Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Making Love with You


__ADS_3

"Luna, bisakah kamu menjaga anak-anakku selama aku ke luar kota?"


Ping.....


Sebuah pesan masuk ke ponselku.


"Ah, benarkan!! Kai, belikan aku ponsel yang lain. Aku akan mengembalikan ini kepada Robbie. Ayolah." rengekku kepada Kai.


Kai hanya melihatku sedikit dari balik cangkir kopinya, "Ambilah sendiri di kamarku. Itu buatmu, aku membelikannya kemarin." sahut Kai.


Aku bergegas pergi ke kamarnya, dan, "Kai...Kai...Kai... terimakasih...terimakasih. Bahkan kamu membuatkanku id card. Terimakasih Kai." sahutku, dan aku memeluk Kai, "hanya Kai yang aku sayang." sahutku lagi. Kai yang mendengar ucapanku tersedak, begitu juga dengan V yang tiba-tiba terbatuk-batuk.


Kai membantuku memasukan kartu ponsel, dan menghidupkannya.


"Aku akan menyimpan nomorku di keypad pertama, sedangkan V kedua. Oke?" ucap Kai. Aku mengangguk, namun V yang tiba-tiba hadir di meja makan, merebut ponselku.


"Kenapa aku harus menjadi yang kedua? Aku yang pertama." sahutnya dan merubah tombol keypad untuk panggilan cepat.


Kai memandangnya kesal, "Aku akan selalu menjadi yang pertama untuknya, V, hei, kamu dengar itu?!" sahut Kai. Aku menutup telingaku, dan membalas pesan dari Robbie.


"Aku akan disana sekitar 20 menit lagi." jawabku. Tak lama balasan dari Robbie muncul.


"Kamu ikut saja denganku, malam ini aku antar kamu pulang ke rumahmu." balasnya.


"Kita bicarakan nanti, setelah aku sampai disana." balasku lagi kepadanya.


"Aku harus berangkat sekarang, Kai." sahutku, "Robbie mengajakku keluar kota, dan demi Tuhan, aku sama sekali tidak tau dimana itu luar kota." sahutku lagi.


"Aktifkan selalu GPS di ponselmu, dan bawa Lyn, sambungkan konektornya, aku akan menjagamu." jawab Kai, dan dengan sigap, dia sudah menyambungkan ini dan itu ke itu dan ini. Aku mengangguk.


"Biarkan aku yang mengantarmu, Dream." sahut V, aku mengucapkan terima kasih kepadanya.


Sesampainya di depan rumah Robbie, V memberikanku nasihat, untuk tidak bergerak sendiri, untuk tidak mencari masalah, dan sabar, "Ingat pesanku, Dream! Jangan gegabah, selalu waspada, dan sabar. Jangan cari masalah, oke? Kalau ada sesuatu yang terjadi, segera hubungi aku. Berjanjilah kepadaku, Dream." pinta V.


Aku mengalungkan jari kelingkingku, ke jari kelingkingnya.


"Iya, aku janji." sahutku kepada V.


Seperti biasa, aku harus absen dahulu ke ruangan Robbie.


"Hei, Rob" sahutku, "Kemana kita akan pergi?" tanyaku kepadanya.


Dan seperti biasa, dia akan melemparkan sebuah kotak jika ingin memberikanku sesuatu.

__ADS_1


"Ganti pakaianmu, dan aku tunggu di mobil. Aku mengajak Nancy untuk mengawasi Jean dan Jeannete." sahutnya.


Aku menatapnya bingung, "Lalu, untuk apa aku disana?" tanyaku kepadanya.


"Mengawasiku. 5 menit, cepatlah berganti pakaian!" perintahnya.


...----------------...


"Untuk apa aku mengawasimu? Apakah kamu akan tiba-tiba muntah atau hidungmu akan mengeluarkan darah? Atau kamu akan berlarian saat bosan? Konyol sekali!" sahutku, "Kamu merusak hari liburku. Dengar, aku butuh minimal 2 hari damai dalam mingguku, dan kamu sudah merampas satu harinya dariku, aku minta tambahan gaji dan bonus!" sahutku menuntut.


"Baiklah...baiklah.. Aku hanya butuh kamu berpura-pura menjadi kekasihku. Itu saja, dan hanya satu hari. Akan segera kuberikan bonusmu, begitu acara ini selesai." jawabnya.


Aku sontak berteriak, "APA?!!! KEKASIHMU??!! Kamu gila? Apa kamu salah minum obat??!! Turunkan aku disini!! Dave, turunkan aku!!" sahutku.


Robbie menggelengkan kepalanya, "Pssst...hanya satu hari. Dan berhentilah berteriak!! Suaramu membuat telingaku sakit, kamu tau??!!"


"Tidak!! Kamu sudah bertunangan, Rob! Pakailah dia, dan jangan menumpuk tugasku.!" sahutku kesal. Aku teringat pesan V, harus sabar, Dream, sabar....Aku menarik dan mengeluarkan nafasku dengan cepat untuk mengusir rasa panik. Ini rasanya sama seperti di culik!


"Darimana kamu tau aku bertunangan?" tanyanya setelah sadar kata tunangan keluar dari mulutku.


"Nancy." jawabku singkat.


"Dengar Rob, aku tidak mau terlibat urusanmu dengan keluargamu atau teman kantormu atau tunanganmu atau bahkan ikan-ikanmu terlalu jauh. Tidak mau! Aku datang hanya untuk Jean dan Jeannete." aku mempertegas job deskku disana. Dan aku tidak suka dia melibatkanku terlalu jauh.


...----------------...


"Rob, kamu membawa nany kesini?" tanya teman Rob yang saat itu ikut makan siang bersama.


Kami sudah sampai di tempat tujuan kami. Ternyata luar kota tidak jauh. Pemandangan disini pegunungan, di penuhi pohon cemara yang ramping-ramping, udaranya sejuk dan dingin. Aku suka disini, tapi tidak suka karena aku bersama Rob.


"Hahahaha... dia pacarku sekarang." jawab Rob.


"Luna bukan namanya? Aku lupa-lupa ingat." tanyanya lagi.


"Luna, honey, kemarilah, dan sapa temanku." sahutnya. Walaupun memakai kata honey, tetap saja ucapannya itu berupa perintah. Mungkin tunangannya kabur, karena tidak tahan dengan sifat Robbie. Aku tersenyum jahat di dalam hati.


"Apakah Billie akan datang, Rob?" tanya temannya lagi.


Robbie mengangkat bahunya, "Aku tidak tau." jawabnya tak peduli.


Billie? Siapakah dia? Atau jangan-jangan dia tidak suka wanita? Haaaahhh??!! Apakah dia belok? Astaga, kemungkinan besar pasti begitu, pantas saja dia kasar terhadap wanita. Dan dia menggunakanku disini sebagai tameng untuk menutupi ketidak normalannya dia. Aku paham sekarang.


"Billie bilang akan datang. Tadi dia menghubungiku. Mungkin terlambat." sahut temannya yang satu lagi. Tak lama dia melambaikan tangannya, "Panjang umur, Billie datang." katanya.

__ADS_1


Aku mendengar suara sepatu tak..tok..tak..tok.. Eh, tapi kenapa tak...tok...tak...tok...apakah dia memakai sepatu hak tinggi? Apa ada ukuran sepatu hak tinggi untuk pria? Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, sampai aku tidak menyadari seorang wanita, menunggu uluran tanganku.


"Halo, hei, aku Billie. Rob biasa memanggilku dengan B. Aku calon tunangan Robbie" katanya. Aku melongo menatapnya, dewasa dan cantik sekali. Badannya tinggi semampai, dengan lekukan tubuh di tempat yang tepat.


"Oh, maaf. Hai, aku Luna." jawabku, membalas uluran tangannya. Eh, tapi tunggu dulu! Dia tunangannya? Lantas, aku?


"Kelas berapa kamu, Luna?" tanya Billie.


"Hah?! Oh aku sudah bekerja. Aku 25 tahun." sahutku. Sembarangan!! Apa aku sekecil itu sampai harus di tanya kelas berapa? Tidak sopan!!


"Hentikan B! Dia pacarku sekarang. Hubungan kita sudah berakhir dsn berhenti untuk memamerkanku sebagai calon tunanganmu!" sahut Rob, ceritanya membelaku.


Billie pura-pura terkejut dan memandang Rob dengan senyum mengejek, "Segitu putus asanya kamu, Rob, sampai harus berkencan dengan anak kecil seperti dia." cemooh Billie.


Aku berdeham, "Ehm, mohon maaf, aku bukan anak kecil, umurku 25 tahun." sahutku tidak terima. Dia mengataiku anak kecil. Beban hidup anak kecil ini kebih berat dari beban hidupnya...huh!!


"Buktikanlah kalau dia kekasihmu, Rob. Bukankah kamu selalu pandai melakukannya." sahut Billie.


Rob mengangguk, dan dia menciumku. Dia mencium bibirku, dan memejamkan matanya, apa yang harus kulakukan? Aku mendengar Rob berbisik, "ikuti saja permainanku, kalau tidak, ini akan lama." sahutnya.


Aku akhirnya mengikuti permainannya, dan entah kenapa, aku membayangkan sedang mencium V, aku mengalungkan lenganku di lehernya, dan membalas ciumannya. Sorak sorai teman-temannya mulai terdengar semakin menjauh. Ciuman Rob semakin dalam, sampai makanan yang kami pesan tiba.


"Maaf menganggu, silahkan makanannya." sahut si juru masak. Rob melepaskan ciumannya, dan aku memandang sekelilingku, dan terpaku pada sosok yang sangat aku kenal, yang baru saja bermain dalam imajinasiku, dan bayangan imajinasi itu sekarang nyata ada di depanku, menatapku dengan tatapan tak percaya, Voltaire!!


...----------------...


**EPILOG


V POV**


"Apa yang kamu lakukan bersamanya, Dream?" tanya V saat kami sudah berada di rumah.


"Aku hanya mengikuti perintahnya, dan demi Tuhan saat aku menciumnya, di kepalaku semuanya tentang kamu, V, percayalah." jawab Dream.


Aku memandang matanya, dan matanya di penuhi penyesalan, dan mata itu seolah menarikku untuk mendekatinya, untuk menyentuhnya, untuk bermain bersamanya. Mata itu telah menghipnotisku.


Aku mendekati Dream, dan menciumnya. Dia tidak menolaknya, bahkan Dream membalas ciumanku dengan lembut. Kami saling memagut satu sama lain, dan semakin dalam. Tidak puas dengan itu, aku membawanya ke atas meja, dan melanjutkannya disana. Kepalaku hanya dipenuhi oleh Dream. Wanita dari masa depan yang sejak kemunculannya selalu membuatku ingin memilikinya, dan sekarang aku benar-benar bisa memilikinya sepenuhnya.


Dan malam ini, kami melakukan hal yang dulu tidak kami lakukan sebagai pasangan suami istri palsu. Dan aku ingin melakukanny dengan benar kali ini. Aku akan mengungkapkan semua yang aku rasakan selama 2 tahun ini kepadanya.


"Aku sayang kamu, Dreamy Eve." sahutku berbisik, nafasku berpacu seirama dengan gerakanku. Dream mengikuti irama gerakanku, tubuhnya di basahi oleh keringat, matanya menatapku saat aku membisikkan kata cinta kepadanya. Dream hanya tersenyum, dan menciumku sangat lembut dan dalam.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2