tidak bodoh.
"Maafkan aku" katanya, dan membantuku minum dengan menenggakkan gelasnya ke arahku alih-alih membuka ikatan di tanganku, "dan maafkan ayahku juga" sahutnya. Aku terkejut, "Ayah??!!" sahutku. Gadis itu mengangguk, "Dia ayahku, Rufus. Semua website itu menyesatkan dan menganggap kami sebagai buronan, kami hanya ingin mencari ketenangan, tapi sepertinya sulit sekali, bukan?" jawabnya, dan dia meninggalkan ruangan.
"Hei...hei...aku masih haus! Kamu meninggalkan air dan roti hanya untuk kupandangi??!! Heeeiii!!" sahutku, sialan!
"Good job Lyn, Lyn... Lyn, bangun" sahutku lagi, dan muncul cahaya berpendar-pendar memenuhi ruangan, tapi tak lama cahaya itu hilang. Apakah sinyal? Pupus sudah harapanku, tanganku sudah pegal dan sakit sekali. Aku kembali melihat sekeliling, dan kali ini aku memicingkan mataku untuk dapat melihat lebih tajam. Namun tidak ada apa-apa yang bisa aku pakai untuk memotong tali ikatan ini. Aku berusaha menggerakan kursi dengan cara melompat, dan ternyata berat sekali, aku menyesal banyak makan, hiks... Baiklah, senjata terakhir, bahkan orangtuaku pun tidak sanggup melawannya.
"HEIIIII... HEIIII....HEIIII...HEEEIIIII...LEPASKAN AKU!! HEEEIII...RUFUS SIALAN!!! LEPASKAN AKU!! KALAU AKU MATI DISINI MAKA STATUS BURONANMU AKAN NAIK MENJADI PEMBUNUH, BAGAIMANA KAMU MENCARI KETENANGAN KALAU BEGITU, HAAAIII...OOOII...RUFUS!! LEPASKAN IKATAN TANGAN DAN KAKIKU SEKARANG!! HEEEIIII....HEIIII....HEIIII....HEIIII!! LEPASKAN IKATANKU!!!" teriakku.
Tak lama Rufus datang, menutup kupingnya, "KAU GILA??!!" tanyanya. Aku tersenyum, "Ya begitulah, lepaskan aku!" sahutku. Dia memandangku, dan aku balas menatapnya, "Hei lepaskan aku dan ceritakan tentangmu!" sahutku, "Lakukan sekarang, atau aku akan berteriak lagi, hingga semua orang mendengarku" ancamku. Dan dia melepaskan ikatan tanganku, tidak dengan kakiku. Aku memandangnya lagi, "Bagaimana kalau aku pipis atau pup disini, asal anda tau, aku tidak makan pil-pil bodoh itu, makanku banyak dan aku berat, bisa anda bayangkan kotoranku akan sebesar dan sebau apa? Lepaskan ikatan kakiku!!" sahutku. Rufus mengalah, dia melepaskan ikatan kakiku akhirnya. Rufus melangkah keluar, namun sebelum dia menutup pintu, aku sudah lebih dulu membuka percakapan, "Helena, itu putrimu, bukan korban penculikan, kenapa tidak kau katakan yang sebenarnya?" tanyaku. Dia menutup pintu, berbalik ke arahku dan mendekatiku, "Kamu bukan sembarang anak kecil ternyata, didikan ayahmu sangat baik" sahutnya, "dia putriku, aku membawanya dari tahun waktu lalu" jawabnya lagi, dan sepertinya dia ingin bercerita, aku menekan cincinku lagi untuk merekamnya, "Aku berasal dari tahun waktu masamu. Saat itu, aku sepertimu, bertugas di luar tahun waktu. Dan aku jatuh cinta dengannya, seorang wanita, ibunya Helena. Aurinka, aku memanggilnya Aurin. Kami berhubungan cukup lama, dan saat itu aku menikahinya, dan tak lama Aurin mengandung Helena. Di saat dia mengandung, polisi waktu menangkapku, dan membawaku kembali ke tahun waktu. Kau tau bukan, kalkulator bodoh itu, aku harus menikah dengan pasangan 100%ku, dan aku mendapatkannya hanya dalam 1 kali percobaan. Aku tidak mau, aku tidak bahagia. Sampai suatu hari aku kabur, dan menemui Aurin, dan disana sudah ada banyak orang berkumpul, dan mereka memberitay, Aurin melahirkan di rumah sakit. Aku segera berlari ke tempat Aurin di rawat, dan sesampainya disans, dokter memberikanku Helena, sedangkan Aurin, meninggal sesaat melahirkan. Aku hancur.. aku membawa Helena ke tahun waktuku, istri 100%ku mengetahuinya, ia mengira aku menculik anak dari tahun waktu sana, dan dari situlah berita itu muncul, aku menculik anak. Dan seiring semakin besarnya Helena, berita itu pun berubah menjadi aku menculik seorang gadis. Itulah mengapa aku dianggap buron, aku pergi ke setiap tahun waktu tapi kami di awasi dimana-mana dan ketika setahun yang lalu aku tiba disini, aku mengganti nama Helena menjadi Catherine, tapi tetap saja, polisi waktu mengetahuinya, hingga aku bertemu denganmu kemarin. Berita tentangmu pun ada dimana-mana, maka itu aku mengenalmu" sahut Rufus dengan panjang. Aku terdiam, apa yang harus aku lakukan terhadapnya.
Tidak lama, pintu menjeblak terbuka.
__ADS_1
"Lepaskan dia!" Kai!!! dan V?
"Kaaaii" aku berlari memeluknya.
"Loh, kamu sehat?" tanya Kai. Aku mengangguk, "Tentu saja, kenapa bisa bersama V?" tanyaku
"Itu nanti saja, sekarang kita urus Rufus dulu" sahut Kai. Aku mengirimkan rekaman percakapanku dengan Rufus kepada Kai. Dan Kai segera menghubungi papa, dan memberikan rekaman itu kepada papa, papa menghela nafas, "Polisi waktu akan segera disana, serahkan Rufus pada mereka, biarkan pengadilan yang memutuskan keputusan untuknya" sahut papa, sekarang papa memandangku, "Dream sayang, kamu tidak apa-apa nak? Aku dan ibumu sangat khawatir, cepatlah kembali" sahutnya, mengusap airmatanya. Aku mengangguk. Tak lama, polisi waktu datang, mereka membawa Rufus dan Helena kembalinke tahun waktu mereka, "Terima kasih nona, untuk mendengarkan ceritaku" katanya, kemudian dengan pasrah dia mengikuti polisi waktu.
...----------------...
**EPILOG
KAI POV**
Dream mengirimkan kode berkali-kali dan mengirimkan gps kepadaku berulang kali juga, apakah Rufus menculiknya? Aku berlari menemui V, "Bantu aku, Dream dalam bahaya, Rufus menculiknya, apa kamu tau ini dimana?" tanyaku beruntun.
"Apa? Dream diculik??!! Ikuti aku" sahut V.
Dalam perjalanan, aku menghubungi ayah Dream, dan menceritakan apa yang terjadi, beliau murka, sudah pasti, "Dasar goblok!! Apa saja kerjaanmu sampai Dream diculik??!! Dengar Kai, aku tidak mau tau, temukan Dream secepatnya, dan aku tidak mau hanya karena kelalaianmu, aku kehilangan putriku, putri satu-satunya! Polisi waktu akan mengikuti gps lokasi yang sudah kamu kirimkan kepadaku!! Temui dia dalam waktu 24 jam!!"
"Tamat sudah riwayatku V" sahutku lemas.
__ADS_1
"Kita sudah dekat lokasi Kai, tenangkan dirimu. Dream tidak lemah, dia pasti bisa bertahan, aku percaya kepadanya" sahut V
"Terimakasih V" jawabku.