
Kami sedang berada di rumah sakit untuk mengobati papa yang terkena tembakan, menurut dokter kondisinya kritis. Tidak ada peluru karena mereka menembak dengan senapan laser.
Kai datang menghampiri kami, aku mendekatinya, "Bagaimana Bryanna?" tanyaku.
"Hanya sedikit shock. Disarankan untuk bedrest. Jean dan Jeannete aman. Mereka terjatuh saat mencarimu, karena ada luka lecet dan memar di lutut dan siku mereka." jawab Kai, "bagaimana dengan papa?" tanya Kai.
Aku menggelengkan kepalaku, "Sudah selesai di operasi tapi papa belum sadar. Luka tembaknya cukup dalam, dan merobek vena di dekat paru-paru. Dokter takut terjadi kebocoran paru-paru, maka itu papa akan terus di pantau." aku menerangkan kepada Kai.
Kai menghela nafas panjang, "Dimana V?" tanyanya setelah sadar bahwa V tidak ada bersama kami.
"Dia sangat marah, dia mencari pelakunya. Sangat bodoh sekali!" sahutku.
"Dan dimana si bodoh itu sekarang?! Kenapa bertindak tanpa berpikir seperti itu! Aku akan mencarinya." tukas Kai.
"Aki ikut denganmu!" sahutku, kemudian berpamitan kepada mama dan papaku yang sedang berada di ruang intensif.
Aku ikut dengan Kai, kami menyusuri semua kota dari atas mobil untuk mencari V. Kami berputar-putar, dan tiba -tiba ada satu tempat terlintas di benakku, "Kai, kita ke kota bantaran lengkungan." usulku.
Kai menurutiku, dan mengarahkan kendaraan kami ke arah kota bantaran lengkungan, "Ada apa disana?" tanya Kai.
"Kamu ingat, unjuk rasa yang pernah terjadi disana? Aku yakin mereka pelakunya. Mereka memihak partai lawan, dan kemarin adalah titik terlemah kita, dimana semua warga merayakan hari pernikahanku, kan?" sahutku berusaha mengaitkan segalanya tentang kejadian-kejadian yang belakangan ini terjadi.
"Tapi dimana para petugas dan unit robot yang berjaga? Aku menginstall puluhan unit untuk berjaga. Dan itu sudah kubagi-bagi letak penjagaannya." kata Kai.
Aku tidak bisa langsung menjawabnya, karena apa yang dikatakan Kai ada benarnya. Puluhan bahkan ratusan petugas dan unit robot di kerahkan untuk menjaga acaraku. Kenapa masih kebobolan? Apa yang terjadi? Bagaimana mereka melewati semua penjagaan itu?
"Entahlah, aku juga tidak mengerti." sahut Kai, sambil mendaratkan mobilnya.
Aku dan Kai memasuki gerbang kota bantaran lengkungan itu, dan kota itu sepi sekali, bahkan burung saja tidak terbang dan tidak terdengar cuitannya.
"Hei, Dream. Apa kamu membawa senapan?" tanya Kai tiba-tiba.
Aku menggeleng, "Tidak terpikirkan olehku untuk membawa senapan." sahutku putus asa.
"Kamu harusnya sebagai perdana mentri, punya pengawal yang selalu siap membawakan senapan untukmu. Kamu hanya butuh aku. Aku kan bukan pengawalmu." tukas Kai.
"Loh, memang aku tidak membutuhkannya kecuali kalau untuk bepergian kan?!" jawabku kesal juga.
"Sudahlah, mereka tidak bisa menembak perdana mentri kan?" tanyaku percaya diri, aku berusaha meyakinkan Kai bahwa semua akan baik-baik saja dan aman, tapi jantungku berkata sebaliknya.
__ADS_1
"Bodoh sekali kau ini, Dream! Kemarin di pernikahanmu itu apa? Pentas kembang api??!!" seru Kai.
"Ah, benar juga." ucapku. Kai menggelengkan kepalanya. Kami melanjutkan perjalanan kami, "Kitanke walikota dahulu, ayo Kai." ucapku.
"Permisi...pak Walikota. Apa anda ada di dalam?" tanyaku sambil mengetuk pintu kantor walikota tersebut.
Tidak ada sahutan atau jawaban, aku mencoba mengetuknya lagi, tapi usahaku sia-sia, tetap tidak ada jawaban.
"Dream, apa kamu membawa macbox?" tanya Kai.
"Tentu saja tidak, dan demi Tuhan, Kai. Kamu hidup di tahun berapa? Jam tanganmu untuk apa fungsinya?!" jawabku gemas. Begitulah Kai jika dia panik atau sedang memikirkan sesuatu.
Kai menghubungi pihak kantor untuk memerintahkan 8 unit robot penjaga. Tak lupa Kai meminta robot itu untuk membawakan senapan untuknya dan untuk Dream.
"Kai, sepertinya kita harus berpencar. Kota ini luas sekali. Dan kenapa juga kita hanya membawa satu mobil?" tanyaku lebih kepada diriku sendiri.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Kita harus tetap bersama-sama!" seru Kai tegas.
"Ya, tidak akan selesai. Dengar, aku sudah cukup dewasa dan aku sudah berani untuk bertindak sendiri. Jadi ayo kita berpencar, dan jangan khawatirkan aku." sahutku.
Kai memandangku dengan tatapan yang dalam, "Dream, berjanjilah untuk berhati-hati. Hubungi aku jika kamu melihat atau menemukan sesuatu." pinta Kai.
Aku berjalan seperti biasa, tidak mengendap-endap, dan tiba-tiba saja segerombolan pria menghadangku, "Selamat siang Maam Dreamy, bagaimana kabar ayahmu?" tanya salah satu dari mereka.
Tak lama, gerombolan pria lain datang, dan mereka sudah menangkap Kai. Mereka menyeret kami, dan membawa kami ke sebuah rumah tinggal berukuran kecil, dengan atap oval.
Aku melihat V tertidur di sebuah kursi, "V, bangun!" aku berteriak memanggilnya.
"Wow, aku lupa Maam Dreamy dan tuan Voltaire ini pengantin baru, luar biasa sekali. Memang kalian benar-benar berjodoh." kata salah satu pria itu.
Mereka mendudukanku dan Kai dengan kasar, kemudian walikota datang bersama dengan lawan politik kami, yang setauku memang dia musuh terbesar papaku.
"Selamat siang Maam Dreamy, atau yang seperti ayahmu sering ucapkan my tiny Dreamy. Apa kabar Maam?" katanya.
"Sangat baik, apalagi setelah bertemu langsung denganmu, yang makin kesini makin kesana. Kamu paham maksudku?" sahutku.
Dia tertawa, "Hahahaha... seperti ayahnya, pintar sekali berbicara." tukasnya.
"Apa maumu?" tanyaku tanpa basa basi.
__ADS_1
"Merdekakan kota ini." jawabnya, "kota ini berada di perbatasan, tapi ke wilayahku lah kota ini paling dekat " katanya lagi.
"Semua daerah yang mempunyai bentuk adalah wilayah territorial kami. Siapapun yang masuk ke dalamnya tanpa izin akan kami anggap sebagai penyelundup. Tentu sudah mendengar tentang peraturan itu bukan." sahutku.
"Atau kamu boleh membawa semua warganya, setelah aku meluluh lantakkan kota ini." aku menambahkan sedikit ancaman kepada mereka.
Pak walikota terkejut mendengar ucapanku, dan menoleh ke arahku, "Apa yang Maam Dreamy bicarakan?" tanyanya.
"Kemarin sudah kita bahas bukan bapak Walikota. Bahwa warga anda setuju dengan biaya kompensasi yang kami tawarkan, dan jika anda menolak atau melakukan unsur kekerasan, termasuk di dalamnya unjuk rasa, apalagi penembakan seperti kemarin, maka kota kalian menjadi milik negara, dan akan kami rata tanahkan. Ada di kontrak perjanjian yang sudah pak Walikota sepakati juga." ucapku lagi.
"Bagaimana? Wilayah anda tertarik menampung warga kota bantaran ini?" tanyaku tersenyum kepada si lawan politik.
Dia menelan ludah, dan tersenyum kecut, "Berapa kompensasi yang kalian berikan?" tanya dia, "aku akan memberikan lebih besar, jika pak walikota setuju dengan usulku." katanya lagi. Pak walikota berpikir.
"Ah, terlalu lama. Begini saja, lepaskan suamiku, dan mentri utamaku. Sebagai gantinya, aku akan menahan diriku sendiri disini!" sahutku.
"Apa??!!" tukas Kai terkejut.
...----------------...
**EPILOG
V POV**
Aku menemani papa melewati operasinya, dia tampak lemah sekali setelah operasi ini dilakukan. Tubuhnya terbalut perban.
"Dokter, bagaimana kondisi papa mertua saya,?" tanyaku.
"Robekan tembakannya cukup dalam, kami takut itu akan berdampak ke paru-parunya. Maka dari itu pak Mark akan kami observasi dahulu dan kami akan pantau terus kondisinya." sahut si dokter.
"Apa sudah dilakukan segala cara?" tanyaku tidak percaya, aku pernah kena luka tembak juga, tapi yang kupikirkan adalah kalau Dream kuat, maka ayahnya akan lebih kuat.
Dokter itu mengangguk. Aku mengucapkan terima kasih. Aku berpikir siapa kira-kira yang melakukan serangan teror itu? Di pernikahan kami pula, dan apa tujuan mereka? Siapa targetnya? Dream kah atau mungkin Mark? Pikiran-pikiranku itulah yang akhirnya membawaku mengambil kesimpulan untuk pergi ke kota bantaran.
Sebelum aku kesana, aku mengecek Jean, Jeannette, dan Bry. Setelah memastikan mereka baik-baik saja, aku mencari Dream.
Namun aku tidak menemukan dimana Dream dan Kai, akhirnya aku hanya mengirimkan pesan kepadanya,
"Dream, aku akan pergi mencari pelaku penembak papa. Sepertinya ini sudah di rencanakan. Permainan mereka rapi sekali." kemudian kukirimkan pesan itu kepada Dream.
__ADS_1
...----------------...