Cintaku Di Lorong Waktu

Cintaku Di Lorong Waktu
Yes, I Do


__ADS_3

Aku memeluk Kai dengan erat sekali, setelah tadi berpamitan dengan kedua orangtuaku, ibu Kai, dan Bryanna.


"Aku tidak mau pergi, Kai." sahutku.


"Harus, Dream. Kuatkan hatimu! Jangan goyah lagi!" seru Kai, menenangkanku.


Aku menghela nafasku sebelum memasuki lorong waktu, entah apa yang akan terjadi nanti, tapi aku berharap semoga semua berjalan dengan lebih baik. Aku hanya tinggal memantapkan hatiku.


"Dah Kai." sahutku. Kai melambaikan tangannya, dan aku berbalik memasuki pusaran waktu yang kini sudah ada di depanku.


Syyuuuuttt...


**Syuuttt...


Syuuttt**...


Pluk...


Aku senang saat mendarat, rasanya seperti bermain perosotan berliku-liku, dan berhenti di ujungnya.


Aku berjalan sebentar, dan sebuah mobil Hyundai Palisade, berhenti di depanku, sang driver membuka kaca jendelanya, "Welcome back Lunaku." sahutnya.


Robbie?!


"Darimana kamu tau aku kembali?" aku bertanya kepadanya.


Robbie keluar, menuntunku, dan membukakan pintu mobilnya untukku, "Masuklah, kita cerita di dalam."


Aku berpikir dimana Voltaire bodoh itu? Di saat aku mengharapkan dia yang menungguku di depan lorong waktu, kenapa malah Robbie yang muncul? Ah, rumit sekali.


"Ayahmu menghubungiku kemarin lusa, dan dia memberitahukan segalanya tentangmu, Luna." sahutnya, dan menjalankan mobilnya.


"Dimana V?" aku bertanya kepadanya.


"Ah, kamu meninggalkan ponselmu, ini, kirimlah pesan kepadanya." sahut Robbie lagi, dan memberikan ponselnya kepadaku.


Aku mengernyitkan keningku, dan menghidupkan ponselku. "Kenapa bisa ada di kamu? Apa yang terjadi?" aku bertanya lagi.


Selagi Robbie menjawab, aku mengirimkan pesan kepada V, "Aku kembali. Kamu dimana? Apa yang terjadi selama aku tidak ada?"


"Setelah kepergianmu, aku dan V berusaha mencarimu, tapi V pada akhirnya tau setelah Lyn tidak ada." jawabnya, "Dia berkata, kamu pulang, dan kami bergantian menunggumu di ujung lorong itu." jawabnya lagi.


"Kalian berbaikan dan rukun kembali?" aku bertanya kepadanya dengan heran. Aku pikir mereka akan saling menyalahkan dan terus bergelut.


"Tentu saja. Kami tau, kamu marah kepada kami, maka itu kami memutuskan untuk berbaikan. Dan tidak memaksamu untuk memilih." sahutnya bijaksana.


"Kamu ternyata bisa berpikir, Rob. Aku bangga sekali padamu." sahutku tersenyum.


"Apa maksudmu?!" sahut Robbie pura-pura kesal.


"Aku sedang ada kerjaan, dan meminta Robbie berjaga di lorong waktu. Kabari aku begitu kamu sampai rumah yah. Dream, maafkan aku. Aku akan meminta maaf kepadamu secara langsung saat kita bertemu nanti." jawab V dalam pesan.


Luar biasa sekali pria-pria ini, sekarang mereka manis sekali, dan aku goyah kembali... Apa yang harus kulakukan, Tuhan?


...----------------...


"Silahkan masuk nona Luna." sahut Robbie. Jean dan Jeannete berlarian keluar rumah menyambutku.


Robbie membawaku ke rumahnya supaya aku bisa istirahat tenang dan makanku terjamin.


"Luna...Luna...Lunaku...!!" sahut mereka berhamburan keluar dan melompat ke arahku.


Aku memeluk mereka, "Aku rindu kalian J's!" sahutku dan menciumi mereka.

__ADS_1


"Ayo masuk dulu." sahut Robbie, "Nancy, tolong anak-anak biarkan Luna istirahat!" perintahnya kepada Nancy. Nancy menghampiriku dan tersenyum kepadaku.


Aku masuk ruangan kamar tamu, dimana waktu itu aku pernah menginap, Robbie menemaniku masuk.


"Maafkan aku waktu itu. Aku tau kelakuanku buruk sekali, dan aku memberikan contoh yang tidak baik kepada J's. Maafkan kebodohanku." sahutnya tertunduk.


Aku duduk di sampingnya, dan entah kenapa aku memeluknya. Robbie membalas pelukanku.


"Kamu tau Rob, saat kita berciuman saat itu, aku mendengar sebuah simfoni mengalun lembut di hatiku, walau pun masih terdengar samar-samar. Dan kamu tau apa artinya itu?" aku bertanya kepadanya.


Robbie melepaskan pelukanku, "Aku tau, kamu memilihku?" tanya Robbie lagi. Kali ini matanya menatap tajam dan tatapannya menembus jantungku, masuk ke dalam relung hatiku.


"Aku belum memutuskannya, tapi aku takut untuk mencoba terikat dan belum siap untuk berkomitmen denganmu, kamu tau, aku tidak enak juga dengan V. Dia selalu menemaniku, selalu di sampingku, dan bahkan di saat terburuk pun dia selalu ada. Sedangkan kamu, aku baru sebentar mengenalmu, ada rasa takut dan tidak percaya kepadamu." aku mencoba menjelaskan kepada Robbie perlahan, karena aku tidak ingin terjadi kesalah pahaman, dan semuanya berantakan. Seperti kata Kai, aku harus berani.


Robbie terus menatapku, "Jadi....maksudku, kamu akan memberikanku kesempatan? Seperti itu?" tanya Robbie ragu-ragu.


Aku mengangguk, "Ya, kurang lebih seperti itu. Maksudku kalau kamu mau, kita bisa menjalankan ini pelan-pelan, waktuku masih ada setahun disini." sahutku.


Mata Robbie berbinar-binar, "Aku mau, aku sangat mau!" sahut Robbie, dan kemudian menggendongku, menciumi pipiku, "Terima kasih...terima kasih Luna!" sahutnya. Dan kemudian dia menciumku.


Aku membalas ciumannya yang lembut, ciumannya semakin agresif dan menuntut, tapi kemudian Robbie melembutkan kembali ciumannya.


"I love you, Luna." bisiknya, dan kemudian menciumku kembali dengan lembut. Dia benar-benar hanya menciumku, tidak lebih. Tapi hanya dengan itu saja, aku menggeliat seperti seekor cacing yang terkena matahari.


"I love you, Robbie." aku menjawabnya dalam *******.


...----------------...


"Luna, bangunlah."


"Hei, Luna... bangunlah, kamu harus makan dan lain-lain." aku mendengar samar-samar suara seseorang di ujung sana.


Tidak lama, aku merasakan orang tersebut menyapukan bibirnya ke bibirku, aku membuka mulutku dan ciumannya semakin masuk ke dalam, aku membuka mataku, "Rob...Robbie!" sahutku, dan melepaskan ciumannya.


"Aku mengantuk sekali... jam berapa ini?" aku bertanya kepadanya.


"Sudah malam, V sudah menjemputmu, makanlah dulu bersama kami, setelah itu kamu boleh pulang, atau kamu mau tinggal disini, dan bermain denganku sampai pagi?" sahutnya.


Aku menggelengkan kepalaku dan bergegas turun. Begitu keluar kamar, aku melihat V sedang bermain dengan Jean dan Jeannete.


Dia tersenyum ke arahku, "Hai.." sapanya.


Aku kembali di kuasai perasaan bersalah dan tidak enak terhadapnya, "Hai, aku akan pulang bersamamu." sahutku.


Dia mengangguk dan berdiri menghampiriku.


Setelah makan dan berpamitan, kami pulang. Di dalam perjalanan, kami diam saja, tidak ada pembicaraan atau pembahasan tentang apa pun. Apa dia sudah mengetahuinya?


"Hmm..V, aku harus bicara." sahutku.


V menoleh memandangku, kemudian dia menjawab, "Tunggulah sebentar, tinggal sedikit lagi, kita akan sampai rumah." jawabnya.


Seperti kata V, tak lama, kami sudah sampai rumah.


"Tutuplah matamu, aku akan menuntunmu supaya tidak tersandung atau menabrak apa pun." kata V.


Jantungku berdegup kencang, deg... deg...deg...apalagi ini?


Aku memejamkan mataku, dan membiarkan V menuntunku, aku mendengar dia membuka pintu, dan, "Bukalah matamu, Dream."


Aku membuka mataku....


"Tadaaaaa...!!" serunya ceria.

__ADS_1


Aku melihat sekelilingku, dia telah menghias seluruh rumah dengan warna ungu kesukaanku, dia bahkan membuatkan makanan kesukaanku, dan dia juga membuat suasana di ruang makan seperti sebuah restoran dengan sangat indah.


Aku memegang dadaku, aku takut jantungku melompat keluar, bahkan airmataku sudah menggelantung di sudut mataku, menuntut untuk segera turun.


"Selamat datang kembali, Dream!" sahutnya.


Dan akhirnya aku tak kuasa menahan airmataku, aku tidak bisa berkata-kata, "V, kamu membuat ini semua?" aku bertanya terisak.


V memelukku, "Maafkan aku Dream atas semua kebodohanku, maafkan aku." sahutnya.


Aku bingung...bagaimana ini Kai? Dia bodoh sekali... tidak bisakah dia membaca suasana di rumah Robbie tadi. Kenapa dia melakukan ini hanya untuk menyambutku?


"Hei, kenapa kamu menangis, Dream? Ada apa?" tanya V, kemudian menuntunku lagi untuk duduk, dan menenangkan diriku.


"Apa yang terjadi, Dream?" dia bertanya dengan bingung, dan memelukku kembali.


Aku menangis di dalam pelukannya, bahkan aku tidak sanggup untuk mengeluarkan satu patah kata untuknya.


Setelah tenang, V mengajakku untuk makan makanan ringan yang telah dia sediakan. Dia menceritakan tentang hari kepergianku dan sesudahnya.


"Jadi, Dream, maukah kamu menerimaku kembali? Maksudku, kita tidak perlu membahas tentang pernikahan atau apapun itu, kita jalani saja."


V menatapku, tatapan yang sama yang sering dia berikan kepadaku, tatapan yang melumpuhkan semua inderaku. Tanpa sadar, aku mengangguk pelan, "Ya, aku mau." sahutku bodoh.


V melayangkan tinjunya ke udara, "Yes!!" sahutnya, dan kemudian memelukku.


Aku mengutuk diriku sendiri, kenapa harus berbuat bodoh seperti ini??!


...****************...


**EPILOG


V POV**


"Dia di rumahku, sedang tidur. Aku ada berita bahagia, V! Kurasa ini hari keberuntunganku." sahut Robbie dari sebrang saat aku menghubunginya untuk bertanya tentang Dream.


"Apa yang membuatmu bahagia? Aku harus mengurus sesuatu dulu. Biarkan dia tidur disana." sahutku.


Aku bergegas pulang ke rumah, dan begitu sampai, aku menghias rumah kami dengan warna kesukaan Dream, ungu. Aku menuju dapur dan membuatkan semua makanan favoritenya dia. Aku tidak berharap dia kembali kepadaku, aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untuknya.


Aku melihat sekeliling rumahku, ah tidak, rumah kami dengan semangat, dan bergegas menjemput Dream.


Sesampainya di rumah Robbie, dia membukakan pintu untukku, dan mendekapku, "Kamu tau V, Luna memilihku!! Yes, Luna memilihku!" katanya dengan mata berbinar ceria.


Aku tidak percaya ucapannya, tapi Robbie bukan tipe pembohong dan sinar matanya menyiratkan kebahagiaan dan kejujuran.


Aku tersenyum lemas, "Benarkah? Oh, wow, Selamat kalau begitu, aku turut berbahagia untuk kalian." sahutku menepuk pundaknya.


Tak lama Dream keluar kamar, wajahnya yang selalu kurindukan, dan "Hai.." sapaku.


Dia tersenyum ke arahku, senyum yang hanya boleh aku miliki untuk diriku sendiri, aku tidak rela dia memilih Robbie, tapi kalau itu bisa membuatnya bahagia, aku harus berbahagia juga kan?


Aku mengantarnya pulang, dan sepanjang jalan, kami hanya terdiam. Aku tau apa yang akan di katakannya, tapi aku belum siap mendengarnya, tunggulah Dream, tunggu sampai aku memperlihatkan kejutanku untukmu.


Sesampainya di rumah kami, aku memintanya menutup matanya, aku tuntun dia dan aku memasang topeng kebahagiaanku hanya untuknya malam ini, dan melihat dia menangis terharu, bahkan dia memelukku, aku tidak bisa menyerahkan Dream kepada Robbie.


"Dream, maukah kamu memberiku kesempatan sekali lagi? Maksudku, tidak perlu membahas tentang pernikahan atau apapun. Kita jalani saja pelan-pelan." aku memberanikan diri bertanya kepadanya. Kalau memang dia menolakku, aku akan melepasnya.


"Ya, aku mau." jawab Dream lirih, dan tersenyum dengan airmata memenuhi matanya.


Apa yang akan kamu lakukan Dream?


......................

__ADS_1


__ADS_2