
Aku terbangun, dan betapa terkejutnya aku, di sebelahku, Kai... bukan V? Apa yang telah aku lakukan? Aku kembali mengingat kejadian tadi malam, sepertinya tidak terjadi apa-apa. Aku memastikan otak dan hatiku untuk tenang, baru aku kemudian membangunkan Kai.
"Kai...hei...bangun." sahutku. Namun Kai tidak bergeming, aku menggoyang-goyangkan badannya, "Kai...Kai.." sahutku.
V memasuki kamar, dan bertanya apa semua baik-baik saja.
"Ya, semua baik-baik saja, hanya Kai tidak mau bangun." sahutku lagi, "Apa dia mati?" tanyaku. V tertawa mendengarnya, "Tentu saja tidak..!" jawabnya, "Aku tau cara yang ampuh untuk membangunkannya." kata V. Kemudian dia mendekati wajahnya ke telinga Kai, dan tangannya berjalan ke arah kaki Kai, aku menutupi wajahku, "Ini adegan 18+ V, aku masih kecil." sahutku. V tersenyum, "Nona author sudah sering menuliskan adegan ini sebelumnya, hanya tidak terlalu ekstrem, Dream. Dan percayalah padaku, ini tidak akan di sensor." jawab V membandel. Kemudian dia berbisik manja di telinga Kai, "Kai, sayang, bangun dong." sahutnya sementara tangannya menjalar kemana-mana, dan tak tanggung-tanggung V mengecup telinga Kai. Kai membuka matanya terkejut, "AAAARRRRGGGHHH.....!! KAMU GILA, V??!! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriaknya, "Aku sudah tidak suci lagi karena kamu, aku akan mandi! Berhati-hatilah terhadanya Dream!" sahut Kai dan bergegas menuju kamar mandi. V tertawa puas, mau tidak mau aku ikut tertawa melihat reaksi Kai, " Lihat kan?" kata V kepadaku. V tidak bertanya kepadaku tentang apa yang terjadi tadi malam antara aku dan Kai, dan aku juga tidak memberitahunya.
"Kai...boleh aku bertanya?" tanyaku sesaat setelah Kai selesai mandi.
"Silahkan, asal jangan bertanya tentang bagaimana rasanya dicium V." jawabnya. Aku tertawa kecil.
"Tidak, aku mau bertanya, apa yang kita lakukan tadi malam?" tanyaku. Kai menggeleng, "Tidak ada, aku hanya menemanimu tidur, itu saja." jawabnya. Aku mengangguk.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Kai lagi. Aku memandangnya, "Tidak ada, maksudku, aku merasakannya sedikit saat kamu menciumku, Maksudku setelah itu tidak terjadi apa-apa kan?" tanyaku kembali. Kai menggeleng, dan tersenyum kepadaku, "Tidak ada yang terjadi kok." jawabny, kemudian mendekatiku, dan berbisik, "aku menunggu kakimu sembuh." jawabnya, setelah itu dia tertawa. Ah, dia menggodaku. Wajahku memerah, dan bagaimana ini? Di tahun purba seperti ini pun, mereka berdua membuatku gugup, Tuhan, tolong aku..doaku dalam hati.
"Dream, kakimu sudah kuat berjalan jauh?" tanya V. Aku mengangguk, "Sudah saja deh, daripada aku di rumah terus." sahutku. V memeriksa kakiku, "Sudah oke sepertinya, tapi belum bisa jalan cepat-cepat yah?" sahutnya lagi. Aku mengangguk.
"Hari ini mbahku meminjamkan mobilnya untuk kita ke toko, karena aku bilang mungkin kamu akan ikut. Dan mbahku juga akan ikut " sahutnya.
"Apa kamu bisa menyetir mobil lama, V?" aku bertanya khawatir. Dia mengangguk, kemudian berjalan menuju garasi. Tak lama sebuah mobil kotak berwarna abu-abu tikus keluar. Kai bersiul melihatnya, "Fiuh, toyota corolla sprinter...oke juga " sahut Kai memuji mobil usang itu. V mempersilahkan aku masuk, Kai duduk di depan dan sempat berebutan kursi setir dengan V. Dan pada akhirnya di putuskan, "Cucu selalu pertama, Kai. Kamu bukan cucu, jadi kamu bisa membawa ini saat kita pulang atau besok." sahut V bangga, dan memegang steering wheel berwarna coklat klasik. Interior mobil ini cukup oke, perpaduan warna biru dan krem menambah kesan mewah pada mobil ini. Setelah si mbah nenek siap, kami pun berangkat.
Toko si mbah nenek ini berupa toko ritel, menjual bermacam-macam produk, sama seperti supermarket pada jaman V atau e-commerce di tahunku. Hanya sistem saja yang membedakan. Tidak seperti di rumah, si mbah ini sangat cekatan dalam menyusun barang, memisah-misahkan mana ini dan mana itu. Bahkan terkadang melayani customer dengan baik. Aku membaca nama tokonya, Emilly's Retail Shop.
Emilly? Apakah itu namanya? Aku mencari V, tapi dia sedang sibuk, aku melihat Kai, dia sedang sibuk juga. Lalu, aku? Aku kemudian duduk di salah satu sudut ruangan besar itu, dan si mbah menemani.
__ADS_1
"Nduk, sedang apa?" tanya mbah.
"Tidak apa-apa mbah." jawabku, kemudian aku teringat nama toko mbah itu, sopankah kalau aku bertanya siapa itu Emilly?
"Mbah, namanya Emilly?" tanyaku akhirnya memberanikan diri. Si mbah tersenyum.
"Iya...cantik toh namaku?" jawabnya. Wajahnya cantik walau sudah ada kerutan di beberapa sudut wajahnya, pantaslah kalau V sangat tampan.
"Voltaire itu cucu pertamaku. Seminggu yang lalu, polisi datang kesini, aku kaget, kok bisa cucuku kecelakaan, cucu yang mana, gitu batinku kan? Aku pikir ini penipuan, tapi aku tetap ikut pak polisi ke rumah sakit. Setelah bertemu V, aku memandangnya, wajahnya mirip ayahnya, dan punya tanda lahir di tempat yang sama seperti ayahnya. Aku orangtua dari ayah V...hehehe." sahutnya menjelaskan. Aku mengangguk, menyimak ceritanya.
"Aku kaget juga, saat V bilang yang kecelakaan itu istrinya. Dan kalian datang dari masa depan. Seperti mimpi loh aku." sahutnya lagi. Aku tersenyum, dan aku bercerita tentang tahun waktuku, tahun waktu V, pertama kali aku bertemu dengannya, sampai saat ini. Mbah Emilly mengangguk-angguk, "Jadi, piye? Kamu cinta V?" tanya si mbah.
"Aku mencintai Voltaire mbah." jawabku, mbah Emilly tampak berpikir kembali, "tapi kamu juga cinta Kai?" tanyanya lagi. Aku tersenyum, "sepertinya seperti itu mbah." sahutku. Mbah Emilly menghela nafas, "Anak-anak masa depan ternyata rumit-rumit. Aku cuma berharap, hiduplah dengan bahagia, nikmati, jalani, dan syukuri." sahut si mbah Emilly itu. Aku mengangguk dan tersenyum kepadanya, "Iya mbah, terimakasih." jawabku.
Tak terasa aku dan mbah Emilly berbincang-bincang, dan hari mulai sore.
V berlari mendekati mbah Emilly, dan berpamitan.
"Hei, asik banget kayaknya tadi." sahut V tersenyum.
"Mbah kamu yang menemaniku disini, lalu mengajakku berbicara panjang sekali." sahutku.
"Tunggu dulu disini yah. Sebentar lagi kita pulang." sahut V lagi. Dan aku melihat, Kai melirik ke arah kami, dan ketika mata kami bertemu, Kai membuang mukanya. Manis sekali...hehehe..
V mengajak aku dan Kai berjalan-jalan dahulu sebelum pulang. Kai dan V menikmati melihat mobil-mobil tua yang melintas di dekat kami, termasuk mengangumi bis dodge atau bis tingkat yang lalu lalang sepanjang jalan.
__ADS_1
"Wowh... lihat V, warnanya klasik sekali yah."
"Oh, itu Honda Legend... masih mulus sekali, sudah tidak ada itu di jaman kita yah, Kai."
Begitulah. Aku sekedar menikmati jalanan yang terbilang masih sepi, langit juga tampak cerah berawan. Indah sekali. Aku tidak akan melupakan setiap tahun waktu yang kami datangi.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
"Bagaimana kamu bisa sampai sini, Kai?" tanyaku kepada Kai. Tiba - tiba saja, dia bisa berada di toko swalayan nenekku.
"Aku mengikuti kalian, selang 15-20 menit, aku baru melompat ke lorong waktu. Mark yang memintaku menyusul kalian. " jawab Kai, "Aku malah takut keluar di tahun waktu yang berbeda dengan kalian. Aku tidak tahu kalian dimana kan, dan aku butuh makan dan tempat tinggal untuk bertahan hidup. Dan ketika itu, toko ini membutuhkan pekerja, dan ibu Emilly langsung menerimaku. Dan disinilah aku sekarang " cerita Kai kepadaku, "Dream, bagaiamana dia?" tanya Kai.
"Dia baik-baik saja, hanya kakinya masih sulit untuk digunakan." jawabku.
"Parah kah?" tanya Kai khawatir.
"Sebelumnya iya. Dia sudah kehabisan darah, dan dia di lemparkan ke lorong waktu, dan mendarat dalam keadaan tidak sadarkan diri." aku menjawabnya, "itu mengerikan sekali, Kai. Aku pikir aku akan kehilangan dia selamanya." sahutku. Dan memang benar itu yang kurasakan saat itu. Kai menepuk punggungku, "Aku juga berpikir seperti itu,V. Bayangan aku harus hidup tanpa dia, membuatku menderita sekali." sahut Kai.
Degg ...
Aku tidak menyangka, ternyata cinta kami berdua untuk Dream sebesar dan sedalam itu. Aku juga tidak akan mudah menyerahkan Dream kepada Kai, sehebat apapun dia. Tidak akan pernah.
__ADS_1
...----------------...