
*Tiiiiittt.....
Tiiittt....
Tiiiittt*...
Garis lurus memberikan kami tanda bahwa papa sudah berjuang dengan sangat hebat, tapi semesta berkata lain. Dokter dan robot kecilnya keluar dengan lesu dan wajah sedih teramat dalam.
Berita kematian papa segera di release oleh Kai, dan hanya dalam hitungan detik, berita itu sudah menyebar ke seluruh penjuru negri. Ucapan bela sungkawa mulai berdatangan ke rumah duka.
V memelukku, berusaha menenangkanku. Dia hanya terdiam, tanpa suara, tanpa airmata. Aku tau dia berusaha tegar untukku, untuk mama, dan untuk Jean Jeannette.
Begitu juga dengan Kai. Dia hanya tertunduk, kadang mengangkat wajahnya, dan menatap kosong sesuatu di depannya, entah apa yang dia lihat.
"Dream, apa mau di bawa pulang sekarang atau mau tetap disini?" tanya V.
"Bawa pulang saja. Bagaimanapun juga itu rumah kami, V." jawabku. Aku yakin, mama juga setuju denganku.
V memerintahkan ambulance untuk membawa papa pulang ke rumah. Hari itu, semua pengendara di berhentikan sementara, untuk menghormati pemimpin negara yang telah gugur.
Sesampainya di rumah papa, para pelayan sudah merapikan rumah sehingga seperti sedang menyambut papa. Dan V yang meminta ini semua, aku tidak pernah tau kalau hubungan mereka sedekat ini. Aku sangat berterimakasih kepadanya. Bahkan V tau warna favorit papa.
Aku menatap matanya, mata yang biasanya ceria sekarang menjadi mata dengan tatapan sedih dan kosong. Aku memeluk pinggangnya, "V, terimakasih yah. Kamu sudah mau dekat dengan papaku, padahal kamu sendiri mungkin sudah di lupakan oleh orangtua kandungmu, tapi kamu benar-benar memperhatikan orangtuaku selayaknya orangtuamu." ucapku.
Dia menatapku tersenyum, "Ayah itu cinta pertama setiap anak perempuannya. Jadi malam sebelum kamu menikah, papa memanggilku, dia menitipkan pesan untuk menjagamu dan mama. Saat itu aku marah kepadanya, kenapa harus berbicara seperti itu, dan papa hanya menjawab, papa tidak tau sampai kapan papa bisa selalu menjagamu." kata V.
Aku tidak tau, papa berbicara seperti itu kepadanya bahkan menitipkanku dan mama kepadanya. Kenapa papa tidak memanggilku dan berbicara kepadaku juga? Aku sudah cukup dewasa, sudah mampu dan sanggup menjaga diriku sendiri, dan mama.
Airmataku kembali menetes, "Ini belum selesai V. Setelah pemakaman papa, aku akan mengunjungi Harry dan akan aku putuskan hukuman apa yang pantas untuknya!" sahutku.
V kembali menenangkanku, "Jangan terbawa emosi, Dream. Kamu sungguh mengerikan kalau emosi." sahutnya.
Aku tersenyum, "Aku sudah bisa memilah-milah mana yang pantas aku lakukan, mana yang tidak, dan aku rasa dia pantas mendapatkannya." ucapku.
Acara pemberkatan jenazah papa, dan pemberkatan peti sudah akan dimulai. Mama hanya bisa menatap kosong, tidak ada airmata lagi. Aku memeluknya, dan mama menyandarkan kepalanya di bahuku.
V memangku Jean dan Jeannete, waktu mereka bersama papa baru sedikit, tapi papa sudah dipanggil Tuhan. Beruntunglah Jean dan Jeannete bisa mengenal sosok papa sebagai kakek mereka.
Jenazah papa akan di kremasi, dan mama meminta untuk menyimpan abunya. Setelah acara kremasi, aku menemani mama. Bry sudah menunggu disana, karena kondisinya masih lemah, jadi Kai memintanya untuk menunggu di rumah papa saja.
Suasana rumah tampak kosong dan sepi walaupun kami semua berkumpul disini. Aku meminta mama untuk beristirahat, "Ma, istirahatlah dulu, aku temani ke kamar yuk." ucapku. Mama mengangguk, dan menggandeng tanganku.
"Dream, terimakasih karena sudah menjadi anak perempuan yang kuat, dan tidak cengeng. Mama membayangkan kamu akan menangis sepanjang waktu, tapi tidak, kamu tetap berdiri dengan tegap, tersenyum kepada orang-orang yang datang. Papamu pasti bangga sekali terhadapmu, nak." kata mama.
Aku memeluk mama, "Mama, kalau mau menangis, menangislah di bahuku, kita akan selalu bersama-sama sekarang. Jadi ini terakhir kalinya kita menangis untuk papa." sahutku. Airmataku mulai menetes, begitu pula dengan mama. Bahuku mulai basah oleh airmatanya.
Setelah mama tenang, dan kondisiku juga tenang. Kai memintaku untuk mengucapkan terimakasih kepada warga dan semua orang yang telah berbelasungkawa.
Jadi, Kai menyiapkan siaran langsung dari rumah papa, aku meminta V yang berbicara mewakili papa.
__ADS_1
Setelah acara siaran langsung, aku menuju ke tempat dimana Harry ditahan. Aku ditemani oleh Kai, karena V masih harus menyelesaikan banyak pertanyaan dari pers.
"Apa yang akan kamu lakukan terhadapnya Dream?" tanya Kai.
"Aku tidak akan menyakitinya, kamu bisa bernafas lega." jawabku.
"Justru itu yang aku khawatirkan, aku selalu bergidik ngeri setiap kali kamu berkata ini tidak akan menyakitkan." sahut Kai.
Aku menepuk pundaknya, "Tenang saja, serahkan urusan ini kepadaku. Aku perdana mentrinya. Jadi semua keputusan di tanganku." ucapku.
Sesampainya di tempat sel kurungan, aku meminta kepada petugas sel kurungan, untuk menjadikan satu Harry dan kroni-kroninya. Setelah itu aku bergegas pergi ke kota bantaran lengkungan.
Setelah sampai disana, aku meminta petugas dan beberapa unit robot untuk melakukan evakuasi warga yang tersisa disana. Dan memang hanya sedikit sekali, karena mereka berkomplot dengan Harry demi mendapatkan kemerdekaan penuh atas kota ini.
"Tempatkan mereka di kota gantung untuk sementara." ucapku. Kota gantung di fungsikan untuk tempat penampungan bagi mereka yang belum mempunyai tempat tinggal atau jika ada bencana alam dan tempat tinggal mereka hancur, maka akan di tempatkan di kota gantung tersebut.
Kemudian, setelah memastikan tidak ada warga yang tersisa, "Maam Dreamy, semua sudah siap."
"Baik, terimakasih." ucapku. Aku mengambil alih remote control, dan kuterbangkan mobilku setinggi mungkin.
"Bbbuuummmm!!!!!"
"Target sudah di hancurkan, silahkan kembali ke posisi semula!" perintahku.
Aku memberikan remote control ke petugas, dan kembali kuterbangkan mobilku ke tempat sel kurungan. Aku yakin, setelah mengetahui ini, Kai akan mengamuk kepadaku.
Dan benar saja, "Dream, kamu gila!! Kenapa kamu meluluh lantakkan kota itu?! Apa yang ada di pikiranmu? Dan bagaimana warganya?! Apa kamu sudah melihat semua berita hari ini?!"
"Aku akan menenggelamkan berita itu, kita lihat dalam sepuluh detik..."
"sepuluh"
"sembilan"
"delapan"
"tujuh"
"enam"
"lima"
"empat"
"tiga"
"dua"
"Percakapan Mengejutkan antara Perdana Mentri Dreamy Eve dengan Harry Smith, dari Partai Politik Oposisi, dan berikut percakapannya..."
__ADS_1
"Lihat kan, Kai? Tidak sampai sepuluh detik, berita tentang aku meledakkan kota itu sudah tertelan." sahutku puas.
Kai menghela nafas panjang, "Semoga Voltaire tidak menyesali wanita pilihannya." batin Kai.
Para petugas sel kurungan sudah menjalankan perintahku, dan aku memasuki sel kurungan itu,
"Dream...jangan gila!!" ucapnya.
Aku tidak menghiraukan ucapannya, dan tetap memasuki sel kurungan yang berisikan Harry dan kroni-kroninya.
"Aku sudah dengar berita itu. Kamu benar-benar wanita gila!!" sahut walikota.
Aku tertawa, "Kalian telah membangunkan seekor singa tidur. Baiklah, kalian ada berapa?" tanyaku santai, dan aku menghitung mereka.
"Tunggu disini dengan santai, aku akan memberikan kejutan yang paling indah untuk kalian." tukasku. Ada beberapa dari mereka, meminta ampun atas perbuatan mereka.
Aku membisikkan sesuatu kepada para petugas, dan sekejap mereka tampak terkejut, lalu mengangguk menyetujui perintahku.
Hanya satu orang yang masih berada dalam kondisi panik, Kai.
"Dream, apa yang akan kamu lakukan kepada mereka. Tolong, katakanlah kepadaku." pinta Kai.
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan. Dan aku rasa mereka layak menerima itu." ucapku sambil lalu, "dan kalau kamu mau tau, tunggu saja beritanya." sahutku lagi menambahkan.
...----------------...
**EPILOG
Kai POV**
"Kai, aku jadi takut kepadanya." tukas V sambil menunjukkan berita yang sedang trending hari itu.
"Dia benar-benar gila dan mengerikan. Bahkan aku yang laki-laki saja tidak pernah membayangkan akan memberikan hukuman seperti itu." jawabku.
Dream benar-benar mengerikan, setelah Robbie yang di modifikasi dan dihilangkan ingatannya, sekarang dia, ah sudahlah.
"Perdana Mentri Dreamy Eve Memberikan Sebuah Gebrakan Baru"
Itu masih ditulis dengan ramah dan halus, ada beberapa lagi yang menuliskan keganasan hukumannya.
"**Menidurkan 50 Orang Lebih, dan Membekukan Mereka Untuk Jangka Waktu Yang Tidak Di Tentukan."
"Hukuman Yang Mengerikan Bagi Mereka yang Membelot di Era Pemerintahannya, Dibekukan atau Dibuang ke Luar Planet? Itu Sanksi Untuk Mereka Yang Telah Melakukan Pelanggaran Berat Di Negara Ini**."
Aku dan V melihat hologram berita -berita itu beterbangan di sekitar kami. Kami hanya menggelengkan kepala, sudah habis kata-kata kami untuk menanggapi tindakannya yang ekstrem sekali.
"Hai" sapanya ramah kepada kami.
"Ha...Hai Dream." balas suaminya.
__ADS_1
"Jadi kalian takut kepadaku?" tanya Dream tertawa, "baguslah...hahahaha"
...----------------...