
"Sudah bersih, sudah hilang, tidak boleh melintasi negara dulu, karena harus memulihkan stamina yah." sahut dokter dan mengacungkan jempolnya kepadaku.
Aku mengangguk bahagia, "Yessss...boleh ikut Kai, jalan-jalan dengan V, bermain dengan Bry, dan menemui Robbie!!!" sahutku bahagia.
"Jangan terlalu lelah juga." kata mama. Aku merangkul mama, dan kemudian mengecup pipinya.
"Sudah boleh berpikir juga tandanya. Baiklah, waktumu hanya tersisa lima bulan lagi, Dream. Jadi perlahan-lahan aku akan mengenalkanmu kepada mentri-mentri yang lain, maupun utusan negara lain yang berkunjung, bahwa kamu atau suamimu, siapa pun itu, akan menggantikanku dalam waktu dekat." sahut Kai.
"Astaga, Kai!! Tega sekali kamu! Aku akan menggunakan hak angkat suaraku untuk tetap memilihmu nanti." sahutku.
Kai tertawa mengejek, "Belajarlah Dream, supaya pintar." jawab Kai dengan gayanya yang mengesalkan. Aku memberengutkan bibirku, dan bergegas keluar.
Saat berjalan, aku berpas-pasan dengan V, yang entah darimana. Sewaktu V menjadi suami palsuku, dia menjadi asisten pribadi papaku, dan sekarang aku tidak tau dia bekerja sebagai apa.
"Hai V. Boleh aku berjalan bersamamu?" aku bertanya kepadanya.
"Silahkan, aku dengar hasil kontrolmu bagus. Selamat yah dan semoga kamu selalu sehat." sahut V tersenyum.
"Aw, terimakasih. Apa yang sedang kamu kerjakan saat ini?" tanyaku lagi.
"Papamu meminta bantuanku untuk menggantikan posisi Kai yang kosong karena Kai harus bergantian dengan papamu, bukan?" jawab V.
Kami kemudian duduk di sebuah kursi kayu panjang di halaman depan rumah orangtuaku. Dan melanjutkan pembicaraan kami disana.
"Jadi, kamu menjadi orang kepercayaan papa?" aku bertanya lagi.
V tersenyum, "Seperti itulah, dan terkadang papamu memintaku untuk membuatkannya makanan atau sekedar hidangan pencuci mulut. Itulah yang kukerjakan." jawabnya, "Bagaimana denganmu? Apa rencanamu sekarang?" tanya V.
"Aku akan belajar dan ikut Kai bekerja dan bertemu dengan orang-orang yang mendukung kami. Dari situ kami meminta bantuan untuk terus membackup kami, dan rencana Kai dalam satu tahun ini adalah memperbaiki tata kota. Dan aku memasukkan programku ke dalamnya, menekan angka polusi udara, dan angka kematian akibat kecelakaan tunggal di udara." jawabku, "V, aku mau bertanya, bagaimana jika aku melamar Robbie? Kamu tau, yang suka ada di drama-drama, dan yang pernah kamu lakukan juga?" sahutku dan tersenyum mengusilinya.
"Hahahahaha... yang melamar itu selalu pria, Dream. Tidak pernah seorang wanita melamar seorang pria." jawab V.
"Tidak masalah siapa yang melamar kan? Kalau pada akhirnya kami akan menikah?" jawabku.
"Apa kamu benar-benar mau menikah dengannya? Dan bagaimana nanti kalian akan bertemu setiap harinya? Karena Robbie tidak mau menetap disini." tanya V.
Bagian terakhir itu memang cukup membuatku ragu, apa aku benar-benar mau menikahinya atau tidak. Bagaimana nanti kehidupan pernikahan kami setelah menikah?
"Aku mau V. Tapi itu juga yang masih aku pikirkan. Maksudku, tidak mungkin aku akan bolak-balik kan? Sebenarnya kalau dia mau menetap disini demi aku, itu akan menyenangkan sekali." sahutku.
"Dia harus berkorban untukmu, setidaknya begitu, kalau dia benar mencintaimu, kupikir dengan pola pikir Robbie yang sekarang, dia egois dan masih belum siap untuk berkomitmen." sahut V lagi.
"Entahlah kalau itu V, tapi tidak ada salahnya aku mencoba melamar dia kan?" tanyaku lagi.
"Tunggulah sampai dia melamarmu, kalau memang dia mencintaimu, dia tidak akan berpaling darimu." jawab V lagi.
__ADS_1
"Baiklah, akan kuingat itu." tukasku dengan sedikit kesal kepada V.
Huh?! Kenapa dia harus meragukan Robbie sih?!
Frekuensi pertemuanku dengan Robbie memang berkurang, tapi kami selalu berusaha untuk bisa bertemu setiap hari di lorong waktu, walaupun hanya dalam hitungan menit, tapi menurutku itu cukup mengasyikkan, dan hampir seminggu sekali kami berkencan di tahun waktunya. Yeah, kuakui Robbie belum bersedia untuk datang ke tahun waktuku. Dan aku juga bertanya-tanya sebegitu pentingnya kah segala kesuksesan yang di raih, dan harus aku akui, walaupun aku cukup kesal tapi ucapan Voltaire ada benarnya.
...----------------...
"Beberapa bulan lagi kamu akan dilantik Dream, jadi jika kondisi badanmu sudah memungkinkan, ikutlah aku menemui para mentri utama, maupun lawan politik kita. Bantu aku untuk mempresentasikan tata kota baru." sahut Kai.
Aku mengangguk, "Baiklah, Kai. Dan hari ini aku akan menemui Robbie di lorong waktu." sahutku memberitahukan kepada Kai.
Kai membuka mulutnya, "Aku tau dua puluh menit, tidak lebih. Dan V menemaniku. Aku tau, Kai." timpalku, dan Kai tersenyum.
"Bolehkah V tidak menemaniku? Maksudku aku ingin pertemuanku lebih pribadi saja." pintaku kepada Kai.
Selagi Kai menjawab, Bry masuk ke dalam ruangan kerjaku, "Biarkan Bryanna menemanimu." sahut Kai, "aku belum tenang melepaskanmu sendiri hanya bersama Robbie." tambahnya lagi.
Aku memberengut kesal, "Sulit sekali bagimu atau V untuk percaya kepada Robbie." tukasku, "Tapi, kalau Bryanna baiklah." sahutku dan menggandeng lengan Bryanna.
"Temani aku melintas waktu, Bry. Aku akan memperkenalkanmu kepada kekasihku, Robbie." sahutku ceria.
"Oh, aku senang sekali. Kamu sering bercerita betapa keren dan seksinya Robbie. Aku tidak sabar untuk menemuinya." sahut Bry.
Kami pun melintasi waktu, dan seperti biasa, sekompi pasukan satuan waktu menemani kami. Dan begitu kami tiba di lorong waktu, mobil Robbie sudah menungguku disana.
"Ehem, kenalkan ini Bryanna. Sahabatku disana. Tadinya kami bersaing untuk mendapatkan Voltaire, tapi pada akhirnya Bry malah berkarir di tahun waktuku." sahutku kepada Robbie.
"Oh yah? Ah, aku Robbie." katanya menjabat tangan Bry. Kemudian Bry berbicara dengan Robbie tentang proses perpindahan waktunya. Tak terasa, salah satu polisi satuan waktu, sudah mulai memberikan tanda bahwa waktu kami sudah habis.
Aku berpamitan dengan Robbie, "Sampai nanti malam Rob." sahutku, namun Robbie menggeleng, "Maaf Luna, aku mempunyai janji meeting malam nanti." ucap Robbie.
"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu besok pagi lagi." ucapku, dan kemudian kami menghilang ke dalam pusaran waktu lagi.
...----------------...
Beberapa minggu setelah pertemuan itu, Robbie tidak menemuiku dengan alasan, dia mempunyai janji meeting atau jalanan terlalu macet dan akan terlalu malam untuk menemuiku. Jadi aku sudah memutuskan untuk melamarnya malam ini.
Aku akan menghubungi konektor yang ada padanya, dan..
Taraaaa....
Aku akan melamarnya. Aku bahkan sudah menyiapkan virtual reality berupa pemandangan malam yang romantis untuk melamarnya, ah aku tidak sabar.
Aku mulai menekan tanduk Lyn, dan tak lama tanduk Lyn menyala berpendar-pendar terang, dan tampaklah Robbie di depanku, dan pemandangan kamar Robbie seketika berubah menjadi padang rumput luas yang di penuhi bintang-bintang malam.
__ADS_1
"Hai Rob." sapaku.
Robbie tersenyum, "Kalau kamu akan mengajakku kesini, aku tidak akan berpakaian seperti ini, Lun." sahutnya.
Aku tersenyum melihat pakaian yang di kenakan Robbie, benar-benar pakaian siap tidur, dengan kaos tanpa lengan yang seksi yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang kekar, dan celana panjang berbahan tipis, bahkan dari sini aku bisa melihat apa yang ada di balik celana panjang tipis itu.
"Tidak apa, itu tampak seksi." sahutku. Kemudian aku menggandeng tangan Robbie dan mengajaknya duduk di rerumputan, "Andaikan ini nyata yah." ucapku lagi.
Robbie mengangguk, dan menatapku, "Apa yang harus kulakukan, Luna? Aku ingin sekali memeluk dan menciummu." sahutnya.
Aku membalas tatapannya, "Aku juga." jawabku.
Kami terdiam beberapa saat, hanya untuk menikmati waktu damai kami. Aku tidak tau apa yang dia pikirkan saat ini, yang aku tau hanyalah, aku memikirkannya sepanjang hari tadi.
Aku memutuskan untuk menjalankan rencanaku, "Ehem, Robbie Stans..." sahutku.
Robbie menoleh menatapku, "Apa ini, kenapa kamu resmi sekali?" dia bertanya dengan senyuman manis terukir di wajahnya.
Aku menahan senyumku, mengajaknya berdiri. Dan setelah dia berdiri, aku berlutut di hadapannya, dan menyerahkan cincin berbatu rubby berwarna ungu, "Robbie Stans, maukah kamu menikah denganku?" tanyaku, dan kemudian aku memejamkan mataku.
...----------------...
**EPILOG
V POV
"Apa jawabanmu, Rob? Andaikan Dream melamarmu?" sahutku.
Hari ini aku melintasi waktu untuk menemui Robbie, sesaat setelah Dream bercerita kepadaku, bahwa dia akan melamar Robbie dan mengajaknya menikah.
"Aku belum memikirkan itu, V. Mengertilah keadaanku." jawab Robbie.
Wajahnya santai dan tidak tampak bahwa dia akan benar-benar memikirkan hal ini. Ingin sekali aku melayangkan tinjuku ke wajahnya sekali lagi.
"Seorang wanita memberikan cinta bahkan hidupnya kepadamu, tapi kamu...demi Tuhan, Rob! Kamu mengabaikan itu!" tukasku kesal kepadanya.
"Tidak ada yang mengabaikannya! Jaga ucapanmu, Voltaire!" serunya.
"Kalau tidak mengabaikannya, temui dia, luangkan sehari saja waktumu untuknya, sama seperti saat dia masih ada disini!" seruku, tidak kalah dengannya.
"Aku tidak bisa kesana! Aku tidak bisa menemuinya!" sahutnya, suaranya sekarang sangat putus asa, "aku tidak bisa meninggalkan semua yang ada disini, V." sahutnya lagi menambahkan.
"Apa contohnya? Hartamu? Posisimu? Semua sudah tersedia disana Rob! Katamu kamu akan memperjuangkannya, dan tidak akan membiarkan ini berakhir! Saat itu aku percaya kepadamu, Rob!" tukasku.
"Saat itu aku tidak tau kalau ternyata seberat ini." jawabnya dan menutupi wajahnya, "Butuh bertahun-tahun untuk mendapatkan segala sudah kudapatkan saat ini, V. Mengertilah." jawabnya lagi.
__ADS_1
"Apapun alasanmu, Rob! Jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaanku, jauhi dia! Hancurkan konektornya!" sahutku dan pergi meninggalkannya.
...----------------...