Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Hold On


__ADS_3

Aku menarik V untuk berlari dari kejaran petugas waktu, "Tunggu...tunggu...kenapa kita harus lari sih?" tanya V dengan nafas terengah-engah. "Ya terus? Harus jalan aja gitu kalo di kejar?" jawabku ketus. Kami sampai di tempat persembunyian, entah ini dimana.


"Dream, cincin kamu...lihat, sudah berwarna biru lagi!! Kita udah kembali Dream, cepat hubungi ibuku atau orangtuamu!" sahut Kai. Aku mengangguk, namun belum sempat aku menghubungi salah satu dari mereka, seorang petugas waktu menangkapku, "Aaahhh...lepaskan aku" sahutku, aku melihat Kai dan V juga tertangkap. Mereka dengan pasrah mengikuti arahan petugas waktu, mereka membawa kami ke sebuah bangunan megah bergaya modern, aku belum pernah kesini seumur hidupku dan apakah aku bisa keluar dari sini? aku menghembuskan nafasku. Kami di bawa ke sebuah ruangan, dan di dudukkan di depan petugas pencatatan.


"Namamu?" tanya petugas tersebut.


"Kai Johnson" sahut Kai, "Ini Dreamy Eve, anak dari perdana mentri kita, mohon lepaskan dia" sahutnya lagi. Petugas itu melihat ke arahku, memperhatikanku dengan kacamata di hidungnya, tak lama, dia menelpon satuan regunya untuk memastikan.


"Sudah di konfirmasi, nanti ayahnya yang jemput" katanya lagi, "Siapkan diri kalian, bapak perdana mentri akan berkunjung kesini!" sahutnya dengan suara besar dan menggelegar, dan kemudian beralih ke V, "Namamu?" katanya lagi.


Aku merangkul pundak V, "Mereka bersamaku!" sahutku cepat. Petugas itu mengangguk, aku memegang tangan V kencang, dan dia melihat ke arahku.


"Bagaimana cara kalian membuka lorong waktu?" tanyanya.


"Itu ketidaksengajaan, sir. Dream, ah maksudku kami bertiga lari dari kejaran penjaga, karena Dream menolak untuk menikah di hari itu" jelas Kai. Aku menangkap kata-katanya kami bertiga, jelas dia ingin memyelamatkan V, jangan sampe dia di penjara.


"Nama kalian berdua ada pada daftar, tapi nama pria ini belum ada, dan dia belum teridentifikasi" sahut petugas itu lagi, "siapa namamu tadi, anak muda?" tanya petugas lagi. Aku memandang V dan Kai dengan cemas.


"Ah, dia teman saya, sir, datang dari kota lain, jelas tidak ada datanya" sahut Kai.


"Semua data di negara ini sudah tercatat, baik itu kota besar maupun kota kecil, nama...hanya sebuah nama, untuk melihat apakah dia penyelundup waktu atau bukan...namamu?" tanyanya lagi dengan wajah menjengkelkan. Aku kembali memandang cemas V dan Kai, ini semua salahku, kenapa aku menarik V untuk lari bersamaku?

__ADS_1


"Saya sir yang akan bertanggung jawab atas dia" sahutku memberanikan diri. Petugas itu mengernyitkan dahinya, "Aha...menarik, apa ayahmu tau hal ini?" tanyanya.


"Dia...dia...calon pasangan 100% saya sir" sahutku, Kai langsung menengok ke arahku, begitu pula dengan V. "Lantas, kenapa kemarin kabur?" tanyanya lagi.


"Saya tidak mau menikah di rumah sir, saya mau menikah di Eden Park" sahutku. Kai masih menatapku, aku meliriknya untuk menenangkannya. Tidak lama kemudian bunyi sirene menggema, papaku!! Aku melonjak kegirangan.


Seorang pria berjas parlente masuk ke dalam ruangan, dengan rambut setengah botak, pria itu menganggukan kepala kepada petugas pencatatan, "Saya ambil alih dari sini. Dia putri saya, maafkan saya jika karena putri saya dan teman-temannya, petugas waktu harus ikut turun tangan" sahutnya lagi dan membungkukkan badannya.


...----------------...


"Papa maafkan aku, pah" sahutku ketika kami sudah sampai di rumah. Papa berbisik kepada penjaga, dan tidak lama penjaga yang tadi datang dan membawa alat tes kecocokan pasangan, penjaga itu mengambil tangan V, dan meletakkan tangannya di layar kalkulator itu.


"Dream, tanganmu" pinta papaku. Aku melirik Kai, dan Kai mengangguk, aku meletakkan tanganku di atas layarnya, bersebelahan dengan tangan V. Dan kalkulator itu mulai mengkalkulasikan presentase kecocokan kami.


Aku melepaskan tanganku dari alat tersebut, Kai memandang keheranan kepadaku, begitu juga dengan V. Papa bertepuk tangan dan bersorak-sorak, "Kali ini kamu harus menikah Dream, apapun yang terjadi. Papamu ini butuh penerus" sahutnya tersenyum, "Anak muda, malam ini tidurlah bersama Dream di kamarnya" sahut papa lagi dan menepuk pundak V.


Aku menatap Kai, "Kai gimana ini?" tanyaku, namun sebelum Kai menjawabku, papaku sudah merangkul Kai, "Kai, maafkan putriku yang sudah merepotkanmu, dan terimakasih kamu sudah menjaganya selama ini, sekarang istirahatlah. Ibumu mengkhawatirkanmu" kata papa. Kai membungkukkan badannya ke arah papaku, "Baik sir, terimakasih" sahut Kai dan dia menunjuk ke arah cincinku, aku paham maksudnya. Aku mengangguk.


Aku mengajak V ke kamarku, yang penting V bisa selamat dulu lah, urusan ranjang bisa di bicarakan baik-baik. Ketika kami hanya berdua saja, V merubuhkan tubuhnya ke tempat tidurku, dan menghembuskan nafas panjang.


"Bagaimana aku harus pulang?" tanyanya, akhirnya V bersuara.

__ADS_1


"Kamu takut yah? Daritadi kamu diam aja" tanyaku.


"Bukan bodoh, aku bukan takut, aku menyusun strategi, tapi bapakmu keburu datang, dan alat apa itu?" tanyanya, mulai kambuh deh bawelnya.


"Itu yang pernah aku ceritakan, alat untuk mengetest kadar kecocokan pasangan" jawabku.


"Dan hasilnya? 100% itu? Kamu dan aku? Kok bisa?" tanyanya lagi, "Jadi aku besok akan menikah sama kamu?" tanya V.


"Ngga tau lah, isirahatlah dulu" jawabku lelah. Aku menuju ke kamar mandi dan mengganti bajuku, tenang rasanya sudah sampai di rumah sendiri tapi kenapa jadi ribet begini sih?! "Kamu bisa tidur di sofa situ, minggirlah" kataku, dan membaringkan tubuhku di tempat tidur. V melompat ke atasku, "Hei Dream" panggilnya dengan suara lembut...ah tidak itu seksi...dia menggodaku lagi, tahan..tahan.. "Kita besok kan menikah, kamu tidak mau melayaniku kah?" tanyanya. Tangan V membelai wajahku, aku memejamkan mataku, aku tidak mau menatapnya, tatapan matanya beracun, jantungku berdebar lagi, sekarang aku bisa membedakan, debaran sehabis berlari, debaran takut, dan berdebar karena V. Aku mengintip dari balik mataku, deeggg, dia masih menatapku, aku memberanikan diri membuka mataku.


"Kita tidak menikah beneran, kamu paham?!" sahutku, V tersenyum dan menurunkan tubuhnya lagi, "terus? Apa yang harus aku lakukan setelah menikah denganmu?" tanyanya lagi, dan semakin menurunkan tubuhnya, wajahnya kian dekat denganku, bahkan aku mendengar degup jantungnya, ah bukan, ini suara degup jantungku yang makin kencang, dan dadaku seakan di gedor-gedor dari dalam.


"Ayolah V, aku lelah" jawabku, dan kali ini untuk menurunkan detak jantungku, aku memalingkan wajahku. "Selamat istirahat istriku" sahutnya berbisik di telingaku. Suaranya yang seksi dengan sopan masuk ke dalam telingaku, menembus hatiku, dan mengoyak-ngoyak jantungku. Setelah berbuat demikian, V turun dan tertawa, "Masih kecil udah disuruh nikah sih" katanya sambil tertawa menggodaku, dia berjalan ke arah kamar mandi. Sialan!!! Aku marah, aku bangkit dari tenpat tidurku, kemudian aku mengikuti V, dan membalikan badannya, anak kecil juga bisa kayak gitu, dan aku bukan anak kecil!!aku memegang kedua pipinya, menurunkan wajahnya, dan aku menciumnya. V tertegun, tapi bukan melepasnya, V malah memperdalam ciuman yang aku berikan, dia mengangkatku dan menaikanku ke atas meja kamar mandi, hingga tinggi kami sejajar, sekarang kedua tangannya yang berada di sisi wajahku, kedua tanganku, diletakan di belakang lehernya, dan dia menciumku lembut, dan dalam. Aku memejamkan mataku, dan menikmati ciumannya, kemudian V melepasnya, dan berbisik, "Mau mandi bareng sekalian ngga?" tanyanya dalam bisikan, dan plaaak!! Aku menamparnya, dan bergegas keluar dari kamar mandi. Ngga sopan!!! sahutku dalam hati, dan aku membenamkan diriku di dalam selimut, berusaha untuk tidur.


EPILOG


V POV


"Kai, bagaimana aku bisa kembali ke jamanku?" tanyaku pada Kai. Aku harus berbisik, karena posisiku saat ini ada di tengah-tengah penjagaan ketat dari petugas penjaga.


"Begini aja, karena Dream sudah bilang bahwa kamu adalah pasangannya, kemungkinan kamu akan diberikan test kecocokan, kalau hasilnya tidak 100%, ayah Dream pasti akan memintaku untuk mengurusmu, tapi kalo hasilnya 100%, kemungkinan besar, kamu akan menikahi Dream. Ikuti dulu peraturannya, sampai penjagaan terhadap Dream melonggar" sahut Kai.

__ADS_1


"Tunggu dulu, aku? Menikah? Dengan Dream? Ini gila! Aku sudah mempunyai kekasih Kai!" sahutku. Kai memandangku putus asa, "itu cara teraman yang aku punya V, aku harap kamu mengerti" sahutnya lagi.


__ADS_2